Hukum Mendahulukan Salat Witir

0

Hukum Mendahulukan Salat Witir

Perkara salat witir merupakan satu di antara sekian banyak perkara ibadah yang masih sering menjadi perdebatan sebagian orang. Banyak di antara kita yang melaksanakan salat witir tanpa tahu bagaimana aspek hukum melaksanakannya dan bagaimana tata cara pelaksanannya. Salat witir yang dilakukannya adalah mengikuti imam salat semata atau karena kebiasaan orang tua dan lainnya.

Ada beberapa istilah untuk menyebut ragam salat diluar yang wajib, seperti rawātib dan nawāfil. Rawātib, pada umumnya digunakan untuk menyebut salat sunat yang mendampingi salat fardu, seperti dua rakaat sebelum subuh, dua rakaat sebelum dan sesudah duhur, dan bahkan salat duha, demikian seterusnya.

Sedangkan, istilah nawāfilbiasanya digunakan untuk menyebut ragam salat yang dilakukan diwaktu malam, seperti: tahajud, witir, dan tarawih.[1]

Katanafl, berasal dari bahasa arab: نفلyang berartiعطاء, pemberian. نَافِلَةٌ artinya pemberian cuma-cuma, tidak wajib. نَوْفَل: orang yang banyak memberi.[2]Sedangkan Rawātib, secara etimologi berarti tambahan dan secara terminologi fikih adalah ما زاد علي الفرائض:menempel pada yang wajib.[3]

Istilah lain adalah Nadb, dari kata نَدَبَ, yang mengandung tiga makna:[4]

  1. الأثَر, jejak;
  2. الخَطَر, berbahaya; dan
  3. خِفَّة, yang ringan.

Kalimat ketiga ini yang lebih sesuai pembahasan fikih. Ibn Fāris mengatakan: الندب ما ليس بفرض, yaitu bukan fardu.

Kali ini, saya mencoba mereview kembali pelaksanaan salat witir yang masih saja menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Tidak jarang di antara mereka saling menyalahkan dan bahkan membidahkan satu sama lainnya.

Tugas saya adalah menampilkan pandangan-pandangan ulama fikih dan pijakan mereka, terkhusus pada ke-empat mazhab; Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.

  1. Witir Hanafiyah

Salat tarawih dilaksanakan antara salat isya sampai terbit fajar, tarawih tidak boleh dilaksanakan sebelum salat isya. Berbeda dengan salat witir, ulama Hanafiyah mebolehkan mendahulukan witir sebelum tarawih.[5]

Hanafiyah mewajibkan salat witir sebagai tambahan fardu, mereka ber-hujah berdasarkan hadis Abī Baṣrah al-Gifārī, berbunyi:[6]

إن الله زادكم صلاة, و هي الوتر، فصلوها فيما بين العشاء إلي صلاة الفجر

Artinya:

“Sesungguhnya Allh swt menambah satu salat untuk kalian, yaitu salat witir, maka laksanakanlah di antara salat isya dan terbitnya fajar.”

Analisis gramatikal dari hadis tersebut, bagi mereka adalah perintah, sedangkan hukum dasar dari sebuah perintah adalah wajib,[7]maka dengan itu, salat witir adalah wajib. Hanya saja kewajibannya tidak seperti wajib fardu salat lima waktu, kadar wajibnya lebih rendah sehingga orang yang tidak melakukannya tidak dianggap kufur.

Hanya mazhab ini yang menjadikan witir sebagai tambahan salat wajib. Sehingga, apabila seseorang hendak salat subuh dan dia ingat belum melaksanakan witir, sementara waktu subuh masih cukup, maka ia harus witir terlebih dahulu,kemudian melanjutkan salat subuhnya. Jika sudah terlanjur, maka harus mengganti (qaḍa).[8] Alasannya, wajib dengan wajib itu tidak boleh saling mendahului, harus dijaga tertib urutannya.

  1. Witir Syafiiyah

Ulamafikih sepakat bahwa antara salat isya dan fajar adalah waktu salat witir. Sebagian di antara mereka mendahulukan witir dari tahajud dan sebagian lainnya melakukan sebaliknya.

