Arsip Kategori: Artikel Islam

Tulisan artikel islam umum

Politik Di Tangan Ulama

Sebuah paradigma lama dan menjadi tata nilai dalam masyarakat adalah buruknya “nilai politik”. Jika politik itu dikaitkan dengan politikus atau para pegiat sosial kemasyarakatan, maka itu sangat wajar dan sah-sah saja. Namun, jika dikaitkan dengan ulama, ustaz, pendeta, dan ahli agama, maka seakan politik berubah menjadi haram dan akibatnya mereka tidak wajar bersentuhan dengan politik karena dianggap kotor dan penuh dusta.

Ulama yang mencoba masuk ke ranah politik praktis akan mendapat catatan buruk dari masyarakat. Nilainya sebagai seorang ahli agama akan tercoreng. Tidak jarang ulama yang masuk ke ranah itu, mendapat cacian dan bahkan ditinggalkan oleh umatnya.

Benarkan politik itu buruk? Islam sangat mementingkan politik. Setidaknya ada dua alasan yaitu hirashah al diin (menjaga agama), dan siyasah al dunya (mengatur bumi). Dalam sejarah tercatat bahwa Rasulullah, selain sebagai pemimpin Agama, negara, juga sebagai ahli dalam berpolitik. Piagam Madinah adalah contoh politik Rasulullah yang amat hebat.

Rasulullah yang berfungsi sebagai nabi dan tokoh politik, sukses besar dalam menjalankan pemerintahan Islam. Dua suku; Aus dan Khazraj yang sudah berabad-abad bermusuhan berhasil dipersaudarakan, Kristen, Yahudi, Nasrani, dan bahkan kaum Pagan bisa hidup berdampingan damai dan tentram di kolong bumi Madinah. Hal ini bisa terjadi karena kepiawaian seorang politikus Islam yang berintegritas tinggi; santun, jujur, amanah, dan disiplin. Demikian halnya kepemimpinan sahabat dengan model khilafah.

Tidak boleh memisahkan dua kepentingan besar dalam Islam yaitu kepentingan menjaga agama dan kepentingan mengatur bumi. Sebagaimana tidak boleh memisahkan ulama dengan perannya sebagai pewaris nabi yang wajib mengurus bumi Allah.

Masyarakat sebaiknya pandai dan mengetahui sejarah, bahwa ulama adalah pewaris nabi. Mereka mempunyai tugas yang mulia, yaitu menjaga agama dan memperjuangkan kebutuhan dan keadilan masyarakat, sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh para khalifah dan ulama salaf.

Jika paradigma masyarakat seperti diatas tetap dipelihara, maka bukan tidak mungkin agama Islam akan rusak, mundur dan stagnan karena urusan itu direkomendasikan kepada para politikus murni yang kurang paham akan nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat akan semakin tidak berdaya. Integritas yang mereka miliki tidak teruji karena kedangkalan pengetahuan agama mereka.

Ibnu Aqil Al Hanbali mengatakan bahwa politik adalah maa kaana fi’lan yakunu ma’ahu al naasu aqraba ila al shalaah wa ab’ada an al fasaad, wa in lam yadha’hu al nabiyyi wa laa nazala bihi wahyun. Politik adalah suatu upaya strategis untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, menjauhkan mereka dari kerusakan. Meski belum pernah diletakkan oleh nabi dan tidak ada landasan wahyunya.

Islam menilai politik sebagai sebuah upaya dalam rangka menjaga agama dan kehidupan dunia. Kendati tidak ada aturan pasti dari nabi, namun dalam prakteknya membuahkan berbagai action cerdas dan menyejukkan. Nabi menyerahkan urusan kemaslahatan kepada umat-Nya antum a’lamu bi umuuri dunyakum kamu lebih tahu akan urusan dunia-mu.

Beberapa bentuk pemerintahan yang pernah ada di belahan dunia adalah; teokrasi yaitu kepemimpinan yang ditunjuk langsung oleh Tuhan.  Monarki, kepemimpinan berdasarkan keturunan atau kerjaan. Autokrasi, kepmimpinana kebal hukum. Demokrasi, kedaulatan ditangan rakyat dan  khilafah yaitu dipimpin oleh seorang amirul mukminin untuk semua umat di seluruh dunia. Khilafah diyakini sebagai salah satu model pemerintahan yang paling bagus yang pernah ada. Namun, tidak  bisa dipaksakan keberlakuannya karena setiap negara memiliki caranya sendiri.

Indonesai memiliki ijtihad dalam memerankan “politiknya”. Pancasila dan Undang-undang dasar adalah sebuah wadah pemersatu bangsa. Seluruh aturan yang ada berdasarkan nalar yang baik dan tidak bertentangan dengan nilai Islam, tentu juga nilai dalam agama lain. Negara dengan jumlah penduduk, suku, bangsa, dan bahasa terbanyak di dunia, mampu membawa masyarakat yang damai, toleran, dan aman.

Sebaiknya, masyarakat yakin bahwa dengan memberikan mandat kepada ulama dalam memainkan politiknya, negara akan aman, masyarakat akan makmur, damai dan sejahteta. Sebaliknya jika mandat itu dibebankan kepada orang yang tidak paham agama, maka praktek kolusi, nepotisme, dan korupsi semakin menjamur.

Semakin banyak tokoh agama yang mengambil peran dalam menjalankan politik, baik di legislatif, yudikatif, dan eksekutif, maka akan membawa dampak yang lebih positif. Para pemuka agama baik Islam, Kristen, Katolik  Budha dan lainnya, jika sudah bersatu dalam meramaikan politik aktif akan membawa kemaslahatan yang lebih besar.

Radikalisme, Amat Mengancam Keutuhan Bangsa

Dikolom bumi mana pun, sangat mustahil menciptakan kehidupan manusia dalam arti homogen atau satu keyakinan. Sebagaimana dalam Q:S. Al-Yunus; 10: 99, “ dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi. Apakah kamu hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”. juga, Allah mengabarkan bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan berbagai latar belakang dengan etnis yang berbeda-beda. QS. Al-Hujurat;49:13, “Hai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal…

Suatu keniscayaan, bahwa heterogenitas itu yang menjadi ciri bangsa yang besar dan kuat. Indonesia sudah teruji dan menampakkan dirinya di mata dunia. Dulu, Bangsa ini terdiri dari berbagai kasta dan kerajaan-kerajaan yang kemudian menjadi satu kesatuan, semua suku, etnis, bangsa dan bahasa menjadi satu. Itulah bangsa tercinta, bangsa Indonesia.

Radikalisme dapat diartikan sebagai suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrim. Inti dari tindakan radikalisme adalah sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam tempo singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Sebenarnya, paham radikal itu sudah berumur panjang. Seumur dengan sejarah keberadaan manusia. Ketika syariat nabi Adam mengajarkan perkawinan silang. Antara Qabil dan Habil, keduanya terjadi perselisihan tajam karena masing-masing memaksakan keadaan. Qabil menginginkan menikahi saudari kembarnya karena terlihat elok dan lebih cantik dibanding saudara kembar Habil yang kurang cantik. Maka dari memaksakan keinginan mereka inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan sosial yang kemudian terjadi konflik horizontal. Akhirnya Habil terbunuh dan Qabil jadi pembunuh, sehingga terjadilah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. (QS. Al-Maidah; 5: 28). Hal itu terjadi karena radikal dalam cinta. Maka berhati-hati dengan cinta.

Dalam sejarah umat Islam, seorang intelektual muslim dari kalangan sahabat Ali Bin Abi Talib, terpaksa terbunuh secara sadis oleh sahabatnya sendiri Abdul Rahman bin Muljam  karena kedangkalan pemahaman dan pengetahuannya. Ibnu Muljam adalah seorang sahabat yang saleh dan banyak ibadahnya, bahkan dia seorang hafiz Alquran yang apabila melantunkan ayat-ayat suci, maka semua orang terkesima mendengarkan bacaannya yang begitu fasih dan indah. Namun, apa kekurangan dari sahabat ini? Pemahamannya terhadap agama Islam yang sangat minim meskipun dia hafal Alquran diluar kepala. Dia menganggap bahwa tahkim yang dilakukan khalifah Ali adalah perkara yang mengkafirkan karena melakukan tahkim yang dianggapnya bertentangan dengan ayat Alquran. Dia akhirnya membunuh Imam Ali ketika sedang melaksanakan salat subuh, dia menusuknya dari belakang, akhirnya sang Imam wafat.

Ibnu Muljam adalah seorang sahabat yang sangat dibanggakan oleh Rasulullah karena penguasaan hafalannya yang sangat hebat, namun kemudian menjadi pembunuh karena pemahaman terhadap Alquran yang keliru dan jauh dari nilai kebenaran. Disinal pentingnya belajar agama di tempat yang baik dan benar agar tidak salah kaprah.

Di Indonesia, ada banyak kasus yang lahir dari rahim Ibnu Muljam. Yakni pemahaman terhadap syariat Islam yang sangat kerdil, parsial dan picik. Akhirnya menelorkan banyak anti pemerintah, anti ulama, dan Pancasila dan UUD . Bahkan pemahaman dalam ajaran agama Islam yang berbeda dengan pemahamannya dianggapnya salah sehingga berusaha membumi hanguskan siapa saja yang bertentangan dengannya. Kasus bom Bali, Marriot, pembakaran tempat ibadah dan banyak hal lainnya adalah contoh dari pemahaman radikal mereka, mereka tidak peduli dengan kehidupan orang lain.

Indonesia telah memiliki ijtihad pemersatu bangsa yaitu Pancasila dan Undang-undang dasar 45. Semua komponen bangsa wajib tunduk dan patuh kepadanya, karena landasan itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan dalam banyak penetapan hukum itu berlandaskan dengan syariat Islam dam bentuk saddu zariah (preventif).

Oleh sebab itu, dalam tekad tersebut, pemerintah berupaya memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik kepada masyarakat agar mereka memahami ajaran agamanya masing-masing agar tidak terjadi cikal bakal radikalisme yang bisa mengganggu keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Pemerintah mendorong lembaga-lembaga keagamaan, sekolah dan pondok pesantren untuk memberikan pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama mana pun untuk saling memahami dan saling menghormati satu sama lainnya agar tercapai cita-cita bangsa yang luhur.

Ada banyak ciri radikalisme yang sangat mudah kita kenali. Hal tersebut karena memang pada umumnya penganut ideologi ini ingin dikenal/ terkenal dan ingin mendapat dukungan lebih banyak orang. Itulah sebabnya radikalisme selalu menggunakan cara-cara yang ekstrim. Sebagai yang kami baca dari salah satu situs NU, ciri-cirinya:

  • Radikalisme adalah tanggapan pada kondisi yang sedang terjadi, tanggapan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk evaluasi, penolakan, bahkan perlawanan dengan keras.
  • Melakukan upaya penolakan secara terus-menerus dan menuntut perubahan drastis yang diinginkan terjadi.
  • Orang-orang yang menganut paham radikalisme biasanya memiliki keyakinan yang kuat terhadap program yang ingin mereka jalankan.
  • Penganut radikalisme tidak segan-segan menggunakan cara kekerasan dalam mewujudkan keinginan mereka.
  • Penganut radikalisme memiliki anggapan bahwa semua pihak yang berbeda pandangan dengannya adalah bersalah.

Hari ini, sesuai dengan paparan Badan Intelejen Negara, bahwa negara mulai terancam dengan masuknya paham ekstrim dan radikal di berbagai lapisan masyarakat. Termasuk di sekolah-sekolah, Perguruan Tinggi, mesjid-mesjid dan tempat lainnya. Oleh sebab itu, sebagai warga yang baik, harus ikut mengambil peran dalam menangkal berbagai serangan pemikiran radikal yang berakibat akan melahirkan teroris bertopeng dan bersembunyi dibalik agama.

Perlu dipahami bahwa di dalam pemberlakuan syariat Islam harus memenuhi lima faktor  yaitu: faktor tempat, waktu, niat, kondisi dan adat istiadat (al-urf). Salah satu dari kondisi inilah, suatu ketika khalifah Umar bin Khattab tidak memberlakukan hukum potong tangan bagi pelaku pencurian karena si pencuri adalah orang miskin yang membutuhkan makan sebagai penyambung hidup. Sudah barang tentu, ada kalangan sahabat tidak setuju dengan tindakan dan keputusan Umar itu. Namun, keputusan tetap ada di tangan penguasa yaitu khalifah. Dan itulah keputusan tertinggi yang tidak bisa dihalangi. Demikian juga, ketika presiden memberikan takzir kepada pelaku pengedar narkotika dan lainnya. Maka itu , adalah keputusan yang tidak bisa dihalangi.

Apakah Umar melanggar syariat? Tentu tidak, karena ajaran Islam sangat elastis dan tidak memaksakan keberlakuannya bagi mereka yang belum sanggup memikulnya. Seyogyanya, langkah Kahlifah Umar ini bisa diikuti oleh semua kalangan di Indonesia, seperti yang banyak dilakukan oleh ulama-ulama kita sehingga terjalin keamanan, keharmonisan dalam beragama sehingga terjalin kerukunan dan kebebasan beragama. Persatuan dan kesatuan bangsa akan tercapai.

Marilah kita mempelajari agama secara totalitas, sehingga terjauh dari paham radikal yang sangat membahayakan keberlangsungan persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sampai kita menjadi bagian dari “muljamisme” pemahaman Ibnu Muljam atau “Qabilisme” yang tidak mau tunduk kepada ajaran yang benar karena kedangkalan pemahaman dan nafsu serakah yang membabi buta.

Saya Dan Gurutta Abba 4

Dalam kegamangan mencari Ambo Lahnaj, saya merasa sudah tidak sendirian lagi, tidak lagi merasa terbuang jauh. Setidaknya, saya telah dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang baru. Meski asing, nyatanya mereka sangat baik satu sama lainnya, sehingga sedikit pun saya tidak lagi merasa terasing sebagaimana di mula kedatangan saya di komplek As’adiyah. Di Asrama Hijau, saya “secara resmi” menjadi bagian dari asrama itu. Hingga beberapa waktu lamanya –di asrama itu-, saya mencatatkan banyak hal, merawat ingatan tentang perjalanan mencapai cita-cita, juga menemukan dan menyusun kepingan-kepingan masa depan yang masih misteri. Di tangan Allah, segalanya kami kembalikan; ikhtiar dan doa-doa.

Asrama ini cukup ramai, dihuni oleh enam santri. Saya masih mengingatnya dengan jelas. Ada Ismail Ahmad (yang lebih dikenal dengan nama Ismail Commo, kawan yang berkenan dan tulus menampung injakan kaki pertama saya di asrama), Muhammad Rusydi (kawan yang berbaik hati menghalau laparku dengan suguhan kuenya, Muh. Yunus Massekati, Ismail Gagah, Mustadir, dan Burhanuddin Kampiri. Bertemu dengan mereka, saya akhirnya percaya bahwa keterasingan seringkali menjadi cara terbaik untuk mendekatkan kita dengan orang lain dan Allah swt adalah sebaik-baik sutradara.

Jatah tempat tidur saya terdapat bagian atas. Sebagaimana biasanya di pesantren, Asrama Hijau juga menyediakan tempat tidur bersusun. Meski badan saya masih tergolong kecil saat itu, namun tempat tidur itu terasa sangat sempit. Tugasnya sesungguhnya berat. Selain untuk menampung badan yang kelelahan, tempat tidur itu juga menjadi “rumah” bagi sebuah koper tua dan menjadi sebuah “lemari” bagi pakaian ganti saya. Ruang gerak saya pun menjadi sangat terbatas. Sangat sulit untuk melakukan gerakan “balik kiri dan balik kanan” pada saat tidur. Saat terbangun, tentu saja badan kecil saya tidak luput dari rasa pegal. Tidur yang kaku, sekaku bilah papannya, menurutku.

Hal miris lainnya, tempat tidur itu hanya dilengkapi dengan selembar tikar tipis dan berserabut, tubuhnya telah dimakan waktu; menua. Meski demikian, selembar tikar usang itu adalah hal yang patut disyukuri. Saya yakin, seseorang telah bermurah hati meninggalkannya begitu saja dan sebelum mereka berpisah, sang tuan mengucapkan salam perpisahan dengan berkata, “Aku wariskan engkau kepada siapapun yang datang setelah kepergianku.”

Hidup memang sering kali tidak memberikan banyak pilihan. Begitu pun kondisi di asrama ketika itu. Benar-benar tidak ada pilihan lain, kecuali harus tidur di tempat itu tanpa kasur ataupun karpet. Orang tua saya tidak membekali apa-apa, selain doa, restu, uang lima ratus ribu rupiah, dan sebuah koper tua. Jangan salah sangka, bukan mereka tidak peduli. Ini adalah kekhilafan saya yang tidak menghimpun banyak informasi, hanya mengantongi nama Ambo Lahnaj.

Dengan membesarkan hati, saya selalu berusaha menikmati setiap hal yang mungkin dianggap penderitaan di mata orang lain. Penderitaan kala itu selalu terbayarkan dengan kebaikan hati dari teman-teman saya. Saya menemukan sebuah pelajaran terbesar dari asrama itu, bahwasanya “senasib dan sepenanggungan” adalah modal terbesar bagi siapapun untuk membangun empati dan simpati dalam dirinya. Pondok pesantren, termasuk As’adiyah, menjadi wadah yang kuat untuk membangun keduanya, dan juga hal positif lainnya.

Ismail dan Rusydi sesekali menawarkan tempat tidurnya. Begitu pun dengan teman yang lainnya. Mereka tahu bahwa saya tidak membawa beras, ikan kering, bekal lainnya, dan peralatan memasak. Karena itulah, mereka sering meminjamkannya. Bahkan, tak segan berbagi makanan. Masih segar dalam ingatan saya, selama beberapa hari, Ismail menjadi kakak yang penuh ketulusan menanggung kebutuhan pangan saya saat itu. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ismail pula yang membantu dan membimbing saya pada saat mendaftar. Atas sarannya, saya memilih mendaftar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Hingga pendaftaran itu selesai, Ambo Lahnaj belum juga tampak. Prosesnya tidak rumit. Bekal dari bapak pun perlahan-lahan mulai terpakai. Melihat daftar kebutuhan yang harus segera dipenuhi, saya berusaha menghematnya meski jumlah bekal itu tergolong banyak kala itu. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah itu harus mampu memenuhi kebutuhn saya berupa kitab tafsir Jalalain, Tanwiirul Qulub, Fathul Muin, Irsyadul Ibad, dan Mauidzatul Mukminin, buku tulis, dan buku pelajaran lainnya.

Selain itu, empat macam pasang seragam sekolah pun mendesak untuk segera dipenuhi, yaitu sepasang seragam pramuka, sepasang seragam abu-abu putih, dan sepasang seragam hitam putih. Pada saat mendaftar, setiap santri baru memang diminta untuk segera mengukur dan menjahit baju di belakang komplek. Namun, tidak saya acuhkan. Saya khawatir uang saya tidak akan cukup untuk memenuhi semuanya, karena peralatan dapur dan kebutuhan pangan masih berada dalam daftar kebutuhan.

Selang beberapa hari kemudian, saya pun segera mencari tukang jahit yang ditunjukkan oleh seseorang yang tidak kukenal. Begitu tiba di tujuan, tukang jahit itu segera membuka sebuah buku berukuran besar dan menanyakan nama saya. Hingga beberapa jenak lamanya, saya hanya menunduk malu. Paras tukang jahit itu telah membuyarkan konsentrasi saya. Saya mengira ia masih gadis. Kecanggungan saya itu karena tidak terbiasa berhadapan dengan perempuan, apalagi mengobrol. Saat menjadi santri di Karame, melihat lawan jenis adalah peristiwa langka. Sejauh mata memandang, maka yang tampak hanyalah padang rumput dan kicauan burung.

“Siapa namamu?” ia mengulang kembali pertanyaannya. Barangkali ia telah membaca kecanggungan saya dalam beberapa saat.

“Abdul Waris”

“Namamu ada di sini,” tangannya dengan cekatan menemukan nama saya di buku besar itu. Rupanya, nama saya sudah tercatat di dalam buku register santri baru.

