Arsip Penulis: waris

Politik dan Puasa yang Memerdekakan

Kontestasi politik dalam negeri baru saja berlangsung. Namun, debu-debu kepentingan masih istikamah menerbangkan isu-isu perpecahan yang terhubung langsung ke saluran nadi masyarakat. Nafas kekuasaan tak ubahnya nafas yang keluar masuk ke tubuh manusia, bahkan terkadang membuat sesak. Menjadi sebuah cita-cita yang sangat mulia jika warga negara yang berkompeten berkeinginan meramaikan dan menjadi bagian dari kemajuan dan kesuksesan demokrasi.

Islam sendiri sangat mengapresiasi wathaniyyiin (anak bangsa) jika ingin mengambil peran untuk berbagai kepentingan masyarakat dan bangsa, tanpa harus mengelompokkan tugas dan tanggung jawab mereka berdasarkan “labelnya”. Label ini telah mengekang kemerdekaan berpolitik sebagian masyarakat. Contoh paling konkret adalah dicecarnya tokoh dan pemuka agama jika memasuki bursa politik. Padahal, mengarahkan segenap potensi demi sebuah nilai luhur adalah ciri kesempurnaan agama seseorang. Bahkan, dalam konteks sosial, kesalehan seseorang dapat dilihat dari apa yang diperbuatnya untuk orang lain (muslih). Agama manapun sangat mendambakan penganutnya menjadi saleh dan bahkan meningkat ke derajat muslih (berguna bagi diri dan orang lain), serta memberikan kebebasan penuh dalam menjalankannya.

Dalam sebuah kaedah dikatakan apabila seorang (hakim/pemerintah) berijtihad dengan membuat kebijakan, lalu kebijakannya itu benar maka dia mendapatkan dua pahala, dan jika salah, maka dia mendapatkan satu pahala. Kaedah tersebut amat mengapresiasi siapa saja yang ingin memberikan kontribusi positif dalam upaya membangun masyarakat, membangun bangsa, dan mempertahankan negara. Calon legislatif dan eksekutif yang telah bersusah payah berjuang demi kursi kekuasaan, sesungguhnya mereka telah mendapatkan ganjaran minimal satu jika kalah dan dua jika menang. Keyakinan ini, mestinya dimiliki oleh setiap kontestan agar apapun hasilnya akan diterima dengan lapang dada. Bukan dengan upaya melabrak aturan konstitusi yang ada.

Hal lainnya yang mengekang kemerdekaan berpolitik adalah adanya kekuatan “kepentingan pribadi atau kelompok” yang tidak bisa diredam. Akibatnya, muncullah proses tidak sehat dalam berdemokrasi untuk memenuhi kepentingan tersebut. Money politic bukan lagi hal memalukan, begitupun dengan hal lainnya yang mencoreng demokrasi. Selalu ada cara untuk melegalkan jalan menuju puncak kepentingan.

Merdeka sebagai Kebutuhan

Dalam sejarah sangat jelas tercatat bahwa Rasulullah Muhammad saw melakukan banyak defensif dari gempuran musuh dalam berbagai kondisi untuk menjaga hak-hak sipil dan keseimbangan hidup komunal. Terdapat banyak contoh kasus dalam sejarah tersebut yang menjelaskan adanya keharusan pembebasan manusia dari belenggu keterpurukan dan penganiayaan, kebebasan jelas menjadi sebuah hak bagi setiap orang, termasuk dalam beribadah sekalipun.

Kemerdekaan menjadi kebutuhan dasar setiap individu. Islam sendiri tidak menginginkan satu pun dari penganutnya tergilas dan terlampaui oleh zaman tanpa sebuah kebebasan. Islam mendambakan kebebasan manusia dalam berbagai aktivitasnya. Salah satu bukti bahwa Islam ingin kebebasan adalah jika seseorang yang melakukan aktivitas seksual di siang hari pada bulan ramadan, ia dihukum dengan memilih secara  berurutan model kafarat yaitu memerdekan budak, puasa 60 hari berturut-turut, dan atau memberi makan kepada 60 orang miskin. Tidak ada aturan yang mengekang seorang terhukum untuk menjalankan kewajibannya. Ramadan sejatinya dipahami sebagai sebuah momentum untuk melepaskan diri dari berbagai belenggu.

Berpuasa dan berpolitik memang merupakan dua hal yang berbeda. Namun, kita berharap keduanya sama-sama memerdekakan. Bulan ramadan yang di dalamnya umat islam diwajibkan berpuasa, seyogyanya dinilai sebagai istiqlal (kemerdekaan) dalam beribadah, berinteraksi, bertransaksi, berpendapat, dan berpolitik. Setan telah dibelenggu, sehingga manusia bebas beraktivitas. Puasa yang memerdekakan, sejatinya mengalirkan soft power (kekuatan lembut) sebagaimana rahasia puasa itu melahirkan kesabaran, keikhlasan, kepekaan, kasih sayang, dan kepedulian. Bukan sebaliknya, melahirkan hard power (kekuatan kasar), dengan melakukan berbagai tindakan inkonstitusional, memelihara dan produktif menyebarkan hoaks, dan bahkan hal yang lebih menakutkan adalah preseden buruk terhadap pemerintah sehingga menggaungkan isu people power (kekuatan masyarakat).

Sedangkan, politik yang memerdekakan seyogyanya mampu memberikan peradaban baru dan maju bagi bangsa Indonesia, menghapuskan pengkotak-kotakan dalam demokrasi yang seharusnya kita junjung tinggi. Dengan demikian, akan lahir para pemimpin dan pejuang rakyat yang amanah, berintegritas tinggi, dan bertanggung jawab atas suara-suara rakyat. Harapan terbesar kita adalah mencuatnya soft power pada setiap sendi kehidupan yang lahir dari kemerdekaan.

 

Saya dan Gurutta Abba 6

Dalam perjalanan belajar di tahun pertama, utamanya pelajaran I’rab, saya mengalami masa yang sangat sulit. Kesungguhan itu benar-benar diuji dan setiap ujian mengharuskan pejuangnya survive, bertahan menghadapi apapun itu. Masjid Nurul As’adiyah Callaccu menjadi salah satu saksi perjalanan menuntut ilmu di Kota Sutera. Masjid ini sering menjadi tujuan utama saya untuk belajar dengan  sungguh-sungguh, karena Masjid Al Ikhlas di komplek asrama cukup ramai. Keramaian itu membuat saya kesulitan untuk berkonsentrasi.

Di masa itu, berjalan kaki hingga ke Callaccu adalah perkara biasa. Barangkali semangat dalam diri saya telah mengubah rasa lelah menjadi kenikmatan tersendiri. Keikhlasan dalam melakukan sesuatu pun menjadi kekuatan yang dahsyat, meski ujian untuk survive tidaklah mudah. Ketika menghapal bait-bait nahwu di Masjid Nurul As’adiyah, tidak jarang saya tertidur di sana. Bahkan, tidak jarang pula tidur dalam keadaan perut kosong. Makan siang seringkali menjadi hal yang sangat mustahil untuk saya dapatkan, menjadi semacam kemewahan yang luar biasa untuk siswa rantauan seperti saya.

Uang senilai Rp. 50 adalah pahlawan yang paling hebat. Dengan uang sebanyak itu, ubi goreng di warungnya Cace bisa berubah menjadi makanan paling lezat, bisa mengganjal perut selama sehari. Di pagi hari, saat membeli ubi goreng, saya selalu meminta sambalnya dalam porsi yang banyak. Jangan membayangkan sambalnya berupa campuran lombok dan tomat yang diulek lalu ditumis hingga aromanya menguar sampai di rumah tetangga. Sambal khas Cace adalah olahan “tai boka”, memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai sayur dan juga sebagai pauk yang lezat dalam sehari itu. Dimulai dari sarapan hingga makan malam, “tai boka” senantiasa setia mendampingi. Tentu ditemani pula dengan air putih yang melimpah.  

Bosan? Saya tidak sempat memikirkan apakah saya bosan dengan menu itu atau tidak. Yang terpikirkan adalah dari mana saya akan mendapatkan uang jika ingin menu yang lain? Kepada siapa saya akan meminta? Bersurat kepada orang tua? Bahkan tukang pos pun akan hilang jika mencari tanah kelahiranku. Pulang kampung menjemput bekal? Sungguh tidak mungkin, tidak ada uang untuk membiaya perjalanan ke sana. Pun saya tidak harus ke arah mana mencari mobil penumpang tujuan Sinjai Barat. Di kota ini, saya masih sangat asing. Tidak ada sanak keluarga. Tidak ada teman sekampung untuk berbagi. Karena itulah, saya tetap mensyukuri ubi goreng  berpauk “tai boka”, lalu memperbanyak minum air putih. Jika sudah demikian, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Meski demikian, nikmat Allah seringkali dari arah tidak terduga. Sesekali teman saya mengajak untuk makan bersama. Di lain waktu, ada undangan untuk “mabbuddu”, santri diundang untuk mengaji di rumah duka.

“Saya dihidupkan oleh orang mati,” kelakar saya ketika itu.

Dari kegiatan mabbaddu ini, para santri masing-masing mendapatkan amplop berisi sejumlah uang. Selang beberapa waktu kemudian, saya pun diminta oleh Gurutta Ali Pawellangi (melalui Mustadir) untuk bertugas sebagai pembaca ayat sudi Alquran pada sebuah acara pembukaan. Akhirnya, dari amplop yang terkumpul itulah saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saya.

Nikmat Allah yang lainnya adalah dipertemukannya saya dengan Abdul Malik Tibe (saat ini mengasuh Ponpes DDI Assalaman). Sahabatku ini rupanya berlimpah bekal; beras, kue, dan telur itik. Keadaan pun berubah. Kami memasak oada kompor yang sama. segala kebutuhan sehari-hari menjadi tanggungan bersama, meskipun pada dasarnya sahabatku inilah yang lebih banyak menanggung kebutuhan kami (semoga Allah merahmatinya).

Politik Di Tangan Ulama

Sebuah paradigma lama dan menjadi tata nilai dalam masyarakat adalah buruknya “nilai politik”. Jika politik itu dikaitkan dengan politikus atau para pegiat sosial kemasyarakatan, maka itu sangat wajar dan sah-sah saja. Namun, jika dikaitkan dengan ulama, ustaz, pendeta, dan ahli agama, maka seakan politik berubah menjadi haram dan akibatnya mereka tidak wajar bersentuhan dengan politik karena dianggap kotor dan penuh dusta.

Ulama yang mencoba masuk ke ranah politik praktis akan mendapat catatan buruk dari masyarakat. Nilainya sebagai seorang ahli agama akan tercoreng. Tidak jarang ulama yang masuk ke ranah itu, mendapat cacian dan bahkan ditinggalkan oleh umatnya.

Benarkan politik itu buruk? Islam sangat mementingkan politik. Setidaknya ada dua alasan yaitu hirashah al diin (menjaga agama), dan siyasah al dunya (mengatur bumi). Dalam sejarah tercatat bahwa Rasulullah, selain sebagai pemimpin Agama, negara, juga sebagai ahli dalam berpolitik. Piagam Madinah adalah contoh politik Rasulullah yang amat hebat.

Rasulullah yang berfungsi sebagai nabi dan tokoh politik, sukses besar dalam menjalankan pemerintahan Islam. Dua suku; Aus dan Khazraj yang sudah berabad-abad bermusuhan berhasil dipersaudarakan, Kristen, Yahudi, Nasrani, dan bahkan kaum Pagan bisa hidup berdampingan damai dan tentram di kolong bumi Madinah. Hal ini bisa terjadi karena kepiawaian seorang politikus Islam yang berintegritas tinggi; santun, jujur, amanah, dan disiplin. Demikian halnya kepemimpinan sahabat dengan model khilafah.

Tidak boleh memisahkan dua kepentingan besar dalam Islam yaitu kepentingan menjaga agama dan kepentingan mengatur bumi. Sebagaimana tidak boleh memisahkan ulama dengan perannya sebagai pewaris nabi yang wajib mengurus bumi Allah.

Masyarakat sebaiknya pandai dan mengetahui sejarah, bahwa ulama adalah pewaris nabi. Mereka mempunyai tugas yang mulia, yaitu menjaga agama dan memperjuangkan kebutuhan dan keadilan masyarakat, sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh para khalifah dan ulama salaf.

Jika paradigma masyarakat seperti diatas tetap dipelihara, maka bukan tidak mungkin agama Islam akan rusak, mundur dan stagnan karena urusan itu direkomendasikan kepada para politikus murni yang kurang paham akan nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat akan semakin tidak berdaya. Integritas yang mereka miliki tidak teruji karena kedangkalan pengetahuan agama mereka.

Ibnu Aqil Al Hanbali mengatakan bahwa politik adalah maa kaana fi’lan yakunu ma’ahu al naasu aqraba ila al shalaah wa ab’ada an al fasaad, wa in lam yadha’hu al nabiyyi wa laa nazala bihi wahyun. Politik adalah suatu upaya strategis untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, menjauhkan mereka dari kerusakan. Meski belum pernah diletakkan oleh nabi dan tidak ada landasan wahyunya.

Islam menilai politik sebagai sebuah upaya dalam rangka menjaga agama dan kehidupan dunia. Kendati tidak ada aturan pasti dari nabi, namun dalam prakteknya membuahkan berbagai action cerdas dan menyejukkan. Nabi menyerahkan urusan kemaslahatan kepada umat-Nya antum a’lamu bi umuuri dunyakum kamu lebih tahu akan urusan dunia-mu.

Beberapa bentuk pemerintahan yang pernah ada di belahan dunia adalah; teokrasi yaitu kepemimpinan yang ditunjuk langsung oleh Tuhan.  Monarki, kepemimpinan berdasarkan keturunan atau kerjaan. Autokrasi, kepmimpinana kebal hukum. Demokrasi, kedaulatan ditangan rakyat dan  khilafah yaitu dipimpin oleh seorang amirul mukminin untuk semua umat di seluruh dunia. Khilafah diyakini sebagai salah satu model pemerintahan yang paling bagus yang pernah ada. Namun, tidak  bisa dipaksakan keberlakuannya karena setiap negara memiliki caranya sendiri.

Indonesai memiliki ijtihad dalam memerankan “politiknya”. Pancasila dan Undang-undang dasar adalah sebuah wadah pemersatu bangsa. Seluruh aturan yang ada berdasarkan nalar yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai Islam, tentu juga nilai dalam agama lain. Negara dengan jumlah penduduk, suku, bangsa, dan bahasa terbanyak di dunia, mampu membawa masyarakat yang damai, toleran, dan aman.

Sebaiknya, masyarakat yakin bahwa dengan memberikan mandat kepada ulama dalam memainkan politiknya, negara akan aman, masyarakat akan makmur, damai dan sejahteta. Sebaliknya jika mandat itu dibebankan kepada orang yang tidak paham agama, maka praktek kolusi, nepotisme, dan korupsi semakin menjamur.

Semakin banyak tokoh agama yang mengambil peran dalam menjalankan politik, baik di legislatif, yudikatif, dan eksekutif, maka akan membawa dampak yang lebih positif. Para pemuka agama baik Islam, Kristen, Katolik  Budha dan lainnya, jika sudah bersatu dalam meramaikan politik aktif akan membawa kemaslahatan yang lebih besar.

Saya Dan Gurutta Abba 5

Tiba jualah kami akhirnya pada proses “masuk kelas” setelah melewati perjalanan panjang pada rangkaian penerimaan siswa baru. “Masuk kelas” yang saya maksudkan tak lain dan tak bukan adalah proses pembelajaran di Kelas 1 Jurusan Madrasah Aliyah Keagamaan. Selain kelas klasikal (regular), kami pun mengikuti pembelajaran di pengajian halaqah atau pengajian pesantren. Di As’adiyah, kegiatan ini dikenal dengan nama Mangaji tudang.

