Arsip Kategori: Tokoh

Saya dan Gurutta Abba 6

Dalam perjalanan belajar di tahun pertama, utamanya pelajaran I’rab, saya mengalami masa yang sangat sulit. Kesungguhan itu benar-benar diuji dan setiap ujian mengharuskan pejuangnya survive, bertahan menghadapi apapun itu. Masjid Nurul As’adiyah Callaccu menjadi salah satu saksi perjalanan menuntut ilmu di Kota Sutera. Masjid ini sering menjadi tujuan utama saya untuk belajar dengan  sungguh-sungguh, karena Masjid Al Ikhlas di komplek asrama cukup ramai. Keramaian itu membuat saya kesulitan untuk berkonsentrasi.

Di masa itu, berjalan kaki hingga ke Callaccu adalah perkara biasa. Barangkali semangat dalam diri saya telah mengubah rasa lelah menjadi kenikmatan tersendiri. Keikhlasan dalam melakukan sesuatu pun menjadi kekuatan yang dahsyat, meski ujian untuk survive tidaklah mudah. Ketika menghapal bait-bait nahwu di Masjid Nurul As’adiyah, tidak jarang saya tertidur di sana. Bahkan, tidak jarang pula tidur dalam keadaan perut kosong. Makan siang seringkali menjadi hal yang sangat mustahil untuk saya dapatkan, menjadi semacam kemewahan yang luar biasa untuk siswa rantauan seperti saya.

Uang senilai Rp. 50 adalah pahlawan yang paling hebat. Dengan uang sebanyak itu, ubi goreng di warungnya Cace bisa berubah menjadi makanan paling lezat, bisa mengganjal perut selama sehari. Di pagi hari, saat membeli ubi goreng, saya selalu meminta sambalnya dalam porsi yang banyak. Jangan membayangkan sambalnya berupa campuran lombok dan tomat yang diulek lalu ditumis hingga aromanya menguar sampai di rumah tetangga. Sambal khas Cace adalah olahan “tai boka”, memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai sayur dan juga sebagai pauk yang lezat dalam sehari itu. Dimulai dari sarapan hingga makan malam, “tai boka” senantiasa setia mendampingi. Tentu ditemani pula dengan air putih yang melimpah.  

Bosan? Saya tidak sempat memikirkan apakah saya bosan dengan menu itu atau tidak. Yang terpikirkan adalah dari mana saya akan mendapatkan uang jika ingin menu yang lain? Kepada siapa saya akan meminta? Bersurat kepada orang tua? Bahkan tukang pos pun akan hilang jika mencari tanah kelahiranku. Pulang kampung menjemput bekal? Sungguh tidak mungkin, tidak ada uang untuk membiaya perjalanan ke sana. Pun saya tidak harus ke arah mana mencari mobil penumpang tujuan Sinjai Barat. Di kota ini, saya masih sangat asing. Tidak ada sanak keluarga. Tidak ada teman sekampung untuk berbagi. Karena itulah, saya tetap mensyukuri ubi goreng  berpauk “tai boka”, lalu memperbanyak minum air putih. Jika sudah demikian, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Meski demikian, nikmat Allah seringkali dari arah tidak terduga. Sesekali teman saya mengajak untuk makan bersama. Di lain waktu, ada undangan untuk “mabbuddu”, santri diundang untuk mengaji di rumah duka.

“Saya dihidupkan oleh orang mati,” kelakar saya ketika itu.

Dari kegiatan mabbaddu ini, para santri masing-masing mendapatkan amplop berisi sejumlah uang. Selang beberapa waktu kemudian, saya pun diminta oleh Gurutta Ali Pawellangi (melalui Mustadir) untuk bertugas sebagai pembaca ayat sudi Alquran pada sebuah acara pembukaan. Akhirnya, dari amplop yang terkumpul itulah saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saya.

Nikmat Allah yang lainnya adalah dipertemukannya saya dengan Abdul Malik Tibe (saat ini mengasuh Ponpes DDI Assalaman). Sahabatku ini rupanya berlimpah bekal; beras, kue, dan telur itik. Keadaan pun berubah. Kami memasak oada kompor yang sama. segala kebutuhan sehari-hari menjadi tanggungan bersama, meskipun pada dasarnya sahabatku inilah yang lebih banyak menanggung kebutuhan kami (semoga Allah merahmatinya).