Tahun itu, dengan sangat terpaksa, saya tidak mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Keperluan sekolah belum sepenuhnya terpenuhi, sedangkan uang semakin berkurang. Kegiatan itu barulah saya ikuti pada tahun ajaran berikutnya. Takdir membawa saya pada perjalanan lain. Tidak bisa ikut MOS, tapi bisa mengikuti Penataran Pendidikan Pancasila. Di sinilah saya bertemu dengan Abdul Malik (saat ini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Assalman Sidrap). Baginya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Ia mendapat informasi bahwa ada seseorang santri baru hafidz Alquran dari Kab. Sinjai, lulusan MTs. As’adiyah Cab. Ongkoe Belawa.

“Siapa yang memberikan informasi itu?” tanya saya pada Malik penuh keheranan.

“Ambo Lahang,” ia menjawabnya dengan singkat, namun memberikan perasaan heran yang cukup panjang untuk dihikmati.

Mengapa Ambo Lahang? Ingatan saya kembali ke Ambo Lahnaj. Hanya dia yang saya kenal. Bukan Ambo Lahang.

Beberapa waktu kemudian, saya menghadiri wisuda Ma’had Aly Angkatan I. Saat mendengar nama Ambo Lahang disebut, dari jauh saya memerhatikannya, di lantai II Gedung Arma. Saya terkejut bukan kepalang, bukankah itu Ambo Lahnaj yang selama ini saya cari? Malik kemudian mengajak saya untuk menemuinya di Radang setelah itu. Sayangnya, kami tetap saja belum ditakdirkan untuk bertemu. Sang kyai muda yang baru saja diwisuda itu sedang keluar.

Hingga suatu hari, Allah mengabulkan keinginan saya untuk bertemu dengan Ambo Lahnaj. Ketika saya berada di depan tangga gedung lama berlantai dua komplek As’adiyah, seseorang yang tidak lagi asing sedang melintas. Segera saja saya menyeru namanya. Pencarian pun berakhir, sang motivator telah berdiri di hadapan saya setelah sekian lama mencarinya. Beliau yang membawaku ke Sengkang dan menjadi guruku hingga saat ini. Syukron gurundaku. Selamat tinggal Ambo Lahnaj, selamat datang Ambo Lahang.

Saya Dan Gurutta Abba 3

Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Tersebab nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada pula alamat yang hendak dituju. Kaki saya terlampau berat melangkah tanpa modal apa-apa. Dalam keputusasaan, saya menuju masjid di komplek As’adiyah untuk menunaikan salat Asar seraya tetap merawat harapan untuk segera bertemu Ambo Lahnaj. Nama itu pun masuk dalam untaian doa saya usai salat. Tak luput saya menyapukan pandangan ke sekeliling saya, di dalam masjid itu, mencari wajah yang kukenal. Namun, tetap saja tidak ada satu orang pun yang bisa saya kenali.

Kesedihan saya pada akhirnya tiba di puncaknya ketika itu. Bulir-bulir air mata tidak lagi terbendung. Yang tampak di pelupuk mata hanyalah kedua orang tuaku. Saya terlampau nekad bepergian sendirian ke kota yang sangat asing bagi saya. Ingatan tentang saran bapak agar saya melanjutkan sekolah di DDI Mangkoso pun berkelebat. Saya akhirnya sadar, bapak tentu telah menimbang perkara “ke mana tujuanku”. Di Mangkoso, ada banyak keluarga yang bisa membantu, karena mereka pun menjadi santri di sana. Seketika, saya merasa terpuruk demikian dalam.

Dalam kesedihan dan kebimbangan yang campur aduk itu, saya berusaha bangkit kembali dan membesarkan hati. Saya berusaha menemukan kembali tekad yang bulat dan utuh yang pernah saya tunjukkan di hadapan bapak. Terlintas di dalam kepala tentang perjuangan bapak untuk menyekolahkan saya. Karena itulah, saya merasa harus bertanggung jawab mengarungi pilihan ini. Lekas saya menyeka air mata, bukan semata karena tekad itu telah saya temukan kembali, namun karena saya juga malu dengan orang-orang di sekitar saya.

Dengan menenteng sebuah koper tua, saya pun keluar dari masjid untuk mencari kembali seseorang yang mungkin saya kenal. Koper tua ini lalu menuntun kembali ingatan saya ke masa silam. Bagian yang rusak menjadi saksi perjuangannya bersama kakak saya yang telah menjadi santri di Pondok Pesantren Attahiriyah Balangnipa Kab. Sinjai. Terbuat dari tripleks tipis dan dilapisi dengan bahan kulit imitasi, bagian pinggirannya sudah sobek akibat sering terbentur di kendaraan, salah satu pegangannya pun telah lepas. Koper tua ini membawa saya pada satu hal, bahwasanya perjuangan itu harus tetap dilanjutkan, karena di balik perjuangan ada sebuah pengorbanan yang tak boleh sia-sia.

Di teras masjid, saya duduk beristirahat dan memerhatikan para santri yang sedang bermain sepak takraw. Ketika itu, terbersit keinginan untuk turut bermain. Hobi saya di bidang olahraga seolah mendorong saya begitu kuat. Namun, tak kalah kuat dengan ketidakpercayaan diri saya saat itu. Tidak ada satu pun pemain yang saya kenal. Tidak ada pilihan lain selain menjadi penonton saja. Sayangnya, dalam kesendirian  itu, saya kembali ke titik lemah. Tiba-tiba saya teringat kedua orang tua di kampung. Air mataku menetes untuk kesekian kalinya. Entah dari mana datangnya, saya merasa tak ubahnya seseorang yang bepergian jauh hanya untuk membuang diri di kampung orang.

Seseorang datang menghampiri saya ( beberapa waktu kemudian, saya mengetahui namanya Hasan DP). Mungkin ia sudah lama memerhatikan tingkah laku saya yang tampak asing dan terasing. Awalnya, komunikasi kami tersendat karena ia menggunakan Bahasa Bugis ketika menanyakan sesuatu. Suaranya pun terlampau kecil. Karena tidak menjawab, ia pun mengulang pertanyaannya dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Kita siapa?” tanyanya.

“Saya Waris. Saya mau sekolah di sini. Apakah kita mengenal Ambo Lahnaj?”

“Saya tidak mengenalnya,” jawabnya. Lalu ia menyebutkan sejumlah nama yang berawalan Ambo.

Tidak ada satu pun yang saya kenal. Pencarian kali itu kembali menemui jalan buntu. Siapa sesungguhnya Ambo Lahnaj itu? Mengapa tidak ada seorang pun yang mengenalnya? Saya lalu teringat dengan sebuah nama; Ismail. Ia pernah berkunjung ke asrama kami di Karame, beberapa bulan sebelum ujian nasional dilaksanakan.

“Apakah kita kenal Ismail?” tanyaku, dengan harapan ada titik terang.

“Ismail Commo atau Ismail Gagah?” pertanyaannya justru membuatku kebingungan. Rupanya kedua orang itu memiliki nama, kelas, dan asrama yang sama. Pak Hasan memutuskan untuk membawa saya ke Asrama Hijau, tempat siswa MAK kala itu. Pertanyaan Pak Hasan baru terjawab ketika yang muncul di hadapan saya adalah Ismail Gagah, seseorang yang juga asing bagi saya. Orang-orang dalam asrama itu berkesimpulan bahwa orang yang saya cari sudah pasti Ismail Commo yang berasal dari Belawa.

Ismail Commo saat itu sedang tidak berada di asrama. Oleh Pak Hasan, saya dimintanya untuk menunggu saja di kamar Pak Hasan. Ia sedang ke pasar, kata Pak Hasan. Tak berselang lama, orang yang saya tunggu pun datang dan segera menemuiku. Saat bertemu dengannya, beban yang menghimpit dada saya rasanya seketika menghilang. Saya pun dibawanya ke kamarnya di lantai atas Asrama Hijau. Saya bisa bernapas lega karena telah memiliki tempat berteduh. Satu masalah telah teratasi. Namun, muncul masalah lain; lapar.

Hari menjelang senja. Terakhir kalinya saya bertemu makanan hanya pada saat sarapan bersama bapak, sebelum berangkat ke terminal Panaikang Ujung Pandang. Sarapan itu telah menunaikan tugasnya untuk mengganjal perutku hingga saat itu. Seharusnya saya makan siang pada saat bus singgah di rumah makan Anda di Barru. Namun, saya mencemaskan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah itu tidak akan cukup untuk membiayai sekolahku jika saya menggunakannya untuk makan siang. Saya paham bahwa biaya sekolah tidaklah sedikit. Selain biaya pendaftaran, masih ada biaya untuk buku, seragam sekolah,  dan kebutuhan lainnya di sekolah. Badan saya mulai gemetar menahan lapar. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menghikmati rasa lapar itu. Rasanya sungguh mustahil jika saya harus sampaikan kepada Ismail. Kami baru bertemu, masih canggung dan asing.

Pertolongan selalu datang dalam waktu yang sangat tepat. Hal inilah yang selalu saya syukuri. Ketika menghikmati rasa lapar, seorang calon siswa baru lainnya juga ada di kamar itu. Namanya Muh. Rusdi Bin H. Ambo Iri. Atas kebaikan hatinya, ia menyuguhkan kue. Ia telah menyelamatkan saya dari rasa lapar. Pertolongan Allah begitu dekat.

Ismail dan Rusdi adalah dua orang yang telah menunjukkan pada saya bahwa masih banyak orang yang memegang teguh nilai-nilai ketulusan, meski kepada orang yang tidak dikenalnya. Dua nama yang tidak bisa saya lupakan sepanjang perjalanan hidup saya, sebagaimana saya tidak bisa melupakan nama Ambo Lahnaj saat itu. Siapa sebenarnya Ambo Lahnaj ini?

 

Saya Dan Gurutta Abba 2

Tidak ada yang lebih penting dalam setiap perjalanan kehidupan selain restu dan doa kedua orang tua. Pun demikian yang saya alami.  Meski berat di mata bapak, namun beliau pantang surut setelah melihat kesungguhan dan tekad bulat saya untuk melanjutkan pendidikan di As’adiyah Sengkang.

“Berapa biaya yang kamu perlukan, Nak?” tanya bapak keesokan harinya, setelah perbincangan malam itu.