Saat roster pelajaran dibagikan, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah Ilmu Nahwu, Sharf, Balagah, dan Arudhi. Pelajaran yang sangat asing, namun rasa asing itu berubah menjadi motivasi bagi saya.  Ketika menjadi santri di Pesantren Attahiriyah Balangnipa Sinjai, saya pun belajar Bahasa Arab. Namun, tidak mengenal nahwu, i’rab dan sebagainya. Bahkan, dalam ingatan saya, kelas Bahasa Arab kala itu hanya ada empat kali pertemuan selama satu tahun setengah (tahun 1994-1995). Asatidz dari Jawa yang merupakan andalan pondok itu telah angkat koper dan meninggalkan pondok sebelum saya berstatus santri Attahiriyah. Pondok pesantren itu pun ibarat kata pepatah “mati segan hidup pun tak mau”. Selama empat kali pertemuan itu, kami dibimbing langsung oleh Ustaz Abu Dzar. Beliau berdarah Balangnipa, jika tidak salah beliau merupakan lulusan LIPIA Jakarta. Karena kesibukannya, beliau sangat jarang masuk mengajar kala itu. Semoga guruku ini sehat walafiat, entah beliau di mana sekarang.

Kami lebih banyak mempelajari Almahfudzat yang diajarkan oleh Ustaz Uddin. Sama halnya dengan keberadaan Ustaz Abu Dzar, saya pun tidak mengetahui keberadaan Ustaz Uddin saat ini. Saat masih di Attahiriyah, beliau bolak-balik ke Lappa Data untuk menekuni usaha ternak ayamnya. Harapan terbesar saya adalah Allah mempertemukan kami kembali, beliau amat berjasa bagi saya.

Gurutta Drs. M. Idman Salewe mengajarkan kitab Alfiah Ibnu Malik (ilmu nahwu) dengan metode menghafal pada setiap pertemuan. Sebuah kesyukuran bagi saya karena bisa menghafal dengan baik dan lancar bait-bait itu. Namun, saya sungguh tidak berdaya jika tiba masanya beliau menjelaskan materi tersebut. Kemampuan saya untuk memahaminya berada di level bawah dan inilah yang menjadi mula munculnya rasa iri terhadap teman lainnya. Melongo adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat mereka berlomba mengacungkan jari untuk mengi’rab kalimat yang diajukan. Nyali saya mennjadi ciut dan diam-diam berdoa dalam hati, “Semoga saja Gurutta tidak menunjuk saya”.

Kondisi demikian terus berulang hingga mengantarkan saya pada kondisi mental yang cukup terpuruk. Satu-satunya kelebihan yang saya miliki adalah hapalan Alquran 30 Juz, sayangnya hal ini tidak dibutuhkan di dalam kelas. Tidak jarang saya mendengar teman saling berbisik tentang kelebihan saya dan tidak sedikit yang bertanya langsung, “Kamu penghapal Alquran?”

Tidak ada jawaban lain yang bisa saya haturkan selain mengiyakannya. Mereka tidak menyadari bahwa pertanyaan tersebut seolah menghempaskan saya hingga ke palung terdalam. Rasa malu yang tidak tertahankan. Bagi saya, pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pernyataan “penghapal Alquran tapi tidak berilmu luas”.

Suatu ketika, Gurutta Idman masuk mengajar dengan cara yang sama seperti biasanya, yaitu menghapal dan mengi’rab. Begitu seluruh siswa selesai menghapal, Gurutta menambah bait yang akan dihapal dengan menuliskannya di papan tulis. Tulisannya amat indah meski hanya menggunakan kapur. Setelah itu, beliau hikmat menerangkannya. Namun, suara dari belakang tiba-tiba saja membuyarkan konsentrasi kami. Entah apa maksud perkataan teman saya itu, Gurutta tersinggung dan memanggilnya ke depan kelas. Entah gerakan dan jurus apa yang digunakan Gurutta Idman, tiba-tiba teman kami yang bermasalah itu terjatuh ke lantai.

Kejadian itu membuat saya semakin ketakutan. Pikiran buruk pun terus menghantui kepala. Akibatnya, saya jatuh sakit tapi tidak menceritakannya kepada siapapun. Termasuk kepada Abdul Malik, teman baru yang senasib dalam perkara I’rab. Panas di badan saya nikmati sendirian. Tidak ada daya selain berpasrah, karena jauh dari orang tua dan tidak punya uang untuk berobat. Kadang-kadang hidup memang seolah tidak punya pilihan, meski yang kita jalani sudah sangat jelas merupakan sebuah pilihan.

Mental saya sebagai seorang siswa baru di tingkatan aliyah benar-benar diuji. Namun, saya meyakini bahwa setiap titian yang kita lewati tentu memiliki sebuah ujung. Saya berusaha bangkit agar bisa tiba di ujung titian itu. Memotivasi diri sendiri adalah langkah terbaik yang harus saya tempuh sebagai awal kebangkitan. Saya memulai motivasi itu dengan berguru pada tiga orang sahabat sekaligus motivator saya. Mereka adalah Sabaruddin (alumni Al Azhar Kairo), Masyhuri Pamrah (PNS Penghulu Belopa) dan Wahyuddin Yafid (alumni Mesir). Ketiganya merupakan siswa yang paling sering mengi’rab di dalam kelas. Dengan mudahnya mereka menguraikan satu atau dua kata dengan uraian yang sangat panjang dan hal itu makin menambah kekaguman saya. Mereka sungguh luar biasa, pikirku. Ada kalimat yang paling sering dicontohkan Gurutta, yaitu قام زيد، رايت زيدا dan مررت بزيد .

“Man jadda wajada” menjadi sebuah pintu yang sangat lebar bagi saya untuk memasuki dunia i;rab. Tidak ada kesia-siaan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, demikianlah saya meyakini makna filosofis dari janji Allah Swt tersebut. Semenjak itu, saya mencari jalan untuk berguru. Masyhuri menjadi orang yang sering “terganggu” dengan permintaan saya.  

“Ajari saya mengi’rab,” pinta saya padanya.

“Tidak mungkin bisa. Kamu belum mengetahui tanda-tanda I’rab,” jawaban Mayshuri tak pelak membuatku kebingungan.

“Tanda-tanda I’rab? Hal macam apa lagi itu?” tanyaku dalam hati seraya menyembunyikan kesedihan. Tiba-tiba semangat yang terbangun seolah rubuh tanpa jejak.

Kalimat Masyhuri itu lalu mengingatkan saya pada pernyataan gurutta bahwa jika seseorang mampu menghapal tanda-tanda I’rab maka 99% ia sesungguhnya telah mampu mengi’rab. Saya pun mencari jalan lain. Bukankah selalu ada jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh? Semangat itu patah sekali, tumbuh berganti ribuan kali. Dengan penuh harap, saya meminta Masyhuri untuk menuliskan I’rabnya dari قام زيد. Barangkali ia merasa iba melihat kekurangan dalam diri saya, mungkin juga ia terenyuh melihat semangat yang saya tunjukkan padanya. Di catatanku, pada akhirnya tertoreh dengan sangat baik sebuah hasil I’rab dari tangannya. Catatan itu selanjutnya menjadi modal yang sangat besar sebagai bahan persiapan jika sewaktu-waktu saya ditunjuk untuk mengi’rab. Selalu ada jalan bagi yang bersungguh-sungguh, percayalah!

Hasil I’rab itu selanjutnya tersimpan kuat di dalam dan di luar kepala, meski materi itu sesungguhnya belum saya pahami. Namun, setidaknya saya telah memiliki satu pegangan yang cukup dan telah memperoleh satu kemudahan. Petuah Ust. Bagil (guru Matematika saya di Belawa) pun terngiang kembali, bahwasanya jika seseorang telah menjadi hafiz maka baginya tidak sulit mempelajari yang lainnya. Petuah ini tak lekang hingga hari ini.

Ketidaksabaran saya untuk segera menguasai ilmu I’rab telah mendorong saya untuk belajar lebih kuat lagi. Saat kelas saya tidak terisi guru mata pelajaran, saya menggunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencari kelas lain yang sedang belajar nahwu. Tentu saja belajar di luar kelas dengan cara mengintip dan seksama menyimaknya dari luar jendela. Ini adalah tekad yang tidak terbendung. Keinginan untuk menguasai ilmu itu tidak pernah surut. Kelas yang paling sering menjadi incaran intipan saya adalah kelas tetangga, biasanya diisi oleh Pak Yunus Massekati, Andi Ruslan.

