Arsip Kategori: Kisah

Tulisan mengenai kisah kisah penuh hikmah

Saya dan Gurutta Abba 6

Dalam perjalanan belajar di tahun pertama, utamanya pelajaran I’rab, saya mengalami masa yang sangat sulit. Kesungguhan itu benar-benar diuji dan setiap ujian mengharuskan pejuangnya survive, bertahan menghadapi apapun itu. Masjid Nurul As’adiyah Callaccu menjadi salah satu saksi perjalanan menuntut ilmu di Kota Sutera. Masjid ini sering menjadi tujuan utama saya untuk belajar dengan  sungguh-sungguh, karena Masjid Al Ikhlas di komplek asrama cukup ramai. Keramaian itu membuat saya kesulitan untuk berkonsentrasi.

Di masa itu, berjalan kaki hingga ke Callaccu adalah perkara biasa. Barangkali semangat dalam diri saya telah mengubah rasa lelah menjadi kenikmatan tersendiri. Keikhlasan dalam melakukan sesuatu pun menjadi kekuatan yang dahsyat, meski ujian untuk survive tidaklah mudah. Ketika menghapal bait-bait nahwu di Masjid Nurul As’adiyah, tidak jarang saya tertidur di sana. Bahkan, tidak jarang pula tidur dalam keadaan perut kosong. Makan siang seringkali menjadi hal yang sangat mustahil untuk saya dapatkan, menjadi semacam kemewahan yang luar biasa untuk siswa rantauan seperti saya.

Uang senilai Rp. 50 adalah pahlawan yang paling hebat. Dengan uang sebanyak itu, ubi goreng di warungnya Cace bisa berubah menjadi makanan paling lezat, bisa mengganjal perut selama sehari. Di pagi hari, saat membeli ubi goreng, saya selalu meminta sambalnya dalam porsi yang banyak. Jangan membayangkan sambalnya berupa campuran lombok dan tomat yang diulek lalu ditumis hingga aromanya menguar sampai di rumah tetangga. Sambal khas Cace adalah olahan “tai boka”, memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai sayur dan juga sebagai pauk yang lezat dalam sehari itu. Dimulai dari sarapan hingga makan malam, “tai boka” senantiasa setia mendampingi. Tentu ditemani pula dengan air putih yang melimpah.  

Bosan? Saya tidak sempat memikirkan apakah saya bosan dengan menu itu atau tidak. Yang terpikirkan adalah dari mana saya akan mendapatkan uang jika ingin menu yang lain? Kepada siapa saya akan meminta? Bersurat kepada orang tua? Bahkan tukang pos pun akan hilang jika mencari tanah kelahiranku. Pulang kampung menjemput bekal? Sungguh tidak mungkin, tidak ada uang untuk membiaya perjalanan ke sana. Pun saya tidak harus ke arah mana mencari mobil penumpang tujuan Sinjai Barat. Di kota ini, saya masih sangat asing. Tidak ada sanak keluarga. Tidak ada teman sekampung untuk berbagi. Karena itulah, saya tetap mensyukuri ubi goreng  berpauk “tai boka”, lalu memperbanyak minum air putih. Jika sudah demikian, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Meski demikian, nikmat Allah seringkali dari arah tidak terduga. Sesekali teman saya mengajak untuk makan bersama. Di lain waktu, ada undangan untuk “mabbuddu”, santri diundang untuk mengaji di rumah duka.

“Saya dihidupkan oleh orang mati,” kelakar saya ketika itu.

Dari kegiatan mabbaddu ini, para santri masing-masing mendapatkan amplop berisi sejumlah uang. Selang beberapa waktu kemudian, saya pun diminta oleh Gurutta Ali Pawellangi (melalui Mustadir) untuk bertugas sebagai pembaca ayat sudi Alquran pada sebuah acara pembukaan. Akhirnya, dari amplop yang terkumpul itulah saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saya.

Nikmat Allah yang lainnya adalah dipertemukannya saya dengan Abdul Malik Tibe (saat ini mengasuh Ponpes DDI Assalaman). Sahabatku ini rupanya berlimpah bekal; beras, kue, dan telur itik. Keadaan pun berubah. Kami memasak oada kompor yang sama. segala kebutuhan sehari-hari menjadi tanggungan bersama, meskipun pada dasarnya sahabatku inilah yang lebih banyak menanggung kebutuhan kami (semoga Allah merahmatinya).

Saya Dan Gurutta Abba 5

Tiba jualah kami akhirnya pada proses “masuk kelas” setelah melewati perjalanan panjang pada rangkaian penerimaan siswa baru. “Masuk kelas” yang saya maksudkan tak lain dan tak bukan adalah proses pembelajaran di Kelas 1 Jurusan Madrasah Aliyah Keagamaan. Selain kelas klasikal (regular), kami pun mengikuti pembelajaran di pengajian halaqah atau pengajian pesantren. Di As’adiyah, kegiatan ini dikenal dengan nama Mangaji tudang.

Saat roster pelajaran dibagikan, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah Ilmu Nahwu, Sharf, Balagah, dan Arudhi. Pelajaran yang sangat asing, namun rasa asing itu berubah menjadi motivasi bagi saya.  Ketika menjadi santri di Pesantren Attahiriyah Balangnipa Sinjai, saya pun belajar Bahasa Arab. Namun, tidak mengenal nahwu, i’rab dan sebagainya. Bahkan, dalam ingatan saya, kelas Bahasa Arab kala itu hanya ada empat kali pertemuan selama satu tahun setengah (tahun 1994-1995). Asatidz dari Jawa yang merupakan andalan pondok itu telah angkat koper dan meninggalkan pondok sebelum saya berstatus santri Attahiriyah. Pondok pesantren itu pun ibarat kata pepatah “mati segan hidup pun tak mau”. Selama empat kali pertemuan itu, kami dibimbing langsung oleh Ustaz Abu Dzar. Beliau berdarah Balangnipa, jika tidak salah beliau merupakan lulusan LIPIA Jakarta. Karena kesibukannya, beliau sangat jarang masuk mengajar kala itu. Semoga guruku ini sehat walafiat, entah beliau di mana sekarang.

Kami lebih banyak mempelajari Almahfudzat yang diajarkan oleh Ustaz Uddin. Sama halnya dengan keberadaan Ustaz Abu Dzar, saya pun tidak mengetahui keberadaan Ustaz Uddin saat ini. Saat masih di Attahiriyah, beliau bolak-balik ke Lappa Data untuk menekuni usaha ternak ayamnya. Harapan terbesar saya adalah Allah mempertemukan kami kembali, beliau amat berjasa bagi saya.

Gurutta Drs. M. Idman Salewe mengajarkan kitab Alfiah Ibnu Malik (ilmu nahwu) dengan metode menghafal pada setiap pertemuan. Sebuah kesyukuran bagi saya karena bisa menghafal dengan baik dan lancar bait-bait itu. Namun, saya sungguh tidak berdaya jika tiba masanya beliau menjelaskan materi tersebut. Kemampuan saya untuk memahaminya berada di level bawah dan inilah yang menjadi mula munculnya rasa iri terhadap teman lainnya. Melongo adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat mereka berlomba mengacungkan jari untuk mengi’rab kalimat yang diajukan. Nyali saya mennjadi ciut dan diam-diam berdoa dalam hati, “Semoga saja Gurutta tidak menunjuk saya”.

Kondisi demikian terus berulang hingga mengantarkan saya pada kondisi mental yang cukup terpuruk. Satu-satunya kelebihan yang saya miliki adalah hapalan Alquran 30 Juz, sayangnya hal ini tidak dibutuhkan di dalam kelas. Tidak jarang saya mendengar teman saling berbisik tentang kelebihan saya dan tidak sedikit yang bertanya langsung, “Kamu penghapal Alquran?”

Tidak ada jawaban lain yang bisa saya haturkan selain mengiyakannya. Mereka tidak menyadari bahwa pertanyaan tersebut seolah menghempaskan saya hingga ke palung terdalam. Rasa malu yang tidak tertahankan. Bagi saya, pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pernyataan “penghapal Alquran tapi tidak berilmu luas”.

Suatu ketika, Gurutta Idman masuk mengajar dengan cara yang sama seperti biasanya, yaitu menghapal dan mengi’rab. Begitu seluruh siswa selesai menghapal, Gurutta menambah bait yang akan dihapal dengan menuliskannya di papan tulis. Tulisannya amat indah meski hanya menggunakan kapur. Setelah itu, beliau hikmat menerangkannya. Namun, suara dari belakang tiba-tiba saja membuyarkan konsentrasi kami. Entah apa maksud perkataan teman saya itu, Gurutta tersinggung dan memanggilnya ke depan kelas. Entah gerakan dan jurus apa yang digunakan Gurutta Idman, tiba-tiba teman kami yang bermasalah itu terjatuh ke lantai.

Kejadian itu membuat saya semakin ketakutan. Pikiran buruk pun terus menghantui kepala. Akibatnya, saya jatuh sakit tapi tidak menceritakannya kepada siapapun. Termasuk kepada Abdul Malik, teman baru yang senasib dalam perkara I’rab. Panas di badan saya nikmati sendirian. Tidak ada daya selain berpasrah, karena jauh dari orang tua dan tidak punya uang untuk berobat. Kadang-kadang hidup memang seolah tidak punya pilihan, meski yang kita jalani sudah sangat jelas merupakan sebuah pilihan.

Mental saya sebagai seorang siswa baru di tingkatan aliyah benar-benar diuji. Namun, saya meyakini bahwa setiap titian yang kita lewati tentu memiliki sebuah ujung. Saya berusaha bangkit agar bisa tiba di ujung titian itu. Memotivasi diri sendiri adalah langkah terbaik yang harus saya tempuh sebagai awal kebangkitan. Saya memulai motivasi itu dengan berguru pada tiga orang sahabat sekaligus motivator saya. Mereka adalah Sabaruddin (alumni Al Azhar Kairo), Masyhuri Pamrah (PNS Penghulu Belopa) dan Wahyuddin Yafid (alumni Mesir). Ketiganya merupakan siswa yang paling sering mengi’rab di dalam kelas. Dengan mudahnya mereka menguraikan satu atau dua kata dengan uraian yang sangat panjang dan hal itu makin menambah kekaguman saya. Mereka sungguh luar biasa, pikirku. Ada kalimat yang paling sering dicontohkan Gurutta, yaitu قام زيد، رايت زيدا dan مررت بزيد .

“Man jadda wajada” menjadi sebuah pintu yang sangat lebar bagi saya untuk memasuki dunia i;rab. Tidak ada kesia-siaan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, demikianlah saya meyakini makna filosofis dari janji Allah Swt tersebut. Semenjak itu, saya mencari jalan untuk berguru. Masyhuri menjadi orang yang sering “terganggu” dengan permintaan saya.  

“Ajari saya mengi’rab,” pinta saya padanya.

“Tidak mungkin bisa. Kamu belum mengetahui tanda-tanda I’rab,” jawaban Mayshuri tak pelak membuatku kebingungan.

“Tanda-tanda I’rab? Hal macam apa lagi itu?” tanyaku dalam hati seraya menyembunyikan kesedihan. Tiba-tiba semangat yang terbangun seolah rubuh tanpa jejak.

Kalimat Masyhuri itu lalu mengingatkan saya pada pernyataan gurutta bahwa jika seseorang mampu menghapal tanda-tanda I’rab maka 99% ia sesungguhnya telah mampu mengi’rab. Saya pun mencari jalan lain. Bukankah selalu ada jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh? Semangat itu patah sekali, tumbuh berganti ribuan kali. Dengan penuh harap, saya meminta Masyhuri untuk menuliskan I’rabnya dari قام زيد. Barangkali ia merasa iba melihat kekurangan dalam diri saya, mungkin juga ia terenyuh melihat semangat yang saya tunjukkan padanya. Di catatanku, pada akhirnya tertoreh dengan sangat baik sebuah hasil I’rab dari tangannya. Catatan itu selanjutnya menjadi modal yang sangat besar sebagai bahan persiapan jika sewaktu-waktu saya ditunjuk untuk mengi’rab. Selalu ada jalan bagi yang bersungguh-sungguh, percayalah!

Hasil I’rab itu selanjutnya tersimpan kuat di dalam dan di luar kepala, meski materi itu sesungguhnya belum saya pahami. Namun, setidaknya saya telah memiliki satu pegangan yang cukup dan telah memperoleh satu kemudahan. Petuah Ust. Bagil (guru Matematika saya di Belawa) pun terngiang kembali, bahwasanya jika seseorang telah menjadi hafiz maka baginya tidak sulit mempelajari yang lainnya. Petuah ini tak lekang hingga hari ini.

Ketidaksabaran saya untuk segera menguasai ilmu I’rab telah mendorong saya untuk belajar lebih kuat lagi. Saat kelas saya tidak terisi guru mata pelajaran, saya menggunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencari kelas lain yang sedang belajar nahwu. Tentu saja belajar di luar kelas dengan cara mengintip dan seksama menyimaknya dari luar jendela. Ini adalah tekad yang tidak terbendung. Keinginan untuk menguasai ilmu itu tidak pernah surut. Kelas yang paling sering menjadi incaran intipan saya adalah kelas tetangga, biasanya diisi oleh Pak Yunus Massekati, Andi Ruslan.

Suatu ketika, saya dan Malik berbincang-bincang membahas kekurangan kami dalam pelajaran itu. Sebuah ide cemerlang pun terlintas dalam benaknya dan mengusulkan agar kami belajar tambahan di rumah Gurutta Ikhwan. Secepat kilat saya menyetujuinya. Alhamdulillah harapan kami terwujud, pada sore hari kami siswa Kelas MAK bisa dibimbing secara takhassus oleh Gurutta Ikhwan.

Aku bincang-bincang dengan Abdul Malik, beliau bilang bagaimana kalo kita belajar sampingan dirumah gurutta pak ikhwan??? Saya langsung respon dan akhirnya kamipun kelas MAK di bimbingan secara takhassus oleh gurutta Ikhwan sore hari saat itu…

Ulama Lawas, Jamaah Milenial

Secara historis tercatat bahwa peran ulama dari masa ke masa telah memberikan warna dalam transformasi ilmu dari satu genarasi ke generasi berikutnya. Bacaan Alquran dinukil secara turun temurun dengan jalan mutawatir yaitu komunitas mayoritas yang mustahil bersepakat dalam kedustaan. Demikian halnya dengan ilmu yang lain, seperti ilmu musthalah al hadis (ilmu riwayat dan dirayah), ilmu asbab al nuzul dan asbab al wurud (sejarah dan latar belakang turunnya ayat dan terucapnya sabda nabi), ilmu lugaat (bahasa) dan ilmu lainnya

Kalimat “Ahl Sunnah wal Jamaah” adalah cara tepat untuk memberi label kepada para generasi pasca nabi Muhammad. Ahl Sunnah adalah masa nabi di mana seluruh kebutuhan dan kebuntuan yang dihadapi sahabat akan mendapatkan secara konstant petunjuk dan penjelasan nabi, sedangkan wal jamaah adalah ulama; baik dari kalangan sahabat, tabiin, tabi’i tabiin, dan ulama setelah mereka yang menjadi bagian dari mata rantai silsilah ilmu sampai kepada nabi. Ulama adalah mereka yang memiliki klasifikasi ilmu agama memadai dan diakui oleh masyarakat di mana mereka berkiprah.

Jika pada pertemuan ulama dunia 1-3 April 2018 di Bogor Jawa Barat terkait isu teroris, islamophobia, ekstremisme, dan intoleran menegaskan bahwa Islam tidak perlu takut karena dalam garis sejarah tidak pernah terlibat dengan perang dunia I dan II. Maka, ada ketakutan lain yang harus diwaspadai oleh ulama yaitu kecenderungan umat pada hal-hal yang sifatnya instan. Hal-hal bersifat instan ini merupakan salah satu karakter abad 21 dan menjadi tantangan besar bagi ulama. Jamaah milenial seakan tidak doyan lagi mengaji dan berguru di depan kiai, dan enggan ke masjid mendengarkan tausiyah. Kaum milenial lebih menyukai mempelajari ilmu secara mandiri melalui ponsel, di mana pun mereka berada.

Tak dapat disangkal bahwa kemajuan tehnologi yang dapat mengetuk jendela-jendela ilmu bagaikan wabah penyakit menular dan sulit mencarikan penawarnya, karena selain sebagai kebutuhan juga menjadi life style, sehingga harus memasuki akar wabah itu untuk mengetahui sekaligus menawarkan jenis pil yang wajib dikonsumsi. Peran setiap pengemban agama dari berbagai latar belakang pun berlomba-lomba berkreatifitas untuk menarik viewers (pembaca/pemirsa). Kemudahan tehnologi inilah yang menghasilkan ustaz atau “kiai google”. Namun, belajar agama melalui praktik seperti ini akan sangat sulit memberikan filter, tidak mampu memilih dan menelusuri mana pendapat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Sebagai generasi milenial pun sebaiknya cerdas dalam berpenetrasi dengan media sosial. Salah satu poin penting yang harus dipahami adalah bahwa kecerdasan dan kemampuan meraih berbagai ilmu itu tidak dapat “diTuhankan” karena dibalik semua itu, ada yang paling rahasia dan dapat menembus infinitum lapisan teratas yang tak bisa diraih oleh banyak orang, yaitu keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu itu hanya dapat diraih jika dilakukan dengan cara talaqqi, yaitu bertransformasi langsung dengan guru, musyafahah atau mulut dengan mulut.

 

Dampak lain dari perilaku instan adalah kecenderungan mereka untuk menabrakkan antara pesan luhur agama dengan konten yang bernuansa hoaks. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan mengadu antara pendapat ulama satu dengan yang lain dengan cara provokatif sehingga menimbulkan mosi tidak percaya atau preseden buruk bagi seorang ulama dalam masyarakat. Bahkan, terkadang pemahaman mereka yang nihil terhadap agama dipakai melawan pemerintah dan kekuasaan yang dianggap memusyrikkan, memurtadkan atau mengkafirkan sekaligus. Sisi inilah yang menampakkan pentingnya silsilah keilmuan yang baik, sehingga arah dan tujuan dakwah berhasil dan tidak menyakiti apalagi menghakimi.

 

Kondisi di atas mewajibkan seorang ulama tidak hanya andal dalam mengkaji kitab-kitab turats (kitab kuning-gundul) dan menunggu audiens datang mengaji, akan tetapi juga wajib mentransformasikan pesan-pesan agama melalui media sosial. Abustani Ilyas (salah seorang guru besar bidang hadis UIN Alauddin Makassar dalam acara promosi doktor Abdul Malik, 26 Desember 2018 di gedung Pascasarjana UMI Makassar) menegaskan bahwa salah satu perkara wajib bagi ulama di zaman milenial adalah bermedia sosial yaitu punya skill untuk menyampaikan pesan agama melalui banyak media.

 

Ulama dituntut oleh zaman untuk mengambil peran dalam menghiasi jendela-jendela media sosial agar pandangan dan amar makruf, nahi munkarnya tidak hanya dinikmati oleh kalangan santri, akan tetapi juga masyarakat milenial secara umum. Secara faktual, ulama yang menguasai media maka dialah yang akan menjadi panutan masyarakat milenial. Sudah saatnya, ulama menjadi bagian penting pada kemajuan abad 21, sekaligus  mengoptimalisasi perannya sebagai penyaring bagi jamaah milenial dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan internet dan kecanggihan teknologi.

 

 

Saya Dan Gurutta Abba 4

Dalam kegamangan mencari Ambo Lahnaj, saya merasa sudah tidak sendirian lagi, tidak lagi merasa terbuang jauh. Setidaknya, saya telah dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang baru. Meski asing, nyatanya mereka sangat baik satu sama lainnya, sehingga sedikit pun saya tidak lagi merasa terasing sebagaimana di mula kedatangan saya di komplek As’adiyah. Di Asrama Hijau, saya “secara resmi” menjadi bagian dari asrama itu. Hingga beberapa waktu lamanya –di asrama itu-, saya mencatatkan banyak hal, merawat ingatan tentang perjalanan mencapai cita-cita, juga menemukan dan menyusun kepingan-kepingan masa depan yang masih misteri. Di tangan Allah, segalanya kami kembalikan; ikhtiar dan doa-doa.

Asrama ini cukup ramai, dihuni oleh enam santri. Saya masih mengingatnya dengan jelas. Ada Ismail Ahmad (yang lebih dikenal dengan nama Ismail Commo, kawan yang berkenan dan tulus menampung injakan kaki pertama saya di asrama), Muhammad Rusydi (kawan yang berbaik hati menghalau laparku dengan suguhan kuenya, Muh. Yunus Massekati, Ismail Gagah, Mustadir, dan Burhanuddin Kampiri. Bertemu dengan mereka, saya akhirnya percaya bahwa keterasingan seringkali menjadi cara terbaik untuk mendekatkan kita dengan orang lain dan Allah swt adalah sebaik-baik sutradara.

Jatah tempat tidur saya terdapat bagian atas. Sebagaimana biasanya di pesantren, Asrama Hijau juga menyediakan tempat tidur bersusun. Meski badan saya masih tergolong kecil saat itu, namun tempat tidur itu terasa sangat sempit. Tugasnya sesungguhnya berat. Selain untuk menampung badan yang kelelahan, tempat tidur itu juga menjadi “rumah” bagi sebuah koper tua dan menjadi sebuah “lemari” bagi pakaian ganti saya. Ruang gerak saya pun menjadi sangat terbatas. Sangat sulit untuk melakukan gerakan “balik kiri dan balik kanan” pada saat tidur. Saat terbangun, tentu saja badan kecil saya tidak luput dari rasa pegal. Tidur yang kaku, sekaku bilah papannya, menurutku.

Hal miris lainnya, tempat tidur itu hanya dilengkapi dengan selembar tikar tipis dan berserabut, tubuhnya telah dimakan waktu; menua. Meski demikian, selembar tikar usang itu adalah hal yang patut disyukuri. Saya yakin, seseorang telah bermurah hati meninggalkannya begitu saja dan sebelum mereka berpisah, sang tuan mengucapkan salam perpisahan dengan berkata, “Aku wariskan engkau kepada siapapun yang datang setelah kepergianku.”

Hidup memang sering kali tidak memberikan banyak pilihan. Begitu pun kondisi di asrama ketika itu. Benar-benar tidak ada pilihan lain, kecuali harus tidur di tempat itu tanpa kasur ataupun karpet. Orang tua saya tidak membekali apa-apa, selain doa, restu, uang lima ratus ribu rupiah, dan sebuah koper tua. Jangan salah sangka, bukan mereka tidak peduli. Ini adalah kekhilafan saya yang tidak menghimpun banyak informasi, hanya mengantongi nama Ambo Lahnaj.

Dengan membesarkan hati, saya selalu berusaha menikmati setiap hal yang mungkin dianggap penderitaan di mata orang lain. Penderitaan kala itu selalu terbayarkan dengan kebaikan hati dari teman-teman saya. Saya menemukan sebuah pelajaran terbesar dari asrama itu, bahwasanya “senasib dan sepenanggungan” adalah modal terbesar bagi siapapun untuk membangun empati dan simpati dalam dirinya. Pondok pesantren, termasuk As’adiyah, menjadi wadah yang kuat untuk membangun keduanya, dan juga hal positif lainnya.

Ismail dan Rusydi sesekali menawarkan tempat tidurnya. Begitu pun dengan teman yang lainnya. Mereka tahu bahwa saya tidak membawa beras, ikan kering, bekal lainnya, dan peralatan memasak. Karena itulah, mereka sering meminjamkannya. Bahkan, tak segan berbagi makanan. Masih segar dalam ingatan saya, selama beberapa hari, Ismail menjadi kakak yang penuh ketulusan menanggung kebutuhan pangan saya saat itu. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ismail pula yang membantu dan membimbing saya pada saat mendaftar. Atas sarannya, saya memilih mendaftar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Hingga pendaftaran itu selesai, Ambo Lahnaj belum juga tampak. Prosesnya tidak rumit. Bekal dari bapak pun perlahan-lahan mulai terpakai. Melihat daftar kebutuhan yang harus segera dipenuhi, saya berusaha menghematnya meski jumlah bekal itu tergolong banyak kala itu. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah itu harus mampu memenuhi kebutuhn saya berupa kitab tafsir Jalalain, Tanwiirul Qulub, Fathul Muin, Irsyadul Ibad, dan Mauidzatul Mukminin, buku tulis, dan buku pelajaran lainnya.

Selain itu, empat macam pasang seragam sekolah pun mendesak untuk segera dipenuhi, yaitu sepasang seragam pramuka, sepasang seragam abu-abu putih, dan sepasang seragam hitam putih. Pada saat mendaftar, setiap santri baru memang diminta untuk segera mengukur dan menjahit baju di belakang komplek. Namun, tidak saya acuhkan. Saya khawatir uang saya tidak akan cukup untuk memenuhi semuanya, karena peralatan dapur dan kebutuhan pangan masih berada dalam daftar kebutuhan.

Selang beberapa hari kemudian, saya pun segera mencari tukang jahit yang ditunjukkan oleh seseorang yang tidak kukenal. Begitu tiba di tujuan, tukang jahit itu segera membuka sebuah buku berukuran besar dan menanyakan nama saya. Hingga beberapa jenak lamanya, saya hanya menunduk malu. Paras tukang jahit itu telah membuyarkan konsentrasi saya. Saya mengira ia masih gadis. Kecanggungan saya itu karena tidak terbiasa berhadapan dengan perempuan, apalagi mengobrol. Saat menjadi santri di Karame, melihat lawan jenis adalah peristiwa langka. Sejauh mata memandang, maka yang tampak hanyalah padang rumput dan kicauan burung.