Kalangan sahabat Nabi saw. sangat variatif dalam mengerjakan witir. Ulama kalangan sahabat yang senang witir di awal malam adalah Abu Bakar al-Ṣiddīq; Usman ibn Affan; Abū Dardā; Abū Hurairah; Rāfi’ ibn Khadīj;dan Abdullah ibn Amr ibn ‘Āṣ.Sedangkan yang senang di akhir malam adalah Umar ibn Khattab; Ali ibn Abi Talib; Ibn Masud; Mālik; dan al-Ṡaurī.[9]

Pembesar sahabat tersebut berbeda dalam mengamalkan witir, sehingga bagi generasi Islam selanjutnya menjadi dalil kebolehan mendahulukan atau meng-akhir-kan witir di malam hari.

Imam Nawawi menegaskan bahwa witir hanya sekali dalam semalam, sebagai mana dalam al-Majmū’-nya:[10]

أَنَّهُ إذا أَوْتَرَ في أول الليل ثم تَهَجَّدَ لا يَنْقُضُ وِتْرُ بَلْ يُصَلِّيْ مَا شاءَ شَفَعًا…

Artinya:

“Apabila ia telah melakukan witir di awal malam, kemudian bangun salat tahajud, witirnya tidak rusak, bahkan boleh melakukan salat (sesudah witir) sepuasnya….”

Pernyataan tersebut sekaligus membantah pendapat sebagian ulama yang sengaja merusak witirnya dengan melakukan salat satu rakaat untuk menggenapkan yang ganjil (witir), merekajadikan alasan untuk melakukan tahajud sesudahnya. Terntu itu tidak benar, Ṭalq ibn Ali menerima dari Nabi saw. ia berkata:لاَوَتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ,tidak boleh ada dua kali witir dalam satu malam.[11]

  1. Witir Malikiyah

Witir adalah sunah muakkadah, tidak baik ditinggalkan. Orang yang sengaja meninggalkannya digolongkan meremehkan agama.[12]

Mereka berhujah berdasarkan hadis:الوتر حق فمن لم يوتر فليس منا,witir adalah adalah hak, barangsiapa tidak berwitir, bukan umatku.[13]

Muḥammad Al-Ḥaṭṭāb al-Mālikī (w. 954 H) mengatakan: barangsiapa lupa mengerjakan witir sehingga waktu subuh sudah muncul dan mampu untuk melakukan witir, sunat subuh, dan salat subuh, maka dia melakukan semuanya selama belum terbit fajar. Namun, jika waktu sempit, maka dia tinggalkan sunat subuh dan hanya melakukan witir dan salat subuh, jika waktu terlalu sempit untuk melakukan keduanya, maka hanya salat subuh saja yang dilakukan, tak perlu mengganti (qaḍa) salat witir.[14]

  1. Hanabilah

Salat witir dilakukan setelah salat tarawih. Karena Umar mengumpulkan jemaah melakukan salat tarawih, kemudian salat witir tiga rakaat. Namun, bagi yang ingin salat tahajud, maka sunah baginya meng-akhirkan witir.[15]Hujah mereka berdasarkan hadis:

اجعلوا آخر صلاتكم باليل وترا (رواه البخاري و مسلم: 998- 749)

Artinya:

“Jadikahlah witir akhir salat malammu.”

Bagi mereka yang tidak bertekad melakukan tahajud, dianjurkan untuk melaksanakan witir bersama imam agar bisa mengejar pahala berjamaah. Bahkan, bagi yang bertekad tahajud disunahkan ikut bermakmum kepada imam yang memimpin witir agar mendapatkan pahala berjamaah.Setelah imam salam, maka barulah ia menggenapkan salat tahajudnya. Namun, tetapwitir setelah tahajud di akhir malam.[16]

Jumlah rakaat witir

Ada beberapa pandangan ulama fikih mengenai jumlah rakaat witir. Menurut Syafiiyah, jumlah rakaatnya paling sedikit satu dan paling banyak 11 rakaat. Boleh 13 rakaat, namun menyalahi yang afdal. Hujah mereka berdasarkan hadis Abdullah ibn Umaryang diriwayatkan imam Bukhari, Rasulullah saw. bersabda:

