Hukum Men-Jahr-kan al-Basmalah

Hukum Men-Jahr-kan Basmalah dalam Salat

Mempelajari agama adalah sesuatu yang mutlak bagi umat Islam, terlebih masalah-masalah yang terkait langsung dengan perkara ibadah. Umat Muhammad saw. wajib sibuk dalam perkara ini karena ibadah merupakan puncak penghambaan kepada Allah swt. Pada kesempatan ini saya akan berbicara terkait “Hukum Men-Jahr-kan Basmalah dalam Salat”.

Jahr atau membesarkan basmalah dalam salat adalah bagian dari perkara kaifiyat atau sesuatu yang melengket pada ibadah salat mengikuti rukun-rukunnya. Dalam fikih syafi’iyah disebut sebagai “haiaat al-salaah“. Bukan sesuatu yang mesti disepakati, ini merupakan persoalan fikih di mana di dalamnya pasti terdapat perbedaan pendapat. Bukan pula perkara yang mesti dijunjung dan dipertahankan matia-matian (ta’assub). Adanya perbedaan itu adalah sah-sah saja, bahkan seseorang bisa mengikuti siapa saja yang ia yakini kebenarannya. 

Memang terjadi diskursus yang berpolemik dalam menetapkan “al-basmalah” sebagai bagian dari Alquran. Ibnu Kasir mengupas perbedaan ulama tentang status basmalah. Apakah ia bagian dari QS. al-Fatihah atau bukan? Bagi ulama yang memasukkan basmalah sebagai ayat dalam QS. al-Fatihah, maka membaca dengan jahr atau besar. Sedangkan mereka yang tidak memasukkannya, maka membaca basmalah dengan sirr atau lirih. Sebagian ulama menganggap basmalah adalah ayat dari setiap permulaan surah. Dalam mazhab Syafii, basmalah dibaca jahr dalam setiap permulaan surah. Pendapat ini adalah pendapat yang diamalkan oleh banyak sahabat, tabiin, dan ulama klasik dan kontemporer.

Perbedaan itu terjadi karena adanya dalil-dalil yang seakan kontradiktif dan hal tersebut membutuhkan penguatan dan penelitian serius “tarjiih“. Imam Nawawi berkata “menjaharkan basmalah bukan disebabkan bacaan ini merupakan ayat dalam sebuah surah atau tidak, karena kebanyakan yang membacanya dengan suara lirih tidak memasukkannya bagian dari ayat sebuah surah. Bahkan menganggapnya sunat, seperti membaca ta’awwuz dan ta’miin. Ada pula kelompok yang membaca lirih, padahal kelompok ini meyakini bahwa basmalah adalah bagian dari ayat sebuah surah. Oleh karena itu, perbedaan pendapat yang muncul -misalnya kelompok yang satunya membaca lirih sedangkan komunitas lainnya membaca jahr- pada hakikatnya didasarkan pada riwayat yang mereka pegang masing-masing. Setiap kelompok memiliki hujjah masing-masing untuk dijadikan landasan dalam berpendapat.  

Apakah basmalah merupakan ayat dalam QS. al-Fatihah?

Ulama sepakat bahwa QS. al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Tidak ada ulama yang menyalahinya kecuali al-Hasan al-Basri dengan mengatakan, “Al-Fatihah terdiri dari delapan ayat”. Ia memasukkan basmalah sebagai ayat pertama dan صراط الذين sebagai ayat ke delapan.

Penetapan tujuh ayat al-Fatihah itu berdasarkan QS. al-Hijr/15: 87 dan HR. Bukhari dalam kitab tafsir Alquran, Bab و لقد آتيناك سبعا من المثاني, hadis nomor 4426. Yang dimaksudkan al-Sab’ al-Masaani adalah QS. al-Fatihah.

Pakar qiraah dari Madinah, Imam Nafi’, Basrah, Abu Amr, dan Syam Ibnu Amir tidak memasukkan al-basmalah sebagai ayat dari surah al-Fatihah, namun membagi صراط الذين ayat ke enam dan غير المغضوب عليهم ayat ke tujuh.

Berbeda dengan pakar qiraah dari Mekah yaitu Ibnu Kasir, Kufah, Ashim, Hamzah, dan al-Kisai, mereka memasukkan dan membaca al-basmalah sebagai bagian dari QS. al-Fatihah.

Mengenai lafaz “بسم الله الرحمن الرحيم” yang terdapat dalam QS. al-Naml, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan umat muslim bahwa itu adalah ayat dan bagian dari Alquran. Barangsiapa mengingkari satu huruf saja darinya, maka ia telah kafir. Juga, tidak ada perselisihan pendapat kebolehan membaca basmalah ketika memulai membaca al-Fatihah di luar salat. Ulama pun tidak ada yang berselisih pendapat mengenai penulisan basmalah dalam mushaf Alquran. Demikian halnya kesepakatan para ulama bahwa tidak ada basmalah dalam QS. al-Taubah. Yang menjadi perbedaan pendapat adalah berulang-ulangnya di awal QS. al-Fatihah dan di setiap surah.

Saya tegaskan bahwa pendapat yang benar adalah menurut Mazhab Syafii bahwasanya basmalah adalah ayat dari QS. al-Fatihah. Pendapat ini juga diikuti oleh Ahmad, Ishak, Abu Ubaid, penduduk Kufah, Mekah, dan mayoritas penduduk Irak. Al-Hafiz Ibn Abd al-Bar, menyatakan bahwa basmalah adalah ayat bagi setiap permulaan surah, kecuali dalam surah bara’ah (surah yang tidak memiliki basmalah di awal surah). Pendapat ini bersumber dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Tawus, ‘Ataa’, Makhul. (Baca: al-Insaf fima baina Ulama al-Muslimin min al-Ikhtilaf, juz II, h. 158).

Imam Nawawi menerangkan pendapat al-Khattabi bahwa ulama yang berpendapat sebagaimana di atas adalah seperti Abu Hurairah, Said Ibn Jubair dan lainnya (Baca: al-Iman al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab Li al-Syairazi, Juz III; Jeddah: Maktabah al-airsyad, h. 290).

Ulama sepakat demikian karena pembesar sahabat sepakat menetapkan basmalah dalam mushaf di setiap awal surah kecuali dalam surah bara’ah dengan tulisan mushaf. Seandainya itu bukan Alquran, pasti mereka tidak akan memasukkannya dalam tulisan mushaf. Imam Nawawi berkata: 

قال أصحابنا: هذا اقوى أدلتنا في إثباتها

Artinya:

Inilah dalil paling kuat mengenai basmalah. (Baca: al-Iman al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Juz III; Jeddah: Maktabah al-airsyad, h. 292).

Dalil-dalil bagi yang menganggap basmalah bagian dari QS. al-Fatihah, di antaranya:

Abu Hurairah mengatakan Rasulullah bersabda:

الحمد لله رب العالمين سبع آيات أولادهن بسم الله الرحمن الرحيم، و هي السبع المثاني وهي فاتحة الكتاب، و هي أم القرآن. أخرجه الدار قطني في علله

Artinya:

Al-hamdulillah rabbil Al-Amin, tujuh ayat, ayat pertama adalah bismillahirrahmani rrahim, dia adalah sab’ al-masani, pembuka Alquran, Umm Alquran. (HR. Al-Dar Qutni, al-Ilal, nomor hadis 1468, Juz VIII, h. 148, dan al-Baihaqi, dalam al-sunan al-sugra, h. 546.)

Masih dari Riwayat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

اذا قرأتم الحمد لله فاقرءوا “بسم الله الرحمن الرحيم” أنها أم القرآن، و أم الكتاب، و السبع المثاني، “و بسم الله الرحمن الرحيم” إحداها.

Artinya:

Apabila kamu membaca al-Hamdulillah, maka bacalah bismillahirrahmanirrahim. Al-fatihah adalah Umm al-Quran, Umm al-Kitab, dan al-Sab’ al-masani, dan Bismillah adalah salah satu ayatnya.

Dalam riwayat dari Ali ibn Abi Talib, beliau ditanya tentang al-sab’ al-masani, beliau menjawab “al-Hamdulillah”, lalu beliau dibantah, “itu hanya enam ayat”, lalu Ali menjawab “bismillahirrahmanirrahim” adalah salah satu ayatnya (HR. Dar al-Qutni, al-Sunan, Juz I, nomor hadis 40, h. 313. Dan al-Baihaqi,. Al-Sunan al-Kubra, juz II, nomor hadis 2217, h. 45.)