“Berapa saja,” jawabku sekenanya. Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan bapak, karena saya memang tidak pernah menanyakannya saat bertemu sosok Ambo Lahnaj. Saya pulang ke kampung hanya membawa tekad dan kegembiraan, tidak ada informasi apa-apa meski hanya berupa selembar brosur.

Setelah percakapan itu, bapak mengajak saya ke Ujung Pandang (baca; Makassar). Secepat kilat saya pun mengiyakannya. Di mata seorang anak belasan tahun, bepergian ke kota Ujung Pandang adalah sebuah perjalanan yang menggembirakan. Apalagi, saya jarang bepergian ke Ujung Pandang. Di kota itulah beliau menghabiskan waktu untuk mencari biaya sekolah saya.

“Bersabarlah, Nak. Bapak akan mencarikanmu biaya sekolah,” ucap bapak dengan penuh ketulusan.

Kami tinggal di sebuah rumah panggung yang disewa oleh bapak. Di kolong rumah itu, bapak bekerja sebagai tukang kayu khusus pembuatan kuseng, jendela, dan daun pintu. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, kesedihan menjadi tidak terbendung saat melihat perjuangan dan kerja keras bapak demi anak-anaknya. Dari lantai dua, saya memerhatikan gerak-gerik bapak dengan seksama. Kucur keringat, debu dan ampas kayu yang lekat di kulit bapak, dan wajah lelahnya yang kadang tak tampak di antara gumpalan asap kayu adalah penanda yang tak akan lekang dalam ingatan saya tentang cinta seorang bapak.

Karena tidak tega melihatnya bekerja sendirian, saya putuskan untuk turut membantunya. Namun, setiap kali saya menghampirinya, setiap kali itu pula bapak menepis uluran tangan saya dengan kasih yang tersirat dalam kalimatnya, “kamu di atas saja, Nak.” Beliau sama sekali tidak mengizinkan saya untuk turun. Ketika itu, saya tetap memaksakan diri untuk membantu, meski sekadar memegang bilah kayu yang sedang diolahnya. Bapak tetap kukuh tak memberi izin, betapa kasihnya tak terkira.

“Lebih baik kau mendaras saja di atas. Tidak perlu membantu bapak di sini,” ucap bapak.  

Hati saya seolah tertohok oleh kalimatnya itu. Hingga beberapa hari kemudian, saya tidak hentinya menangis diam-diam, meresapi setiap tetesan keringatnya, menghikmati setiap jerih payahnya demi menyekolahkan anaknya, dan tidak bisa menahan air mata saat melihatnya dengan gesit bekerja dan bergumul di antara ampas kayu. Beliau bekerja semenjak salat subuh usai ditunaikan hingga tengah malam dan hanya diantarai oleh salat dan makan. Demikianlah, bapak tak hentinya bekerja tanpa keluh, meski penuh peluh.

Perjuangannya pun tunai setelah beberapa hari lamannya bekerja. Usai salat isya, bapak menghadapkan wajah dan tubuhnya ke arahku.

“Biaya sekolahmu telah terkumpul,” ucapnya seraya melemparkan senyum.

“Alhamdulillah,” ucap saya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat itu karena tahu betul bahwa uang itu adalah hasil jerih payah bapak selama beberapa hari.

“Apakah uang sebesar lima ratus ribu rupiah cukup untuk membiayamu?” tanya bapak selanjutnya.

“Cukup,” jawab saya lekas. Uang sebanyak itu bisa digolongkan jumlah yang sangat besar pada tahun 1997.

Malam itu, saya tidur di samping bapak, di dalam kelambu yang tak lagi putih. Namun, berwarna gelap akibat asap dan getah kayu yang menempel. Hingga beberapa jenak, saya pandangi wajahnya, dengan mata berkaca-kaca.  Ada haru yang bergemuruh di dalam dada saya.

“Kapan kamu akan berangkat, Nak?” tanya bapak.

“Besok, Pak.”

“Baiklah, Nak. Berangkatlah.”

Kami lalu tertidur membawa isi kepala masing-masing. Barangkali bapak masih memikirkan masa depanku, sedangkan saya masih memikirkan perjuangan bapak. Tengah malam, bapak membangunkan saya untuk salat lail dan mendaras. Ini adalah bentuk cintanya yang lain. Segera perintahnya itu saya laksanakan, meski beliau sendiri memilih melanjutkan tidurnya. Bapak pasti kelelahan, pikirku saat itu.

Keesokan harinya, bapak mengantar saya hingga ke Terminal Panaikang. Seraya menunggu penumpang lainnya, kami pun duduk berdampingan. Bapak mengulang nasehat yang semenjak kecil telah disampaikannya pada saya.

“Kekayaanku adalah jika kamu bisa membedakan yang salah dan yang benar, yang hak dan yang batil. Jangan lupa hapalanmu, karena hal itulah yang akan menjadikan kamu mulia.”

Meski telah berkali-kali mendengarkannya, namun petuah itu terus mendapatkan tempat di dalam hati dan kepala saya hingga kini. Tidak ada kata jenuh dan bosan untuk perkara nasehat dari seorang bapak kepada anaknya, karena inilah yang menjadi perekat cinta dan kasih sayang dalam keluarga kami.

Mobil pun melaju menuju Sengkang. Sebelum pergi, bapak masih sempat memeluk dan membisikkan kembali petuah di atas. Tidak dibiarkannya ingatan saya lekang akan nasehat tersebut. Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Karena nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada alamat yang hendak dituju.

Mengapa Harus Saya, Mengapa Bukan Dia Saja

Proses transformasi ilmu kian makin mem-bumi, memperolehnya bisa didapatkan melalaui apa saja termasuk media sosial (medsos). Pengaruh media sosial lokal maupun transnasional tidak terelakkan, semua strata bisa mengaksesnya dengan sangat mudah. Agama pun bisa dipelajari dengan cara itu.

Salah satu keunikan era mellanial ini adalah kecenderungan masyarakat belajar melalui layar kecil. Android menjadi daya pikat yang menjanjikan  seakan semua kebutuhan dapat terpenuhi. Memang benar, namun menjadikan google sebagai satu-satunya media transformasi ilmu akan menyulitkan karena tidak akan memberikan filter; mana yang sahih, daif, valid, dan yang layak bahkan bisa menjadi “ganja” dalam praktek agama.

Sesungguhnya semua proses itu baik, namun ada nilai yang akan terabaikan dan sulit didapatkan yaitu ruh seorang mursyid (guru). Doa dan hubungan emosional akan laput dan mengenyampingkan berkah ilmu.

“mengikuti seluruh proses kuliah adalah kewajiban anda karena anda menginginkan ilmu dan ijazah, maka ikutilah aturan kami. Jika anda hanya ingin pintar, maka duduk manis tanpa pakai busana pun anda dapat lakukan di kamar sendiri, anda bisa belajar dan mendapatkan banyak ilmu tanpa harus masuk ke UIN Alauddin Makassar”. Kata Prof. Sabri Samin saat memulai kuliah perdana kelas beasiswa jurusan SHI (Direktur Pasca UIN Alauddin Makassar).

Nabi dalam menerima wahyu terkadang melalui mimpi, terkadang dengan bunyi gemerincing lonceng, dan terkadang melalui malaikat Jibril, sesekali dengan wujud asli dan banyak kali dengan nuraniyahnya (cahaya). Baca (Mabahis Fi Ulum Alquran, oleh Khalil Manna al-Qattan).

Jibril pernah menyambangi Rasulullah dengan wujud laki-laki gagah berpakaian putih bersih, merapatkan kedua lutut-Nya dengan lutut nabi dan meletakkan kedua tangan diatas pahanya. Ia bertanya “Ya Rasullullah beritahu saya tentang iman? Rasul menjawab “kamu percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari akhirat, dan qada dan qadr”. Setelah nabi menjawab pertanyaannya beliau kembli berucap shadaqta artinya kamu benar.

Beberapa sahabat yang menyaksikan peristiwa itu, terheran-heran karena tidak mengenal sosok laki-laki yang bertanya dan juga membenarkan jawaban dari soal yang dipertanyakannya sendiri. Nabi pun menjelaskan kepada sahabat bahwa yang datang itu adalah malaikat Jibril. Bertanya dan membenarkan sendiri untuk mengajari kalian tentang agamamu.

Waktu itu belum ada alat komumikasi handphone, google crome, vidio, twittwr, FB, WA, instagram, email, dan lainnya. Sehingga nabi dan sahabat bisa ON-LINE mencari data dan informasi apalagi menonton video ceramah lewat youtube.

Benar. Namun, nabi dan sahabat dapat langsung on-line tanpa batas, menembus lapisan terdalam dan teratas sehingga mendapatkan akses “infinitum” yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Tempat itu dikenal dengan sebutan المكان المكافحة الذي قربه الله فيه تعالي و ادني (tempat dimana seorang hamba bertemu tuhan tanpa batas). Bukan satelit yang menjadi pengendali berita-berita bumi.

Peristiwa itu, seyogyanya menjadi pelajaran emas bagi kita bahwa sistem talaqqi (belajar langsung dengam guru) yang Jibril dan para sahabat lakukan adalah dalam rangka membangun harmonisasi dan emosional antar guru dengan murid sekaligus silsilah keilmuan yang kuat.

Kosa kata yang saya rangkai kali ini adalah bagian dari introspeksi diri saya sendiri “mengapa harus saya, mengapa bukan dia saja?”

Nabi pernah berpesan “akan datang suatu masa, banyak khutabaa (penceramah) namun sedikit yang ummal (mengamalkan apa yang diceramahkan)”. Riwayat ini ada yang melemahkan, namun secara makna dapat dikontekstualisasikan.

Kondisi kaum muslimin hari ini, mereka terpuruk bukan karena tidak ada yang memberi pencerahan. Justru para dai bertebaran di mana-mana, mulai dari yang kelas lokal, regional, nasional dan bahkan internasional.

Realitasnya, masih banyak umat muslim yang belum tahu membaca Alquran, mandi wajib, berwudu, bertayamum, salat, zakat, berhijab dan lainnya.

Di negara kita, kaum muslimin yang telah melakukan ibadah haji dan bahkan umrah berkali-kali belum mampu mengaktualisasikan makna dari semua ritual haji. Menutup aurat selama ihram, sejatinya dimanifestasikan setelah kembali ke tanah air. Kediplinan beribadah setiap waktu di tanah suci tidak terlihat setelah kembali kampung halaman.