Saya Dan Gurutta Abba 5

Tiba jualah kami akhirnya pada proses “masuk kelas” setelah melewati perjalanan panjang pada rangkaian penerimaan siswa baru. “Masuk kelas” yang saya maksudkan tak lain dan tak bukan adalah proses pembelajaran di Kelas 1 Jurusan Madrasah Aliyah Keagamaan. Selain kelas klasikal (regular), kami pun mengikuti pembelajaran di pengajian halaqah atau pengajian pesantren. Di As’adiyah, kegiatan ini dikenal dengan nama Mangaji tudang.

Saat roster pelajaran dibagikan, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah Ilmu Nahwu, Sharf, Balagah, dan Arudhi. Pelajaran yang sangat asing, namun rasa asing itu berubah menjadi motivasi bagi saya.  Ketika menjadi santri di Pesantren Attahiriyah Balangnipa Sinjai, saya pun belajar Bahasa Arab. Namun, tidak mengenal nahwu, i’rab dan sebagainya. Bahkan, dalam ingatan saya, kelas Bahasa Arab kala itu hanya ada empat kali pertemuan selama satu tahun setengah (tahun 1994-1995). Asatidz dari Jawa yang merupakan andalan pondok itu telah angkat koper dan meninggalkan pondok sebelum saya berstatus santri Attahiriyah. Pondok pesantren itu pun ibarat kata pepatah “mati segan hidup pun tak mau”. Selama empat kali pertemuan itu, kami dibimbing langsung oleh Ustaz Abu Dzar. Beliau berdarah Balangnipa, jika tidak salah beliau merupakan lulusan LIPIA Jakarta. Karena kesibukannya, beliau sangat jarang masuk mengajar kala itu. Semoga guruku ini sehat walafiat, entah beliau di mana sekarang.

Kami lebih banyak mempelajari Almahfudzat yang diajarkan oleh Ustaz Uddin. Sama halnya dengan keberadaan Ustaz Abu Dzar, saya pun tidak mengetahui keberadaan Ustaz Uddin saat ini. Saat masih di Attahiriyah, beliau bolak-balik ke Lappa Data untuk menekuni usaha ternak ayamnya. Harapan terbesar saya adalah Allah mempertemukan kami kembali, beliau amat berjasa bagi saya.

Gurutta Drs. M. Idman Salewe mengajarkan kitab Alfiah Ibnu Malik (ilmu nahwu) dengan metode menghafal pada setiap pertemuan. Sebuah kesyukuran bagi saya karena bisa menghafal dengan baik dan lancar bait-bait itu. Namun, saya sungguh tidak berdaya jika tiba masanya beliau menjelaskan materi tersebut. Kemampuan saya untuk memahaminya berada di level bawah dan inilah yang menjadi mula munculnya rasa iri terhadap teman lainnya. Melongo adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat mereka berlomba mengacungkan jari untuk mengi’rab kalimat yang diajukan. Nyali saya mennjadi ciut dan diam-diam berdoa dalam hati, “Semoga saja Gurutta tidak menunjuk saya”.

Kondisi demikian terus berulang hingga mengantarkan saya pada kondisi mental yang cukup terpuruk. Satu-satunya kelebihan yang saya miliki adalah hapalan Alquran 30 Juz, sayangnya hal ini tidak dibutuhkan di dalam kelas. Tidak jarang saya mendengar teman saling berbisik tentang kelebihan saya dan tidak sedikit yang bertanya langsung, “Kamu penghapal Alquran?”

Tidak ada jawaban lain yang bisa saya haturkan selain mengiyakannya. Mereka tidak menyadari bahwa pertanyaan tersebut seolah menghempaskan saya hingga ke palung terdalam. Rasa malu yang tidak tertahankan. Bagi saya, pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pernyataan “penghapal Alquran tapi tidak berilmu luas”.

Suatu ketika, Gurutta Idman masuk mengajar dengan cara yang sama seperti biasanya, yaitu menghapal dan mengi’rab. Begitu seluruh siswa selesai menghapal, Gurutta menambah bait yang akan dihapal dengan menuliskannya di papan tulis. Tulisannya amat indah meski hanya menggunakan kapur. Setelah itu, beliau hikmat menerangkannya. Namun, suara dari belakang tiba-tiba saja membuyarkan konsentrasi kami. Entah apa maksud perkataan teman saya itu, Gurutta tersinggung dan memanggilnya ke depan kelas. Entah gerakan dan jurus apa yang digunakan Gurutta Idman, tiba-tiba teman kami yang bermasalah itu terjatuh ke lantai.

Kejadian itu membuat saya semakin ketakutan. Pikiran buruk pun terus menghantui kepala. Akibatnya, saya jatuh sakit tapi tidak menceritakannya kepada siapapun. Termasuk kepada Abdul Malik, teman baru yang senasib dalam perkara I’rab. Panas di badan saya nikmati sendirian. Tidak ada daya selain berpasrah, karena jauh dari orang tua dan tidak punya uang untuk berobat. Kadang-kadang hidup memang seolah tidak punya pilihan, meski yang kita jalani sudah sangat jelas merupakan sebuah pilihan.

Mental saya sebagai seorang siswa baru di tingkatan aliyah benar-benar diuji. Namun, saya meyakini bahwa setiap titian yang kita lewati tentu memiliki sebuah ujung. Saya berusaha bangkit agar bisa tiba di ujung titian itu. Memotivasi diri sendiri adalah langkah terbaik yang harus saya tempuh sebagai awal kebangkitan. Saya memulai motivasi itu dengan berguru pada tiga orang sahabat sekaligus motivator saya. Mereka adalah Sabaruddin (alumni Al Azhar Kairo), Masyhuri Pamrah (PNS Penghulu Belopa) dan Wahyuddin Yafid (alumni Mesir). Ketiganya merupakan siswa yang paling sering mengi’rab di dalam kelas. Dengan mudahnya mereka menguraikan satu atau dua kata dengan uraian yang sangat panjang dan hal itu makin menambah kekaguman saya. Mereka sungguh luar biasa, pikirku. Ada kalimat yang paling sering dicontohkan Gurutta, yaitu قام زيد، رايت زيدا dan مررت بزيد .

“Man jadda wajada” menjadi sebuah pintu yang sangat lebar bagi saya untuk memasuki dunia i;rab. Tidak ada kesia-siaan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, demikianlah saya meyakini makna filosofis dari janji Allah Swt tersebut. Semenjak itu, saya mencari jalan untuk berguru. Masyhuri menjadi orang yang sering “terganggu” dengan permintaan saya.  

“Ajari saya mengi’rab,” pinta saya padanya.

“Tidak mungkin bisa. Kamu belum mengetahui tanda-tanda I’rab,” jawaban Mayshuri tak pelak membuatku kebingungan.

“Tanda-tanda I’rab? Hal macam apa lagi itu?” tanyaku dalam hati seraya menyembunyikan kesedihan. Tiba-tiba semangat yang terbangun seolah rubuh tanpa jejak.

Kalimat Masyhuri itu lalu mengingatkan saya pada pernyataan gurutta bahwa jika seseorang mampu menghapal tanda-tanda I’rab maka 99% ia sesungguhnya telah mampu mengi’rab. Saya pun mencari jalan lain. Bukankah selalu ada jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh? Semangat itu patah sekali, tumbuh berganti ribuan kali. Dengan penuh harap, saya meminta Masyhuri untuk menuliskan I’rabnya dari قام زيد. Barangkali ia merasa iba melihat kekurangan dalam diri saya, mungkin juga ia terenyuh melihat semangat yang saya tunjukkan padanya. Di catatanku, pada akhirnya tertoreh dengan sangat baik sebuah hasil I’rab dari tangannya. Catatan itu selanjutnya menjadi modal yang sangat besar sebagai bahan persiapan jika sewaktu-waktu saya ditunjuk untuk mengi’rab. Selalu ada jalan bagi yang bersungguh-sungguh, percayalah!

Hasil I’rab itu selanjutnya tersimpan kuat di dalam dan di luar kepala, meski materi itu sesungguhnya belum saya pahami. Namun, setidaknya saya telah memiliki satu pegangan yang cukup dan telah memperoleh satu kemudahan. Petuah Ust. Bagil (guru Matematika saya di Belawa) pun terngiang kembali, bahwasanya jika seseorang telah menjadi hafiz maka baginya tidak sulit mempelajari yang lainnya. Petuah ini tak lekang hingga hari ini.

Ketidaksabaran saya untuk segera menguasai ilmu I’rab telah mendorong saya untuk belajar lebih kuat lagi. Saat kelas saya tidak terisi guru mata pelajaran, saya menggunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencari kelas lain yang sedang belajar nahwu. Tentu saja belajar di luar kelas dengan cara mengintip dan seksama menyimaknya dari luar jendela. Ini adalah tekad yang tidak terbendung. Keinginan untuk menguasai ilmu itu tidak pernah surut. Kelas yang paling sering menjadi incaran intipan saya adalah kelas tetangga, biasanya diisi oleh Pak Yunus Massekati, Andi Ruslan.

Suatu ketika, saya dan Malik berbincang-bincang membahas kekurangan kami dalam pelajaran itu. Sebuah ide cemerlang pun terlintas dalam benaknya dan mengusulkan agar kami belajar tambahan di rumah Gurutta Ikhwan. Secepat kilat saya menyetujuinya. Alhamdulillah harapan kami terwujud, pada sore hari kami siswa Kelas MAK bisa dibimbing secara takhassus oleh Gurutta Ikhwan.

Aku bincang-bincang dengan Abdul Malik, beliau bilang bagaimana kalo kita belajar sampingan dirumah gurutta pak ikhwan??? Saya langsung respon dan akhirnya kamipun kelas MAK di bimbingan secara takhassus oleh gurutta Ikhwan sore hari saat itu…

Ulama Lawas, Jamaah Milenial

Secara historis tercatat bahwa peran ulama dari masa ke masa telah memberikan warna dalam transformasi ilmu dari satu genarasi ke generasi berikutnya. Bacaan Alquran dinukil secara turun temurun dengan jalan mutawatir yaitu komunitas mayoritas yang mustahil bersepakat dalam kedustaan. Demikian halnya dengan ilmu yang lain, seperti ilmu musthalah al hadis (ilmu riwayat dan dirayah), ilmu asbab al nuzul dan asbab al wurud (sejarah dan latar belakang turunnya ayat dan terucapnya sabda nabi), ilmu lugaat (bahasa) dan ilmu lainnya

Kalimat “Ahl Sunnah wal Jamaah” adalah cara tepat untuk memberi label kepada para generasi pasca nabi Muhammad. Ahl Sunnah adalah masa nabi di mana seluruh kebutuhan dan kebuntuan yang dihadapi sahabat akan mendapatkan secara konstant petunjuk dan penjelasan nabi, sedangkan wal jamaah adalah ulama; baik dari kalangan sahabat, tabiin, tabi’i tabiin, dan ulama setelah mereka yang menjadi bagian dari mata rantai silsilah ilmu sampai kepada nabi. Ulama adalah mereka yang memiliki klasifikasi ilmu agama memadai dan diakui oleh masyarakat di mana mereka berkiprah.

Jika pada pertemuan ulama dunia 1-3 April 2018 di Bogor Jawa Barat terkait isu teroris, islamophobia, ekstremisme, dan intoleran menegaskan bahwa Islam tidak perlu takut karena dalam garis sejarah tidak pernah terlibat dengan perang dunia I dan II. Maka, ada ketakutan lain yang harus diwaspadai oleh ulama yaitu kecenderungan umat pada hal-hal yang sifatnya instan. Hal-hal bersifat instan ini merupakan salah satu karakter abad 21 dan menjadi tantangan besar bagi ulama. Jamaah milenial seakan tidak doyan lagi mengaji dan berguru di depan kiai, dan enggan ke masjid mendengarkan tausiyah. Kaum milenial lebih menyukai mempelajari ilmu secara mandiri melalui ponsel, di mana pun mereka berada.

Tak dapat disangkal bahwa kemajuan tehnologi yang dapat mengetuk jendela-jendela ilmu bagaikan wabah penyakit menular dan sulit mencarikan penawarnya, karena selain sebagai kebutuhan juga menjadi life style, sehingga harus memasuki akar wabah itu untuk mengetahui sekaligus menawarkan jenis pil yang wajib dikonsumsi. Peran setiap pengemban agama dari berbagai latar belakang pun berlomba-lomba berkreatifitas untuk menarik viewers (pembaca/pemirsa). Kemudahan tehnologi inilah yang menghasilkan ustaz atau “kiai google”. Namun, belajar agama melalui praktik seperti ini akan sangat sulit memberikan filter, tidak mampu memilih dan menelusuri mana pendapat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Sebagai generasi milenial pun sebaiknya cerdas dalam berpenetrasi dengan media sosial. Salah satu poin penting yang harus dipahami adalah bahwa kecerdasan dan kemampuan meraih berbagai ilmu itu tidak dapat “diTuhankan” karena dibalik semua itu, ada yang paling rahasia dan dapat menembus infinitum lapisan teratas yang tak bisa diraih oleh banyak orang, yaitu keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu itu hanya dapat diraih jika dilakukan dengan cara talaqqi, yaitu bertransformasi langsung dengan guru, musyafahah atau mulut dengan mulut.

 

Dampak lain dari perilaku instan adalah kecenderungan mereka untuk menabrakkan antara pesan luhur agama dengan konten yang bernuansa hoaks. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan mengadu antara pendapat ulama satu dengan yang lain dengan cara provokatif sehingga menimbulkan mosi tidak percaya atau preseden buruk bagi seorang ulama dalam masyarakat. Bahkan, terkadang pemahaman mereka yang nihil terhadap agama dipakai melawan pemerintah dan kekuasaan yang dianggap memusyrikkan, memurtadkan atau mengkafirkan sekaligus. Sisi inilah yang menampakkan pentingnya silsilah keilmuan yang baik, sehingga arah dan tujuan dakwah berhasil dan tidak menyakiti apalagi menghakimi.

 

Kondisi di atas mewajibkan seorang ulama tidak hanya andal dalam mengkaji kitab-kitab turats (kitab kuning-gundul) dan menunggu audiens datang mengaji, akan tetapi juga wajib mentransformasikan pesan-pesan agama melalui media sosial. Abustani Ilyas (salah seorang guru besar bidang hadis UIN Alauddin Makassar dalam acara promosi doktor Abdul Malik, 26 Desember 2018 di gedung Pascasarjana UMI Makassar) menegaskan bahwa salah satu perkara wajib bagi ulama di zaman milenial adalah bermedia sosial yaitu punya skill untuk menyampaikan pesan agama melalui banyak media.

 

Ulama dituntut oleh zaman untuk mengambil peran dalam menghiasi jendela-jendela media sosial agar pandangan dan amar makruf, nahi munkarnya tidak hanya dinikmati oleh kalangan santri, akan tetapi juga masyarakat milenial secara umum. Secara faktual, ulama yang menguasai media maka dialah yang akan menjadi panutan masyarakat milenial. Sudah saatnya, ulama menjadi bagian penting pada kemajuan abad 21, sekaligus  mengoptimalisasi perannya sebagai penyaring bagi jamaah milenial dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan internet dan kecanggihan teknologi.

 

 

Saya Dan Gurutta Abba 1

Awal tahun 1997, saya menghkatamkan Alquran 30 juz di Dusun Karame Desa Ongko Kec. Belawa setelah menempuh pendidikan sekira 11 bulan 10 hari, di bawah bimbingan langsung gurunda tercinta Amrullah.

Saat itu, saya belum tamat madrasah tsanawiyah. Ketika masih menjalani proses takhassus, gurutta Juhairi –selaku kepala sekolah- menyarankan agar saya mengikuti ujian persamaan. Karena khataman Alquran saya selesai sebelum pelaksanaan Ujian Nasional SMP/MTS, saya pun menunggu hingga beberapa bulan lamanya. Melewati sisa-sisa waktu demi sebuah ijazah yang menjadi kunci kelanjutan pendidikan saya. Masa ujian pun tiba. Saya mengikuti ujian di MTS Ongko. Saat itu, ada dua orang pengawas utusan As’adiyah Pusat Sengkang, satu di antaranya adalah Ambo Lahang. Namun, saya mengenal beliau dengan nama Ambo Lahnaj. Sebuah nama yang saya dapatkan dari hasil pembacaan saya pada sebuah tulisan berbahasa Arab di sampul buku beliau. Tidak ada keberanian yang cukup bagi saya untuk menanyakan namanya. Ambo Lahnaj kemudian menjadi nama yang lekat dalam ingatan saya ketika itu.

Pertemuan di masa itu menjadi mula perjalanan saya di As’adiyah. Beliau mengajak saya melanjutkan pendidikan di Sengkang. “Di Sengkang maki sekolah, Nak. Lanjutkanlah pendidikan di Sengkang, karena kamu seorang penghapal Alquran. Jika seorang penghapal Alquran melanjutkan pendidikannya di Sengkang, itu sangat bagus,” dengan bahasa yang santun, beliau berupaya meyakinkan saya atas ajakannya tersebut. Dengan keluguan seorang siswa tsanawiyah kala itu, saya pun mengiyakannya dengan jawaban, “Iye, Insya Allah.”  Seolah-olah di dalam kepala saya, tidak ada hal yang harus ditanyakan, bahkan tentang prosedur pendaftaran pun tidak saya tanyakan.

Begitu ujian selesai, kami pun berpisah. Meski masih asing, namun ajakan seorang Ambo Lahnaj tidak pernah luput dari kepala dan terus mengiang-ngiang. Tanpa menunggu lebih lama, dengan membawa impian yang bermula dari ajakan orang asing itu, saya pun pulang kampung. Di dalam diri saya, sebuah tekad untuk memenuhi ajakan tersebut tak ubahnya dahaga yang harus segera dituntaskan dengan segelas air.

“Bapak, saya ingin melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang.” Pelan tapi pasti, saya mengutarakan maksud kepulangan saya kepada bapak. Aroma demokrasi sebuah negara kecil hadir di antara kami. Bapak terdiam hingga beberapa jenak.

“Apa itu As’adiyah? Di mana?” Tanyanya kemudian.

“As’adiyah itu pesantren yang ada di Sengkang, Bapak.” Usai mendengar jawaban saya, bapak pun kembali terdiam. Menunduk seraya berpikir.

“Sekolah di DDI Mangkoso saja, Nak.” Ucapnya dengan sorot mata tegas namun bijak. Tampak keraguan di kedalaman mata tersebut. Di kampung saya, DDI Mangkoso memang sangat terkenal. Sejumlah alumninya berasal dari kampung saya, termasuk sanak keluarga.

Lalu saya pun menceritakan ihwal pertemuan saya dengan Pak Ambo Lahnaj. Namun, kecemasan dan kebimbangan seorang ayah tetap geming dari gurat wajah bapakku.

“Lebih baik perbaiki dan perlancar saja hapalanmu. Keutamaan seorang penghapal tidak bisa dinafikan. Dengan hapalan Alqurannya, ia bisa hidup. Meski pergi ke ujung dunia atau berada di bawah lautan sekalipun, ia tetap dimuliakan oleh semesta,” nasehat bapak kala itu.

Hatinya belum luluh, sedangkan tekadku kian utuh. Bermula dari mimpi yang besar, saya tetap bertekad meminta kepada bapak untuk diizinkan melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang. Dengan hati yang dipenuhi kasih sayang, beliau berkata, “Baiklah, Nak. Lanjutkanlah sekolahmu.”

Setelah itu, kunci itu pun ada di tangan saya. Saya tidak punya banyak kata yang bisa mewakili kegembiraan saya setelah mendengar jawaban bapak. Hanya ada dua kata yang saya haturkan di hadapannya, “Terima kasih.”

Mengenal Founding Father Aswaja

Bagi umat Islam, khususnya yang berpaham atau merasa Ahli Sunnah Waljamaah, nama yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, nama yang tak akan mati meski sudah tiada, seorang fakir, seorang yang selalu menjaga diri, wara, bersuara indah dan menjadikan tawajjuhnya semata-mata adalah keridaan Allah SWT.

Dia adalah Imam al Asy’ari. Hidup antara tahun 260 H/873 M- 324 H/935M, secara silsilah keturunannya, ia adalah cucu dari sahabat Rasulullah yang sangat dikagumi dan mendapat banyak pujian dari-Nya, yaitu Abu Musa al-Asy’ari. Tujuan hidupnya adalah menyatukan kalimat kaum muslimin diatas manhaj moderat. Pandangannya terhadap teologi berdasarkan pondasi kokoh sesuai manhaj sahabat.

Dia adalah anak tiri dari Abu Ali al-Jubbai, salah satu guru besarnya yang sekaligus mengajarkannya paham Muktazilah selama kurang lebih 40 tahun lamanya. Bahkan terkadang menggantikan al-Jubbai memberiakan pengajian saat sedang berhalangan. Selain itu, ia juga belajar fikih dari imam Abu Hanifah.

Setelah beralih dari mazhab muktazilah ke mazhab Ahli Sunnah Waljamaah, Abu al-Hasan al-Asy’ari mengambil ilmu Alquran dan Hadis dari guru-guru Ahli Sunnah seperti Zakariya Bin Yahya al-Saaji, Ibnu Suraij dan lainnya, juga bergabung dalam pengajian Abu Ishak al-Marzawi di masjid Jamik al-Mansur.

Mengapa Asy’ari berubah haluan?

Di Usianya yang menjelang 40 tahun, bertepatan dengan meninggalnya seorang guru yang juga ayahnya, terjadi guncangan hebat dalam dirinya, keraguan selalu menyelimuti dirinya, ilmu al-yaqiin seakan belum memuaskan dirinya sehingga ia mendapatkan ‘ain al-yaqiin, akhirnya dia selalu melakukan perenungan dikeheningan malam. Di suatu malam ramadan ia bermimpi bertemu Rasulullah. ia lalu bertanya “Ya Rasulallah apa yang harus saya lakukan?”, Rasulullah menjawab “ikutilah sunnahku” . Setelah itu, ia langsung terbangun. Peristiwa inilah yang kemudian merubah pandangan teologinya dari Muktazilah menjadi Ahli Sunnah Waljamaah.

Diceritakan bahwa pada suatu waktu ia menghilang dari jamaahnya selama kurang lebih 15 hari, setelah ia kembali, ia naik mimbar berpidato (khotbah jumat) dan menyampikan pandangannya terhadap mazhab Muktazilah, ia mengatakan “di hadapanku, kebenaran tidak akan kembali kepada kebatilan. Begitu pula kebatilan tidak akan kembali kepada kebenaran”. Seketika itu pula menanggalkan bajunya dan melemparkannya lalu membagi-bagikan buku karangannya kepada hadirin. Diantara kitabnya adalah al-luma’ dan kasyf al-Asrar wa Hatk Astar.

Tindakan kontravensi itu, tentu membuat tokoh-tokoh Muktazilah keberatan dan secara membabi buta melakukan berbagai macam tindakan yang berusaha menantang dan menghalangi dakwah teologi Asya’ari. Namun kegigihan dan prinsip yang sudah mendarah daging tidak membuat tokoh ini pesimis apalagi mundur walau selangkah.

Dalam mencari kebenaran imam Asy’ari memiliki manhaj tersendiri diantaranya: pertama, mencari hakikat dan melemparkan fanatisme. Buktinya, selama empat puluh tahun memegang dan mengajarkan pemikiran Muktazilah tidak menghalangi dirinya kembali kepada kebenaran manakala kebenaran itu telah tiba. kedua, berpikir tanpa henti, banyak merenung dalam kesendirian, hingga pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan dan keraguan. ketiga, senantiasa berlindung kepada Allah, tunduk dan mencari hidayahnya. keempat, selalu berpedoman kepada Alquran dan Assunnah sebagai sumber hukum syar’i.

Mengapa penisbahan Ahli Sunnah Waljamaah kepada imam al-Asy’ari?

Ada banyak pertanyaan, diantaranya “mengapa imam Ahli Sunnah Waljamaah menisbahkan diri kepada mazhab salah seorang dari kalangan mereka sendir?

Imam Asy’ari dan para pengikutnya sejak awal tidak pernah melakukan perbuatan bidah baik dalam ucapan demikian pula dalam keyakinan. Yang mereka lakukan adalah membela keyakinan kaum mayoritas yaitu akidah para sahabat dan yang mengikuti mereka. Akidah mereka sejalan dengan akal jernih dan syariat. Selain itu, imam Asy’ari memiliki karangan untuk membela akidahnya, meneguhkan dan menjelaskan kaidah-kaidahnya dan menggali dasar-dasarnya. Maka tak heran jika mazhab tersebut dinisbahkan kepadanya.

Penisbahan itu, juga dapat kita lihat pada ulama imam qiraat sab’ah atau qiraat asyarah. Apakah imam Nafi’, Abu Amr, Ashim dan al-Kisa’i menciptakan qiraat-qiraat itu? tentu, mereka tak lebih hanya sekedar mengambil atau merumuskan satu bacaan Alquran (qiraat) yang mutawatir dari Rasulullah saw. Dengan cara itu, kita bisa mengatakan bahwa cara bacaan (qiraat) itu dibaca atau dipilih oleh imam Nafi’, sehingga qiraat itu di beri istilah qiraat imam Nafi, Abu Amr, Ashim dan sebagainya.

Sebenarnya pandangan Muktazilah dengan Ahli Sunnah Waljamaah tentang teologi tidak jauh beda hanya saja ada beberapa yang sangat mencolok diantaranya adalah tajsim menganggap Allah memiliki tubuh dan menyerupakan Allah dengan makhluknya. Juga menganggap Alquran sebagai makhluk.

Kedengkian mereka terhadap imam Asy’ari, karena menganggap Asy’ari telah memburamkan dan bahkan melenyapkan pandangan mereka. Merka membuat tulisan-tuilisan keji dan berbahaya terhadap Asy’ari dan juga para pengikutnya. Ulama yang berasal dari Asy’ariyah diantaranya; al-Baqillani, Imam al-Haramain al-Juwaini, Imam al-Gazali, al-Razi dan banyak lagi.

Mengapa ulama tertarik dan cenderung berpaham Ahli Sunnah Waljamaah?

Asy’ari adalah ulama yang paling menguasai mazhab muktazilah dan mengetahui hakikat yang ada di dalamnya. beliau mengembalikan ilmu-ilmu keislaman dan para ahlinya pada aslanya, maka bergabunglah para ulama tasir, fikih dan hadis yang sebelumnya mendapatkan perlindungan dan bantuan dari imam Asy’ari.

Metode yang membuat mereka tertarik bergabung adalah diantaranya; pertama, moderat dan berimbang. Imam Asy’ari sangat alergi melihat pertikaian dan perang yang terjadi diantara umat Islam. Menurutnya perseteruan adalah sikap keras dan berlebihan. Kaum Muktazilah memang lebih mengedepankan peran akal dibandingkan dalil Alquran dan Sunnah. Bahkan terkadang mereka menolak sebahagian dalil jika bertentangan dengan akal. Mereka terlalu terpaku dengan nas zahir nas, sehingga terjebak pada pandangan tajsim.