“Siapa namamu?” ia mengulang kembali pertanyaannya. Barangkali ia telah membaca kecanggungan saya dalam beberapa saat.

“Abdul Waris”

“Namamu ada di sini,” tangannya dengan cekatan menemukan nama saya di buku besar itu. Rupanya, nama saya sudah tercatat di dalam buku register santri baru.

Tahun itu, dengan sangat terpaksa, saya tidak mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Keperluan sekolah belum sepenuhnya terpenuhi, sedangkan uang semakin berkurang. Kegiatan itu barulah saya ikuti pada tahun ajaran berikutnya. Takdir membawa saya pada perjalanan lain. Tidak bisa ikut MOS, tapi bisa mengikuti Penataran Pendidikan Pancasila. Di sinilah saya bertemu dengan Abdul Malik (saat ini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Assalman Sidrap). Baginya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Ia mendapat informasi bahwa ada seseorang santri baru hafidz Alquran dari Kab. Sinjai, lulusan MTs. As’adiyah Cab. Ongkoe Belawa.

“Siapa yang memberikan informasi itu?” tanya saya pada Malik penuh keheranan.

“Ambo Lahang,” ia menjawabnya dengan singkat, namun memberikan perasaan heran yang cukup panjang untuk dihikmati.

Mengapa Ambo Lahang? Ingatan saya kembali ke Ambo Lahnaj. Hanya dia yang saya kenal. Bukan Ambo Lahang.

Beberapa waktu kemudian, saya menghadiri wisuda Ma’had Aly Angkatan I. Saat mendengar nama Ambo Lahang disebut, dari jauh saya memerhatikannya, di lantai II Gedung Arma. Saya terkejut bukan kepalang, bukankah itu Ambo Lahnaj yang selama ini saya cari? Malik kemudian mengajak saya untuk menemuinya di Radang setelah itu. Sayangnya, kami tetap saja belum ditakdirkan untuk bertemu. Sang kyai muda yang baru saja diwisuda itu sedang keluar.

Hingga suatu hari, Allah mengabulkan keinginan saya untuk bertemu dengan Ambo Lahnaj. Ketika saya berada di depan tangga gedung lama berlantai dua komplek As’adiyah, seseorang yang tidak lagi asing sedang melintas. Segera saja saya menyeru namanya. Pencarian pun berakhir, sang motivator telah berdiri di hadapan saya setelah sekian lama mencarinya. Beliau yang membawaku ke Sengkang dan menjadi guruku hingga saat ini. Syukron gurundaku. Selamat tinggal Ambo Lahnaj, selamat datang Ambo Lahang.

Saya Dan Gurutta Abba 3

Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Tersebab nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada pula alamat yang hendak dituju. Kaki saya terlampau berat melangkah tanpa modal apa-apa. Dalam keputusasaan, saya menuju masjid di komplek As’adiyah untuk menunaikan salat Asar seraya tetap merawat harapan untuk segera bertemu Ambo Lahnaj. Nama itu pun masuk dalam untaian doa saya usai salat. Tak luput saya menyapukan pandangan ke sekeliling saya, di dalam masjid itu, mencari wajah yang kukenal. Namun, tetap saja tidak ada satu orang pun yang bisa saya kenali.

Kesedihan saya pada akhirnya tiba di puncaknya ketika itu. Bulir-bulir air mata tidak lagi terbendung. Yang tampak di pelupuk mata hanyalah kedua orang tuaku. Saya terlampau nekad bepergian sendirian ke kota yang sangat asing bagi saya. Ingatan tentang saran bapak agar saya melanjutkan sekolah di DDI Mangkoso pun berkelebat. Saya akhirnya sadar, bapak tentu telah menimbang perkara “ke mana tujuanku”. Di Mangkoso, ada banyak keluarga yang bisa membantu, karena mereka pun menjadi santri di sana. Seketika, saya merasa terpuruk demikian dalam.

Dalam kesedihan dan kebimbangan yang campur aduk itu, saya berusaha bangkit kembali dan membesarkan hati. Saya berusaha menemukan kembali tekad yang bulat dan utuh yang pernah saya tunjukkan di hadapan bapak. Terlintas di dalam kepala tentang perjuangan bapak untuk menyekolahkan saya. Karena itulah, saya merasa harus bertanggung jawab mengarungi pilihan ini. Lekas saya menyeka air mata, bukan semata karena tekad itu telah saya temukan kembali, namun karena saya juga malu dengan orang-orang di sekitar saya.

Dengan menenteng sebuah koper tua, saya pun keluar dari masjid untuk mencari kembali seseorang yang mungkin saya kenal. Koper tua ini lalu menuntun kembali ingatan saya ke masa silam. Bagian yang rusak menjadi saksi perjuangannya bersama kakak saya yang telah menjadi santri di Pondok Pesantren Attahiriyah Balangnipa Kab. Sinjai. Terbuat dari tripleks tipis dan dilapisi dengan bahan kulit imitasi, bagian pinggirannya sudah sobek akibat sering terbentur di kendaraan, salah satu pegangannya pun telah lepas. Koper tua ini membawa saya pada satu hal, bahwasanya perjuangan itu harus tetap dilanjutkan, karena di balik perjuangan ada sebuah pengorbanan yang tak boleh sia-sia.

Di teras masjid, saya duduk beristirahat dan memerhatikan para santri yang sedang bermain sepak takraw. Ketika itu, terbersit keinginan untuk turut bermain. Hobi saya di bidang olahraga seolah mendorong saya begitu kuat. Namun, tak kalah kuat dengan ketidakpercayaan diri saya saat itu. Tidak ada satu pun pemain yang saya kenal. Tidak ada pilihan lain selain menjadi penonton saja. Sayangnya, dalam kesendirian  itu, saya kembali ke titik lemah. Tiba-tiba saya teringat kedua orang tua di kampung. Air mataku menetes untuk kesekian kalinya. Entah dari mana datangnya, saya merasa tak ubahnya seseorang yang bepergian jauh hanya untuk membuang diri di kampung orang.

Seseorang datang menghampiri saya ( beberapa waktu kemudian, saya mengetahui namanya Hasan DP). Mungkin ia sudah lama memerhatikan tingkah laku saya yang tampak asing dan terasing. Awalnya, komunikasi kami tersendat karena ia menggunakan Bahasa Bugis ketika menanyakan sesuatu. Suaranya pun terlampau kecil. Karena tidak menjawab, ia pun mengulang pertanyaannya dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Kita siapa?” tanyanya.

“Saya Waris. Saya mau sekolah di sini. Apakah kita mengenal Ambo Lahnaj?”

“Saya tidak mengenalnya,” jawabnya. Lalu ia menyebutkan sejumlah nama yang berawalan Ambo.

Tidak ada satu pun yang saya kenal. Pencarian kali itu kembali menemui jalan buntu. Siapa sesungguhnya Ambo Lahnaj itu? Mengapa tidak ada seorang pun yang mengenalnya? Saya lalu teringat dengan sebuah nama; Ismail. Ia pernah berkunjung ke asrama kami di Karame, beberapa bulan sebelum ujian nasional dilaksanakan.

“Apakah kita kenal Ismail?” tanyaku, dengan harapan ada titik terang.

“Ismail Commo atau Ismail Gagah?” pertanyaannya justru membuatku kebingungan. Rupanya kedua orang itu memiliki nama, kelas, dan asrama yang sama. Pak Hasan memutuskan untuk membawa saya ke Asrama Hijau, tempat siswa MAK kala itu. Pertanyaan Pak Hasan baru terjawab ketika yang muncul di hadapan saya adalah Ismail Gagah, seseorang yang juga asing bagi saya. Orang-orang dalam asrama itu berkesimpulan bahwa orang yang saya cari sudah pasti Ismail Commo yang berasal dari Belawa.

Ismail Commo saat itu sedang tidak berada di asrama. Oleh Pak Hasan, saya dimintanya untuk menunggu saja di kamar Pak Hasan. Ia sedang ke pasar, kata Pak Hasan. Tak berselang lama, orang yang saya tunggu pun datang dan segera menemuiku. Saat bertemu dengannya, beban yang menghimpit dada saya rasanya seketika menghilang. Saya pun dibawanya ke kamarnya di lantai atas Asrama Hijau. Saya bisa bernapas lega karena telah memiliki tempat berteduh. Satu masalah telah teratasi. Namun, muncul masalah lain; lapar.

