Bersamanya, Saya Semakin Yakin

Alquran menganjurkan manusia melakukan perjalanan agar bisa mengetahui banyak hal. QS. Al-Rum: 42 “katakanlah (Muhammad) berjalanlah di muka bumi dan jadikan pelajaran/ perhatikanlah  kesudahan orang-orang (yang pernah eksis) dahulu sebelum kamu…”

Pada tahun 2005 (saat itu, masih suasana bulan madu, hehe…), saya mendapat mandat dari PB. As’adiyah sebagai muballig sekligus imam tarawih di pulau sebatik. Malam ke dua ramadan, perjalanan Pare-Nunukan kami mendapatkan tiket KM. Tidar. Menjelang waktu salat, Anak Buah Kapal (ABK) meminta kesiapan penumpang yang sudah berkumpul di musalla untuk bertindak sebagai imam magrin-isya dan penceramah tarawih.

Tak seorang pun dari penumpang tersebut yang mengangkat tangan sebagai bentuk kesiapan. Usai berbuka puasa bersama, jamaah saling melirik siapa yang akan maju memimpin salat magrib. Tiba-tiba, Guru KH. Riyadi Hamdah menyebut nama “Waris” dan menyuruhnya menjadi imam. Ternyata nama itu adalah saya.

Usai memimpin salat magrib, kami kembali ke kamar, tak lama kemudian salah seorang ABK mendatangi kami dan menawarkan untuk menjadi imam isya sekaligus sebagai penceramah. Saya mengarahkan dia berkomunikasi dengan kiai yang pada akhirnya, beliau sepakat dan siap menjadi penceramah sekligus merekomendasikan saya sebagai imam salat isya dan tarawih.

Setelah kami melaksanakan rekomendasi itu, beberapa jamaah mendekat dan mengajak kami mengobrol sejenak. Dengan menggunakan bahasa bugis, rasa keakraban semakin membuat suasana riang penuh kegembiraan meskipun angin malam yang kencang dengan ombak besar menghantam kapal sangat terasa. Pihak ABK memberikan pelayanan khusus dan meminta kami bersedia “membackup” seluruh rangkaian kegiatan ibadah dalam kapal selama dalam perjalanan.

Alhamdulillah, saya bersama istri seakan menjadi “artis” dadakan. Banyak jamaah datang ingin berkenalan, meminta nomor handphon, dan bertanya tentang banyak hal. Waktu itu kami disebut sebagai rombongan huffaz (para penghafal Alquran). Perjalanan mengesankan ini pula yang nantinya membawa saya bertugas di kota Surabaya di tahun berikutnya.

Setelah bertugas di sana selama separuh ramadan, sebuah berita duka tersiar, salah seorang saudagar kaya berdarah bugis yang merupakan warga sebatik meninggal dalam sebuah insiden di Tarakan. Konon, penyebabnya adalah karena hal sepele yang tidak diterima oleh koleganya sendiri. Kekayaan yang dianggap segala-galanya, membuatnya kurang diterima orang lain, padahal jika dia keluar sejengkal tanah untuk meyaksikan kekayaan dan kehebatan orang lain, pasti akan mengubah pola fikirnya bahwa “di atas langit masih ada langit”. Itulah pentingnya melakukan sebuah touring. 

Nabi Musa as juga pernah malelakukan perjalanan menyusuri sungai bersama salah seorang muridnya. Dalam perjalanannya, Allah mempertemukannya dengan seorang hamba saleh yang konon bernama “Khidir” (baca tafsir Al Azhar oleh Prof. Hamka, QS. al-Kahfi: 60-82). Khidir memperlihatkan kepadanya sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Musa berkata “bolehkan saya mengikutimu agar kamu mengajariku sesuatu yang kamu telah ketahui?” Khidir menjawab “Sungguh kamu tak akan mampu bersabar bersamaku, bagaimana mungkin kamu bersabar pada sesuatu yang kamu tidak paham?” Musa menjawab “Insya Allah kamu akan mendapatiku seorang yang bersabar dan tidak akan melanggar”

Kesepakatan keduanya telah terjadi sebelum perjalanan dilanjutkan.

Keduanya bergerak menaiki kapal dan Khidir memecahkan kapal itu, Musa yang tak tahu menahu sesuatu heran dan protes karena hanya bisa menjangkau yang dilihatnya seketika “mengapa kamu memecahkan kapal ini sehingga penumpangnya akan tenggelam?” Khidir berkata kamu telah melanggar kesepakatan yaitu dilarang bertanya. Musa berkata “mohon jangan menghukum atas kealpaan dan kekhilafanku…”

Demikianlah sekelumit perjalanan Musa bersama Khidir dan beberapa peristiwa berikutnya yaitu membunuh anak kecil dan merobohkan bangunan yang membuat nabi Musa selalu keberatan tak tahan akan perlakuan Khidir karena ketidaktahuannya. Meskipun pada akhirnya Khidr menerangkan secara datail setiap peristiwa yang telah dilakukannya sebagai pertanggungjawaban.