Suatu ketika, saya dan Malik berbincang-bincang membahas kekurangan kami dalam pelajaran itu. Sebuah ide cemerlang pun terlintas dalam benaknya dan mengusulkan agar kami belajar tambahan di rumah Gurutta Ikhwan. Secepat kilat saya menyetujuinya. Alhamdulillah harapan kami terwujud, pada sore hari kami siswa Kelas MAK bisa dibimbing secara takhassus oleh Gurutta Ikhwan.

Aku bincang-bincang dengan Abdul Malik, beliau bilang bagaimana kalo kita belajar sampingan dirumah gurutta pak ikhwan??? Saya langsung respon dan akhirnya kamipun kelas MAK di bimbingan secara takhassus oleh gurutta Ikhwan sore hari saat itu…

Radikalisme, Amat Mengancam Keutuhan Bangsa

Dikolom bumi mana pun, sangat mustahil menciptakan kehidupan manusia dalam arti homogen atau satu keyakinan. Sebagaimana dalam Q:S. Al-Yunus; 10: 99, “ dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi. Apakah kamu hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”. juga, Allah mengabarkan bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan berbagai latar belakang dengan etnis yang berbeda-beda. QS. Al-Hujurat;49:13, “Hai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal…

Suatu keniscayaan, bahwa heterogenitas itu yang menjadi ciri bangsa yang besar dan kuat. Indonesia sudah teruji dan menampakkan dirinya di mata dunia. Dulu, Bangsa ini terdiri dari berbagai kasta dan kerajaan-kerajaan yang kemudian menjadi satu kesatuan, semua suku, etnis, bangsa dan bahasa menjadi satu. Itulah bangsa tercinta, bangsa Indonesia.

Radikalisme dapat diartikan sebagai suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrim. Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Sebenarnya, paham radikal itu sudah berumur panjang. Seumur dengan sejarah keberadaan manusia. Ketika syariat nabi Adam mengajarkan perkawinan silang. Antara Qabil dan Habil, keduanya terjadi perselisihan tajam karena masing-masing memaksakan keadaan. Qabil menginginkan menikahi saudari kembarnya karena terlihat elok dan lebih cantik dibanding saudara kembar Habil yang kurang cantik. Maka dari memaksakan keinginan mereka inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial yang kemudian terjadi konflik horizontal. Akhirnya Habil terbunuh dan Qabil jadi pembunuh, sehingga terjadilah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. (QS. Al-Maidah; 5: 28). Hal itu terjadi karena radikal dalam cinta. Maka berhati-hati dengan cinta.

Dalam sejarah umat Islam, seorang intelektual muslim dari kalangan sahabat Ali Bin Abi Talib, terpaksa terbunuh secara sadis oleh sahabatnya sendiri Abdul Rahman bin Muljam  karena kedangkalan pemahaman dan pengetahuannya. Ibnu Muljam adalah seorang sahabat yang saleh dan banyak ibadahnya, bahkan dia seorang hafiz Alquran yang apabila melantunkan ayat-ayat suci, maka semua orang terkesima mendengarkan bacaannya yang begitu fasih dan indah. Namun, apa kekurangan dari sahabat ini? Pemahamannya terhadap agama Islam yang sangat minim meskipun dia hafal Alquran diluar kepala. Dia menganggap bahwa tahkim yang dilakukan khalifah Ali adalah perkara yang mengkafirkan karena melakukan tahkim yang dianggapnya bertentangan dengan ayat Alquran. Dia akhirnya membunuh Imam Ali ketika sedang melaksanakan salat subuh, dia menusuknya dari belakang, akhirnya sang Imam wafat.

Ibnu Muljam adalah seorang sahabat yang sangat dibanggakan oleh Rasulullah karena penguasaan hafalannya yang sangat hebat, namun kemudian menjadi pembunuh karena pemahaman terhadap Alquran yang keliru dan jauh dari nilai kebenaran. Disinal pentingnya belajar agama di tempat yang baik dan benar agar tidak salah kaprah.

Di Indonesia, ada banyak kasus yang lahir dari rahim Ibnu Muljam. Yakni pemahaman terhadap syariat Islam yang sangat kerdil, parsial dan picik. Akhirnya menelorkan banyak anti pemerintah, anti ulama, dan Pancasila dan UUD . Bahkan pemahaman dalam ajaran agama Islam yang berbeda dengan pemahamannya dianggapnya salah sehingga berusaha membumi hanguskan siapa saja yang bertentangan dengannya. Kasus bom Bali, Marriot, pembakaran tempat ibadah dan banyak hal lainnya adalah contoh dari pemahaman radikal mereka, mereka tidak peduli dengan kehidupan orang lain.

Indonesia telah memiliki ijtihad pemersatu bangsa yaitu Pancasila dan Undang-undang dasar 45. Semua komponen bangsa wajib tunduk dan patuh kepadanya, karena landasan itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan dalam banyak penetapan hukum itu berlandaskan dengan syariat Islam dam bentuk saddu zariah (preventif).

Oleh sebab itu, dalam tekad tersebut, pemerintah berupaya memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik kepada masyarakat agar mereka memahami ajaran agamanya masing-masing agar tidak terjadi cikal bakal radikalisme yang bisa mengganggu keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Pemerintah mendorong lembaga-lembaga keagamaan, sekolah dan pondok pesantren untuk memberikan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama mana pun untuk saling memahami dan saling menghormati satu sama lainnya agar tercapai cita-cita bangsa yang luhur.

Ada banyak ciri radikalisme yang sangat mudah kita kenali. Hal tersebut karena memang pada umumnya penganut ideologi ini ingin dikenal/ terkenal dan ingin mendapat dukungan lebih banyak orang. Itulah sebabnya radikalisme selalu menggunakan cara-cara yang ekstrim. Sebagai yang kami baca dari salah satu situs NU, ciri-cirinya:

  • Radikalisme adalah tanggapan pada kondisi yang sedang terjadi, tanggapan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk evaluasi, penolakan, bahkan perlawanan dengan keras.
  • Melakukan upaya penolakan secara terus-menerus dan menuntut perubahan drastis yang diinginkan terjadi.
  • Orang-orang yang menganut paham radikalisme biasanya memiliki keyakinan yang kuat terhadap program yang ingin mereka jalankan.
  • Penganut radikalisme tidak segan-segan menggunakan cara kekerasan dalam mewujudkan keinginan mereka.
  • Penganut radikalisme memiliki anggapan bahwa semua pihak yang berbeda pandangan dengannya adalah bersalah.

Hari ini, sesuai dengan paparan Badan Intelejen Negara, bahwa negara mulai terancam dengan masuknya paham ekstrim dan radikal di berbagai lapisan masyarakat. Termasuk di sekolah-sekolah, Perguruan Tinggi, mesjid-mesjid dan tempat lainnya. Oleh sebab itu, sebagai warga yang baik, harus ikut mengambil peran dalam menangkal berbagai serangan pemikiran radikal yang berakibat akan melahirkan teroris bertopeng dan bersembunyi dibalik agama.

Perlu dipahami bahwa di dalam pemberlakuan syariat Islam harus memenuhi lima faktor  yaitu: faktor tempat, waktu, niat, kondisi dan adat istiadat (al-urf). Salah satu dari kondisi inilah, suatu ketika khalifah Umar bin Khattab tidak memberlakukan hukum potong tangan bagi pelaku pencurian karena si pencuri adalah orang miskin yang membutuhkan makan sebagai penyambung hidup. Sudah barang tentu, ada kalangan sahabat tidak setuju dengan tindakan dan keputusan Umar itu. Namun, keputusan tetap ada di tangan penguasa yaitu khalifah. Dan itulah keputusan tertinggi yang tidak bisa dihalangi. Demikian juga, ketika presiden memberikan takzir kepada pelaku pengedar narkotika dan lainnya. Maka itu , adalah keputusan yang tidak bisa dihalangi.

Apakah Umar melanggar syariat? Tentu tidak, karena ajaran Islam sangat elastis dan tidak memaksakan keberlakuannya bagi mereka yang belum sanggup memikulnya. Seyogyanya, langkah Kahlifah Umar ini bisa diikuti oleh semua kalangan di Indonesia, seperti yang banyak dilakukan oleh ulama-ulama kita sehingga terjalin keamanan, keharmonisan dalam beragama sehingga terjalin kerukunan dan kebebasan beragama. Persatuan dan kesatuan bangsa akan tercapai.

