Anugrah Haji Gratis

Saya Bangga Jadi Santri As’adiyah 2

Anugrah; Berhaji Gratis

Menjadi petugas haji adalah sebuah tugas mulia yang diburu oleh semua pegawai kementerian agama.

Tentunya bukan tanpa alasan, selain bisa berhaji dengan cepat tanpa harus mengantri berpuluh tahun, juga bisa berangkat secara gratis. Bahkan, mendapat gaji setiap hari dari pemerintah selama bertugas.

Dalam momen ini, saya merasakan kembali berkah dari ilmu yang gurutta berikan. Pada dasarnya, saya merasa tak punya apa-apa dibanding teman-teman yang lain. Saat ikut tes petugas haji tahap awal di Kemenag Wajo, sebuah ungkapan rasa syukur dan haru sekali saat guru yang juga atasan saya H. Abdul Hafid (kasi PHI kemenag Wajo) menyampaikan bahwa nilai saya berhasil meloloskan saya ke tahapan kedua.

Alhamdulillah, saya mendapat rekomendasi ayahanda Dr. H. M. Arsyad Ambo Tuo (Kakan Kemenag Wajo) untuk mengikuti Computer Assisted Test (CAT), tes wawancara, dan praktik tingkat provinsi di aula Kantor Haji Kantor Wilayah Kemenag Prov. Sulsel di Makassar.

Seluruh rangkaian tes tahapan kedua pun selesai, saatnya berdoa agar mendapatkan hasil terbaik. Terbaik dari proses yang baik pula.

Beberapa hari kemudian, nyaris bersamaan, saya mendapatkan ucapan selamat dari ayahanda H. Abdul Wahid Tahir (Ka. Kanwil), Kakan Kemenag Wajo, Kasi PHU Wajo dan dari teman-teman melalui group WA. Ucapannya sama, “Selamat menjadi petugas haji 2018”. Suatu rahmat dan kado istimewa bagi saya, yang membuat airmata tak terbendung. Saya bersujud seraya mendoakan semua orang-orang hebat yang telah memberikanku peluang.

Informasi menggembirakan ini makin menambah keyakinan saya akan keajaiban doa. Haru dan tangisan saya kembali pecah, saat mengingat sosok H. M. Tahir, istrinya Hj. Matahari, dan anak-anaknya. Mereka adalah ayah, ibu, dan saudara angkat yang banyak membantu saya kala menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Macanang.

Tahun 1998, saya ditugaskan menjadi imam tarwih di Masjid Nurul Huda Baru Tancung Kec. Tanasitolo. Biasanya masyarakat memperebutkan muballig atau imam tarwih As’adiyah untuk tinggal di rumahnya selama bulan ramadan. Dalam diri mereka tumbuh keyakinan bahwa ada berkah berlimpah jika menjamu tim muballig dan imam tarawih. Bagi saya, ini pun sebuah berkah dari ilmu, diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang baik dan tekun dalam beramal, yang hablum minannasnya tidak lagi diragukan.

Awalnya, rumah H. Usman Bakar (ayah dari G. Sagira) yang seharusnya menjadi rumah jamuan saya. Namun, karena keinginan H. Tahir yang sangat kuat, saya pun tinggal dan dijamu selama bulan ramadan di rumahnya. Keikhlasan dan ketulusan yang terpancar dari tuan rumah telah menjadi nikmat dan rejeki berlimbah bagi saya. Semenjak itu, beliau menganggap saya sebagai anaknya sendiri. Beliau pernah berkata, “iko nak tenniami iyya jajiakko, nekkia pada-padamukkotu Deng Aji Jiddin-mu, Deng Aji Wahid-mu, Deng Taufik-mu”.

Suatu ketika, beliau sangat menginginkan saya naik haji gratis. Beliau meminta anaknya H. Abdul Wahid Tahir -yang saat itu menjabat sebagai Ka. Kandep Kemenag Luwu Timur- untuk mengurus saya menjadi petugas haji.

Sayangnya, waktu itu pendaftaran telah ditutup. Beliau pun membisik saya, “sabbarakko nak, ellau doangengngi deng ajimmu na madeceng matterru matanre jamanna, alenapa penrekko hajji.” (sabar nak, doakan saja kakakmu, semoga jabatannya makin bagus, suatu saat dia yang akan memberangkatkanmu berhaji). Ini bukan saja sekadar bisikan untuk membesarkan hati saya, namun melebihi doa dan pengharapan seorang ayah kepada anak-anaknya. Doa inilah yang saya yakini sangat mujarrab. Dan benar, saat beliau menjadi Ka. Kanwil semuanya menjadi nyata, saya bisa berhaji di tahun 2018. Allah SWT senantiasa menyimpan rencana dan hal-hal baik untuk hambanya yang berdoa dan meyakininya. Sedang hamba yang beriman senantiasa memohon dan berserah kepada Allah SWT, bukan meminta dengan paksa.

Memperoleh nikmat sebesar itu, petuah orang tua saya pun kembali terngiang, sebuah pesan yang tak lekang oleh waktu, “narekko akorangnge mukuasai, muafala, namo pegako monro, benneng engka tau monro wirinna langie, yawana tasie, akkoto ro monro napakalebbiko puangnge nennia rufa taue.” (Jika Alquran kamu hafal, di manapun kamu tinggal, seandainya kamu di ujung langit, di bawah dasar laut, maka di situ pun kamu akan dimuliakan Allah dan makhluknya”.)

Lanjut cerita….

Mulai 2 Ramadan 1439 H/ 2018 M, semua peserta wajib dikarantina sebagai kegiatan wajib prahaji dengan mengusung tema “Pelatihan Integrasi Petugas Haji 2018”.

Sebuah dilema, antara mengemban tugas rutin sebagai imam rawatib dan imam tarawih di Masjid Agung Ummul Quraa Kab. Wajo dan mengikuti pelatihan integrasi. Dua pilihan yang sulit.

Lalu, yang manakah yang kemudian menjadi pilihan terbaik saya?

Bersambung ….

Satu tanggapan untuk “Anugrah Haji Gratis

  • 24 Oktober 2018 pada 6:33 pm
    Permalink

    Bgmn caranya, sy bisa mengambil semua hasil tulisan nya dan sy save di hp saya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *