Al-Basmalah ayat atau bukan?

Al-Basmalah ayat atau bukan?

(Asbab ikhtilaf al Mufassirin fi Tafsir Ayat al-Ahkam [Abdul Ilah al-Hurii, 2001/1422])

Kajian ini fokus pada penetapan al-basmalah yang terdapat dalam awal setiap surah Alquran. 

Ulama sepakat bahwa al-basmalah yang terdapat dalam surah al-Naml:30 adalah ayat dari Alquran, demikian halnya mereka sepakat bahwa bukan ayat dalam awal surat al-Taubah. Yang menjadi kavling pro-kontra adalah eksistensi  al-Basmalah selain dari kedua tempat tersebut. Berikut saya akan tampilkan beberapa pendapat ulama muktabarah:

Pertama, Mazhab al-Syafi’iyah, seluruh ulama yang masuk dalam pandangan imam Syafii bersepakat bahwa al-basmalah adalah ayat yang sempurnah dalam surah al-Fatihah. Maka semua  al-Basmalah selain dari surah al-Taubah, terdapat perselisihn pendapat ulama al-Syafi’iyah. Yaitu, pertama, al-Basmalah adalah ayat dalam semua surah Alquran, (lihat kitab al-Majmu’, 3/ 289), pendapat ini, didukung oleh golongan Imamiyah, Zaidiyah, dan Ibadiyah, (lihat kitab Syaraa’i’ al-Islam 1)71); kedua, al-Basmalah sebagiannya adalah ayat pada semua surah; dan ketiga, bukan bagian dari Alquran pada semua awal surah kecuali surah al-Fatihah. Imam al-Nawawi lebih cenderung dan mengukuhkan pendapat pertama  (lihat kitab al-Majmu’, 3/ 289).

Kedua, Mazhab al-Hanafiyah, pendiri mazhab ini tidak pernah menyampaikan bahwa al-Basmalah adalah ayat dalam Alquran atau bukan, hanya saja beliau membaca pelan dan lirih dalam salat. Namun, ulama yang ikut dalam mazhab ini menegaskan bahwa:

“… أنها اية تامة مستقلة أنزلت للفصل بين  السور، فهي من القرآن و ليست من الفاتحة و لا من غيرها…”

Al-Basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri, tujuannya untuk menjadi pemisah di antara surah-surah Alquran, maka dia adalah bagian dari Alquran, namun bukan dalam al-fatihah dan bukan juga pada yang lainnya, (baca al-Jassas, kitab ahkaam al-Quran, 1/17).

Ketiga, Mazhab Hanabilah, imam Ibn Qudamah berkata “terdapat riwayat yang berbeda dari imam Ahmad ibn Hambal, apakah al-Basmalah ayat yang wajib dibaca dalam salat atau tidak? Ibn Qudamah memilih bahwa ia adalah ayat dari surah al-fatihah, pendapatnya ini diiakan oleh Abu Hafs, dan juga Ibn Battah. Riwayat lain dari penganut mazhab ini mengatakan bahwa bukan bagian dari surah al-fatihah dan juga pada surah lainnya, serta tidak wajib dibaca dalam salat. Dalam riwayat lain dalam mazhab ini, Ibn Qudamah mengatakan al-basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri, sebagai pemisah di antara surah-surah, kecuali dalam surah al-naml ayat 30. (Baca dalam al-mugnii, 1/285).

Ibn Taimiyah mengomentari riwayat ini dari Ahmad ibn Hambal “riwayat ini yang disandarkan dari Ahmad tidak benar meskipun menjadi salah satu pendapat ulama mazhabnya”, akan tetapi Ibn Taimiyah mengamini pendapat yang mengatakan bahwa al-basmalah bagian dari Alquran karena tertulis pada setiap awal surah meskipun bukan bagian dari surah itu sendiri, beliau mengatakan “هذا اعدل الأقوال” artinya “pendapat ini yang paling baik”. (Ibnu Taimiyah, al-fatawa al-kubra, 2/182).

Keempat, Mazhab al-Malikiyah, mereka berpendapat al-basmalah adalah bukan bagian dari Alquran kecuali dalam surah al-naml. (al-jami’ li ahkam al-quran, 1/93). Dalam mazhab ini, terjadi ikhtilaf ulama yang berafiliasi,  ada yang menetapkan dan ada pula yang meniadakan; meniadakan secara mutlak, menetapkan pada semua tempat dalam Alquran, dan ada pula pada sebagian-nya.

