Allah Memuliakan Orang Baik, Meski Mereka Ingkar

0

Salah satu bagian dari sebuah keyakinan adalah bahwa Allah sayang dan memuliakan semua makhluk-Nya, tak terkecuali manusia, baik beriman maupun ateis, selama mereka berbuat baik dan menjaga ekosistem kehidupan sesama makhluk dengan baik.

Dalam hal rezeki pun Allah swt. tidak memilah-milah siapa yang taat dan yang tidak, yang beriman kepada-Nya dengan yang tidak, Allah memberi karunia sesuai ikhtiar mereka. Semua makhluk-Nya berhak mendapat perhatian khusus dari-Nya, meskipun tidak semua diridai-Nya.

Allah berfirman:

وما كان ربك ليهلك القري بظلم و أهلها مصلحون (هود/١١: ١١٧)

Artinya:

“Tidaklah Tuhanmu membinasakan suatu negeri dengan sewenang-wenang selama penduduknya itu berbuat baik.” (QS. Hud/11: 117)

Allah tidak akan berbuat sewenang-wenang kepada suatu komunitas masyarakat, selama mereka saling menjaga dan memperkokoh harmonisasi di antara mereka, meskipun mereka tidak beriman. Suatu negeri akan tetap kokoh berdiri selama orang-orang di dalamnya tidak berhenti melakukan kebaikan demi kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan serta tidak mengabaikan kemaslahatan di antara dirinya dan orang lain. 

Imam Zamakhsyari mengatakan bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu kota karena kesyirikan, sedangkan mereka saling menukar kebaikan. Namun, Allah membinasakannya karena kesyirikan yang membawa kezaliman di antara manusia.

Kezaliman yang dimaksud adalah yang melawan kemaslahatan. Allah swt. tidak akan menghancurkan kelompok penginkar tuhan karena keingkarannya di dunia, selama mereka menjaga kemaslahatan sesama. Adapun siksaan dan kehancuran atas kekufuran mereka, ditangguhkan sampai hari kiamat. 

Allah berfirman: 

ان الله لا يضيع أجر المحسنين (التوبة/٩: ١٢٠)

“Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah/9: 120)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa dari perbuatan orang-orang yang berbuat baik itu timbul amal-amal saleh dan pahala yang berlimpah. Dapat disimpulkan bahwa jika yang berbuat baik adalah seorang mukmin yang baik, maka mereka akan mendapatkan nilai ganda yaitu dunia dan akhirat. Sebaliknya, mereka yang kufur hanya akan mendapatkan dunia, tidak untuk akhirat. 

Sebagaimana dalam Al-Quran:

من يرد ثواب الدنيا نؤته منها، و من يرد ثواب الآخرة نؤته منها، و سنجزي الشاكرين (آل عمران/٣: ١٤٥)

 

Artinya:

“Barangsiapa menginginkan ganjaran di dunia, kami akan memberikannya, dan barangsiapa menghendaki ganjaran akhirat, maka kami akan memberikannya. Dan kami pasti memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat.” (QS. Ali ‘Imran/3: 145)

Dalam ayat lain pun dijelaskan tentang hal tersebut: 

من كان يريد العاجلة عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد ثم جعلنا له جهنم، يصلها مذموما  مدحورا (الإسراء/١٧: ١٨)

Artinya:

“Barangsiapa menghendaki (kehidupan) yang cepat (dunia) maka kami akan percepat untuknya bagi yang kami kehendaki, kemudian kami jadikan neraka jahannam sebagai tempat baginya. Masuk di dalamnya keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’/17: 18)

Pada hakikatnya, Allah swt. sangat memuliakan manusia sebagaimana dalam Al-Qur’an:

و لقد كرمنا بني آدم و حملنهم في البر و البحر و رزقنهم من الطيبات و فضلنهم علي كثير ممن خلقنا تفضيلا. (الإسراء/١٧: ٧٠)

Artinya:

“Sesungguhnya telah kami memuliakan anak cucu Adam dan kami mengangkat mereka di laut dan di darat, kami beri rezeki mereka dari yang baik-baik, dan betul-betul kami lebihkan mereka atas kebanyakan makhkuk kami.” 

Keumuman ayat itu mencakup semua manusia dengan ragam aliran dan keyakinannya, seperti tertuang dalam:

كلا نمد هؤلاء و هؤلاء من عطاء ربك، و ما كان عطاء ربك محظورا

Artinya:

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini yang menginginkan kehidupan dunia, atau golongan itu yang menghendaki kehidupan akhirat. Kami berikan bantuan dari Tuhanmu. Dan tidaklah bantuan Tuhanmu itu terhalang.”

Keterangan ayat di atas sangat jelas mengenai kasih sayang tuhan kepada manusia, tidak membeda-bedakan golongan dan komunitasnya, semua mendapatkan pemberian secara adil dan merata sesuai usahanya. Maka, alangkah naifnya jika manusia sebagai makhluk ciptaan justru merasa diri lebih mampu dan pakar dalam menakar keadilan yang tuhan berikan kepada manusia, lalu mereka melakukan penghakiman tentang beratnya pahala dan dosa kepada manusia lainnya. 

Dari ayat itu pula dapat dipahami bahwa manusia akan mendapatkan perlakuan berbeda jika sudah merusak ekosistem kedamaian dan melampaui batas. Allah telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana perlakuan berbeda itu berlaku disebabkan kezaliman manusia itu sendiri, sebagaimana dalam firman-Nya:

و لا تطغوا  فيه فيحل عليكم غضبي، و من يحلل عليه فضبي فقد هوي . (طه/٢٠: ٨١)

Artinya:

“Dan janganlah melampaui batas, barangsiapa melampaui batas maka mengundang kemarahanku, dan siapa mendapatkan kemurkaanku, binasalah ia” (QS. Tha-ha/20: 81)

Dalam ayat lain:

فأما ثمود فأهلكوا بالطاغية (الحاقة/٦٩: ٥)

Artinya: 

“Adapun kaum Tsamud, mereka dibinasakan karena kezaliman.” (QS al-Haqqah/69: 5)

Juga dalam ayat berikut:

و فرعون ذي الاوتاد. الذين طغوا في البلاد. فأكثروا فيها الفساد. (الفجر/٨٩: ١٠-١٢)

Artinya:

“Dan terhadap Firaun yang mempunyai pasak-pasak bangunan yang besar. Yang melampaui batas dalam negeri itu. Lalu. mereka banyak melakukan kerusakan dalam negeri.” (QS al-Fajr/89: 12-15)

Lalu, mengapa Allah tidak membinasakan mereka yang tidak beriman dan mendurhakai tuhan?

Jawabannya adalah karena Allah swt. sangat menyayangi mereka yang berbuat baik, meskipun itu dari yang kufur, mereka mendapatkan keadilan Allah di dunia, namun tidak mendapatkan bagian di akhirat. Sebaliknya, Allah benci kezaliman dan segala bentuk pelanggaran yang melampaui batas, meskipun itu dari orang muslim. 

Maksiat dan kekufuran hamba sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap kemuliaan tuhan. Allah swt. tetap agung meskipun seluruh makhluk mendurhakainya. Demikian sebaliknya, keimanan dan ketaatan hamba tidak menambah keagungan dan kemuliaan tuhan.

Baca Juga...
Komentar
Loading...