Hukum Taklid Buta dalam Sosmed

Taklid buta media sosial

0

Tanya:

Youtube dan facebook bertebaran fatwa-fatwa, ada yang pakai dalil, ada yang tidak. Ada yang bikin adem, ada yang bikin ketakutan. Ada yang mengajak dengan hati, ada pula yang mengajak dengan ancaman neraka dan hari kiamat. Dampaknya adalah konsumennya “terhasut” tanpa cek dan ricek kebenaran fatwa tersebut. Dilihatnya yang bicara pakai surban, langsung dipercaya dan disebarkan. Dilihatnya yang bicara pakai ayat dan hadis, langsung takjub.  Akhirnya apa yang didengarkan dan dilihatnya itu dijadikan keyakinan, lalu disampaikan kepada orang lain sebagai sebuah kebenaran mutlak. Pertanyaannya, apakah hal demikian sudah tergolong taqlid buta? Bagaimana hukum atau pandangan Ust?

Jawab:

Saya mencoba merangkai narasi itu dengan memulai dari kalimat amurul mukminin Ali ra. yang sangat manis dan kondisional: 

لا تنظر الي من قال وانظر الي ما قال

 “lihat ucapannya, jangan lihat orangnya”. 

Tentu setiap ucapan itu karena sebuah tujuan. Setiap ucapan pasti ada pesan yang ingin disampaikan. Sehingga, jika urgensi dari sebuah ucapan adalah tercapainya tujuan, maka kalimat Ali ra diatas bisa dibalik sesuai kebutuhan, yaitu: 

انظر الي من قال و لا تنظر الي ما قال

“lihat orangnya, jangan lihat ucapannya”.

Dengan ucapan terbalik di atas  sangat cocok dalam ber-media sosial.

Mengapa?

Karena konten-konten yang beredar tidak semua bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, terkadang sebuah narasi yang kelihatan indah, langsung dibagikan ke mana-mana tanpa mengetahui apa pesan dan tujuan yang ingin disampaikan. Sangat penting bagi pecinta sosmed menilai dan melihat siapa dan dari mana konten itu. Sebuah kebiasaan buruk, baru membaca judul, seakan sudah menguasai pesannya.

Benar, bahwa banyak masyarakat terhasut dengan narasi indah yang disampaikan oleh sementara orang. Apalagi jika itu terkait dengan keyakinan keagamaan yang dibenturkan dengan covid-19. Dampaknya, masyarakat ogah menerima ajakan dan seruan ulama dan pemerintah. Apa yang disampaikan pemerintah, seakan hanya sebuah hidangan gorengan politik yang ditunggangi kepentingan komunis, ekonomi, kristenisasi, pengalihan isu, dan lain sebagainya.

Namun, giliran ada pendakwah yang lantang bersuara atas nama “kebenaran dan akidah” mengajak umat meramaikan masjid untuk salat, berdoa, dan bertaubat, fatwa dan seruan pemerintah dianggap “pendangkalan” iman. Padahal, mestinya merekalah panutan umat.

Fatwa ulama dan seruan pemerintah dianggap hoaks belaka.

Penting dan sangat penting! Masyarakat cerdas berinteraksi di dunia maya, terlebih dalam beragama. Ulama dan pemerintah tidak akan mungkin mau melihat umat dan rakyatnya terpapar dalam kesesatan.

ان امتي لا تجتمع علي الضلالة، فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الاعظم (رواه ابن ماجه

“Sungguh tidak mungkin umatku bersepakat dalam kesesatan, jika kamu ada pertentangan maka ikuti yang mempunyai otoritas tertinggi (ulama dan umara)”

Ustaz, pendeta, dan siapa pun wajib menjaga umat dari paham yang keliru dan menghasut. Bukan saat yang tepat mengajarkan dan mengajak umat ke masjid, gereja, dan tempat umum lainnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Wabah tidak mengenal keimanan dan ketakwaan. Wabah corona yang penularannya secara masif dari manusia ke manusia hanya bisa dicegah dengan ikhtiar menghindar “lockdown”. Beribadah dan berdoa bisa dilakukan di rumah masing-masing. Baca: Masjid vs Pasar

Pemerintah sebagai pemilik otoritas tertinggi dengan segala perangkatnya harus menjadi rujukan. 

Pandangan agama telah disampikan dengan tegas  dan jelas oleh ulama dalam bentuk fatwa, mereka dengan segala upaya mencari dalil dan mengkaji literatur  muktabarah yang hasilnya kemudian disampaikan dengan terang melalui media resmi dan terpercaya. Wajib hukumnya mengikuti mereka. Bukan sebaliknya, yakni terhasut untuk melawan fatwa tanpa memiliki landasan yang jelas tersebab taklid buta. 