صلاة اليل مثني مثني فإذا خفت الصبح فأتر بواحدة

Artinya:

“Salat malam itu dua rakaat,dua rakaat, jika kamu khawatir waktu subuh, maka witirlah satu rakaat.”[17]

Syafiiyah mensunahkan memisahkan witir dengan tahiat apabila yang dikerjakan itu lebih dari satu rakaat. Mereka berdasar pada informasi yang bersumber dari ibn Umar, Mu’āż, Abdullah ibn ‘Iyāsy ibn Rabī’ah, Mālik, Aḥmad, Isḥāq dan Abī Ṡūr.[18] Berbeda dengan Hanafiyah, mereka malah menganggap tidak sah witir jika tidak dilaksanakan tiga rakaat sekaligus dalam satu salam.

Sementara Abu Ḥanifah menegaskan witir hanya tiga rakaat dengan satu salam, tidak boleh lebih atau kurang.[19] Apabila witir tiga rakaat dengan dua salam, tidak sah, karena dianggap menyamai salat magrib.

Bacaan surah dalam salat witir

Hanafiyah membaca surah al-Fatihah setiap rakaat, membaca surah al-A’lā pada rakaat pertama, al-Kāfirūn pada rakaat kedua, al-Ikhlāṣ pada rakaat ketiga, dan kadang-kadang menambah surah al-Mu’awważatain, yakni al-Falaq dan al-Nās.Bacaan serupa dilakukan oleh mazhab Malikiyah, Syafiiyah. SementaraHanabilah tidak membaca al-Mu’awwiżatain pada rakaat ketiga.[20]

Qunut witir

Hanafiyah mengharuskan qunut setiap rakaat kedua sebelum rukuk, bertakbir sambil mengangkat tangan, diikuti oleh makmum. Qunut menurut mereka harus dilakukan setiap kali salat witir, baik dalam ramadan dan juga di luarnya. Hanya saja berlaku pada salat ini, tidak untuk salat sunat lainnya.[21]

Mayoritas ulama mazhab Syafii mensunahkan qunut witir pada seperdua bulan Ramadan, sebagaimana ditulis oleh imam Nawawi:[22]

أنه يُسْتَحَبُّ القُنُوْتُ فِيْهِ فِي النِّصْفِ الأَخِيْرِ مِنْ شَهِرِ رَمَضَانَ خَاصَّةً… وَ أَنَّ الصَّحِيْحَ في مذهَبِنَا أَنَّهُ بَعدَ رَفْعِ الرَّأسِ منَ الرُّكُوعِ

Artinya:

“Disunahkan melakukan qunut (salat witir) pada pertengahan bulan ramadan… tempatnya yaitu setelah rukuk (terakhir).”

Berdasarkan pernyataan imam Nawawi tersebut, qunut dalam salat sunah hanya pada salat witir di seperdua terakhir bulan Ramadan, qunut tidak berlaku untuk semua salat sunat lainnya.

Hanabilah membolehkan qunut sebelum rukuk, seperti yang dilakukan oleh Hanafiyah.[23]

Kesimpulan

            Setelah menguraikan salat tarawih secara global dari setiap mazhab, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Hanafiyah dan Syafiiyah membolehkan mendahulukan witir dari tarawih dan salat sunah lainnya. Hanya saja Hanafiyah mewajibkan salat witir tiga rakaat tidak lebih dan tidak kurang;
  2. Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah menganggap salat witir sunah muakkadah;
  3. Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafiiyah mensunahkan membaca surah al-A’lā pada rakaat pertama, al-Kāfirūn pada rakaat kedua, dan al-Ikhlāṣ dan al-Mu’awważatain pada rakaat ketiga. Sedangkan, Hanabilah tidak membaca surah al-Mu’awważatain.
  4. Hanafiyahdan Hanabilah mensunahkan Qunut sebelum rukuk dalam salat witir. Sementara Syafiiyah sesudah bangun dari rukuk pada rakaat ketiga dan berlaku khsusu pada seperdua terakhir dari bulan Ramadan.