Hari menjelang senja. Terakhir kalinya saya bertemu makanan hanya pada saat sarapan bersama bapak, sebelum berangkat ke terminal Panaikang Ujung Pandang. Sarapan itu telah menunaikan tugasnya untuk mengganjal perutku hingga saat itu. Seharusnya saya makan siang pada saat bus singgah di rumah makan Anda di Barru. Namun, saya mencemaskan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah itu tidak akan cukup untuk membiayai sekolahku jika saya menggunakannya untuk makan siang. Saya paham bahwa biaya sekolah tidaklah sedikit. Selain biaya pendaftaran, masih ada biaya untuk buku, seragam sekolah,  dan kebutuhan lainnya di sekolah. Badan saya mulai gemetar menahan lapar. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menghikmati rasa lapar itu. Rasanya sungguh mustahil jika saya harus sampaikan kepada Ismail. Kami baru bertemu, masih canggung dan asing.

Pertolongan selalu datang dalam waktu yang sangat tepat. Hal inilah yang selalu saya syukuri. Ketika menghikmati rasa lapar, seorang calon siswa baru lainnya juga ada di kamar itu. Namanya Muh. Rusdi Bin H. Ambo Iri. Atas kebaikan hatinya, ia menyuguhkan kue. Ia telah menyelamatkan saya dari rasa lapar. Pertolongan Allah begitu dekat.

Ismail dan Rusdi adalah dua orang yang telah menunjukkan pada saya bahwa masih banyak orang yang memegang teguh nilai-nilai ketulusan, meski kepada orang yang tidak dikenalnya. Dua nama yang tidak bisa saya lupakan sepanjang perjalanan hidup saya, sebagaimana saya tidak bisa melupakan nama Ambo Lahnaj saat itu. Siapa sebenarnya Ambo Lahnaj ini?

 

Saya Dan Gurutta Abba 2

Tidak ada yang lebih penting dalam setiap perjalanan kehidupan selain restu dan doa kedua orang tua. Pun demikian yang saya alami.  Meski berat di mata bapak, namun beliau pantang surut setelah melihat kesungguhan dan tekad bulat saya untuk melanjutkan pendidikan di As’adiyah Sengkang.

“Berapa biaya yang kamu perlukan, Nak?” tanya bapak keesokan harinya, setelah perbincangan malam itu.

“Berapa saja,” jawabku sekenanya. Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan bapak, karena saya memang tidak pernah menanyakannya saat bertemu sosok Ambo Lahnaj. Saya pulang ke kampung hanya membawa tekad dan kegembiraan, tidak ada informasi apa-apa meski hanya berupa selembar brosur.

Setelah percakapan itu, bapak mengajak saya ke Ujung Pandang (baca; Makassar). Secepat kilat saya pun mengiyakannya. Di mata seorang anak belasan tahun, bepergian ke kota Ujung Pandang adalah sebuah perjalanan yang menggembirakan. Apalagi, saya jarang bepergian ke Ujung Pandang. Di kota itulah beliau menghabiskan waktu untuk mencari biaya sekolah saya.

“Bersabarlah, Nak. Bapak akan mencarikanmu biaya sekolah,” ucap bapak dengan penuh ketulusan.

Kami tinggal di sebuah rumah panggung yang disewa oleh bapak. Di kolong rumah itu, bapak bekerja sebagai tukang kayu khusus pembuatan kuseng, jendela, dan daun pintu. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, kesedihan menjadi tidak terbendung saat melihat perjuangan dan kerja keras bapak demi anak-anaknya. Dari lantai dua, saya memerhatikan gerak-gerik bapak dengan seksama. Kucur keringat, debu dan ampas kayu yang lekat di kulit bapak, dan wajah lelahnya yang kadang tak tampak di antara gumpalan asap kayu adalah penanda yang tak akan lekang dalam ingatan saya tentang cinta seorang bapak.

Karena tidak tega melihatnya bekerja sendirian, saya putuskan untuk turut membantunya. Namun, setiap kali saya menghampirinya, setiap kali itu pula bapak menepis uluran tangan saya dengan kasih yang tersirat dalam kalimatnya, “kamu di atas saja, Nak.” Beliau sama sekali tidak mengizinkan saya untuk turun. Ketika itu, saya tetap memaksakan diri untuk membantu, meski sekadar memegang bilah kayu yang sedang diolahnya. Bapak tetap kukuh tak memberi izin, betapa kasihnya tak terkira.

“Lebih baik kau mendaras saja di atas. Tidak perlu membantu bapak di sini,” ucap bapak.  

Hati saya seolah tertohok oleh kalimatnya itu. Hingga beberapa hari kemudian, saya tidak hentinya menangis diam-diam, meresapi setiap tetesan keringatnya, menghikmati setiap jerih payahnya demi menyekolahkan anaknya, dan tidak bisa menahan air mata saat melihatnya dengan gesit bekerja dan bergumul di antara ampas kayu. Beliau bekerja semenjak salat subuh usai ditunaikan hingga tengah malam dan hanya diantarai oleh salat dan makan. Demikianlah, bapak tak hentinya bekerja tanpa keluh, meski penuh peluh.

Perjuangannya pun tunai setelah beberapa hari lamannya bekerja. Usai salat isya, bapak menghadapkan wajah dan tubuhnya ke arahku.

“Biaya sekolahmu telah terkumpul,” ucapnya seraya melemparkan senyum.

“Alhamdulillah,” ucap saya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat itu karena tahu betul bahwa uang itu adalah hasil jerih payah bapak selama beberapa hari.

“Apakah uang sebesar lima ratus ribu rupiah cukup untuk membiayamu?” tanya bapak selanjutnya.

“Cukup,” jawab saya lekas. Uang sebanyak itu bisa digolongkan jumlah yang sangat besar pada tahun 1997.

Malam itu, saya tidur di samping bapak, di dalam kelambu yang tak lagi putih. Namun, berwarna gelap akibat asap dan getah kayu yang menempel. Hingga beberapa jenak, saya pandangi wajahnya, dengan mata berkaca-kaca.  Ada haru yang bergemuruh di dalam dada saya.

“Kapan kamu akan berangkat, Nak?” tanya bapak.

“Besok, Pak.”

“Baiklah, Nak. Berangkatlah.”

Kami lalu tertidur membawa isi kepala masing-masing. Barangkali bapak masih memikirkan masa depanku, sedangkan saya masih memikirkan perjuangan bapak. Tengah malam, bapak membangunkan saya untuk salat lail dan mendaras. Ini adalah bentuk cintanya yang lain. Segera perintahnya itu saya laksanakan, meski beliau sendiri memilih melanjutkan tidurnya. Bapak pasti kelelahan, pikirku saat itu.

Keesokan harinya, bapak mengantar saya hingga ke Terminal Panaikang. Seraya menunggu penumpang lainnya, kami pun duduk berdampingan. Bapak mengulang nasehat yang semenjak kecil telah disampaikannya pada saya.

“Kekayaanku adalah jika kamu bisa membedakan yang salah dan yang benar, yang hak dan yang batil. Jangan lupa hapalanmu, karena hal itulah yang akan menjadikan kamu mulia.”

Meski telah berkali-kali mendengarkannya, namun petuah itu terus mendapatkan tempat di dalam hati dan kepala saya hingga kini. Tidak ada kata jenuh dan bosan untuk perkara nasehat dari seorang bapak kepada anaknya, karena inilah yang menjadi perekat cinta dan kasih sayang dalam keluarga kami.

Mobil pun melaju menuju Sengkang. Sebelum pergi, bapak masih sempat memeluk dan membisikkan kembali petuah di atas. Tidak dibiarkannya ingatan saya lekang akan nasehat tersebut. Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Karena nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada alamat yang hendak dituju.

Saya Dan Gurutta Abba 1

Awal tahun 1997, saya menghkatamkan Alquran 30 juz di Dusun Karame Desa Ongko Kec. Belawa setelah menempuh pendidikan sekira 11 bulan 10 hari, di bawah bimbingan langsung gurunda tercinta Amrullah.