Marilah kita mempelajari agama secara totalitas, sehingga terjauh dari paham radikal yang sangat membahayakan keberlangsungan persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sampai kita menjadi bagian dari “muljamisme” pemahaman Ibnu Muljam atau “Qabilisme” yang tidak mau tunduk kepada ajaran yang benar karena kedangkalan pemahaman dan nafsu serakah yang membabi buta.

Ulama Lawas, Jamaah Milenial

Secara historis tercatat bahwa peran ulama dari masa ke masa telah memberikan warna dalam transformasi ilmu dari satu genarasi ke generasi berikutnya. Bacaan Alquran dinukil secara turun temurun dengan jalan mutawatir yaitu komunitas mayoritas yang mustahil bersepakat dalam kedustaan. Demikian halnya dengan ilmu yang lain, seperti ilmu musthalah al hadis (ilmu riwayat dan dirayah), ilmu asbab al nuzul dan asbab al wurud (sejarah dan latar belakang turunnya ayat dan terucapnya sabda nabi), ilmu lugaat (bahasa) dan ilmu lainnya

Kalimat “Ahl Sunnah wal Jamaah” adalah cara tepat untuk memberi label kepada para generasi pasca nabi Muhammad. Ahl Sunnah adalah masa nabi di mana seluruh kebutuhan dan kebuntuan yang dihadapi sahabat akan mendapatkan secara konstant petunjuk dan penjelasan nabi, sedangkan wal jamaah adalah ulama; baik dari kalangan sahabat, tabiin, tabi’i tabiin, dan ulama setelah mereka yang menjadi bagian dari mata rantai silsilah ilmu sampai kepada nabi. Ulama adalah mereka yang memiliki klasifikasi ilmu agama memadai dan diakui oleh masyarakat di mana mereka berkiprah.

Jika pada pertemuan ulama dunia 1-3 April 2018 di Bogor Jawa Barat terkait isu teroris, islamophobia, ekstremisme, dan intoleran menegaskan bahwa Islam tidak perlu takut karena dalam garis sejarah tidak pernah terlibat dengan perang dunia I dan II. Maka, ada ketakutan lain yang harus diwaspadai oleh ulama yaitu kecenderungan umat pada hal-hal yang sifatnya instan. Hal-hal bersifat instan ini merupakan salah satu karakter abad 21 dan menjadi tantangan besar bagi ulama. Jamaah milenial seakan tidak doyan lagi mengaji dan berguru di depan kiai, dan enggan ke masjid mendengarkan tausiyah. Kaum milenial lebih menyukai mempelajari ilmu secara mandiri melalui ponsel, di mana pun mereka berada.

Tak dapat disangkal bahwa kemajuan tehnologi yang dapat mengetuk jendela-jendela ilmu bagaikan wabah penyakit menular dan sulit mencarikan penawarnya, karena selain sebagai kebutuhan juga menjadi life style, sehingga harus memasuki akar wabah itu untuk mengetahui sekaligus menawarkan jenis pil yang wajib dikonsumsi. Peran setiap pengemban agama dari berbagai latar belakang pun berlomba-lomba berkreatifitas untuk menarik viewers (pembaca/pemirsa). Kemudahan tehnologi inilah yang menghasilkan ustaz atau “kiai google”. Namun, belajar agama melalui praktik seperti ini akan sangat sulit memberikan filter, tidak mampu memilih dan menelusuri mana pendapat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Sebagai generasi milenial pun sebaiknya cerdas dalam berpenetrasi dengan media sosial. Salah satu poin penting yang harus dipahami adalah bahwa kecerdasan dan kemampuan meraih berbagai ilmu itu tidak dapat “diTuhankan” karena dibalik semua itu, ada yang paling rahasia dan dapat menembus infinitum lapisan teratas yang tak bisa diraih oleh banyak orang, yaitu keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu itu hanya dapat diraih jika dilakukan dengan cara talaqqi, yaitu bertransformasi langsung dengan guru, musyafahah atau mulut dengan mulut.

 

Dampak lain dari perilaku instan adalah kecenderungan mereka untuk menabrakkan antara pesan luhur agama dengan konten yang bernuansa hoaks. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan mengadu antara pendapat ulama satu dengan yang lain dengan cara provokatif sehingga menimbulkan mosi tidak percaya atau preseden buruk bagi seorang ulama dalam masyarakat. Bahkan, terkadang pemahaman mereka yang nihil terhadap agama dipakai melawan pemerintah dan kekuasaan yang dianggap memusyrikkan, memurtadkan atau mengkafirkan sekaligus. Sisi inilah yang menampakkan pentingnya silsilah keilmuan yang baik, sehingga arah dan tujuan dakwah berhasil dan tidak menyakiti apalagi menghakimi.

 

Kondisi di atas mewajibkan seorang ulama tidak hanya andal dalam mengkaji kitab-kitab turats (kitab kuning-gundul) dan menunggu audiens datang mengaji, akan tetapi juga wajib mentransformasikan pesan-pesan agama melalui media sosial. Abustani Ilyas (salah seorang guru besar bidang hadis UIN Alauddin Makassar dalam acara promosi doktor Abdul Malik, 26 Desember 2018 di gedung Pascasarjana UMI Makassar) menegaskan bahwa salah satu perkara wajib bagi ulama di zaman milenial adalah bermedia sosial yaitu punya skill untuk menyampaikan pesan agama melalui banyak media.

 

Ulama dituntut oleh zaman untuk mengambil peran dalam menghiasi jendela-jendela media sosial agar pandangan dan amar makruf, nahi munkarnya tidak hanya dinikmati oleh kalangan santri, akan tetapi juga masyarakat milenial secara umum. Secara faktual, ulama yang menguasai media maka dialah yang akan menjadi panutan masyarakat milenial. Sudah saatnya, ulama menjadi bagian penting pada kemajuan abad 21, sekaligus  mengoptimalisasi perannya sebagai penyaring bagi jamaah milenial dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan internet dan kecanggihan teknologi.

 

 

Saya Dan Gurutta Abba 4

Dalam kegamangan mencari Ambo Lahnaj, saya merasa sudah tidak sendirian lagi, tidak lagi merasa terbuang jauh. Setidaknya, saya telah dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang baru. Meski asing, nyatanya mereka sangat baik satu sama lainnya, sehingga sedikit pun saya tidak lagi merasa terasing sebagaimana di mula kedatangan saya di komplek As’adiyah. Di Asrama Hijau, saya “secara resmi” menjadi bagian dari asrama itu. Hingga beberapa waktu lamanya –di asrama itu-, saya mencatatkan banyak hal, merawat ingatan tentang perjalanan mencapai cita-cita, juga menemukan dan menyusun kepingan-kepingan masa depan yang masih misteri. Di tangan Allah, segalanya kami kembalikan; ikhtiar dan doa-doa.

Asrama ini cukup ramai, dihuni oleh enam santri. Saya masih mengingatnya dengan jelas. Ada Ismail Ahmad (yang lebih dikenal dengan nama Ismail Commo, kawan yang berkenan dan tulus menampung injakan kaki pertama saya di asrama), Muhammad Rusydi (kawan yang berbaik hati menghalau laparku dengan suguhan kuenya, Muh. Yunus Massekati, Ismail Gagah, Mustadir, dan Burhanuddin Kampiri. Bertemu dengan mereka, saya akhirnya percaya bahwa keterasingan seringkali menjadi cara terbaik untuk mendekatkan kita dengan orang lain dan Allah swt adalah sebaik-baik sutradara.

Jatah tempat tidur saya terdapat bagian atas. Sebagaimana biasanya di pesantren, Asrama Hijau juga menyediakan tempat tidur bersusun. Meski badan saya masih tergolong kecil saat itu, namun tempat tidur itu terasa sangat sempit. Tugasnya sesungguhnya berat. Selain untuk menampung badan yang kelelahan, tempat tidur itu juga menjadi “rumah” bagi sebuah koper tua dan menjadi sebuah “lemari” bagi pakaian ganti saya. Ruang gerak saya pun menjadi sangat terbatas. Sangat sulit untuk melakukan gerakan “balik kiri dan balik kanan” pada saat tidur. Saat terbangun, tentu saja badan kecil saya tidak luput dari rasa pegal. Tidur yang kaku, sekaku bilah papannya, menurutku.