Bahkan menjadi sebuah subordinasi; bagi yang belum berhaji atau umrah harus rajin ibadah karena belum banyak “saldo”. Sementara yang sudah menziarahi dua tanah haram seakan punya investasi yang tak akan habis yaitu salat “arbain” salat 40 waktu selama di Madinah, atau perbandingan 100.000 kali salat di luar masjidil haram dan senilai ibadah umrah jika salat sekali di masjid Quba.

Sebuah kegelisahan yang mendera diriku. Mengapa hal itu terjadi, bukankah itu adalah kewajibanku memahamkan mereka tentang agamanya?

Mungkin cara saya berdakwah yang tidak benar sehingga mereka tidak paham. Mungkin saya berdakwah belum ikhlas sehingga pencerahan saya tidak menembus sanubarinya, mungkin ucapan saya kasar sehingga mereka mendongkol. Atau mungkin saya masih terlalu cinta dunia sehingga mereka memandangku sekedar “pelawak” yang setelah membuat “lelucon mimbariyah” mereka hanya menertawakannya.

Sekumpulan sahabat nabi usai melaksanakan salat, mereka keluar dari masjid bercerita sambil tertawa terbahak-bahak. Melihat kondisi itu, turunlah QS. al-Hadid: 16 “belumkah tiba masa-nya orang-orang beriman itu takut dan tunduk hatinya mengingat Allah…?” (Baca Asbabun nuzul oleh al Wahidi dan tafsir al munir oleh Wahbah al Zuhaili)

Teguran itu bagi mereka yang banyak ketawa di luar masjid setelah beribadah. Sementara hari ini, mereka diajak ketawa di dalam masjid saat mereka melaukan ibadah yaitu mendengar wejangan. Padahal nabi berkata “banyak ketawa itu akan membunuh hati”.

Beberapa kali saya di minta memberikan nasehat pernikahan dengan sedikit “pendahuluan” Ustaz, “ceramah yang singkat dan lucu ya”.

Permintaan itu yang terkadang mendongkol dalam jiwaku, antara melakukan dan mengabaikan. Saya terkadang mengatakan “mengapa ke saya, ke dia saja”.

Saya sungguh merenung “kalau penceramah dan audens sudah bersepakat untuk melakuakn transaksi “lawak” seperti itu, lalu kapan mereka mempelajari agama dengan serius serius?”

Mereka saat di rumahnya menonton komedian, berita kekerasan ala “patroli dan buser”, atau gosip ala “kiss”, membuka chanel TV dakwah yang banyak lelucon. Pegang HP dan memutar ceramah yang hanya “melucu”. Bagaiman bisa mendapatkan ilmu dan hidayah.

AG. Abu Nawas Bintang (Allahu yarhamuhu) pernah berpesan kepada saya “berdakwah itu lihidayatinnas” artinya tujuan dakwah adalah agar manusia mendapat hidayah Allah bukan memaksa mereka. “jangan berdakwah berdasarkan kemauan pasar”.

Sesungguhnya membuat ketawa adalah salah satu pendekatan dakwah yang bisa membuat suasana menjadi cair dan proses “take and give” berjalan nyaman. Namun, yang terjadi malah sengaja membuat sesuatu yang membaut jemaah ketagihan dan hanya terkesan pada guyonannya bukan substansi ceramah. Inilah yang tak diinginkan oleh guru kami.

Tahun 2001 AG. Hasan Basri (alumni As’adiyah di priode awal) pernah memberikan kuliah umum di kelas kami “ma’had aly angk. III), beliau bercerita ketika memburu ilmu di Mekah. Salah seorang grang syekhnya bertanya “mengapa anda datang ke Mekah belajar?” Tak seorang pun dari mahasiswa yang menjawab.

Syekh itu menjawab sendiri لازالة الجهل عني و عن الناس (tujuannya adalah untuk melemparkan kebodohan jiwaku dan kebodohan diluar diriku) artinya belajar itu adalah untuk menjadi orang beradab sekaligus menciptakan peradaban untuk manusia.

Salah satu kekurangan saya saat ini adalah lebih mengandalkan “kiai google” dari pada mengkaji ilmu lewat kiai yang bisa menyapa sekaligus mengusap kepalaku atau “meludahi” mulutku jika aku sudah mulai nakal.

Seorang bijakbestari berkata “menjadikan buku sebagai guru, maka setanlah mursyidnya atau pembimbingnya. Maka bagaimana dengan kiai google? Terkadang baru pencet setannya sudah lebih duluan muncul dari ilmu yang menjadi obyek.

Kesimpulan:

Pertama, biasakan diri belajar melalui guru atau mursyid karena itu akan membuat keilmuanmu semakin kokoh; kedua, berdakwalah dengan santun yang mengundang hidayah Allah; ketiga, belajar melalui medsos sangat bagus, namun jangan lupa merujuk ke kitab original; keempat, jangan membuat sesuatu yang mengakibatkan candu sekaligus ganja yang merusak mental umat; kelima, ucapkan seauatu yang dapat menembus hati bukan hanya pada telinga.

Ya Allah ampuni segala kekurangan dan ketidakmampuan saya menyadarkan hamba-hambamu sekligus me-langit-kan ibadah mereka. Hidayah adalah hak prerogatifmu. Berilah mereka hidayahMu.

Bandara Halim Perdana Kusuma, 15/11/2018. 18.10. WIB.

 

 

 

 

 

Bersamanya, Saya Semakin Yakin

Alquran menganjurkan manusia melakukan perjalanan agar bisa mengetahui banyak hal. QS. Al-Rum: 42 “katakanlah (Muhammad) berjalanlah di muka bumi dan jadikan pelajaran/ perhatikanlah  kesudahan orang-orang (yang pernah eksis) dahulu sebelum kamu…”

Pada tahun 2005 (saat itu, masih suasana bulan madu, hehe…), saya mendapat mandat dari PB. As’adiyah sebagai muballig sekligus imam tarawih di pulau sebatik. Malam ke dua ramadan, perjalanan Pare-Nunukan kami mendapatkan tiket KM. Tidar. Menjelang waktu salat, Anak Buah Kapal (ABK) meminta kesiapan penumpang yang sudah berkumpul di musalla untuk bertindak sebagai imam magrin-isya dan penceramah tarawih.

Tak seorang pun dari penumpang tersebut yang mengangkat tangan sebagai bentuk kesiapan. Usai berbuka puasa bersama, jamaah saling melirik siapa yang akan maju memimpin salat magrib. Tiba-tiba, Guru KH. Riyadi Hamdah menyebut nama “Waris” dan menyuruhnya menjadi imam. Ternyata nama itu adalah saya.

Usai memimpin salat magrib, kami kembali ke kamar, tak lama kemudian salah seorang ABK mendatangi kami dan menawarkan untuk menjadi imam isya sekaligus sebagai penceramah. Saya mengarahkan dia berkomunikasi dengan kiai yang pada akhirnya, beliau sepakat dan siap menjadi penceramah sekligus merekomendasikan saya sebagai imam salat isya dan tarawih.

Setelah kami melaksanakan rekomendasi itu, beberapa jamaah mendekat dan mengajak kami mengobrol sejenak. Dengan menggunakan bahasa bugis, rasa keakraban semakin membuat suasana riang penuh kegembiraan meskipun angin malam yang kencang dengan ombak besar menghantam kapal sangat terasa. Pihak ABK memberikan pelayanan khusus dan meminta kami bersedia “membackup” seluruh rangkaian kegiatan ibadah dalam kapal selama dalam perjalanan.

Alhamdulillah, saya bersama istri seakan menjadi “artis” dadakan. Banyak jamaah datang ingin berkenalan, meminta nomor handphon, dan bertanya tentang banyak hal. Waktu itu kami disebut sebagai rombongan huffaz (para penghafal Alquran). Perjalanan mengesankan ini pula yang nantinya membawa saya bertugas di kota Surabaya di tahun berikutnya.

Setelah bertugas di sana selama separuh ramadan, sebuah berita duka tersiar, salah seorang saudagar kaya berdarah bugis yang merupakan warga sebatik meninggal dalam sebuah insiden di Tarakan. Konon, penyebabnya adalah karena hal sepele yang tidak diterima oleh koleganya sendiri. Kekayaan yang dianggap segala-galanya, membuatnya kurang diterima orang lain, padahal jika dia keluar sejengkal tanah untuk meyaksikan kekayaan dan kehebatan orang lain, pasti akan mengubah pola fikirnya bahwa “di atas langit masih ada langit”. Itulah pentingnya melakukan sebuah touring. 

Nabi Musa as juga pernah malelakukan perjalanan menyusuri sungai bersama salah seorang muridnya. Dalam perjalanannya, Allah mempertemukannya dengan seorang hamba saleh yang konon bernama “Khidir” (baca tafsir Al Azhar oleh Prof. Hamka, QS. al-Kahfi: 60-82). Khidir memperlihatkan kepadanya sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Musa berkata “bolehkan saya mengikutimu agar kamu mengajariku sesuatu yang kamu telah ketahui?” Khidir menjawab “Sungguh kamu tak akan mampu bersabar bersamaku, bagaimana mungkin kamu bersabar pada sesuatu yang kamu tidak paham?” Musa menjawab “Insya Allah kamu akan mendapatiku seorang yang bersabar dan tidak akan melanggar”

Kesepakatan keduanya telah terjadi sebelum perjalanan dilanjutkan.

Keduanya bergerak menaiki kapal dan Khidir memecahkan kapal itu, Musa yang tak tahu menahu sesuatu heran dan protes karena hanya bisa menjangkau yang dilihatnya seketika “mengapa kamu memecahkan kapal ini sehingga penumpangnya akan tenggelam?” Khidir berkata kamu telah melanggar kesepakatan yaitu dilarang bertanya. Musa berkata “mohon jangan menghukum atas kealpaan dan kekhilafanku…”

Demikianlah sekelumit perjalanan Musa bersama Khidir dan beberapa peristiwa berikutnya yaitu membunuh anak kecil dan merobohkan bangunan yang membuat nabi Musa selalu keberatan tak tahan akan perlakuan Khidir karena ketidaktahuannya. Meskipun pada akhirnya Khidr menerangkan secara datail setiap peristiwa yang telah dilakukannya sebagai pertanggungjawaban.

Kali ini, saya sedikit menceritakan pengalaman kebersamaan dengan deng Aji (teman, saya samarkan namanya karena terkait integritasnya)

Di Madinah dan Mekah musim haji 2018/1439, meski belum kenal akrab kala itu, saya kagum menyaksikan kedisiplinan deng aji. Semua waktunya dipergunakan untuk ibadah sekaligus melakukan perjalanan ke banyak tempat. Malam-nya tidak digunakan untuk tidur tetapi untuk salat, dan hari-hari-nya untuk menelusuri semua sudut-sudut koya Mekah sekaligus riset kecil-kecilan. tidak hanya itu, semua yang telah dilihanya menjadi pembahasan yang harus saya jawab bersama sang pembimbing H. Tajuddin Talli, dan sang dokter Chaerul Amin Rusli saat bersama di kamar hotel.

Kali ini, senin-selasa, 12-13 Nopember 2018, saya kembali bersamanya selama 12 jam. Deng Aji menjemput pukul 19.00 dan tiba di kediamannya sekitar 21.45 waktu Jakarta Timur dan tiba kembali di Hotel 05.59 pagi.

Saya menyaksikan kedisiplinan para aparatur negara di Markas Besar Angkatan Darat (MABESAD) tempat di mana dia bertugas sangat luar biasa.

Bercengkrama selama kurang lebih dua jam terkait tugas dan tantangan pekerjaan di Jakarta membuat saya makin menaruh kagum dengan sahabat baruku ini. Menduduki jabatan di MABESAD tidak semua anggota bisa meraihnya karena menjadi incaran pejabat dari seluruh wilayah Indonesia.

Jam tiga menjelang subuh, dia sudah terjaga dan mempersipkan segala sesuatu untuk pekerjaannya. Saya ingat betul sikapnya saat di Mekah, jam itu adalah jam ibadahnya. Ternyata memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, di rumahnya pun demikian. Ooh… ternyata kedisiplinan di Mekah itu ternyata bukan karena dibuat-buat, namun sudah menjadi karakter hidupnya.

Mengapa nabi sangat menganjurkan kedisiplinan?

Kedisiplinan adalah pangkal kesehatan dan kekayaan Nabi melarang umatnya tidur setelah salat asar (ailulah), menurut penjelasan ulama terkait larangan nabi tersebut, Ailulah akan mewariskan kebodohan dan kemiskinan. Malaikan rahmat yang datang membagi-bagi doa dan rezki di pagi itu akan meninggalkannya dalam keadaan tak mendapat apa-apa.

Juga nabi melarang tidur di sore hari (hailulah). Tidur di sore hari akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga serangan penyakit fisik dan non-fisik akan mudah menyerang. Serangan sihir atau penyakit ‘ain biasanya disebarkan oleh hasid pada waktu itu, sehingga siapa saja yang tidak terjaga akan mudah terserang karena jiwa jadi kosong.

Justru nabi menganjurkan qailulah yaitu tidur yang dilakukan sebelum atau sesudah salat duhur. Sebagian ulam mengatakan tidur di waktu itu adalah istirahatnya para nabi dan orang kaya. Qailula ini akan menambah ketahanan tubuh sehingga semua aktifitas kan terasa segar.

Qailulah sesungguhnya tidak mesti tidur. Namun, cukup dengan membaringkan badan akan menambah kekuatan dalam aksi berikutnya di hari itu.

Cara tidur dua yang pertama sama sekali saya tidak menemukannya pada sosok sahabat deng aji itu. Tuntutan tugas yang menumpuk mebuatnya disiplin sehingga tak ada Ailulah dan Hailulah baginya.

Melihat langsung segala aktifitasnya walaupun hanya sekejap, saya semakin yakin bahwa tradisi disiplin seperti itu membuatnya sehat-bugar.

Sejak 09 nopember sampai cerita ini saya rilis, menemukan banyak pengalaman baru di ibu kota Jakarta ini. Pergerakan warga setiap hari sangat cepat dan tuntutan pekerjaan amatlah mendisiplinkan.

Membayangkan negara super power seperti Amerika Serikat atau negara maju seperti japan bagaimana ya? Pantas saja mereka hebat.

Kedisiplinan nabi dalam berdagang dan berdakwah membuatnya menguasai bumi saat itu dan bahkan sampai hari ini.

Saya terdiam, berfikir dan bertanya dalam diri sendiri “mengapa saya tidak bisa disiplin seperti mereka? Andai saja saya disiplin menggunakan waktu belajar dan menulis? Andai saja saya bekerja keras mungkin sudah kaya raya? Hehe… (menghayal)

Dari cerita diatas dapat saya simpulkan beberapa hal: pertama, lakukanlah banyak perjalanan supaya kamu mendapat banyak pelajaran termasuk banyak teman; kedua, menemukan orang lain yang lebih hebat akan menyadarkan kekurangan diri sendiri; ketiga, jangan ragu untuk beryanya karena bertanya adalah separuh ilmu; keempat, terkadang kita memprotes atau menegur orang lain karena keterbatasan diri kita sendir bukan karena kehebatan kita dan; kelima, jadilah orang disiplin, kamu akan sehat dan kaya.

Perjalanan saya selama 10 hari ini (08-18 Nop. 2018) sebagai duta seluruh ASN Prov. Sulawesi Selatan dalam rangka MTQ Korpri Nasional IV ini sungguh sangat mencerahkan. Semoga kami juara dan tentunya membanggakan masyarakat Sulsel. Doakan yaaa.

Amin.

Akulturasi Islam

Memahami Akulturasi Islam; Sebuah Pengantar

Islam sejatinya menjadi rahmat bagi seluruh alam. Elastisitas hukum-hukumnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengkaji ilmu keislaman. Baik mereka dari kalangan akademisi-praktisi, muslim maupun non muslim.

Proses akulturasi ini, kemudian me-roketkan nilai “salihun li kulli zaman wa makan”  Islam cocok untuk segala perubahan tempat dan zaman. Sayangnya, oleh sebagian pihak masih menganggap bahwa hukum Islam bersifat statis dan tidak perlu mengikuti perubahan wilayah, kondisi, dan waktu.

Imam Ibnul Qayyim Alal-Jauziyah dalam bukunya I’lam al-Muawaqqi’in An Rabbil Alamin, menegaskan bahwa dalam hukum Islam setidaknya ada lima hal yang amat penting menajadi pijakan dalam menetapkan suatu hukum yaitu; waktu, tempat, niat, situasi (ahwal), dan adat istiadat.

Tulisan sederhana ini berupaya menampilkan beberapa pandangan yang telah dikaji oleh sebagian ulama dari Nahdatul Ulama. Mereka melakukannya berlandaskan Alquran dan hadis terkait kemungkinan budaya bisa mengakomodir atau menjadi bagian dari hukum Islam.

Redaksi ayat Alquran dan hadis yang mengakomodir budaya/tradisi.

Pertama, Pada zaman jahiliah salah satu tradisi mereka adalah memakan riba secara berlipat-ganda, bukan riba yang sedikit. Akan tetapi tidak satupun ulama mujtahid yang membolehkan meskipun sedikit. lafal اضعافا مضاعفة  (QS. Ali Imran: 130) merupakan pengakomodasian budaya kafir jahiliah yang saat itu berlomba-lomba dan bangga dengan riba yang berlipat ganda (baca Rawa’i al-Bayan, Jilid I. h. 292-293).

Kedua, QS. al-Nisa: 23, tentang menikahi anak tiri. Dalam ayat ini menunjukkan keharaman menikahi anak tiri yang ibunya sudah disetubuhi jika anak tiri tersebut dirawat ayah tirinya. Tetapi tak ada seorang pun imam Mujtahid yang menghalalkan orang menikahi anak tiri yang ibunya sudah disetubuhi, baik anak tersebut dirawat ayat tirinya atau tidak. Penyebutan lafal في حجوركم merupakan pengakomodasian budaya jahiliah dimana jika ada perceraian maka anak perempuan mereka cenderung mengikuti ibunya meskipun harus bersama ayah tiri daripada mengikuti ayahnya tapi harus hidup bersama ibu tiri karena biasanya yang kejam adalah ibu tiri bukan ayah tiri (Baca bahsul masail NU).

Ketiga, QS. al-Nur: 26, menjelaskan tentang perempuan dan laki-laki jalang. Secara literal, ayat ini menjelaskan bahwa perempuan jalang untuk laki-laki jalang, demikian pula sebaliknya; perempuan salehah untuk laki-laki saleh dan sebaliknya. Penjelasan ayat tersebut hanya mengakomodasi budaya, yakni orang-orang baik biasanya akan memilih orang-orang baik pula, demikian sebaliknya. Padahal dalam syariat tidak diharamkan perempuan jalang dinikahi laki-laki saleh dan sebaliknya. Secara implisit mengajarkan untuk melestarikan tradisi.

Keempat, Anjuran menjaga etika daripada melaksanakan perintah yang tidak wajib. Meskipun ada hadis yang melarang berdiri karena kedatangan nabi saw, namun dalam hadis lain nabi membiarkan sahabtanya (hassan) berdiri menghormati sesuai tradisi masyarakat arab (baca riwayat Muslim).

Pengakomodiran Tradisi Jahiliah Menjadi Ajaran Islam

Pertama, tradisi puasa asyura yang selalu dilakukan oleh masyarakat jahiliah diakomodir menjadi sunnah dalam Islam (baca riwayat Muslim, Syarah Imam Nawawi, jilid 8; h. 9); kedua, akikah yang menjadi tradisi masyarakat arab diakomodir menjadi sunnah dalam Islam, kecuali mengolesi kepala bayi dengan darah hewan akikah diganti dengan mengolesinya dengan minyak wangi (HR. Abu Daud dan Hakim); ketiga, ritual-ritual haji. Kebiasaan mereka adalah tawaf (mengelilingi kakbah) dengan telanjang, Islam datang mengakomodir dengan tetap melestarikan tawaf, namun mengganti pakaian telanjang dengan berpakaian ihram dan; keempat, kebolehan menerima hadiah makanan dari tradisi kaum majusi di hari raya mereka selain daging sembelihannya (Ibnu Abi Syaibah, jil 12, h. 249).