Saat itu, saya belum tamat madrasah tsanawiyah. Ketika masih menjalani proses takhassus, gurutta Juhairi –selaku kepala sekolah- menyarankan agar saya mengikuti ujian persamaan. Karena khataman Alquran saya selesai sebelum pelaksanaan Ujian Nasional SMP/MTS, saya pun menunggu hingga beberapa bulan lamanya. Melewati sisa-sisa waktu demi sebuah ijazah yang menjadi kunci kelanjutan pendidikan saya. Masa ujian pun tiba. Saya mengikuti ujian di MTS Ongko. Saat itu, ada dua orang pengawas utusan As’adiyah Pusat Sengkang, satu di antaranya adalah Ambo Lahang. Namun, saya mengenal beliau dengan nama Ambo Lahnaj. Sebuah nama yang saya dapatkan dari hasil pembacaan saya pada sebuah tulisan berbahasa Arab di sampul buku beliau. Tidak ada keberanian yang cukup bagi saya untuk menanyakan namanya. Ambo Lahnaj kemudian menjadi nama yang lekat dalam ingatan saya ketika itu.

Pertemuan di masa itu menjadi mula perjalanan saya di As’adiyah. Beliau mengajak saya melanjutkan pendidikan di Sengkang. “Di Sengkang maki sekolah, Nak. Lanjutkanlah pendidikan di Sengkang, karena kamu seorang penghapal Alquran. Jika seorang penghapal Alquran melanjutkan pendidikannya di Sengkang, itu sangat bagus,” dengan bahasa yang santun, beliau berupaya meyakinkan saya atas ajakannya tersebut. Dengan keluguan seorang siswa tsanawiyah kala itu, saya pun mengiyakannya dengan jawaban, “Iye, Insya Allah.”  Seolah-olah di dalam kepala saya, tidak ada hal yang harus ditanyakan, bahkan tentang prosedur pendaftaran pun tidak saya tanyakan.

Begitu ujian selesai, kami pun berpisah. Meski masih asing, namun ajakan seorang Ambo Lahnaj tidak pernah luput dari kepala dan terus mengiang-ngiang. Tanpa menunggu lebih lama, dengan membawa impian yang bermula dari ajakan orang asing itu, saya pun pulang kampung. Di dalam diri saya, sebuah tekad untuk memenuhi ajakan tersebut tak ubahnya dahaga yang harus segera dituntaskan dengan segelas air.

“Bapak, saya ingin melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang.” Pelan tapi pasti, saya mengutarakan maksud kepulangan saya kepada bapak. Aroma demokrasi sebuah negara kecil hadir di antara kami. Bapak terdiam hingga beberapa jenak.

“Apa itu As’adiyah? Di mana?” Tanyanya kemudian.

“As’adiyah itu pesantren yang ada di Sengkang, Bapak.” Usai mendengar jawaban saya, bapak pun kembali terdiam. Menunduk seraya berpikir.

“Sekolah di DDI Mangkoso saja, Nak.” Ucapnya dengan sorot mata tegas namun bijak. Tampak keraguan di kedalaman mata tersebut. Di kampung saya, DDI Mangkoso memang sangat terkenal. Sejumlah alumninya berasal dari kampung saya, termasuk sanak keluarga.

Lalu saya pun menceritakan ihwal pertemuan saya dengan Pak Ambo Lahnaj. Namun, kecemasan dan kebimbangan seorang ayah tetap geming dari gurat wajah bapakku.

“Lebih baik perbaiki dan perlancar saja hapalanmu. Keutamaan seorang penghapal tidak bisa dinafikan. Dengan hapalan Alqurannya, ia bisa hidup. Meski pergi ke ujung dunia atau berada di bawah lautan sekalipun, ia tetap dimuliakan oleh semesta,” nasehat bapak kala itu.

Hatinya belum luluh, sedangkan tekadku kian utuh. Bermula dari mimpi yang besar, saya tetap bertekad meminta kepada bapak untuk diizinkan melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang. Dengan hati yang dipenuhi kasih sayang, beliau berkata, “Baiklah, Nak. Lanjutkanlah sekolahmu.”

Setelah itu, kunci itu pun ada di tangan saya. Saya tidak punya banyak kata yang bisa mewakili kegembiraan saya setelah mendengar jawaban bapak. Hanya ada dua kata yang saya haturkan di hadapannya, “Terima kasih.”

Bersamanya, Saya Semakin Yakin

Alquran menganjurkan manusia melakukan perjalanan agar bisa mengetahui banyak hal. QS. Al-Rum: 42 “katakanlah (Muhammad) berjalanlah di muka bumi dan jadikan pelajaran/ perhatikanlah  kesudahan orang-orang (yang pernah eksis) dahulu sebelum kamu…”

Pada tahun 2005 (saat itu, masih suasana bulan madu, hehe…), saya mendapat mandat dari PB. As’adiyah sebagai muballig sekligus imam tarawih di pulau sebatik. Malam ke dua ramadan, perjalanan Pare-Nunukan kami mendapatkan tiket KM. Tidar. Menjelang waktu salat, Anak Buah Kapal (ABK) meminta kesiapan penumpang yang sudah berkumpul di musalla untuk bertindak sebagai imam magrin-isya dan penceramah tarawih.

Tak seorang pun dari penumpang tersebut yang mengangkat tangan sebagai bentuk kesiapan. Usai berbuka puasa bersama, jamaah saling melirik siapa yang akan maju memimpin salat magrib. Tiba-tiba, Guru KH. Riyadi Hamdah menyebut nama “Waris” dan menyuruhnya menjadi imam. Ternyata nama itu adalah saya.

Usai memimpin salat magrib, kami kembali ke kamar, tak lama kemudian salah seorang ABK mendatangi kami dan menawarkan untuk menjadi imam isya sekaligus sebagai penceramah. Saya mengarahkan dia berkomunikasi dengan kiai yang pada akhirnya, beliau sepakat dan siap menjadi penceramah sekligus merekomendasikan saya sebagai imam salat isya dan tarawih.

Setelah kami melaksanakan rekomendasi itu, beberapa jamaah mendekat dan mengajak kami mengobrol sejenak. Dengan menggunakan bahasa bugis, rasa keakraban semakin membuat suasana riang penuh kegembiraan meskipun angin malam yang kencang dengan ombak besar menghantam kapal sangat terasa. Pihak ABK memberikan pelayanan khusus dan meminta kami bersedia “membackup” seluruh rangkaian kegiatan ibadah dalam kapal selama dalam perjalanan.

Alhamdulillah, saya bersama istri seakan menjadi “artis” dadakan. Banyak jamaah datang ingin berkenalan, meminta nomor handphon, dan bertanya tentang banyak hal. Waktu itu kami disebut sebagai rombongan huffaz (para penghafal Alquran). Perjalanan mengesankan ini pula yang nantinya membawa saya bertugas di kota Surabaya di tahun berikutnya.

Setelah bertugas di sana selama separuh ramadan, sebuah berita duka tersiar, salah seorang saudagar kaya berdarah bugis yang merupakan warga sebatik meninggal dalam sebuah insiden di Tarakan. Konon, penyebabnya adalah karena hal sepele yang tidak diterima oleh koleganya sendiri. Kekayaan yang dianggap segala-galanya, membuatnya kurang diterima orang lain, padahal jika dia keluar sejengkal tanah untuk meyaksikan kekayaan dan kehebatan orang lain, pasti akan mengubah pola fikirnya bahwa “di atas langit masih ada langit”. Itulah pentingnya melakukan sebuah touring. 

Nabi Musa as juga pernah malelakukan perjalanan menyusuri sungai bersama salah seorang muridnya. Dalam perjalanannya, Allah mempertemukannya dengan seorang hamba saleh yang konon bernama “Khidir” (baca tafsir Al Azhar oleh Prof. Hamka, QS. al-Kahfi: 60-82). Khidir memperlihatkan kepadanya sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Musa berkata “bolehkan saya mengikutimu agar kamu mengajariku sesuatu yang kamu telah ketahui?” Khidir menjawab “Sungguh kamu tak akan mampu bersabar bersamaku, bagaimana mungkin kamu bersabar pada sesuatu yang kamu tidak paham?” Musa menjawab “Insya Allah kamu akan mendapatiku seorang yang bersabar dan tidak akan melanggar”

Kesepakatan keduanya telah terjadi sebelum perjalanan dilanjutkan.

Keduanya bergerak menaiki kapal dan Khidir memecahkan kapal itu, Musa yang tak tahu menahu sesuatu heran dan protes karena hanya bisa menjangkau yang dilihatnya seketika “mengapa kamu memecahkan kapal ini sehingga penumpangnya akan tenggelam?” Khidir berkata kamu telah melanggar kesepakatan yaitu dilarang bertanya. Musa berkata “mohon jangan menghukum atas kealpaan dan kekhilafanku…”

Demikianlah sekelumit perjalanan Musa bersama Khidir dan beberapa peristiwa berikutnya yaitu membunuh anak kecil dan merobohkan bangunan yang membuat nabi Musa selalu keberatan tak tahan akan perlakuan Khidir karena ketidaktahuannya. Meskipun pada akhirnya Khidr menerangkan secara datail setiap peristiwa yang telah dilakukannya sebagai pertanggungjawaban.