Hal miris lainnya, tempat tidur itu hanya dilengkapi dengan selembar tikar tipis dan berserabut, tubuhnya telah dimakan waktu; menua. Meski demikian, selembar tikar usang itu adalah hal yang patut disyukuri. Saya yakin, seseorang telah bermurah hati meninggalkannya begitu saja dan sebelum mereka berpisah, sang tuan mengucapkan salam perpisahan dengan berkata, “Aku wariskan engkau kepada siapapun yang datang setelah kepergianku.”

Hidup memang sering kali tidak memberikan banyak pilihan. Begitu pun kondisi di asrama ketika itu. Benar-benar tidak ada pilihan lain, kecuali harus tidur di tempat itu tanpa kasur ataupun karpet. Orang tua saya tidak membekali apa-apa, selain doa, restu, uang lima ratus ribu rupiah, dan sebuah koper tua. Jangan salah sangka, bukan mereka tidak peduli. Ini adalah kekhilafan saya yang tidak menghimpun banyak informasi, hanya mengantongi nama Ambo Lahnaj.

Dengan membesarkan hati, saya selalu berusaha menikmati setiap hal yang mungkin dianggap penderitaan di mata orang lain. Penderitaan kala itu selalu terbayarkan dengan kebaikan hati dari teman-teman saya. Saya menemukan sebuah pelajaran terbesar dari asrama itu, bahwasanya “senasib dan sepenanggungan” adalah modal terbesar bagi siapapun untuk membangun empati dan simpati dalam dirinya. Pondok pesantren, termasuk As’adiyah, menjadi wadah yang kuat untuk membangun keduanya, dan juga hal positif lainnya.

Ismail dan Rusydi sesekali menawarkan tempat tidurnya. Begitu pun dengan teman yang lainnya. Mereka tahu bahwa saya tidak membawa beras, ikan kering, bekal lainnya, dan peralatan memasak. Karena itulah, mereka sering meminjamkannya. Bahkan, tak segan berbagi makanan. Masih segar dalam ingatan saya, selama beberapa hari, Ismail menjadi kakak yang penuh ketulusan menanggung kebutuhan pangan saya saat itu. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ismail pula yang membantu dan membimbing saya pada saat mendaftar. Atas sarannya, saya memilih mendaftar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Hingga pendaftaran itu selesai, Ambo Lahnaj belum juga tampak. Prosesnya tidak rumit. Bekal dari bapak pun perlahan-lahan mulai terpakai. Melihat daftar kebutuhan yang harus segera dipenuhi, saya berusaha menghematnya meski jumlah bekal itu tergolong banyak kala itu. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah itu harus mampu memenuhi kebutuhn saya berupa kitab tafsir Jalalain, Tanwiirul Qulub, Fathul Muin, Irsyadul Ibad, dan Mauidzatul Mukminin, buku tulis, dan buku pelajaran lainnya.

Selain itu, empat macam pasang seragam sekolah pun mendesak untuk segera dipenuhi, yaitu sepasang seragam pramuka, sepasang seragam abu-abu putih, dan sepasang seragam hitam putih. Pada saat mendaftar, setiap santri baru memang diminta untuk segera mengukur dan menjahit baju di belakang komplek. Namun, tidak saya acuhkan. Saya khawatir uang saya tidak akan cukup untuk memenuhi semuanya, karena peralatan dapur dan kebutuhan pangan masih berada dalam daftar kebutuhan.

Selang beberapa hari kemudian, saya pun segera mencari tukang jahit yang ditunjukkan oleh seseorang yang tidak kukenal. Begitu tiba di tujuan, tukang jahit itu segera membuka sebuah buku berukuran besar dan menanyakan nama saya. Hingga beberapa jenak lamanya, saya hanya menunduk malu. Paras tukang jahit itu telah membuyarkan konsentrasi saya. Saya mengira ia masih gadis. Kecanggungan saya itu karena tidak terbiasa berhadapan dengan perempuan, apalagi mengobrol. Saat menjadi santri di Karame, melihat lawan jenis adalah peristiwa langka. Sejauh mata memandang, maka yang tampak hanyalah padang rumput dan kicauan burung.

“Siapa namamu?” ia mengulang kembali pertanyaannya. Barangkali ia telah membaca kecanggungan saya dalam beberapa saat.

“Abdul Waris”

“Namamu ada di sini,” tangannya dengan cekatan menemukan nama saya di buku besar itu. Rupanya, nama saya sudah tercatat di dalam buku register santri baru.

Tahun itu, dengan sangat terpaksa, saya tidak mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Keperluan sekolah belum sepenuhnya terpenuhi, sedangkan uang semakin berkurang. Kegiatan itu barulah saya ikuti pada tahun ajaran berikutnya. Takdir membawa saya pada perjalanan lain. Tidak bisa ikut MOS, tapi bisa mengikuti Penataran Pendidikan Pancasila. Di sinilah saya bertemu dengan Abdul Malik (saat ini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Assalman Sidrap). Baginya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Ia mendapat informasi bahwa ada seseorang santri baru hafidz Alquran dari Kab. Sinjai, lulusan MTs. As’adiyah Cab. Ongkoe Belawa.

“Siapa yang memberikan informasi itu?” tanya saya pada Malik penuh keheranan.

“Ambo Lahang,” ia menjawabnya dengan singkat, namun memberikan perasaan heran yang cukup panjang untuk dihikmati.

Mengapa Ambo Lahang? Ingatan saya kembali ke Ambo Lahnaj. Hanya dia yang saya kenal. Bukan Ambo Lahang.

Beberapa waktu kemudian, saya menghadiri wisuda Ma’had Aly Angkatan I. Saat mendengar nama Ambo Lahang disebut, dari jauh saya memerhatikannya, di lantai II Gedung Arma. Saya terkejut bukan kepalang, bukankah itu Ambo Lahnaj yang selama ini saya cari? Malik kemudian mengajak saya untuk menemuinya di Radang setelah itu. Sayangnya, kami tetap saja belum ditakdirkan untuk bertemu. Sang kyai muda yang baru saja diwisuda itu sedang keluar.

Hingga suatu hari, Allah mengabulkan keinginan saya untuk bertemu dengan Ambo Lahnaj. Ketika saya berada di depan tangga gedung lama berlantai dua komplek As’adiyah, seseorang yang tidak lagi asing sedang melintas. Segera saja saya menyeru namanya. Pencarian pun berakhir, sang motivator telah berdiri di hadapan saya setelah sekian lama mencarinya. Beliau yang membawaku ke Sengkang dan menjadi guruku hingga saat ini. Syukron gurundaku. Selamat tinggal Ambo Lahnaj, selamat datang Ambo Lahang.

Saya Dan Gurutta Abba 3

Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Tersebab nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada pula alamat yang hendak dituju. Kaki saya terlampau berat melangkah tanpa modal apa-apa. Dalam keputusasaan, saya menuju masjid di komplek As’adiyah untuk menunaikan salat Asar seraya tetap merawat harapan untuk segera bertemu Ambo Lahnaj. Nama itu pun masuk dalam untaian doa saya usai salat. Tak luput saya menyapukan pandangan ke sekeliling saya, di dalam masjid itu, mencari wajah yang kukenal. Namun, tetap saja tidak ada satu orang pun yang bisa saya kenali.

Kesedihan saya pada akhirnya tiba di puncaknya ketika itu. Bulir-bulir air mata tidak lagi terbendung. Yang tampak di pelupuk mata hanyalah kedua orang tuaku. Saya terlampau nekad bepergian sendirian ke kota yang sangat asing bagi saya. Ingatan tentang saran bapak agar saya melanjutkan sekolah di DDI Mangkoso pun berkelebat. Saya akhirnya sadar, bapak tentu telah menimbang perkara “ke mana tujuanku”. Di Mangkoso, ada banyak keluarga yang bisa membantu, karena mereka pun menjadi santri di sana. Seketika, saya merasa terpuruk demikian dalam.

Dalam kesedihan dan kebimbangan yang campur aduk itu, saya berusaha bangkit kembali dan membesarkan hati. Saya berusaha menemukan kembali tekad yang bulat dan utuh yang pernah saya tunjukkan di hadapan bapak. Terlintas di dalam kepala tentang perjuangan bapak untuk menyekolahkan saya. Karena itulah, saya merasa harus bertanggung jawab mengarungi pilihan ini. Lekas saya menyeka air mata, bukan semata karena tekad itu telah saya temukan kembali, namun karena saya juga malu dengan orang-orang di sekitar saya.