Imam al-Suyuti, menguatkan bahwa al-basmalah adalah ayat dalam surah al-Fatihah dan juga pada semua awal surah. Beliau tegaskan:

“فهذه الأحاديث تعطي التواتر المعنوي بكونها قرآنا منزلا في أوائل السور”

Artinya:

Hadis-hadis tersebut adalah mutawatir maknawi menegaskan bahwa “basmalah” adalah Alquran yang diturunkan pada awal setiap surah. (Imam al-Suyuti, al-Itqaan fi Ulum al-Quran, Juz II, h. 517.)

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa basmalah adalah ayat dari surah al-Fatihah, wajib dibaca di dalam dan di luar salat, tidak sah salat tanpa basmalah karena ia seperti bagian dari ayat al-Fatihah lainnya. Demikian pendapat menurut Mazhab al-Syafi’i, pendapat yang sangat kuat (Imam al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Nihayah al-Minhaj, juz I, h. 478-479).

Bagaimana Hukum Menjaharkan Basmalah dalam Salat?

Mazhab Syafi’i memasukkan bagian dari sunah menjaharkan basmalah dalam surah al-Fatihah dan di dalam semua surah Alquran. Hukum membacanya sama seperti bacaan ayat dalam semua ayat al-Fatihah dan surah yang lain. Pendapat ini, diikuti mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan ulama dari pakar fikih dan pakar qiraah.

Kalangan sahabat yang berpendapat demikian di antaranya: Abu Bakr, Umar bin Khattab, Usman, Ali, Ammar ibn Yasir, Ubay ibn Ka’ab, Ibn Umar, Ibn Abbas, Abi Qatadah, Abi Sa’id, Qais Ibn Malik, Abi Hurairah, Abdullah ibn Abi Aufa, Syaddad ibn Aus, Abdullah ibn Ja’far, Husain Ibn Ali, Muawiyah, dan mayoritas Muhajirin dan Kaum Ansar. Ketika ada yang salat di kota Madinah dan tidak menjaharkan basmalah mereka mengingkarinya dan mengembalikan kepada kebiasaan al-jahr bi al-basmalah. 

Ibnu Abd al-Bar (w. 463 H) berkata bahwa tidak ada yang menyalahi menjaharkan basmalah berdasarkan riwayat Ibn Umar, dari Ibn Abbas. Pendapat itu dipegang oleh komunitas sahabat seperti Sa’id Ibn Jubair, ‘Ata, Mujahid, Tawus, Ibnu Syihab al-Zuhri, Amr Ibn Dinar, Ibn Juraij, Muslim Ibn Khalid, dan semua penduduk Mekah. (Ibn Abd al-Bar al-Qurtuni, al-Insaf fima baina Ulama al-Muslimin min al-Ikhtilaf, Cet. I: Riyad; Adwa’ al-Salaf, 1997 M/ 1417 H, h. 157-158.)

Imam Nawawi menukilkan keterangan imam al-Baihaqi dalam kitab “al-khilafiyaat” dari Ja’far Ibn Muhammad, beliau berkata “sahabat Nabi Saw sepakat menjaharkan al-basmalah. Sedangkan al-Katīb menukil dari Ikrimah bahwa beliau tidak mau diimami oleh orang yang tidak menjaharkan al-basmalah

Banyak riwayat yang menerangkan keautentikan membaca basmalah dengan jahr, di antaranya hadis Naim jbn Abd Allah al-Mujmar, beliau berkata, “Saya salat di belakang Abi Hurairah, beliau membaca بسم الله الرحمن الرحيم, kemudian Umm al-Kitab (الحمد لله) sampai  (و لا الضالين), lalu membaca (آمين), dan jamaah mengikutinya dengan bacaan yang sama yaitu (آمين). Dan tiap-tiap sujud dan berdiri dari duduk membaca (الله اكبر). Ketika menutup salatnya dengan salam, Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, sungguh saya mempraktekkan salat Rasulullah kepada kalian”. Terkait riwayat ini, Ibn Hajar berkomentar, “هو اصح حديث ورد في ذلك” artinya: itulah hadis yang paling sahih terkait menjaharkan basmalah. (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, juz II, h. 267).