Masyarakat wajib hukumnya bertaklid kepada orang yang mempunyai otoritas keilmuan mumpuni, baik dalam hukum agama demikian juga dalam persoalan sosial. Sebaliknya, haram hukumnya bertaklid buta kepada orang yang tidak memiliki kompetensi.

Ulama menegaskan bahwa bertaklid kepada orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan, akan sesat dan menyesatkan.

Alih-alih memberikan solusi atas sebuah masalah, jaminan kehidupan yang tentram dan damai, berguru dan banyak percaya kepada majelis-majelis online “tidak terpercaya” justru menimbulkan kesesatan besar. Dari 1 orang kemudian kesesatan itu dibagikan kepada orang lain, dan begitu seterusnya.

Dalam QS al-Nahl/16: 43.

فاسئلوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون

“Tanyakan kepada ahlinya, jika kamu tidak mengerti”

Ayat tersebut sangat terang dalam mengajari kita bertaklid kepada pemilik otoritas. Soal fatwa, umat wajib bertaklid kepada ulama “من قال”. Bukan kepada ” ماقال” (sebaran yang tidak jelas asalanya). Soal kemaslahatan umum dan kesejahteraan, masyarakat wajib bertaklid kepada pemerintah dengan segala perangkatnya.

Membagikan narasi, video, dan konten lainnya yang tidak jelas, apalagi mengandung unsur gibah dan provokasi, haram hukumnya. Sangat dibenci dalam ajaran Islam. Memang tidak ada larangan untuk belajar agama di mana saja dan kepada siapa saja, namun perhatikan dengan baik kapasitas keilmuan tempat kita belajar agar terhindar dari kesesatan

Dalam QS al-Hujurat/49: 6 dan 11-12.

“Wahai orang beriman! Jika datang seorang fasik membawa berita kepadamu, maka teliti kebenarannya, jangan sampai kamu mencelakakan orang lain karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesal”. Baca pula terjemahan ayat 11-12.

Dalam riwayat Muslim, nabi saw. ditanya oleh seseorang “apa gibah itu? Nabi menjawab:

ذكرك اخاك ما يكره

“Kamu menceritakan saudaramu apa yang ia tidak senangi”

ارأيت لو كان في اخي ما اقول

“Bagaiman jika yang saya katakan itu memang benar adanya?

فقد اغتبته و ان لم يكن فيه ما تقول فقد بهته

“Kamu telah meng-gibahnya, kalau tidak benar, maka kamu telah memfitnahnya”.

Mengikuti atau bertaklid kepada orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang diakui dan teruji, sangat tepat, harus dilakukan, bahkan wajib. Pijakan dan metodologi mereka tidak diragukan. Sebaliknya, bertaklid kepada yang tidak jelas spesialis dan konsentrasinya akan membawa malapetaka bagi umat.

Sebagai bahan renungan, hampir semua ibadah yang kita lakukan adalah taklid kepada salah satu mazhab fikih, karena kita tidak tahu dalil, sehingga mengikuti pendiri atau ulama mazhab adalah sebuah keniscayaan. Cara rukuk, sujud, dan duduk dalam salat adalah taklid kepada ulama karena kapasitas ilmu kita tidak memadai untuk memahami dalil.

Di Medsos semua orang halal berargumentasi sesuai kapasitasnya. Namun, apabila dua argumentasi sama-sama kuatnya, salah satunya mengarah kepada yang halal dan lainnya mengarah ke yang haram, maka mendahulukan argumentasi yang mengarah keharam sebagai kehati-hatian. 

Dalam sebuah kaidah:

ان الدليلين اذا تساوا في القوة و تعارضا في الحل و الحرمة، قدم دليل الحرمة.

“Apabila dua dalil sama-sama kualitasnya, namun kontardiksi dalam hal boleh atau tidak bole, harus mendahulukan dalil tidak membolehkan”

Kaidah tersebut, sangat tepat digunakan dalam ber “selancar” dunia maya atau di dunia nyata.  Jika secara bersamaan ada larangan berinteraksi dengan banyak orang karena sebuah kekhawatiran, maka harus mendahulukan larangan (قدم دليل الحرمة). Demi terciptanya keselamatan dan kemaslahatan bersama.

Wallahu A’lam.

Baca Juga...
Komentar
Loading...