Bagaimana Hukum Fidiah bagi Wanita Hamil dan Menyusui? Simak…

0

Hukum Puasa bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Dalam bahasa Indonesia, fidiah bermakna denda. Sesuai syariat, denda tersebut dibayar karena adanya pelanggaran ketentuan yang dilakukan oleh seorang muslim pada saat menjalankan ibadah puasa, misalnya karena hamil dan menyusui, penyakit menahun, penyakit tua, dan sebagainya. Adapun fidiahnya bisa berupa makanan pokok, misalkan beras. Fidiah yang harus dibayar adalah satu Mud, dalam fikih senilai 510 gram beras. Namun dalam konvensi Baznas Indonesia, jika diuangkan, sekitar Rp.45.000,- setiap hari- sama dengan nilai zakat fitrah.

Kata fidiah tersebut berasal dari bahasa Arab. Ibn Fāris dalam mukjamnya mengatakan: asal kata فَدَي mempunyai dua makna yaitu: أَنْ يُجعل شيئٌ مكانَ شيئ حِمًي لَه, artinya menempatkan sesuatu di atas sesuatu untuk menjaganya, dan makna kedua: شَيْئٌ مِنَ الطَّعام, artinya sepotong makanan.[1]

Puasa memang merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam di bulan Ramadan. Namun, ada-ada saja hal yang menjadi penyebab bagi seseorang sehingga tidak bisa melaksanakan puasa pada bulan suci tersebut, di antaranya adalah faktor usia, penyakit, hamil, menyusui, dan bahkan karena pekerjaan. Dalam hal ini, Allah swt. memberikan keringanan bagi mereka yang tidak bisa menjalankan puasa pada bulan Ramadan. Mereka dibolehkan tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Namun sayangnya, di titik ini, banyak muslim yang belum paham secara totalitas mengenai kondisi apa yang mengharuskan membayar fidiah sambil mengganti puasa, mengganti saja, dan atau fidiah saja.

Atas fenomena itu, saya mengkaji pendapat ulama fikih khususnya Syafiiyah, sekaligus merespon permintaan teman-teman yang membutuhkan penjelasan detail, aktual, dan akurat. Secara khusus kajian ini fokus pada wanita hamil dan menyusui.

  1. Wanita hamil

Seperti yang sudah menjadi maklum bagi semua muslim bahwa orang yang tidak berpuasa karena uzur syar’i, misalkan disebabkan sakit dan musafir, maka wajib baginya mengganti puasanya (qada) sejumlah yang ditinggalkan.

Namun, bagaimana jika wanita hamil yang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan janin yang dikandungnya? Untuk perkara demikian, maka konsekuensi hukumnya adalah qada sekaligus membayar fidiah, atau qada saja. Dalam persoalan ini, terdapat dua alasan ulama Syafiiyah:[2]

Pertama, mewajibkan fidiah dan qada. Hujahnya adalah riwayat Abdullah ibn Abbas terkait firman Allah swt. dalam QS. al-Baqarah/2: 184. (و عَلَي الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ… البقرة\2\184), menurutnya ayat ini sudah terhapus hukumnya, kecuali pada wanita hamil dan menyusui. Juga diperkuat oleh hadis Anas ibn Malik al-Ka’bī  bahwasanya Rasulullah saw. berkata: “Sesungguhnya Allah meringankan puasa, dan mengkasar salat bagi musafir, juga meringankan puasa bagi wanita hamil dan menyusui”.[3] Pendapat pertama ini yang diikuti dalam mazhab ini.

Kedua, tidak wajib bayar fidiah, hanya wajib qada. Alasannya adalah kalau seandainya dia takut akan kondisi janin-nya, maka sesungguhnya kembali juga kepada kondisi dirinya, seperti puasa hukum orang sakit.

Tentu pendapat kedua ini membutuhkan integritas tinggi dari seorang wanita hamil, untuk menentukan kondisi dirinya. Karena yang lebih tahu kondisinya hanyalah dirinya dengan Tuhan.

  1. Wanita menyusui

Wanita menyusui yang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan anaknya, maka baginya wajib membayar fidiah dan juga qada. Alasannya, wanita yang menyusui bisa dipastikan fisiknya dalam kondisi sehat dan tidak ada uzur syar’i. Artinya, dia tidak berpuasa karena sebab mengkhawatirkan anak, bukan sebab dirinya.

Cara pendistribusian fidiah wanita hamil dan menyusui

Imam al-Nawawī, menyatakan bahwa ada perbedaan distribusi fidiah dengan kafarat. Fidiah, boleh diberikan sekaligus untuk beberapa hari kepada seorang fakir miskin. Berbeda dengan denda kafarat jimak. Kafarat, satu mud hanya untuk seorang fakir miskin, jadi 60 mud untuk 60 pemerima fakir miskin.

Pernyataan Nawawi tersebut terdapat dalam al-Majmū’:

“… فَيَجُوْزُ صَرْفُ أمدَادٍ كَثِيْرَةٍ عَنِ الشَّخْصِ الوَاحِدِ و الشَّهْرِ الوَاحد إلي مِسْكِيْنٍ وَاحد أو فقير واحد، بِخِلاَفِ أمداد الكَفَّارَةِ فَإنه يجبُ صرفُ كلِ مدٍّ إلي مسكين و لا يصرف إلي مسكين من كفارة واحدة مُدَّانِ …”

Artinya:

“… boleh menyerahkan beberapa mud untuk satu bulan kepada seorang fakir miskin, berbeda dengan denda kafarat, penyerahan satu mud hanya kepada satu fakir atau satu miskin tidak boleh dua mud untuk satu penerima….”[4]

Daftar Referensi

[1] Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām ibn Hārūn, Juz. IV, (T.t., Dār al-Fikr, t.th), h. 483.

[2] Imām al-Ḥaramain Abdul Malik al-Juwainī, Nihāyatu al-Maṭlab fī Dirāyati al-Mażhab, Taḥqīq: ‘Abd al-‘Aẓīm Maḥmūd al-Daib, Juz IV, (Cet. I; Jeddah: Dār al-Minhāj, 1428 H/2007), h. 43.

[3] Imām al-Turmiżī, al-Jāmi’ al-Kabīr, Abwāb al-Ṣaum, Bāb Mājā’a fī al-Rukhṣah fī al-Ifṭār lī al-Ḥublā wa al-Murḍi’, Taḥqiq: Basysyār ‘Awwād Ma’rūf, Jilid II, (Cet. I; Beirut: Dār al-Garb al-Islāmī, 1996 M), h. 85-86. Nomor hadis: 715. Teks hadisnya: “إن الله تعالي وضع عن المسافر الصوم، و شطر الصلاة ، و عن الحامل و المرضع الصوم أو الصيام”. Komentar dalam sunan Tirmizi ini, mengatakan: Sebagian pakar fikih seperti Syafii, Ahmad ibn Hambal, Sufyān, dan Mālik, menegaskan bahwa wanita hamil dan menyusui wajib meng-qada dan memberi makan, fidiah.

[4] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz VI, (Jeddah: Maktabah al-Irsyād, t.th), h. 420.

Baca Juga...
Komentar
Loading...