Kali ini, saya sedikit menceritakan pengalaman kebersamaan dengan deng Aji (teman, saya samarkan namanya karena terkait integritasnya)

Di Madinah dan Mekah musim haji 2018/1439, meski belum kenal akrab kala itu, saya kagum menyaksikan kedisiplinan deng aji. Semua waktunya dipergunakan untuk ibadah sekaligus melakukan perjalanan ke banyak tempat. Malam-nya tidak digunakan untuk tidur tetapi untuk salat, dan hari-hari-nya untuk menelusuri semua sudut-sudut koya Mekah sekaligus riset kecil-kecilan. tidak hanya itu, semua yang telah dilihanya menjadi pembahasan yang harus saya jawab bersama sang pembimbing H. Tajuddin Talli, dan sang dokter Chaerul Amin Rusli saat bersama di kamar hotel.

Kali ini, senin-selasa, 12-13 Nopember 2018, saya kembali bersamanya selama 12 jam. Deng Aji menjemput pukul 19.00 dan tiba di kediamannya sekitar 21.45 waktu Jakarta Timur dan tiba kembali di Hotel 05.59 pagi.

Saya menyaksikan kedisiplinan para aparatur negara di Markas Besar Angkatan Darat (MABESAD) tempat di mana dia bertugas sangat luar biasa.

Bercengkrama selama kurang lebih dua jam terkait tugas dan tantangan pekerjaan di Jakarta membuat saya makin menaruh kagum dengan sahabat baruku ini. Menduduki jabatan di MABESAD tidak semua anggota bisa meraihnya karena menjadi incaran pejabat dari seluruh wilayah Indonesia.

Jam tiga menjelang subuh, dia sudah terjaga dan mempersipkan segala sesuatu untuk pekerjaannya. Saya ingat betul sikapnya saat di Mekah, jam itu adalah jam ibadahnya. Ternyata memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, di rumahnya pun demikian. Ooh… ternyata kedisiplinan di Mekah itu ternyata bukan karena dibuat-buat, namun sudah menjadi karakter hidupnya.

Mengapa nabi sangat menganjurkan kedisiplinan?

Kedisiplinan adalah pangkal kesehatan dan kekayaan Nabi melarang umatnya tidur setelah salat asar (ailulah), menurut penjelasan ulama terkait larangan nabi tersebut, Ailulah akan mewariskan kebodohan dan kemiskinan. Malaikan rahmat yang datang membagi-bagi doa dan rezki di pagi itu akan meninggalkannya dalam keadaan tak mendapat apa-apa.

Juga nabi melarang tidur di sore hari (hailulah). Tidur di sore hari akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga serangan penyakit fisik dan non-fisik akan mudah menyerang. Serangan sihir atau penyakit ‘ain biasanya disebarkan oleh hasid pada waktu itu, sehingga siapa saja yang tidak terjaga akan mudah terserang karena jiwa jadi kosong.

Justru nabi menganjurkan qailulah yaitu tidur yang dilakukan sebelum atau sesudah salat duhur. Sebagian ulam mengatakan tidur di waktu itu adalah istirahatnya para nabi dan orang kaya. Qailula ini akan menambah ketahanan tubuh sehingga semua aktifitas kan terasa segar.

Qailulah sesungguhnya tidak mesti tidur. Namun, cukup dengan membaringkan badan akan menambah kekuatan dalam aksi berikutnya di hari itu.

Cara tidur dua yang pertama sama sekali saya tidak menemukannya pada sosok sahabat deng aji itu. Tuntutan tugas yang menumpuk mebuatnya disiplin sehingga tak ada Ailulah dan Hailulah baginya.

Melihat langsung segala aktifitasnya walaupun hanya sekejap, saya semakin yakin bahwa tradisi disiplin seperti itu membuatnya sehat-bugar.

Sejak 09 nopember sampai cerita ini saya rilis, menemukan banyak pengalaman baru di ibu kota Jakarta ini. Pergerakan warga setiap hari sangat cepat dan tuntutan pekerjaan amatlah mendisiplinkan.

Membayangkan negara super power seperti Amerika Serikat atau negara maju seperti japan bagaimana ya? Pantas saja mereka hebat.

Kedisiplinan nabi dalam berdagang dan berdakwah membuatnya menguasai bumi saat itu dan bahkan sampai hari ini.

Saya terdiam, berfikir dan bertanya dalam diri sendiri “mengapa saya tidak bisa disiplin seperti mereka? Andai saja saya disiplin menggunakan waktu belajar dan menulis? Andai saja saya bekerja keras mungkin sudah kaya raya? Hehe… (menghayal)

Dari cerita diatas dapat saya simpulkan beberapa hal: pertama, lakukanlah banyak perjalanan supaya kamu mendapat banyak pelajaran termasuk banyak teman; kedua, menemukan orang lain yang lebih hebat akan menyadarkan kekurangan diri sendiri; ketiga, jangan ragu untuk beryanya karena bertanya adalah separuh ilmu; keempat, terkadang kita memprotes atau menegur orang lain karena keterbatasan diri kita sendir bukan karena kehebatan kita dan; kelima, jadilah orang disiplin, kamu akan sehat dan kaya.

Perjalanan saya selama 10 hari ini (08-18 Nop. 2018) sebagai duta seluruh ASN Prov. Sulawesi Selatan dalam rangka MTQ Korpri Nasional IV ini sungguh sangat mencerahkan. Semoga kami juara dan tentunya membanggakan masyarakat Sulsel. Doakan yaaa.

Amin.

Anugrah Haji Gratis

Saya Bangga Jadi Santri As’adiyah 2

Anugrah; Berhaji Gratis

Menjadi petugas haji adalah sebuah tugas mulia yang diburu oleh semua pegawai kementerian agama.

Tentunya bukan tanpa alasan, selain bisa berhaji dengan cepat tanpa harus mengantri berpuluh tahun, juga bisa berangkat secara gratis. Bahkan, mendapat gaji setiap hari dari pemerintah selama bertugas.

Dalam momen ini, saya merasakan kembali berkah dari ilmu yang gurutta berikan. Pada dasarnya, saya merasa tak punya apa-apa dibanding teman-teman yang lain. Saat ikut tes petugas haji tahap awal di Kemenag Wajo, sebuah ungkapan rasa syukur dan haru sekali saat guru yang juga atasan saya H. Abdul Hafid (kasi PHI kemenag Wajo) menyampaikan bahwa nilai saya berhasil meloloskan saya ke tahapan kedua.

Alhamdulillah, saya mendapat rekomendasi ayahanda Dr. H. M. Arsyad Ambo Tuo (Kakan Kemenag Wajo) untuk mengikuti Computer Assisted Test (CAT), tes wawancara, dan praktik tingkat provinsi di aula Kantor Haji Kantor Wilayah Kemenag Prov. Sulsel di Makassar.

Seluruh rangkaian tes tahapan kedua pun selesai, saatnya berdoa agar mendapatkan hasil terbaik. Terbaik dari proses yang baik pula.

Beberapa hari kemudian, nyaris bersamaan, saya mendapatkan ucapan selamat dari ayahanda H. Abdul Wahid Tahir (Ka. Kanwil), Kakan Kemenag Wajo, Kasi PHU Wajo dan dari teman-teman melalui group WA. Ucapannya sama, “Selamat menjadi petugas haji 2018”. Suatu rahmat dan kado istimewa bagi saya, yang membuat airmata tak terbendung. Saya bersujud seraya mendoakan semua orang-orang hebat yang telah memberikanku peluang.

Informasi menggembirakan ini makin menambah keyakinan saya akan keajaiban doa. Haru dan tangisan saya kembali pecah, saat mengingat sosok H. M. Tahir, istrinya Hj. Matahari, dan anak-anaknya. Mereka adalah ayah, ibu, dan saudara angkat yang banyak membantu saya kala menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Macanang.

Tahun 1998, saya ditugaskan menjadi imam tarwih di Masjid Nurul Huda Baru Tancung Kec. Tanasitolo. Biasanya masyarakat memperebutkan muballig atau imam tarwih As’adiyah untuk tinggal di rumahnya selama bulan ramadan. Dalam diri mereka tumbuh keyakinan bahwa ada berkah berlimpah jika menjamu tim muballig dan imam tarawih. Bagi saya, ini pun sebuah berkah dari ilmu, diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang baik dan tekun dalam beramal, yang hablum minannasnya tidak lagi diragukan.

