Ahli Ibadah, Tapi Dungu, Benarkah?

0

Ahli Ibadah, Tapi Dungu, Benarkah?

H. Abdul Waris Ahmad

(Pegawai Kemenag Wajo, Imam Masjid Agung Ummul Quraa Wajo)

Menjadi imam adalah sebuah karunia yang amat besar. Apalagi kelas masjid Agung Ummul Quraa Kab. Wajo, tempat inkubasi dan berkhidmahnya para ulama, gudang para santri mengaji, mengkaji, dan menghapal al-Qur’an. Tentu masjid sekelas ini menjadi destinasi yang amat menakutkan sekaligus menjadi impian banyak orang. 

Terhitung sejak akhir Juni 2008 – sekarang saya menjadi imam di masjid ini. Ada beberapa peristiwa yang cukup menjadi kenangan selama kurung waktu 11 tahun itu. Namun, kali ini saya akan berbagi pengalaman sekaligus kenangan khusus tentang sujud tilawah. Sujud tilawah ini menjadi sebuah amalan sunah yang rutin dilakukan,  bahkan merupakan tradisi imam-imam yang pernah berkhidmah sebelumnya, seperti; Ag. Karim Jafar, Ag. Halim Aco, dan lainnya.

Ada dua moment di bulan ramadan yang menjadi pembelajaran bagi saya, yakni  pada tahun 2013 dan 17 Mei 2019/12 Ramadan 1440 H. Ketika itu, saya tidak membaca dua surah favorit, yakni surah Al-Sajadah dan Al-Insan dan secara otomatis tidak mendapatkan ayat sajadah untuk sujud tilawah. 

Dua peristiwa itu, terjadi karena alokasi waktu tidak memungkinkan untuk membaca surah tersebut. Penceramah agak lama berbicara sehingga waktu subuh menjadi sempit. Jika saya membaca dua surah panjang itu, mungkin salat subuh kami akan selesai menjelang terbit matahari. Saya menimbang dengan baik bahwa untuk situasi tersebut maka meringankan bacaan lebih utama, meskipun harus meninggalkan amalan sunah. Selain faktor eksternal tersebut, suara saya yang parau karena kondisi kurang fit juga menjadi penghambat untuk pelaksanaan sujud tilawah pada subuh itu.

Peristiwa pada tahun 2013 silam cukup mengecewakan bagi sebagian jemaah. Kekecewaan mereka cukup beralasan, karena banyak di antara mereka sengaja datang dari jauh bahkan ada dari luar kota Sengkang hanya untuk mengikuti dan mendapatkan sunah sujud tilawah bersama. Beberapa jemaah bahkan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Salah seorang jemaah yang berdampingan tempat duduk dengan Ag. Prof. Rafii malah langsung menanyakan perihal tersebut, “Mungkin imam lupa sujud tilawah, Fung?” Ag. Prof. Rafii segera menjawab, “Tidak, bukan karena lupa, tetapi sengaja karena waktu tidak memungkinkan, malampe ladde pacceramae.” Seketika itu Anregurutta memanggil saya untuk mengonfirmasi dugaannya. Saya pun membenarkan dugaannya tersebut.

Pada hari yang sama, usai salat Jumat, seseorang menghampiri saya dan bertanya dengan sedikit nada memerotes kejadian subuh Jumat itu, “Mengapa imam tidak melakukan sujud tilawah?” Saya menjawab, “Sujud tilawah hukumnya sunah dan dilakukan hanya jika membaca ayat sajdah. Jadi, tidak apa-apa jika tidak dilakukan.” Ia tampak masih kecewa dan dengan nada suara yang sedikit lebih keras ia menimpali penjelasan saya,  “Iya, sunah, tetapi wajib!” Kali ini, sejujurnya saya merasa agak terusik dan jengkel, tetapi juga ingin ketawa karena baru kali itu saya mendengar istilah yang menurut saya lucu “sunah tapi wajib”. Di sisi lain, saya merasa kasihan karena orang itu sudah berumur tua, namun belum bisa membedakan perkara sunah dan wajib.

Peristiwa kedua, tepatnya 17 mei 2019 kemarin, saya juga ditanya terkait sujud tilawah yang saya tidak lakukan. Saya hanya menjawab, “Suara saya agak parau”. Sabtu, 18 mei 2019, usai salat Duhur, seorang jemaah perempuan juga menimpali saya dan berkata, “Saya jauh-jauh datang ke sini mau sujud tilawah, tapi imam tidak baca surah sajdah.”

Sujud tilawah terdiri dari dua kata. Sujud artinya menundukkan pandangan atau berlutut sambil menempelkan dahi ke lantai atau tempat sujud sebagai bentuk kepatuhan tertinggi kepada Allah. Sedangkan, kata tilawah berarti bacaan atau karena membaca. Jadi, sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan karena membaca salah satu dari 15 ayat sajdah yang terdapat di dalam Alquran. Sujud tilawah dapat dilakukan dalam salat maupun di luar salat.

Bagaimana hukum Sujud Tilawah pada Subuh Jumat?

Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan berikut:

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال: كان البي صلي الله عليه و يلم في الجمعة في صلاة الفجر الم تنزيل السجدة و هل أتي علي الانسان حين من الدهر

Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, “Adalah Nabi saw pada hari Jum’at dalam shalat subuh membiasakan membaca Alif  Laam Miim Tanziil al-Sajdah dan Hal Ataa ‘ala al-Insani Hinum mina al-Dahri”. [HR. Al-Bukhari, no. 891 dan 1068]

Juga, hadits ini diriwayatkan dari jalur Ibnu Abbas:

عن ابن عباس : ان النبي صلي الله عليه و سلم كان يقرأ في صلاة الفجر يوم الجمعة الم تنزيل السجدة و هل أتي علي الانسان حين من الدهر. و ان النبي صلي الله عليه و سلم يقرأ في صلاة الجمعة سورة الجمعة و المنافقون

Dari Ibnu Abas, “Bahwa Nabi saw. ketika salat Fajar di hari Jumat biasa membaca: Alif  Laam Miim Tanzil al-Sajdah dan Hal ata ‘alall al-Insani hinum min al-Hahri. Dan bahwa Nabi saw. biasa membaca dalam shalat Jumat surat al-Jum’at dan al-Munafiqun”. [HR. Muslim, no. 8]

Mencermati kedua riwayat tersebut, baik dari Abi Hurairah demikian juga riwayat Abdullah bin Abbas, menunjukkan bahwa membaca dua surah al-Sajdah dan al-Insan pada salat subuh di hari Jumat adalah sesuatu yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah saw. Jadi, sesungguhnya yang menjadi sesuatu yang disunatkan adalah membaca dua surah di subuh Jumat, bukan sujud tilawah. Hanya kebetulan dalam surah al-Sajdah terdapat ayat sajdah (32; 15), imam atau siapa saja yang membaca ayat tersebut disunatkan melakukan sujud tilawah.

Jadi bukan karena subuh jumat menyebabkan disunahkannya sujud tilawah, akan tetapi karena imam membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat sajdah, seperti dalam surah al-Sajdah. Seorang imam salat, tidak boleh juga menyengaja membaca surah tertentu yang di dalamnya ada ayat sajdah dengan tujuan untuk melakukan sujud tilawah.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari (2/378) mengomentari hadis ini, “Dalam hadis ini terdapat dalil disukainya (yang berisi anjuran) membaca dua surah ini dalam salat (Subuh) ini pada hari hari Jumat. Karena bentuk kalimat menunjukkan dan mengisyaratkan bahwa Nabi saw. melakukannya secara rutin atau Beliau saw. sering melakukannya. Bahkan terdapat riwayat dari hadis Ibnu Mas’ud ra. yang menyatakan secara terang benderang tentang Beliau saw. yang rutin melakukannya. hadis itu diriwayatkan oleh al-Tabrani dengan lafaz, “Beliau terus-menerus melakukannya”. Riwayat ini asalnya ada dalam Sunan Ibnu Majah dengan tanpa tambahan ini. Para perawinya tsiqat (terpercaya), namun Abu Hatim menyatakan bahwa yang benar hadisnya mursal (riwayat tabi’i langsung kepada Nabi saw.)”. [Fath al- Bari, 2/378]

Memang benar, bahwa ilmuan saleh jauh lebih mulia dibandingkan ahli ibadah yang tiada berilmu. Wajib setiap umat muslim mempelajari agama dengan sebaik-baiknya, terkhusus fikih ibadah agar kualitas penghambaannya lebih meningkat dan agar bisa membedakan yang sekedar anjuran dan yang wajib.

Suatu ketika, Rasulullah saw. masuk masjid dan mendapati dua kelompok sahabat dengan kesibukannya masing-masing. Satu kelompok sibuk beribadah dan berdoa dan satunya lagi melakukan kajian ilmu (halaqah). Nabi saw. memilih bergabung dengan kelompok sahabat yang melakukan kajian dan berkata:

أن رسول الله صلي الله عليه و سلم دخل المسجد فوجد حلقتين حلقة ذكر وحلقة علم فجلس فى حلقة العلم وقال: (كلا المجلسين خير وإنما بعثت معلما) فنزل عليه قوله تعالى: ﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ﴾ فقال : (الحمد لله الذى جعل من أمتى من أمرت أن أصبر نفسى معهم. (رواه البخاري)

“Bahwasanya Rasulullah saw. masuk masjid dan mendapati dua kelompok sahabat, salah satunya kelompok zikir dan yang lain kelompok kajian ilmu, lalu nabi bersabda: “semua kelompok itu baik, akan tetapi saya diutus sebagai pendidik…”

Ucapan nabi tersebut secara tersirat, menggambarkan bahwa rajin dan rutin ibadah itu bagus akan tetapi mengkaji ilmu itu jauh lebih baik. Bahkan beliau seorang pendidik unggul dan paling mulia.

Pengalaman yang saya sampaikan itu, hanya satu di antara sekian banyak perkara-perkara ibadah yang rutin dilakukan, namun pengetahuan tentangnya disepelekan oleh sebagian orang. Bahkan, sekedar ritual belaka.

Hal penting lainnya, setiap muslim harus bisa membedakan antara yang azimah dan rukhsah. Dalam mazhab Syafi’i, azimah adalah perintah asli atau ibadah yang harus dilaksanakn sesuai perintah apa adanya. Rukhsah adalah keringanan dalam melaksanakan suatu kewajiban karena keadaan tertentu, seperti sakit, musafir, dan lain sebagainya. Insya Allah, secara detail akan dibahasa dalam majlis online berikutnya.

Baca Juga...
Komentar
Loading...