Dari Qatadah, beliau berkata: Anas ditanya tentang bacaan Rasulullah saw. Lalu Anas menjawab:

“فقال كانت مدا، ثم قرأ (بسم الله الرحمن الرحيم) يمد (بسم الله) و يمد (الحمن) و يمد (الحيم)”

Artinya: 

Bacaan basmalah itu ber-mad atau suara panjang; bismillah, panjang, arrahman, panjang, dan arrahim, panjang. (Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, juz IV, h. 1925.) 

Abu Bakr Ibn Musa al-Hazimi menegaskan: 

“هذا حديث صحيح لا نعرف له علة، ووفيه دلالة علي الجهر مطلقا يتناول الصلاة و غيرها؛ لأن قراءة رسول الله صلي الله عليه و سلم لو اختلفت في الجهر بين حالتي الصلاة و غيرها لبينها أنس و لما أطلق جوابه، و حيث أجاب بالبسملة دل علي أن النبي صلي الله عليه و سلم يجهر بها في قراءته، و لو لا ذلك لأجاب أنس بالحمد لله رب العالمين أو غيرها”

Artinya:

Hadis ini sahih, tidak terlihat ada cacat padanya, ini adalah keterangan mutlak keharusan menjaharkan basmalah dalam salat dan di luar salat, karena cara bacaan Rasullullah saw. andai berbeda pada dua kondisi pasti sahabat Anas menjelaskannya, dan pasti jawabannya qat’i. Dan ketika Anas menjawab pertanyaan dengan membaca basmalah mengisyaratkan bahwa Nabi saw. membaca dengan jahr, seandainya tidak, maka pasti Anas langsung menjawab dengan “الحمد لله رب العالمين” tanpa menjawab dengan basmalah. (Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, juz III, h. 304.)

Mazhab Hanafi dan Hambali menerangkan bahwa membaca basmalah dalam salat fardu adalah sunat, tapi dengan suara lirih. Sedangkan dalam mazhab Maliki, mereka sama sekali tidak membaca basmalah dalam salat baik dengan suara keras jahr atau pun dengan suara lirih atau sirr. 

Sedangkan mazhab Syafi’i, mereka mewajibkan membaca basmalah dalam salat fardu maupun salat sunat atau nawafil mengikuti kaifiat salatnya. Jika salat jahr, maka basmalah juga harus dijahrkan, namun jika salat sirr, basmalah pun dibaca sirr atau lirih.

Dari beberapa riwayat dan pendapat imam mazhab yang ada, semua adalah benar dan tak satu pun yang harus disingkirkan karena semua berlandaskan hujjah yang kuat. Namun, yang paling sesuai dengan kondisi umat Islam di Indonesia adalah dengan mengikuti pendapat mazhab yang terakhir yaitu mazhab Syafi’i.

Selain karena kondisi umat yang sudah lama mengikuti mazhab Syafi’i, juga karena ulama Indonesia lebih fokus mengajarkan qiraah Imam Ashim, Riwayat Hafs. Yaitu, عد البسملة آية من الفاتحة (memasukkan basmalah ayat dari surah al-Fatihah). Menurut saya, antara bacaan Alquran dan mazhab yang familier di Indonesia sangat sesuai. Alasan lain, dengan menjaharkan basmalah baik dalam salat maupun di luar salat, hal ini membantu memperdengarkan bacaan Alquran yang benar, termasuk basmalah.

Dalam mazhab Syafi’i, ada dua istilah terkait kaifiyat salat, yaitu: هيئات الصلاة (bagian dari salat yang menempel pada salat itu sendiri), seperti baca doa, aamin, dan sebagainya. Dan أبعاض الصلاة. (bagian dalam salat yang berdiri sendiri dan mengharuskan sujud sahwi jika meninggalkannya), seperti qunut setelah rukuk kedua pada salat subuh dan salat witir di pertengahan Ramadan, duduk tasyahhud awal, doa salawat untuk keluarga nabi pada tasyahhud kedua, dan sebagainya.

Disadur dari kitab: البيان لما يشغله الأذهان karya Mufti Mesir Ali Jum’ah. (Ali Jum’ah, al-Bayan lima Yusygiluhu al-Azhan, juz II; Kairo: t.p., 2008 M/ 1429 H, h. 142-150.)

 

Komentar
Loading...