Pendekatan Terhadap Tradisi atau Budaya.

Pertama, pendekatan adaptasi. Hal ini dilakukan untuk menyikapi tradisi yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan merupakan implementasi dari ahlak mulia yang dianjurkan oleh nabi saw seperti dermawan, pemaaf, menghormati yang lemah, berbaut baik kepada anak yatim dan berbuat baik kepada tetangga “و خالق الناس بخلق حسن”

Kedua, pendekatan netralisasi. Menyikapi budaya yang didalamnya terdapat percampuran antara hal-hal yang diharamkan dan dapat dihilangkan dengan hal-hal yang dibolehkan. Nertalisasi terhadap budaya seperti ini dilakukan dengan menghilangkan keharamannya dan melestarikan selainnya, seperti dalam QS. al-Baqarah: 200. Imam Mujahid menjelaskan bahwa tradisi orang arab setelah melaksanakan ibadah, berkumpul becerita saling membanggakan nenek moyang dan nasab mereka yang dilarang dalam Islam. Islam datang tidak melarang perkumpulannya, namun diisi dengan zikir dan ceramah. Hal ini menjelaskan bahwa Islam tidak menghapus budaya, akan tetapi menggantinya dengan yang baik-baik. (asbab al-nuzul/1/39)

Ketiga, pendekatan minimalisasi. Ini dilakuan untuk menyikapi budaya yang mengandung keharaman yang belum bisa dihilangkan seketika. Minimalisasi budaya seperti ini dilakukan dengan cara: mengurangi keharamannya sebisa mungkin, yaitu dengan menggantinya dengan keharaman yang lebih ringan; membiarkannya dengan tujuan dapat melalaikan pelakunya kepada keharaman yang lebih berat. seperti mencuci darah dengan kencing, kemudian mencuci kencing dengan air. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengkategori langkah ini dengan empat tingkatan yaitu: menghilangkan seketika dan menggantinya; mengurangi meskipun tidak dihilangkan keseluruhan; mengganti dengan yang sepadan dan; mengganti yang lebih buruk. Dua yang pertama itu yang dibolehkan. seperti main atur dan main lainnya yang dengan taruhan.

Keempat,  pendekatan amputasi. Dilakukan untuk menyikapi budaya yang mengandung keharaman yang harus dihilangkan. Amputasi semacam ini dilakukan secara bertahap, seperti terhadap keyakinan animisme dan dinamisme. Meskipun dilakukan dengan cara menghilangkan sampai akarnya. Sebagaimana nabi melakukannya dengan bertahap terhadap keyakinan paganisme di masyarakat arab, menghancurkan fisik berhala, keyakinan, pemikiran, dan kebudayaan. Tradisi tersebut berhasil dihilangkan setelah dakwah nabi berusia 21 tahun yakni setelah fathu Makkah (penaklukan kota Mekah).

Melestarikan budaya yang menjadi media dakwah.

Tradisi atau budaya kirim doa kepada mayit pada hari ke 40, 100, dan 1000 hari dari kematiannya yang tidak bertentangan dengan agama, justru menarik masyarakat berkirim doa bagi orang yang telah meninggal dunia. Bahkan jika tradisi ini dihilangkan, justru akan menghilangkan juga kebiasaan berkirim doa.

Dari pandangan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan: pertama, bahwa hukum Islam akan berlaku dan menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan; kedua, budaya atau tradisi sangat diakomodir oleh hukum islam; ketiga, perubahan bukanlah pada persoalan mengubah yang haram menjadi halal, yang halal menjadi haram, meniadakan perintah dan larangan, akan tetapi mengkondisikan hukum sesuatu.

Zakat fitrah misalnya, tetap menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi benda zakat menyesuaikan kondisi suatu wilayah. Di tanah Arab pada masa nabi, yang menjadi zakat adalah gandum atau kurma karena itu makanan pokok mereka. Sebaliknya, di Indonesia tidak mungkin akan mengeluarkan zakat dengan gandum atau kurma seperti yang dilakukan nabi karena bahan makanan pokok mereka berbeda yaitu beras, sagu, ubi, dan sebagainya.

Keempat, keberlakuan hukum Islam tetap dengan sistem tadriji (bertahap), karena apabila suatu masalah dipaksakan kepada masyarakat, maka besar kemungkinan akan menjadi suatu trauma atau beban yang mengakibatkan mereka menjauh dari Islam.

Korban Bencana; Jangan Menambah Duka Mereka

Musibah gempa, lumpur, dan tsunami telah meluluh lantahkan kota Palu, Donggala dan Sigi, 28 September lalu. Kini menyisakan banyak duka. Kehilangan keluarga menjadi perkara tidak terelakkan. Bukan hanya itu, kerugian materil dipastikan sangat banyak. Pekerja terpaksa kehilangan pekerjaan.

Sangat menyedihkan memang. Namun, lebih dari semua musibah itu, hal yang paling menakutkan adalah musibah mental mereka. Kerusakan mental jauh lebih berbahaya ketimbang kerusakan dalam bentuk materiil.

Pemberitaan peristiwa itu memenuhi media. Baik media cetak, elektronik, dan media sosial. Sayangnya, sebahagian pemberitaan tidak berimbang apalagi yang dibagikan melalui FB, WA, Line, TwItter, dan lainnya. Beberapa isi WA dan FB terkadang terlalu menyudutkan korban. Seakan korban adalah orang “jahat” tidak bermoral, pelaku syirik, pelaku seka bebas, pelaku LGBT, dan lain sebagainya.

Keluarga korban tentulah tidak akan menerima jika pandangan itu dialamatkan kepadanya. Mereka dianggap mati konyol atau mati su’ul khatimah. Prasangka baik adalah cara bijak dalam membantu meringankan beban moral mereka.

Tahukah kita bahwa di antara korban yang meninggal atau yang kehilangam sanak familinya adalah orang alim, ahli ibada, dan bahkah kepala rumah tangga yang banting tulang peras keringat demi biaya kuliah dan demi menghidupi anak, orangtua dan istrinya. Bukankah nabi menyanjung para muhtarif atau pekerja keras. Beliau berpesan “khairul a’mal amalur rajuli bi yadihi” artinya sebaik-baik perbuatan adalah pekerja keras?

Kalaupun kita mengaggap bahwa musibah itu karena perbuatan syirik, LGBT, seks bebas, alkohol, pusat judi, dan kejahatan lainnya, bagaimana jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia atau di negara lainnya? Penduduk di sana tidak semua muslim. Boleh jadi yang melakukan tradisi kesyirikan “nomoni” adalah tradisi agama lain yang barang tentu sebuah ritual dalam agamanya.

Saya sangat berhati-hati dalam menilai mereka. Tidak berani menjustis mereka sebagai orang celaka. Di sana banyak keturunan Rasulullah, ada habaib, ada Pondok Pesantren Al-khairat yang menjadi benteng mereka. Jauh lebih baik kita bertakziyah untuk mereka dan berprasangka baik kepada mereka.

Bisa jadi mereka diberi ujian itu karena Allah tahu bahwa merekalah yang lebih bisa menerima ujian itu. Bukankah kita amat yakin akan firman-Nya “Allah tidak akan memberi beban kepada seseorang kecuali sesuai kemampuannya” QS. al-Baqarah: 286)

Juga, bisa jadi mereka adalah para syuhada Allah. Rasulullah menjamin syahid bagi mereka yang wafat dalam memperjuankan kehidupan diri dan keluarganya. Syahid bagi mereka yang mati dalam menuntut ilmu.

Sabda Nabi “man kharaja min baitihi di talabil ilmi fahuwa fi sabilillahi hatta yarjia” artinya barangsiapa keluar rumah karena tujuan menuntut ilmu maka dia di jalan Allah sampai kembali”

Bukankah pula Rasulullah pernah meminta kepada Allah agar menangguhkan siksaan kepada umat-Nya? Allah menjawab “Allah tidak akan menyiksa mereka selama engkau Muhammad  bersama mereka. Dan Allah tidak akan menyiksa mereka selama mereka ber-istigfar .”(QS. al-Anfal: 33).

Jadi, bencana itu terjadi bukan semata karena kejahatan. Sangat boleh jadi karena kondisi tanah labil, pergeseran lempengan bumi atau terjadi patahan dalam bumi. Bagaimana jika ujian itu dialamatkan kepada kita? Dapatkah kita menerima perlakuan sesama muslim yang menganggap kita mati su’ul khatimah konyol? Tentu tidak akan menerima.

Terkadang kita lebih hebat dari pada Tuhan. Menempatkan mereka didalam siksaan mendahului hisab dan timbangan amal. Padahal ajaran Islam menginginkan keselamatan untuk semua manusia. Rasulullah mengajarkan menghormati manusia baik yang beriman atau pun yang tidak. Yang masih hidup atau pun yang sudah mati.

Suatu ketika Rasulullah melewati suatu jalan. Pada saat yang bersamaan sekelompok Yahudi mengusung jenazah salah seorang dari mereka. Pada saat itu, Rasulullah mengatakan kepada sahabat-Nya diam dan jangan berjalan dulu. Sahabat nabi saat itu serentak berdiri menghormati mereka. Itu jenazah non muslim, bagaimana denga jenazah sesama muslim?

Rasulullah tidak pernah mencomooh, menghakimi apalagi mengkafirkan, mensyirikkan atau menganggap sesat seseorang karena suatu yang dialaminya. Nabi justru mengangkat tangan dan mendoakan almasaib.

Oleh karena itu janganlah kita menambah duka mereka. Mereka tidak menginginkan musibah itu. Pun tidak memilih musibah itu. Justru mereka adalah orang pilihan. Seyogyanya bersyukur dan lebih introspeksi diri karena musibah mereka adalah cermin besar bagi kita untuk memperbaiki diri, mengais ilmu menjadikan seluruh hudup bermanfaat bukan justru menjadi beban dan duka bagi sesama.

Janganlah menambah ketakutan dan meruntuhakan mental mereka lantaran ucapan dan celoteh kita. Bawalah mereka ke alam gembira. Doakanlah keselamatan untuk almarhum danm almarhumah serta ketenangan batin bagi yang masih hidup.