Awalnya, rumah H. Usman Bakar (ayah dari G. Sagira) yang seharusnya menjadi rumah jamuan saya. Namun, karena keinginan H. Tahir yang sangat kuat, saya pun tinggal dan dijamu selama bulan ramadan di rumahnya. Keikhlasan dan ketulusan yang terpancar dari tuan rumah telah menjadi nikmat dan rejeki berlimbah bagi saya. Semenjak itu, beliau menganggap saya sebagai anaknya sendiri. Beliau pernah berkata, “iko nak tenniami iyya jajiakko, nekkia pada-padamukkotu Deng Aji Jiddin-mu, Deng Aji Wahid-mu, Deng Taufik-mu”.

Suatu ketika, beliau sangat menginginkan saya naik haji gratis. Beliau meminta anaknya H. Abdul Wahid Tahir -yang saat itu menjabat sebagai Ka. Kandep Kemenag Luwu Timur- untuk mengurus saya menjadi petugas haji.

Sayangnya, waktu itu pendaftaran telah ditutup. Beliau pun membisik saya, “sabbarakko nak, ellau doangengngi deng ajimmu na madeceng matterru matanre jamanna, alenapa penrekko hajji.” (sabar nak, doakan saja kakakmu, semoga jabatannya makin bagus, suatu saat dia yang akan memberangkatkanmu berhaji). Ini bukan saja sekadar bisikan untuk membesarkan hati saya, namun melebihi doa dan pengharapan seorang ayah kepada anak-anaknya. Doa inilah yang saya yakini sangat mujarrab. Dan benar, saat beliau menjadi Ka. Kanwil semuanya menjadi nyata, saya bisa berhaji di tahun 2018. Allah SWT senantiasa menyimpan rencana dan hal-hal baik untuk hambanya yang berdoa dan meyakininya. Sedang hamba yang beriman senantiasa memohon dan berserah kepada Allah SWT, bukan meminta dengan paksa.

Memperoleh nikmat sebesar itu, petuah orang tua saya pun kembali terngiang, sebuah pesan yang tak lekang oleh waktu, “narekko akorangnge mukuasai, muafala, namo pegako monro, benneng engka tau monro wirinna langie, yawana tasie, akkoto ro monro napakalebbiko puangnge nennia rufa taue.” (Jika Alquran kamu hafal, di manapun kamu tinggal, seandainya kamu di ujung langit, di bawah dasar laut, maka di situ pun kamu akan dimuliakan Allah dan makhluknya”.)

Lanjut cerita….

Mulai 2 Ramadan 1439 H/ 2018 M, semua peserta wajib dikarantina sebagai kegiatan wajib prahaji dengan mengusung tema “Pelatihan Integrasi Petugas Haji 2018”.

Sebuah dilema, antara mengemban tugas rutin sebagai imam rawatib dan imam tarawih di Masjid Agung Ummul Quraa Kab. Wajo dan mengikuti pelatihan integrasi. Dua pilihan yang sulit.

Lalu, yang manakah yang kemudian menjadi pilihan terbaik saya?

Bersambung ….

Bekal Ilmu Dari As’adiyah

Saya Bangga Jadi Santri As’adiyah 4

Berbekal Ilmu dari As’adiyah

Setelah kurang lebih tiga hari Kemenag Sidrap melaksanakan manasik haji, saya datang. Alhamdulillah, saya dapat sambutan baik dari H. Irman, M.Ag (Kakan Kemenag Sidrap). Meski hanya via telepon namun petunjuk dan arahannya sangat memotivasi saya.

Hal yang juga sangat luar biasa adalah peristiwa setelah saya memarkir kendaraan di halaman Masjid Agung Sidrap. Karena tidak melihat satu orang pun jamaah calon haji, saya putuskan menghampiri mobil ambulance yang tak jauh dari arah belakang miniatur kakbah (tempat praktik tawaf) untuk mencari jawaban di mana gerangan para jamaah.

Rupanya yang ada di balik ambulance adalah sahabat yang saya kagumi kanda KH. Bunyamin Yafid, Lc (ceo PT. Annur Maarif) dan beberapa petugas kesehatan dari Dinkes Sidrap. Siapa sangka akan terjadi temu “dadakan” dua alumni As’adiyah yang lagi saling mengagumi.

Kyai Bunyamin adalah salah satu alumni terbaik As’adiyah yang melanjutkan studinya di Al-Azhar University Kairo Mesir. Pada tahun 1997, kami berada di jurusan yang sama di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Saat itu, saya baru duduk di kelas satu dan ia di kelas tiga.

Kecerdasannya memang sudah tampak saat itu, tak bisa disembunyikan, bersama beberapa temannya seperti Herman Heizer, Aliasyadi dan yang lainnya. Mereka inilah yang selalu tampil secara bergantian sebagai pembaca pembuka “mabbaca kitta” sebelum Gurutta “mappangaji tudang”, memberikan pengajian halaqah.

Mereka, kini selain ilmuan generasi emas As’adiyah, juga sebagai pebisnis ulung yang sukses.

Oh….rupanya sahabat inilah yang direkomendasikan penuh oleh Kementerian Agama Kab. Sidrap sebagai nara sumber tunggal dalam kegiatan manasik haji 2018. Saya makin kagum dengannya. PT Annur Maarif yang juga memiliki KBIH mendapat tempat istimewa di pemda dan hati masyarakat.

Kyai Bunyamin selanjutnya menfasilitasi saya untuk bertemu dengan jamaah calon haji dan juga perkenalan. Interkoneksi sudah terjadi dan saya pun mulai akrab dengan jamaah. Sayangnya, sore itu ternyata adalah akhir perjumpaan dengan mereka. Mereka harus beristirahat untuk melanjutkan kegiatan keesokan harinya. Sedangkan saya harus melanjutkan perjalanan ke Makassar untuk mengikuti kuliah terakhir.

Setelah pertemuan sore itu, saya pada akhirnya makin yakin dan merasa matang untuk menjadi ketua kloter jamaah haji kloter 4 Sidrap. Apalagi ada PT. Annur Maarif yang akan turut pula dalam kloter 4 sebagai KBIH. Keyakinan dan kematangan itu muncul karena saya percaya dua alumni As’adiyah ini akan menjadi sebuah tim yang solid dan amanah.

Sekira dua hari sebelum pemberangkatan, saya mendapat kabar tentang adanya pergeseran petugas haji. Pada waktu yang hampir bersamaan saya kembali dihubungi Kasi PHU Wajo terkait finalisasi penempatan petugas haji.

Sebuah kejutan, rupanya Kepala Kemenag Kab. Wajo Dr. H. M. Arsyad Ambo Tuo merekomendasikan saya untuk tetap mendampingi jamaah Kab. Wajo – Makassar.

Agak sedih juga sih…, karena saya sudah mulai menyesuaikan diri dengan jamaah calon haji Sidrap. Lagian mereka sangat bangga mengetahui kalau yang akan memimpin mereka adalah Imam Masjid Agung Ummul Quraa Sengkang Kab. Wajo (kata beberapa jamaah).

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, 17 Juli 2018, semua jamaah calon haji berkumpul di Islamic Centre Ulugalung untuk persiapan pemberangkatan ke Asrama Haji Sudiang Makassar secara bersama-sama. Tidak ketinggalan petugas kloter juga diwajibkan untuk bersama jamaah saat itu.

Saat kumpul bersama jamaah, beberapa dari mereka menyalami saya sambil menyampaikan rasa syukur karena saya kembali akan bersama mereka memenuhi panggilan Allah SWT. Bahkan, saat panitia mengumumkan bahwa saya dikembalikan ke Wajo. Sorak suara “alhamdulillah” memenuhi ruangan disertai tepuk tangan.

Tugas mulia sebagai pelayan tamu-tamu Allah (duyufurrahman) mulai saya jalankan dengan berbekal ilmu dari mondok di As’adiyah. Dengan penuh keyakinan, ilmu-ilmu yang saya peroleh di As’adiyah akan menjadi modal utama saya dalam mendampingi para jamaah calon haji.

Saya harus melaporkan kondisi jamaah sesaat setelah tiba di asrama haji Sudiang, usai penerimaan dan pembagian gelang identitas serta akomodasi. Semua prosedur pemberangkatan kami laksanakan, termasuk cek kesehatan jamaah dan petugas karena hal tersebut menjadi syarat laik terbang.

Rapat pertama dengan PPIH embarkasi saya ikuti bersama TPIHI dan TKHI, juga menghadirkan ketua rombongan (karom) dan ketua regu (karu) untuk membahas hal-hal yang mungkin terjadi dalam kloter dan juga selama penerbangan.

Edisi berikutnya Madinah-Mekah.