Semoga ada manfaat bagi kami dan semua pembaca. Wallau a’lam.

Daftar Referensi

[1] Muḥāmmad al-Amīr al-Mālikī, Ḍau’u al-Syumū’ Syarḥ al-Majmū’ fī al-Fiqh al-Mālikī, Juz. I, (Cet. I; Mūrītānia: Maktabah al-Imām Mālik, 1426 H/2005 M), h. 429.

[2] Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām ibn Hārūn, Juz. V,(T.t., Dār al-Fikr, t.th), h. 455.

[3] Muḥāmmad al-Amīr al-Mālikī, Ḍau’u al-Syumū’ Syarḥ al-Majmū’ fī al-Fiqh al-Mālikī, Juz. I, h. 430.

[4] Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām ibn Hārūn, Juz. V,(T.t., Dār al-Fikr, t.th), h. 413.

[5] Muḥammad Sa’īd al-Ṣāgirjī, al-Fiqh al-Ḥanafī wa Adillatuh, Fiqh al-Ibādāt, Kitāb al-Ṣalāh, (Cet. I; Demaskus: Maktabah al-Gazālī, 1419 H/1999 M), h. 232.

[6] Aḥmad ibn Ḥambal, Musnad Aḥmad, Musnad al-Anṣār, Juz XXXIX, h. 271.

[7] Syaikhī Zādah, Majma’ al-Anhur fī Syarḥ Multaqā al-Abḥur, Juz I, (Cet. I; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H/1998), h. 191.

[8] Al-Kāsānī al-Ḥanafī, Badā’iu al-Ṣanāi’ fī Tartīb al-Syarā’i’, Taḥqīq: Syekh ‘Alī Muḥammad Mu’awwaḍ, Juz II, (Cet. II; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah), h. 227.

[9] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz III, (Jeddah: Maktabah al-Irsyād, t.th), h. 518.

[10] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz III, h. 521.

[11] Abū Dāwūd, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Ṣalāh, bāb Tafrī’i Abwābi al-Witri, fī Naqdi al-Witri, Juz II, h. 95. Nomor hadis: 1439.

[12] Muḥammad al-Syinqīṭī, Lawāmi’ al-Durar fī Hatki Astāri al-Mukhtaṣar, Juz II, (Cet. I; Mūritānia: Dār al-Riḍwān, 1436 H/2015 H), h. 395.

[13] Abū Dāwūd,  Sunan Abī Dawūd, Kitāb al-Ṣalāh, Nomor hadis 1419.

[14] Muḥammad al-Ḥaṭṭāb al-Mālikī,Mawāhib al-Jalīl fī Syarḥ Mukhtaṣar al-Syaikh Khalīl, Juz II, (Cet. I; Mūritāniā: Dār al-Riḍwān, 1431 H/2010 M), h. 343.

[15] Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz I, (Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1403 H/1983), h. 426-427.

[16] Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz I, h. 427.

[17] Imam Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣalāh, Bāb al-Ḥilaq wa al-Julūs fī al-Masjid, Juz I; h. 102. Nomor hadis: 472.

[18] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz III, , h. 520.

[19] Aḥmad al-Ṭaḥṭāwī, Ḥāsyiyatu al-Ṭaḥṭāwī ‘alā Murāqī al-Falaḥ Syarḥ Nūr al-Īḍāḥ, (Cet. I; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1418 H/1997 M), h. 375.

[20] Ibn Qudāmah, al-Mugnī Li Ibn Qudāmah, Juz II, (Mesir: Maktabah al-Qāhirah, 1968 M/1388 H.), h. 121.

[21] Syaikhī Zādah Dāmād Afandi, Majma’ al-Anhur fī Syarḥ Multaqā al-Abḥur, Juz I, (Cet. I; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H/1998), h.. 192.

[22] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz III, h. 520.

[23] Ibn Qudāmah, al-Mugnī Li Ibn Qudāmah, Juz II, (Mesir: Maktabah al-Qāhirah, 1968 M/1388 H.), h. 121-122.

 

Baca Juga...
Komentar
Loading...