Covid 19 Menghajar

Sama-sama merintih, Demi Umat

0

Sebagian orang mengaitkan antara pencegahan salat jumat dan salat berjamaah dengan akhir zaman atau tanda kiamat (dengan adanya surat edaran (SE) pemerintah dan fatwa ulama). Bahakan, lebih ironis dari itu, sebagian mereka mengatakan ini buktinya bahwa ulama sudah cinta dunia, lebih takut “virus corona” dari Allah, ulama berusaha mengkerdilkan iman umat. Menurutnya, justru pada saat wabah seperti ini, kita harus berbondong² masuk masjid salat berjamaah dan berdoa.

Lebih aneh lagi, ada banyak orang pintar yang jarang menginjakkan kaki di mesjid, justru mereka lebih heboh “memproklamirkan kiamat”. Mereka seakan menghakimi iman dan keilmuan ulama dan umara. Tak sadar diri kalau justru merekalah yang harus introspeksi.

Wahai saudaraku! Ilmu dan keimanan ulama dan pemerintah kita masih lebih besar dan lebih dalam dari kita. Mereka adalah sandaran kita baik dalam berbangsa demikian juga dalam bernegara.

Sadarkah kita?
Bahwa justru tidak patuh kepada umara dan ulama adalah tanda hari kiamat?

Mengapa keberkahan dan malapetaka terjadi di mana-mana?

Salah satu indikayornya, adalah karena kita sudah tidak mau mendengarkan wejangan, kita masih lebih terasa dan berasa lebih mampu dan lebih baik, lebih saleh dan lebih kuat. Bahkan, kita lebih cenderung kepada pikiran dan egoisme kita masing².

Kalau pun kita meragukan ualam dan umara kita di Indonesia, mari kita mengalihkan pandangan ke negara lain, melalui HP, gadget, dan alat canggih yang kita miliki. Mengapa Saudi, Mesir, Malaysia, dan negara lainnya lebih dahulu “lockdown” dibanding kita?

Apa ulama mereka kurang iman dan “tidur”?

Tidak saudaraku, justru ulama mereka lebih cepat dan tanggap akan sikon wabah ini. Dan apa yang difatwakan ulama, mereka langsung سمعناو اطعنا.

Olehnya itu, tidak patuh kepada uamara dan ulama justru mempercepat datangnya kiamat.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengagkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

‏ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﺻﺪﻭﺭ ﺣﻔﺎﻇﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﺣﻤﻠﺘﻪ ، ﻭﻳﺘﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﻬﺎﻻ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﺑﺠﻬﺎﻻﺗﻬﻢ ﻓﻴﻀﻠﻮﻥ ﻭﻳﻀﻠﻮﻥ .

“Hadits ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghapalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.

Saudaraku semua!
Masih banyak ulama
Bahkan di Negara kita juga masih banyak.
Mereka tidak akan mungkin salaing bahu-membahu menyesatkan umat.

Mari kita bahu-membahu saling menjaga, salah satunya dengan cara patuh kepada ulama dan umara.

Tabe, coretan ini, lahir atas kerisauan saya terhadap sikap umat sekarang ini…🙏🙏

Imam masjid Agung Ummul Quraa Sengkang
[H. Abdul Waris].

Baca Juga...
Komentar
Loading...