Bekal Ilmu Dari As’adiyah

Saya Bangga Jadi Santri As’adiyah 4

Berbekal Ilmu dari As’adiyah

Setelah kurang lebih tiga hari Kemenag Sidrap melaksanakan manasik haji, saya datang. Alhamdulillah, saya dapat sambutan baik dari H. Irman, M.Ag (Kakan Kemenag Sidrap). Meski hanya via telepon namun petunjuk dan arahannya sangat memotivasi saya.

Hal yang juga sangat luar biasa adalah peristiwa setelah saya memarkir kendaraan di halaman Masjid Agung Sidrap. Karena tidak melihat satu orang pun jamaah calon haji, saya putuskan menghampiri mobil ambulance yang tak jauh dari arah belakang miniatur kakbah (tempat praktik tawaf) untuk mencari jawaban di mana gerangan para jamaah.

Rupanya yang ada di balik ambulance adalah sahabat yang saya kagumi kanda KH. Bunyamin Yafid, Lc (ceo PT. Annur Maarif) dan beberapa petugas kesehatan dari Dinkes Sidrap. Siapa sangka akan terjadi temu “dadakan” dua alumni As’adiyah yang lagi saling mengagumi.

Kyai Bunyamin adalah salah satu alumni terbaik As’adiyah yang melanjutkan studinya di Al-Azhar University Kairo Mesir. Pada tahun 1997, kami berada di jurusan yang sama di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Saat itu, saya baru duduk di kelas satu dan ia di kelas tiga.

Kecerdasannya memang sudah tampak saat itu, tak bisa disembunyikan, bersama beberapa temannya seperti Herman Heizer, Aliasyadi dan yang lainnya. Mereka inilah yang selalu tampil secara bergantian sebagai pembaca pembuka “mabbaca kitta” sebelum Gurutta “mappangaji tudang”, memberikan pengajian halaqah.

Mereka, kini selain ilmuan generasi emas As’adiyah, juga sebagai pebisnis ulung yang sukses.

Oh….rupanya sahabat inilah yang direkomendasikan penuh oleh Kementerian Agama Kab. Sidrap sebagai nara sumber tunggal dalam kegiatan manasik haji 2018. Saya makin kagum dengannya. PT Annur Maarif yang juga memiliki KBIH mendapat tempat istimewa di pemda dan hati masyarakat.

Kyai Bunyamin selanjutnya menfasilitasi saya untuk bertemu dengan jamaah calon haji dan juga perkenalan. Interkoneksi sudah terjadi dan saya pun mulai akrab dengan jamaah. Sayangnya, sore itu ternyata adalah akhir perjumpaan dengan mereka. Mereka harus beristirahat untuk melanjutkan kegiatan keesokan harinya. Sedangkan saya harus melanjutkan perjalanan ke Makassar untuk mengikuti kuliah terakhir.

Setelah pertemuan sore itu, saya pada akhirnya makin yakin dan merasa matang untuk menjadi ketua kloter jamaah haji kloter 4 Sidrap. Apalagi ada PT. Annur Maarif yang akan turut pula dalam kloter 4 sebagai KBIH. Keyakinan dan kematangan itu muncul karena saya percaya dua alumni As’adiyah ini akan menjadi sebuah tim yang solid dan amanah.

Sekira dua hari sebelum pemberangkatan, saya mendapat kabar tentang adanya pergeseran petugas haji. Pada waktu yang hampir bersamaan saya kembali dihubungi Kasi PHU Wajo terkait finalisasi penempatan petugas haji.

Sebuah kejutan, rupanya Kepala Kemenag Kab. Wajo Dr. H. M. Arsyad Ambo Tuo merekomendasikan saya untuk tetap mendampingi jamaah Kab. Wajo – Makassar.

Agak sedih juga sih…, karena saya sudah mulai menyesuaikan diri dengan jamaah calon haji Sidrap. Lagian mereka sangat bangga mengetahui kalau yang akan memimpin mereka adalah Imam Masjid Agung Ummul Quraa Sengkang Kab. Wajo (kata beberapa jamaah).

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, 17 Juli 2018, semua jamaah calon haji berkumpul di Islamic Centre Ulugalung untuk persiapan pemberangkatan ke Asrama Haji Sudiang Makassar secara bersama-sama. Tidak ketinggalan petugas kloter juga diwajibkan untuk bersama jamaah saat itu.

Saat kumpul bersama jamaah, beberapa dari mereka menyalami saya sambil menyampaikan rasa syukur karena saya kembali akan bersama mereka memenuhi panggilan Allah SWT. Bahkan, saat panitia mengumumkan bahwa saya dikembalikan ke Wajo. Sorak suara “alhamdulillah” memenuhi ruangan disertai tepuk tangan.

Tugas mulia sebagai pelayan tamu-tamu Allah (duyufurrahman) mulai saya jalankan dengan berbekal ilmu dari mondok di As’adiyah. Dengan penuh keyakinan, ilmu-ilmu yang saya peroleh di As’adiyah akan menjadi modal utama saya dalam mendampingi para jamaah calon haji.

Saya harus melaporkan kondisi jamaah sesaat setelah tiba di asrama haji Sudiang, usai penerimaan dan pembagian gelang identitas serta akomodasi. Semua prosedur pemberangkatan kami laksanakan, termasuk cek kesehatan jamaah dan petugas karena hal tersebut menjadi syarat laik terbang.

Rapat pertama dengan PPIH embarkasi saya ikuti bersama TPIHI dan TKHI, juga menghadirkan ketua rombongan (karom) dan ketua regu (karu) untuk membahas hal-hal yang mungkin terjadi dalam kloter dan juga selama penerbangan.

Edisi berikutnya Madinah-Mekah.

Komentar
Loading...