Kali ini, saya sedikit menceritakan pengalaman kebersamaan dengan deng Aji (teman, saya samarkan namanya karena terkait integritasnya)

Di Madinah dan Mekah musim haji 2018/1439, meski belum kenal akrab kala itu, saya kagum menyaksikan kedisiplinan deng aji. Semua waktunya dipergunakan untuk ibadah sekaligus melakukan perjalanan ke banyak tempat. Malam-nya tidak digunakan untuk tidur tetapi untuk salat, dan hari-hari-nya untuk menelusuri semua sudut-sudut koya Mekah sekaligus riset kecil-kecilan. tidak hanya itu, semua yang telah dilihanya menjadi pembahasan yang harus saya jawab bersama sang pembimbing H. Tajuddin Talli, dan sang dokter Chaerul Amin Rusli saat bersama di kamar hotel.

Kali ini, senin-selasa, 12-13 Nopember 2018, saya kembali bersamanya selama 12 jam. Deng Aji menjemput pukul 19.00 dan tiba di kediamannya sekitar 21.45 waktu Jakarta Timur dan tiba kembali di Hotel 05.59 pagi.

Saya menyaksikan kedisiplinan para aparatur negara di Markas Besar Angkatan Darat (MABESAD) tempat di mana dia bertugas sangat luar biasa.

Bercengkrama selama kurang lebih dua jam terkait tugas dan tantangan pekerjaan di Jakarta membuat saya makin menaruh kagum dengan sahabat baruku ini. Menduduki jabatan di MABESAD tidak semua anggota bisa meraihnya karena menjadi incaran pejabat dari seluruh wilayah Indonesia.

Jam tiga menjelang subuh, dia sudah terjaga dan mempersipkan segala sesuatu untuk pekerjaannya. Saya ingat betul sikapnya saat di Mekah, jam itu adalah jam ibadahnya. Ternyata memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, di rumahnya pun demikian. Ooh… ternyata kedisiplinan di Mekah itu ternyata bukan karena dibuat-buat, namun sudah menjadi karakter hidupnya.

Mengapa nabi sangat menganjurkan kedisiplinan?

Kedisiplinan adalah pangkal kesehatan dan kekayaan Nabi melarang umatnya tidur setelah salat asar (ailulah), menurut penjelasan ulama terkait larangan nabi tersebut, Ailulah akan mewariskan kebodohan dan kemiskinan. Malaikan rahmat yang datang membagi-bagi doa dan rezki di pagi itu akan meninggalkannya dalam keadaan tak mendapat apa-apa.

Juga nabi melarang tidur di sore hari (hailulah). Tidur di sore hari akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga serangan penyakit fisik dan non-fisik akan mudah menyerang. Serangan sihir atau penyakit ‘ain biasanya disebarkan oleh hasid pada waktu itu, sehingga siapa saja yang tidak terjaga akan mudah terserang karena jiwa jadi kosong.

Justru nabi menganjurkan qailulah yaitu tidur yang dilakukan sebelum atau sesudah salat duhur. Sebagian ulam mengatakan tidur di waktu itu adalah istirahatnya para nabi dan orang kaya. Qailula ini akan menambah ketahanan tubuh sehingga semua aktifitas kan terasa segar.

Qailulah sesungguhnya tidak mesti tidur. Namun, cukup dengan membaringkan badan akan menambah kekuatan dalam aksi berikutnya di hari itu.

Cara tidur dua yang pertama sama sekali saya tidak menemukannya pada sosok sahabat deng aji itu. Tuntutan tugas yang menumpuk mebuatnya disiplin sehingga tak ada Ailulah dan Hailulah baginya.

Melihat langsung segala aktifitasnya walaupun hanya sekejap, saya semakin yakin bahwa tradisi disiplin seperti itu membuatnya sehat-bugar.

Sejak 09 nopember sampai cerita ini saya rilis, menemukan banyak pengalaman baru di ibu kota Jakarta ini. Pergerakan warga setiap hari sangat cepat dan tuntutan pekerjaan amatlah mendisiplinkan.

Membayangkan negara super power seperti Amerika Serikat atau negara maju seperti japan bagaimana ya? Pantas saja mereka hebat.

Kedisiplinan nabi dalam berdagang dan berdakwah membuatnya menguasai bumi saat itu dan bahkan sampai hari ini.

Saya terdiam, berfikir dan bertanya dalam diri sendiri “mengapa saya tidak bisa disiplin seperti mereka? Andai saja saya disiplin menggunakan waktu belajar dan menulis? Andai saja saya bekerja keras mungkin sudah kaya raya? Hehe… (menghayal)

Dari cerita diatas dapat saya simpulkan beberapa hal: pertama, lakukanlah banyak perjalanan supaya kamu mendapat banyak pelajaran termasuk banyak teman; kedua, menemukan orang lain yang lebih hebat akan menyadarkan kekurangan diri sendiri; ketiga, jangan ragu untuk beryanya karena bertanya adalah separuh ilmu; keempat, terkadang kita memprotes atau menegur orang lain karena keterbatasan diri kita sendir bukan karena kehebatan kita dan; kelima, jadilah orang disiplin, kamu akan sehat dan kaya.

Perjalanan saya selama 10 hari ini (08-18 Nop. 2018) sebagai duta seluruh ASN Prov. Sulawesi Selatan dalam rangka MTQ Korpri Nasional IV ini sungguh sangat mencerahkan. Semoga kami juara dan tentunya membanggakan masyarakat Sulsel. Doakan yaaa.

Amin.

Komentar
Loading...