Dengan menenteng sebuah koper tua, saya pun keluar dari masjid untuk mencari kembali seseorang yang mungkin saya kenal. Koper tua ini lalu menuntun kembali ingatan saya ke masa silam. Bagian yang rusak menjadi saksi perjuangannya bersama kakak saya yang telah menjadi santri di Pondok Pesantren Attahiriyah Balangnipa Kab. Sinjai. Terbuat dari tripleks tipis dan dilapisi dengan bahan kulit imitasi, bagian pinggirannya sudah sobek akibat sering terbentur di kendaraan, salah satu pegangannya pun telah lepas. Koper tua ini membawa saya pada satu hal, bahwasanya perjuangan itu harus tetap dilanjutkan, karena di balik perjuangan ada sebuah pengorbanan yang tak boleh sia-sia.

Di teras masjid, saya duduk beristirahat dan memerhatikan para santri yang sedang bermain sepak takraw. Ketika itu, terbersit keinginan untuk turut bermain. Hobi saya di bidang olahraga seolah mendorong saya begitu kuat. Namun, tak kalah kuat dengan ketidakpercayaan diri saya saat itu. Tidak ada satu pun pemain yang saya kenal. Tidak ada pilihan lain selain menjadi penonton saja. Sayangnya, dalam kesendirian  itu, saya kembali ke titik lemah. Tiba-tiba saya teringat kedua orang tua di kampung. Air mataku menetes untuk kesekian kalinya. Entah dari mana datangnya, saya merasa tak ubahnya seseorang yang bepergian jauh hanya untuk membuang diri di kampung orang.

Seseorang datang menghampiri saya ( beberapa waktu kemudian, saya mengetahui namanya Hasan DP). Mungkin ia sudah lama memerhatikan tingkah laku saya yang tampak asing dan terasing. Awalnya, komunikasi kami tersendat karena ia menggunakan Bahasa Bugis ketika menanyakan sesuatu. Suaranya pun terlampau kecil. Karena tidak menjawab, ia pun mengulang pertanyaannya dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Kita siapa?” tanyanya.

“Saya Waris. Saya mau sekolah di sini. Apakah kita mengenal Ambo Lahnaj?”

“Saya tidak mengenalnya,” jawabnya. Lalu ia menyebutkan sejumlah nama yang berawalan Ambo.

Tidak ada satu pun yang saya kenal. Pencarian kali itu kembali menemui jalan buntu. Siapa sesungguhnya Ambo Lahnaj itu? Mengapa tidak ada seorang pun yang mengenalnya? Saya lalu teringat dengan sebuah nama; Ismail. Ia pernah berkunjung ke asrama kami di Karame, beberapa bulan sebelum ujian nasional dilaksanakan.

“Apakah kita kenal Ismail?” tanyaku, dengan harapan ada titik terang.

“Ismail Commo atau Ismail Gagah?” pertanyaannya justru membuatku kebingungan. Rupanya kedua orang itu memiliki nama, kelas, dan asrama yang sama. Pak Hasan memutuskan untuk membawa saya ke Asrama Hijau, tempat siswa MAK kala itu. Pertanyaan Pak Hasan baru terjawab ketika yang muncul di hadapan saya adalah Ismail Gagah, seseorang yang juga asing bagi saya. Orang-orang dalam asrama itu berkesimpulan bahwa orang yang saya cari sudah pasti Ismail Commo yang berasal dari Belawa.

Ismail Commo saat itu sedang tidak berada di asrama. Oleh Pak Hasan, saya dimintanya untuk menunggu saja di kamar Pak Hasan. Ia sedang ke pasar, kata Pak Hasan. Tak berselang lama, orang yang saya tunggu pun datang dan segera menemuiku. Saat bertemu dengannya, beban yang menghimpit dada saya rasanya seketika menghilang. Saya pun dibawanya ke kamarnya di lantai atas Asrama Hijau. Saya bisa bernapas lega karena telah memiliki tempat berteduh. Satu masalah telah teratasi. Namun, muncul masalah lain; lapar.

Hari menjelang senja. Terakhir kalinya saya bertemu makanan hanya pada saat sarapan bersama bapak, sebelum berangkat ke terminal Panaikang Ujung Pandang. Sarapan itu telah menunaikan tugasnya untuk mengganjal perutku hingga saat itu. Seharusnya saya makan siang pada saat bus singgah di rumah makan Anda di Barru. Namun, saya mencemaskan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah itu tidak akan cukup untuk membiayai sekolahku jika saya menggunakannya untuk makan siang. Saya paham bahwa biaya sekolah tidaklah sedikit. Selain biaya pendaftaran, masih ada biaya untuk buku, seragam sekolah,  dan kebutuhan lainnya di sekolah. Badan saya mulai gemetar menahan lapar. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menghikmati rasa lapar itu. Rasanya sungguh mustahil jika saya harus sampaikan kepada Ismail. Kami baru bertemu, masih canggung dan asing.

Pertolongan selalu datang dalam waktu yang sangat tepat. Hal inilah yang selalu saya syukuri. Ketika menghikmati rasa lapar, seorang calon siswa baru lainnya juga ada di kamar itu. Namanya Muh. Rusdi Bin H. Ambo Iri. Atas kebaikan hatinya, ia menyuguhkan kue. Ia telah menyelamatkan saya dari rasa lapar. Pertolongan Allah begitu dekat.

Ismail dan Rusdi adalah dua orang yang telah menunjukkan pada saya bahwa masih banyak orang yang memegang teguh nilai-nilai ketulusan, meski kepada orang yang tidak dikenalnya. Dua nama yang tidak bisa saya lupakan sepanjang perjalanan hidup saya, sebagaimana saya tidak bisa melupakan nama Ambo Lahnaj saat itu. Siapa sebenarnya Ambo Lahnaj ini?

 

Saya Dan Gurutta Abba 2

Tidak ada yang lebih penting dalam setiap perjalanan kehidupan selain restu dan doa kedua orang tua. Pun demikian yang saya alami.  Meski berat di mata bapak, namun beliau pantang surut setelah melihat kesungguhan dan tekad bulat saya untuk melanjutkan pendidikan di As’adiyah Sengkang.

“Berapa biaya yang kamu perlukan, Nak?” tanya bapak keesokan harinya, setelah perbincangan malam itu.

“Berapa saja,” jawabku sekenanya. Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan bapak, karena saya memang tidak pernah menanyakannya saat bertemu sosok Ambo Lahnaj. Saya pulang ke kampung hanya membawa tekad dan kegembiraan, tidak ada informasi apa-apa meski hanya berupa selembar brosur.

Setelah percakapan itu, bapak mengajak saya ke Ujung Pandang (baca; Makassar). Secepat kilat saya pun mengiyakannya. Di mata seorang anak belasan tahun, bepergian ke kota Ujung Pandang adalah sebuah perjalanan yang menggembirakan. Apalagi, saya jarang bepergian ke Ujung Pandang. Di kota itulah beliau menghabiskan waktu untuk mencari biaya sekolah saya.

“Bersabarlah, Nak. Bapak akan mencarikanmu biaya sekolah,” ucap bapak dengan penuh ketulusan.

Kami tinggal di sebuah rumah panggung yang disewa oleh bapak. Di kolong rumah itu, bapak bekerja sebagai tukang kayu khusus pembuatan kuseng, jendela, dan daun pintu. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, kesedihan menjadi tidak terbendung saat melihat perjuangan dan kerja keras bapak demi anak-anaknya. Dari lantai dua, saya memerhatikan gerak-gerik bapak dengan seksama. Kucur keringat, debu dan ampas kayu yang lekat di kulit bapak, dan wajah lelahnya yang kadang tak tampak di antara gumpalan asap kayu adalah penanda yang tak akan lekang dalam ingatan saya tentang cinta seorang bapak.