 

Dari Ilmu Nahwu Ke Nusantara

Saat pertama kali menjadi santri di Pondok Pesantren As’adiyah (1997), salah satu kenangan yang tak akan lekang oleh waktu adalah pelajaran ilmu nahwu dan sharf. Saya menyaksikan beberapa santri luar biasa. Mereka telah mampu menguraikan contoh-contoh kalimat dalam ilmu nahwu semisal “قام زيد” dengan menggunakan bahasa Arab pula:

قام : فعل ماض مبني على الفتح لا محل له من الإعراب . زيد:  فاعل وهو مرفوع و علامة رفعه الضمة الظاهرة في آخره لأنه اسم المفرد

Menyaksikan kehebatan santri-santri itu, saya hanya terdiam-kagum, menjadi saksi atas pencapaian mereka. Saya takut sekali jika dilirik oleh gurutta karena khawatir akan diminta melakukan hal yang sama.

Apa yang saya lakukan untuk bisa mendekati pencapaian mereka?

Bukan berpangku tangan layaknya penonton sepak bola yang terkadang lebih pintar dari pada pemain terlatih, bukan pula menghayal berekspektasi mencapai sesuatu tanpa ada action. Namun, harus mencari cara terbaik untuk itu.

Saya menghafal bait-bait dan istilah-istilah nahwu meskipun sama sekali tidak paham. Sebatas bentuk perwujudan ketaatan saya kepada guru. Pesan Gurutta KH. Idman Salewe, “Apala’i baite’e. Apala toi tanra-tanranna Era’e, narekko muapalai 99,99% macako mannahawu.” Artinya, hafalkan bait-bait (alfiyah Ibnu Malik), hafalkan juga tanda-tanda i’rab, jika kamu sudah hafal, maka 99,99% pasti kamu ahli di bidang nahwu. Demikian gurutta Fung Ide’ berkali-kali menyampaikannya.

Tradisi menghafal memang bagaikan urat nadi dalam proses belajar mengajar di As’adiyah, khususnya dalam ilmu alat dan ilmu agama. Almarhum AG. Abunawas Bintang pernah berwasiat, “Narekko muapalai, melemma toi mupahang, yakki muallupaiwi apalamu, monro mui pahangenna, narekko de mu pahangi, monro mui apala’na.” Artinya, jika kamu hafal, niscaya kamu juga akan mudah memahaminya. Sekiranya hafalanmu minggat, maka pemahamanmu akan kekal. Sebaliknya, jika pemahamanmu menjauh, maka keuntungannya adalah pada hafalan.

Benar. Saya adalah salah satu dari sekian santri yang merasakan itu. Dalam perkembangan selanjutnya, kami sudah mulai merangkak ke kitab-kitab lain seperti al-qawaid al-Asasiyah li al-lughah al-Arabiyah dan Jawahir al-Balagah oleh Sayyid Ahmad al-Hasyimi, al-Tatbiq al-nahwi, dan kitab lainnya. Mempelajari ilmu nahwu dan semantik membawa kami mulai memahami apa yang wajib kami hafalkan pada merhalah sebelumnya.

Cerita ini akan saya sajikan dalam salah satu term dalam ilmu nahwu yang dikaitkan dengan kajian Islam Nusantara.

Term yang paling berkesan dalam proses pembelajaran adalah al-idafah. Susunan idafah (mudaf dan mudaf ilaih) ini ada tiga kemungkinan makna yakni pertama idafah makna من menjelaskan asal muasal sesuatu seperti طالب الأسعدية (santri dari As’adiyah) asalnya adalah طالب من الأسعدية, dibuang harf al-jar من, dipahami bahwa idafah terjadi karena menghilngkan harf al-jar sehingga mudaf ilaih harus berbaris kasrah;kedua, idafah makna ل (kepemilikan/kepunyaan), ini juga wajib men-jar mudaf ilaih, contoh كتاب محمد (buku milik Muhammad) asal kalimatnya adalah كتاب لمحمد ; dan yang ketiga, idafah dengan makna في (keterangan tempat atau waktu), اسلام نوسانترا asalnya adalah اسلام في نوسانترا (Islam yang ada di Nusantara).

Menelaah term di atas cukup memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa Idafah setidaknya memiliki 3 makna (baca Ahmad al-Hasyimi, al-qawaid al-asasiyah li al-lughah al-arabiyah. h. 272), yakni asal (al-jins), kepemilikan (al-milk) dan keterangan tempat (al-dzarf). Jika dikaitkan dengan pembacaan dalam suatu statemen maka kita akan terdidik memberi makna dari berbagai sisi. bukan hanya satu, akan tetapi setidaknya pada tiga poin diatas.

Seyogyanya pelajaran nahwu yang gurutta (kiai) telorkan, cukup mendidik kita untuk memahami naskah/istilah secara komprehensif bukan secara parsial. Pemahaman secara parsial akan membawa kita pada kondisi “gagal paham”. Jika (من) atau (ل) saja yang ditolerir, sementara sisi lain (في) dianggap tidak ada.

Dinamika hidup itu pasti ada. Keberagaman adalah keniscayaan, perbedaan pandangan pasti tak terhindarkan, namun kita harus mampu memahami dan menempatkan diri dalam situasi dan kondisi itu. Dalam berinteraksi; berucap dan bertindak harus proporsional. Tidak semua ucapan dan tindakan seseorang merupakan representasi dari dirinya.

Sebuah kata bijak ” انظر من قال و لا تنظر ما قال atau sebaliknya انظر ما قال و لا تنظر من قال” artinya fokuslah pada orang yang berkata dan abaikan makalahnya. Sebaliknya fokuslah pada makalahnya dan abaikan pemakalah.

Rasulullah pernah melewati sahabatnya yang sedang “mengawinkan” pohon kurma, Rasulullah saw menegurnya “lau lam taf’alu lasaluha” artinya kamu tidak melakukan itu pun akan tetap bagus hasilnya. Mereka menghentikan perbuatannya, karena teguran nabi tersebut (mereka yakin bahwa apa yang nabi katakan pasti benar). Namun, kurma justru tidak menghasilkan, gagal panen. Nabi berkata “ma linakhlikum?” Kenapa begitu hasil kurmamu? Mereka menjawab, “Karena nabi mengatakan begini, dan begitu”. Kemudian beliau bersabda “Kalian lebih mengetahui urusan duniamu” (baca HR. Muslim no. 2363).

Ketika akan terjadi perang Khandak, Salman Al-farisi mengusulkan penggalian parit sebagai bagian dari strategi perang yang merupakan keahliannya di Persia. Rasulullah saw menyetujui dan memerintahkan umat Islam untuk melakukannya. Maka terjadilah peristiwa penggalian yang pertama kali di tanah Arab waktu itu.

Kedua riwayat di atas menunjukkan bahwa nabi tidak sepenuhnya menjadi diri sendiri, bertindak sendiri.  Akan tetapi selalu melibatkan orang lain, apalagi urusan pertanian dan peperangan. Kekeliruan nabi dalam menegur sahabatnya “mengawinkan kurma” bukanlah representasi dari diri nabi sehingga dianggap nabi tidak berpengetahuan atau tidak ahli dalam strategi perang.

Sayangnya hari ini, kita masih belum bisa meneladani nabi dari sisi ini. Kita masih terlalu ekstrim dalam menilai sesorang yang kebetulan berbeda paham dengan kita. Terkadang hanya satu sisi yang kita lihat sudah men-justice orang lain bidah, sesat, kafir dan sebagainya. Sikap skeptis mellihat kekurangan seseorang terkadang membawa kita ke suatu kesimpulan yang belum tentu benar.

Kembali ke Term Idafah dangan Islam Nusantara. Menukar fungsi harf al-jar kepada yang bukan semestinya juga akan menyebabkan konsekuensi makna. Seperti huruf في (ket. tempat) dipaksakan ke huruf ل (kepemilikan), demikian pula sebaliknya, akan memaksa kita berinterpretasi berbeda dan berbahaya.

Sebetulnya term “Islam Nusantara” jika dikaitkan dengan ilmu nahwu (idafah) memiliki makna fi yang berarti di Indonesia atau “nusantara” nama bagi seluruh kepulauan di Indonesia. Term yang dikembangkan NU ini tidak akan keluar dari beberapa prinsip: pertama, berdakwah dengan mau’izatul hasanah (berdialog dengan penuh kesantunan); kedua, toleran terhadap budaya lokal yang tidak bertentangan dengan agama; ketiga, memberi teladan dengan ahlak mulia; keempat, memprioritaskan “maslahah ammah diatas maslahah khassah“; kelima, berprinsip “irtikab akhaf dararin“; dan keenam, berprinsip “darul mafasid muqaddamun ala jalbil masalih“.

Islam sejak masuknya ke nusantara telah berupaya melakukan pendekatan dakwah dengan empat hal; adaptasi, netralisasi, minimalisasi, dan amputasi. Kesemua itu mirip dengan polarisasi wahyu selama kurang lebih 23 tahun. Ini tidak bertentangan dengan Alquran.

Bagi kami para “santri” belajar ilmu alat (bahasa arab dan seluruh cabangnya, ilmu tafsir, usul fikih, mustalah hadis, asbab nuzul, psikologi dll) sebelum memasuki fase aplikasi sesuatu yang wajib. Nas-nas Alquran atau hadis yang menajdi objek kajian, tidak akan mungkin bisa dipahami dengan baik jika ilmu itu tidak dimiliki.

Faktor gengsi dan arogansi (asabiyah) akan mengantarkan kepada stagnasi berpikir. Akibatnya, semua pandangan yang tidak sesuai keyakinannya akan sibuk menyalahkan. Nabi mengajarkan kepada kita لا تصدقوا اهل الكتاب و لا تكذبوهم “jangan membenarkan dan jangan pula menyalahkannya”, itu kepada ahlul kitab. bagaimana dengan sesama muslim? Sebaiknya jika tidak mendalami sesuatu lebih baik tawaqquf atau diam untuk menentukan sikap daripada terburu-buru sehingga orang lain menentukan sikap kita.

Kalau nabi mengajarkan kita ber-tatakrama antara umat beragama, bagaimana dengan sesama dan sekeyakinan? Ayo… kita bijaksana dalam menyikapi seluruh dinamika dan perbedaan karena dari situ kita akan semakin dewasa.