Alasan bagi mereka yang menetapkan adalah;

Pertama, semua sahabat menuliskan al-basmalah dalam mushaf mereka masing-masing, (anwar al-tanzil, 1/31, lubab al-ta’wiil, 1/19);

Kedua, Hadis Anas ibn, ia berkata “kami pernah bersama Rasulullah saw. Ketiak ia bangkit dari “tidurnya” ia tersenyum, kami beryanya ‘ya Rasul mengapa engkau tersenyum?’ beliau menjawab ‘tadi itu, turun kepadaku satu surah’ maksudnya adalah surah al-kausar, lalu rasulullah membacakannya dengan memulai dari al-basmalah. (Lubab al-ta’wil, 1/19, dan sahih muslim: kitab al-salah, bab hujjatu man qala al-basmalah ayat min kulli surah siwa bara’ah. Juga sunan abu dawud: kitab al-salah, bab man lam yara al-jahra bi bismillahirrahmanirrahim, dan baca juga sunan al-nasai: kitab al-iftitah, bab qiraat bismilahirrahmairrahim);

Ketiga, Anas ditanya tentang tatacara nabi kembaca al-basmalah, lalu Anas mejawab:

“… فقال كانت مدا ثم قرأ بسم الله الرحمن الرحيم يمد بسم الله، و يمد الرحمن، و يمد الرحيم”

“… anas menjawab “nabi membaca dengan nada panjang ‘mad‘ ; memanjangkan bismilah, al-rahmaan, dan al-rahiim“. (Al-Bukhari, sahih al-bukhari: kitab fadail al-quran, bab madd al-qiraah);

Keempat, Ibn Abbas berkata “… Dahulu nabi memulai salat-Nya dengan membaca bismillahirrahmanirrahim“. (Al-Turmuzi, Sunan al-turmuzi: kitab al-salah, bab man ra’a al-jahra bi bisamillahirrhanirrahim);

Kelima, Abdullah ibn Abbas berkata “dahulu, nabi tidak tahu memisahkan surah-surah, sehingga turun kepadanya bismillahirrahmairrahim”. (Abu Dawud, sunan abi dawud: kitab al-salah, bab man jahara biha);

Keenam, Umm Salamah mensosialisasikan bacaan Rasulullah saw. “… Bismillahirrahmanirahim, alhamdulilkahirabbil alamin…” Beliau membaca ayat per-ayat, (Abu Dawud, Sunan abi Dawud: kitab al-huruf wa al-qiraat. Dan Ahmad, 6/302).

Ketujuh, Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah saw. Berkata:

… اذا قرأتم الحمد لله، فاقرءوا بسم الله الرحمن الرحيم فإنها أم القرآن و أم الكتاب و السبع المثاني و بسم الله الرحمن الرحيم أحد آياتها.

“… Apabila kamu kembaca al-hamdulillah, maka bacalah “bismillahirrahmanirrahim, karena ia adalah umm al-qur’an, umm al-kitaab, dan al-sab’ al-masanii, wa bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayat-nya…” (Al-daruqutni, 1/312). 

Sementara yang meniadakan al-basmalah ber-dalil sebagai berikut:

Pertama, secara logika, ada pro-kontra di dalamnya, andai kata dipastikan Alquran, pasti tidak terjadi perbedaan, 

Kedua, Aisyah berkata “dahulu, Rasulullah saw. Memulai salat-Nya dengan takbir lalu kembaca “alhamdulillahi rabbil alamin”, tanpa membaca al-basmalah. (Muslim, sahih muslim: kitab al-salah, bab maa yajma’u sifat al-salah);

Ketiga, Anas barkata “saya pernah salat bersama Rasulullah saw., Abu Bakr, Umar, dan Usman dan saya tidak mendengar salah seorang dari mereka membaca “bismillahirrahmanirrahim“. (Muslim, sahih muslim: kitab al-salah, bab hujjatu man qala la yajharu bi al-basmalah).

Keempat, ber-dalil dari amaliyah penduduk Madinah, al-Qurtubi berkata “… Sesugguhnya mazhab kami mengokohkan pendapat itu di satu sisi, dan itu sangat logis, karena masjid nabawi telah teruji oleh perrukaran waktu dan perubahan zaman sampai pada zaman imam Malik, dan tak satu pun membaca bismillahirrahmairrahim sebagai ittiba’ panutan kepada sunnah nabi” (al-Qurtubi, al-jami’ li ahkam al-qur’an, 1/95).