Karena tidak tega melihatnya bekerja sendirian, saya putuskan untuk turut membantunya. Namun, setiap kali saya menghampirinya, setiap kali itu pula bapak menepis uluran tangan saya dengan kasih yang tersirat dalam kalimatnya, “kamu di atas saja, Nak.” Beliau sama sekali tidak mengizinkan saya untuk turun. Ketika itu, saya tetap memaksakan diri untuk membantu, meski sekadar memegang bilah kayu yang sedang diolahnya. Bapak tetap kukuh tak memberi izin, betapa kasihnya tak terkira.

“Lebih baik kau mendaras saja di atas. Tidak perlu membantu bapak di sini,” ucap bapak.  

Hati saya seolah tertohok oleh kalimatnya itu. Hingga beberapa hari kemudian, saya tidak hentinya menangis diam-diam, meresapi setiap tetesan keringatnya, menghikmati setiap jerih payahnya demi menyekolahkan anaknya, dan tidak bisa menahan air mata saat melihatnya dengan gesit bekerja dan bergumul di antara ampas kayu. Beliau bekerja semenjak salat subuh usai ditunaikan hingga tengah malam dan hanya diantarai oleh salat dan makan. Demikianlah, bapak tak hentinya bekerja tanpa keluh, meski penuh peluh.

Perjuangannya pun tunai setelah beberapa hari lamannya bekerja. Usai salat isya, bapak menghadapkan wajah dan tubuhnya ke arahku.

“Biaya sekolahmu telah terkumpul,” ucapnya seraya melemparkan senyum.

“Alhamdulillah,” ucap saya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat itu karena tahu betul bahwa uang itu adalah hasil jerih payah bapak selama beberapa hari.

“Apakah uang sebesar lima ratus ribu rupiah cukup untuk membiayamu?” tanya bapak selanjutnya.

“Cukup,” jawab saya lekas. Uang sebanyak itu bisa digolongkan jumlah yang sangat besar pada tahun 1997.

Malam itu, saya tidur di samping bapak, di dalam kelambu yang tak lagi putih. Namun, berwarna gelap akibat asap dan getah kayu yang menempel. Hingga beberapa jenak, saya pandangi wajahnya, dengan mata berkaca-kaca.  Ada haru yang bergemuruh di dalam dada saya.

“Kapan kamu akan berangkat, Nak?” tanya bapak.

“Besok, Pak.”

“Baiklah, Nak. Berangkatlah.”

Kami lalu tertidur membawa isi kepala masing-masing. Barangkali bapak masih memikirkan masa depanku, sedangkan saya masih memikirkan perjuangan bapak. Tengah malam, bapak membangunkan saya untuk salat lail dan mendaras. Ini adalah bentuk cintanya yang lain. Segera perintahnya itu saya laksanakan, meski beliau sendiri memilih melanjutkan tidurnya. Bapak pasti kelelahan, pikirku saat itu.

Keesokan harinya, bapak mengantar saya hingga ke Terminal Panaikang. Seraya menunggu penumpang lainnya, kami pun duduk berdampingan. Bapak mengulang nasehat yang semenjak kecil telah disampaikannya pada saya.

“Kekayaanku adalah jika kamu bisa membedakan yang salah dan yang benar, yang hak dan yang batil. Jangan lupa hapalanmu, karena hal itulah yang akan menjadikan kamu mulia.”

Meski telah berkali-kali mendengarkannya, namun petuah itu terus mendapatkan tempat di dalam hati dan kepala saya hingga kini. Tidak ada kata jenuh dan bosan untuk perkara nasehat dari seorang bapak kepada anaknya, karena inilah yang menjadi perekat cinta dan kasih sayang dalam keluarga kami.

Mobil pun melaju menuju Sengkang. Sebelum pergi, bapak masih sempat memeluk dan membisikkan kembali petuah di atas. Tidak dibiarkannya ingatan saya lekang akan nasehat tersebut. Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Karena nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada alamat yang hendak dituju.

Saya Dan Gurutta Abba 1

Awal tahun 1997, saya menghkatamkan Alquran 30 juz di Dusun Karame Desa Ongko Kec. Belawa setelah menempuh pendidikan sekira 11 bulan 10 hari, di bawah bimbingan langsung gurunda tercinta Amrullah.

Saat itu, saya belum tamat madrasah tsanawiyah. Ketika masih menjalani proses takhassus, gurutta Juhairi –selaku kepala sekolah- menyarankan agar saya mengikuti ujian persamaan. Karena khataman Alquran saya selesai sebelum pelaksanaan Ujian Nasional SMP/MTS, saya pun menunggu hingga beberapa bulan lamanya. Melewati sisa-sisa waktu demi sebuah ijazah yang menjadi kunci kelanjutan pendidikan saya. Masa ujian pun tiba. Saya mengikuti ujian di MTS Ongko. Saat itu, ada dua orang pengawas utusan As’adiyah Pusat Sengkang, satu di antaranya adalah Ambo Lahang. Namun, saya mengenal beliau dengan nama Ambo Lahnaj. Sebuah nama yang saya dapatkan dari hasil pembacaan saya pada sebuah tulisan berbahasa Arab di sampul buku beliau. Tidak ada keberanian yang cukup bagi saya untuk menanyakan namanya. Ambo Lahnaj kemudian menjadi nama yang lekat dalam ingatan saya ketika itu.

Pertemuan di masa itu menjadi mula perjalanan saya di As’adiyah. Beliau mengajak saya melanjutkan pendidikan di Sengkang. “Di Sengkang maki sekolah, Nak. Lanjutkanlah pendidikan di Sengkang, karena kamu seorang penghapal Alquran. Jika seorang penghapal Alquran melanjutkan pendidikannya di Sengkang, itu sangat bagus,” dengan bahasa yang santun, beliau berupaya meyakinkan saya atas ajakannya tersebut. Dengan keluguan seorang siswa tsanawiyah kala itu, saya pun mengiyakannya dengan jawaban, “Iye, Insya Allah.”  Seolah-olah di dalam kepala saya, tidak ada hal yang harus ditanyakan, bahkan tentang prosedur pendaftaran pun tidak saya tanyakan.

Begitu ujian selesai, kami pun berpisah. Meski masih asing, namun ajakan seorang Ambo Lahnaj tidak pernah luput dari kepala dan terus mengiang-ngiang. Tanpa menunggu lebih lama, dengan membawa impian yang bermula dari ajakan orang asing itu, saya pun pulang kampung. Di dalam diri saya, sebuah tekad untuk memenuhi ajakan tersebut tak ubahnya dahaga yang harus segera dituntaskan dengan segelas air.

“Bapak, saya ingin melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang.” Pelan tapi pasti, saya mengutarakan maksud kepulangan saya kepada bapak. Aroma demokrasi sebuah negara kecil hadir di antara kami. Bapak terdiam hingga beberapa jenak.

“Apa itu As’adiyah? Di mana?” Tanyanya kemudian.

“As’adiyah itu pesantren yang ada di Sengkang, Bapak.” Usai mendengar jawaban saya, bapak pun kembali terdiam. Menunduk seraya berpikir.

“Sekolah di DDI Mangkoso saja, Nak.” Ucapnya dengan sorot mata tegas namun bijak. Tampak keraguan di kedalaman mata tersebut. Di kampung saya, DDI Mangkoso memang sangat terkenal. Sejumlah alumninya berasal dari kampung saya, termasuk sanak keluarga.

Lalu saya pun menceritakan ihwal pertemuan saya dengan Pak Ambo Lahnaj. Namun, kecemasan dan kebimbangan seorang ayah tetap geming dari gurat wajah bapakku.

“Lebih baik perbaiki dan perlancar saja hapalanmu. Keutamaan seorang penghapal tidak bisa dinafikan. Dengan hapalan Alqurannya, ia bisa hidup. Meski pergi ke ujung dunia atau berada di bawah lautan sekalipun, ia tetap dimuliakan oleh semesta,” nasehat bapak kala itu.

Hatinya belum luluh, sedangkan tekadku kian utuh. Bermula dari mimpi yang besar, saya tetap bertekad meminta kepada bapak untuk diizinkan melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang. Dengan hati yang dipenuhi kasih sayang, beliau berkata, “Baiklah, Nak. Lanjutkanlah sekolahmu.”

Setelah itu, kunci itu pun ada di tangan saya. Saya tidak punya banyak kata yang bisa mewakili kegembiraan saya setelah mendengar jawaban bapak. Hanya ada dua kata yang saya haturkan di hadapannya, “Terima kasih.”