DAlam kondisi demikian, Imam Asy’ari tampil mengajak masyarakat kepada Islam moderat. Beliau berkata “tangguhkanlah, sesungguhnya akal berasal dari sisi Allah. Ia adalah hukum Allah yang di atasnya alam semesta didirikan. Sementara dalil adalah risalah Allah untuk makhluknya. Tidaklah mungkin akal dan dalil bertentangan karena sumber keduanya adalah satu. Yaitu Allah yang maha bijaksana yang tidak mungkin lahir sesuatu darinya keuali hikmah yang sangat luhur”.

Jika terjadi perbedaan antara akal dengan dalil pasti ada kekeliruan, boleh jadi dalinya tidak sahih, dalilnya sahih tapi tidak tegas, atau boleh jadi ada yang kita anggap sesuai dengan akal dan ternyata tidak benar. Demikianlah Imam Asy’ari membawa akal dengan dalil kepada kehendak Allah sesuai kemampuan manusia.

kedua, membebaskan perdebatan dan melepaskan simpul-simpul perseteruan. Sebab, manakala akal dan dalil pada asalnya bersesuaian maka perbedaan di antara keduanya adalah sesuatu yang baru akibat pemahaman manusia itu sendiri. Karenanya, Imam Asy’ari berusaha mendamaikan pihak-pihak kaum muslimin yang berseberangan.

Termasuk perdebatan yang berkepanjangan diantara mereka adalah adalah Alquran baru atau qadim? Mereka mempertentangkan surat al-Anbiya [21]: 2 dan surat Attaubah [9]: 6. Kalam Allah adalah sifatnya sedangkan sifat Allah adalah qadim abadi. Dalam perdebatan itu Imam Asy’ari munul dan mengatakan kepada mereka “tangguhkanlah! jika kalian ingin menuilis atau membaca maka huru dan suara adalah makhluk tanpa keraguan di dalamnya. Kemudian, huruf dan suara itu menunjukkan kalam Allah, namun huruf dan suara bukanlah wujud dari kalam Allah”. Seperti itulah Imam Asy’ari mengurai benang petrdebatan diantara dua kelompok dan tampaknya cara seperti inilah membuat ulama jatuh hati kepadanya. Dan banyak lagi terkait melihat zat Allah pada hari kiamat, sifat-sifat-Nya, qada dan qadar dan banyak lagi.

ketiga, metode ilmiah yang akurat dalam memutus suatu perkara. Metodologi yang dibangun diatas objektifitas yang kuat dan berpedoman pada semua dalil. Mereka melihat Alquran sekan-akan hanya satu ayat. demikian pula dengan hadis, tidak memilah-milah hadis tertentu. Berbeda halnya dengan aliran-aliran lain yang hanya berkonsentrasi hanya pada ayat-ayat atau hadis yang sesuai dengan akalnya dan berpaling jika tidak sesuai dengan pandangan hawa nafsunya.

Berpijak pada metodologi itu, imam al-Asy’ari berusaha mengkompromikan sejumlah ayat-ayat yang dianggap bertentangan oleh orang awam dan menjelaskan ayat-ayat Alquran yang dianggap kontadiksi dengan akal.

Demikianlah sekelumit cara berikir Imam mayoritas kaum muslimin. Dari uraian diatas kita dapat mengambil pelajaran diantaranya: pertama, bahwa untuk mendapatkan kebenaran, harus mengharap dan memohon petunjuk kepada Allah; kedua, jika kebenaran telah tampak maka tidak ada alasan untuk menolaknya sekalipun itu setelah berproses selama puluhan tahun; ketiga, untuk melakukan perubahan harus melalui beberapa manhaj, yaitu penuh dengan keikhlasan, tidak terlalu keras atau sebaliknya tidak terlalu lembek wasatiyah, dan dengan pondasi ilmiyah yang seimbang dan mudah diterima.

Tulisan ini, sengaja saya tampilkan, berangkat dari kegelisahan akan kedangkalan ilmu dan pengetahuan msyarakat yang nyaris tidak mengenal lagi siapa founding father dibalik mazhab teologi terbesar yang diikuti oleh semua ulama fikih, hadis dan tasir serta mayoritas umat Islam. Semoga tulisan sederhana ini menambah wawasan kita semua dan lebih mengenal siapa itu imam Ahli Sunnah Waljamaah.

Edisi berikutnyaakan kami jelaskan sifat 50 yang dianut oleh mazhab ini. Insya Allah.

untuk menambah referensi baca imam al-haq Abu al-Hasan al-Asy’ari oleh Dr. Abdul Qadir Muhammad al-Husain.