Dalil-dalil yang dijadikan oleh mereka yang menetapkan dan meniadakah albasmalah adalah bagaikan dua mata pisau, argumentasi yang paling kuat adalah Mazhab pertama karena sahabat nabi menuliskan dalam mushaf mereka dengan motivasi yang sangat tinggi, tidak mungkin mereka menuliskannya jika bukan bagian dari Alquran. Argumentasi lain, terkait bacaan dalam salat, saya berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar antara penetapan albasmalah sebagai ayat Alquran berdasarkan riwayat yang mutawatir dan penetapannya sebagai bacaan dalam salat, baik dianggap sebagai ayat atau bukan maka tidak diperlukan riwayat yang valid, cukup dengan dugaan kuat. Sebagai pendukung dari argumentasi ini, saya paparkan contoh; semua umat islam sepakat disyariatkannya membaca tasyahhud dalam salat padahal mereka bukan bagian dari ayat Alquran. Demikian juga dengan isti’azah mayoritas ulama menyatakan sunah padahal mereka sepakat bahwa isti’azah bukan bagian dari Alquran.

Semua keterangan yang ditampilkan diatas adalah khabar ahad atau hadis yang tidak mencapai derajat mutawatir, sementara penetapan dan peniadaan Alquran tidak bisa dilakukan kecuali dengan mutawatir pula.

Di sisi lain, pakar qiraah berselisih dalam penetapan albasmalah sebagai ayat Alquran di setiap awal surah. Ulama Makkah dan Kufah menetapkan-nya sebagai Alquran, sementara ulama Madinah, Syam, dan Basrah meniadakan albasmalah dari Alquran. (Anwar al-Tanzil, 1/28).

Padahal, menjadi pengetahuan umum bahwa semua qiraah itu adalah mutawatir. Maka, diyakini bahwa albasmalah ayat berdasarkan riwayat mutawatir, juga diyakini bukan bagian dari Alquran berdasarkan riwayat mutawatir pula.

Jadi imam Malik meniadakan albasmalah dari Alquran karena belum sampai kepadanya riwayat mutawatir, sementara kondisi ulama yang menetapkannya sebagai ayat Alquran karena riwayat yang mereka terima adalah mutawatir.

Imam Syafii menetapkan albasmalah sebagai ayat Alquran berbeda dengan pandangan gurunya, karena perbedaan guru qiraah mereka. Syafii menerima dari pakar qiraah Makkah sementara Malik dari pakar Madinah.

Kesimpulan;

  1. Ulama yang meyakini albasmalah ayat dalam surah al-fatihah dan pemisah diawal surah-surah Alquran, membacanya dalam salat
  2. Sementara ulama yang meyakini bukan bagian Alquran tidak membacanya pula dalam salat.
  3. Semua agumentasi yang saya tampilkan berdasarkan riwayat yang ada adalah menjadi pedoman bagi mereka yang pro-kontra.
  4. Karena semua didasarkan pada bangunan argumentasi konstruktif yang kokoh, maka harus diterima semua. Persatuan umat Islam diatas segala-galanya, sehingga setiap muslim harus menyesuaikan diri di mana mereka berada. Jika, berada pada komunitas atau negara yang menetapkan  albasmalah mengikut kepadanya, demikian juga bagi yang meniadakannya. Seperti, perjalanan ibadah lintas negara Indonesia versus Saudi. Imam al-Sudais melakukan kunjungan ke Indonesia, memimpin salat di Masjid Istiqlal berdasarkan pandangan mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu membaca albasmalah dengan suara keras (jahr). Demikian sebaiknya masyarakat Indonesia yang mengunjungi tanah haram harus mengikuti (ittiba’) dengan ulama di sana.
  5. Indonesia adalah negara dengan masyarakat muslim terbesar di seluruh dunia, memopulerkan qiraah imam Asim riwayat Hafs, pakar qiraah Kufah yang meng-isbat-kan al-basmalah sebagai bagian dari ayat surah al-fatihah. Fakta ini, mengisyaratkan bahwa pantas dan sangat wajar jika umat muslim menetapkan dan membacanya dalam salat mereka, baik dengan suara keras (jahr) atau pun dengan lirih (sir).

 

 

 

Komentar
Loading...