Bolehkah Salat Sunat Setelah Subuh?

Hukum Islam adalah salah satu ‘produk’ Tuhan yang bertujuan menjamin kesimbangan dan kemasalahatan manusia. Keberlakuannya sangat dinamis tidak statis, sangat akomodatif terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban manusia, sehingga dapat diterima di semua tempat dan komunitas.

Rasulullah saw. ketika masih bergumul bersama dengan sahabatnya, dalam persoalan muamalat, ibadah, dan hak-hak sipil, terkadang mengabaikan identitasnya sebagai utusan Tuhan terbaik yang berfungsi sebagai wakil-Nya dalam menjelaskan hukum kepada umat. Rasulullah Saw memberikan banyak ruang kepada sahabatnya dalam rangka membina dan mengajarkan mereka cara beristinbat atau menetapkan suatu hukum dalam masalah tertentu, kendati Nabi sedang berada di tengah-tengah mereka.

Dalam salah satu terminologi hadis, setidaknya ada tiga hal yang disandarkan kepada Nabi saw., yaitu: perkataan atau qaul, perbuatan atau fi’l, dan pengakuan atau taqriir. Tiga term tersebut mewakili seluruh aspek kehidupan Rasulullah, baik yang sifatnya sebagai nabi atau sebagai manusia biasa, perintah, larangan, dan lain sebagainya.

Term yang akan saya sorot dalam kajian ini adalah pengakuan, ketetapan, pembiaran nabi yang disebut sebagai taqriir. Term ini saya pilih selain untuk mempertajam kembali pemahaman saya terhadap keterbukaan dan fleksibelitas hukum Islam, juga sekaligus menjawab pertanyaan:

“Bolehkah melakukan salat sunat setelah salat subuh?”

Sebagaimana lazimnya, bahwa dalam praktek kaum muslimin di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia, bagi mereka yang belum pernah berguru dan apalagi talaqqi ilmu di sebuah satuan pendidikan ala pondok pesantren, dipastikan haus akan informasi terkait ilmu fikih, terlebih perkara “boleh atau tidaknya melakukan suatu ibadah”.

Pertanyaan tersebut sesungguhnya telah dibahas dalam kitab-kitab fikih khususnya dalam Mazhab Syafi’iyyah, bahwa hal tersebut boleh saja dilakukan jika ada alasan yang melatarinya. Mereka menyebutnya sebagai qada atau salat pengganti.

Memang terdapat riwayat yang menegaskan bahwa tidak ada salat sunat setelah salat subuh, begitupun setelah salat asar. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim:

لا صلاة بعد الصبح حتي ترتفع الشمس ولا صلاة بعد العصر حتي تغيب الشمس 

Artinya;

Tidak ada salat sunat setelah salat subuh sampai naik matahari, dan tidak ada salat sunat setelah salat asar sampai terbenam matahari” 

Namun, jika kita merunut riwayat yang banyak itu, terlebih jika mau berhujjah selain sahih Bukhari dan Muslim, ada informasi yang menegaskan kebolehannya jika ada uzur syar’i, yaitu karena lupa, tertidur, terhalang oleh kondisi jalan, kendaraan yang mogok, dan lain sebagainya.

Boleh pula melakukan salat di waktu terlarang jika ada sebab, seperti; salat karena masuk sebuah masjid (tahiyat al-masjid), salat gerhana, salat wudu, salat sunat tawaf, dan semisalnya. Semua salat itu boleh dilakukan setelah subuh dan asar dengan dalil zawatu al-asbaab.

Dalam sebuah riwayat yang diinformasikan oleh Abu Dawud: bahwasanya ada seorang laki-laki (Qais bin Amr) yang melaksanakan salat setelah salat subuh, nabi bertanya “mengapa engkau salat padahal subuh itu hanya dua rakaat?” Ia menjawab “saya tak sempat salat qabliyah, sekarang baru saya melakukannya”, nabi yang mendengarkan penjelasan sahabat itu tidak berkata apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa nabi sangat lapang dalam menerapkan hukum. Bahwa diamnya nabi adalah hukum bolehnya melaksanakan salat sunat subuh sesudahnya. (HR. Abu Dawud/1267), dan baca Aun al-Ma’buud Syarh Sunan Abi Dawud, Jilid III (Cet. I; Kairo: Daar Ibn al-Jauzi, 2016 M/1437 H), h. 80.

Jika membedah riwayat Abu Dawud, setidaknya ada dua hal yang harus ditelusuri, yaitu; perbuatan Qais ibn Amr dan diamnya Rasulullah.

Pertama, riwayat tersebut tidak menginformasikan alasan Qais terlambat sehingga tidak mendapatkan sunat qabliyah subuh. Lalu, dia nekad melakukan perbuatan yang tidak familier di kalangan sahabat, yaitu salat sunat subuh ba’diyah –sesudahnya-, terlebih di depan Rasulullah Saw. Apalagi ini soal ibadah, Qais terkesan mengada-adakan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Nabi dan sahabat lainnya. 

Kedua, sikap diam yang ditampakkan oleh Rasulullah (taqriir) tanpa ada kata tanya “kenapa, mengapa, dan bagaimana”. Jika perbuatan sahabat itu tergolong fatal, tentu Rasul akan menegurnya dan memberi solusi lain. Namun, Nabi rupanya tidak melakukan hal tersebut, karena Nabi paham betul kondisi sahabat yang sangat gigih beribadah untuk menambah ketaatan dan pundi-pundi pahala.

Dalam upaya kontekstualisasi hadis tersebut, keberlakuannya tidak hanya untuk Qais Ibn Amr, tapi juga kepada siapa saja yang mempunyai hajat dan keperluan serupa atau yang lebih dahsyat. Sebagaimana kaidah: 

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Artinya:

Yang dijadikan patokan adalah keumuman lafaz bukan kekhususan sebab.

Kaidah di atas jelas sangat tepat, sebab jika terpaku dan memandang riwayat itu hanya berlaku untuk Qais, maka ketetapan hukumnya tidak akan bisa diberlakukan pada masa sesudahnya hingga sekarang ini. Melihat kompleksitas aktivitas umat Islam hari ini jauh lebih menantang dibandingkan pada masa nabi, maka dalam mengakomodir semua kebutuhan dan hambatan yang mungkin terjadi, perbuatan nekad Qais tersebut adalah solusinya.

Kesimpulan:

Boleh melakukan salat sunat qabliyah setelah salat subuh apabila ada halangan yang diterima oleh agama uzur syar’i atau karena ada sebab. Ini juga berlaku untuk qabliyah salat asar yang dibawa ke sesudah asar. Selanjutnya, Islam tidak membatasi ruang gerak penganutnya dan bahkan menghalalkan “berkreasi” selama tidak bertentangan dengan syariat.

Komentar
Loading...