Inilah Hukum Bagi Yang Melakukan Jimak di Siang Hari Ramadan

0

Hukum Jimak di Siang Hari Ramadan Perspektif Imam Mazhab

(Dr. H. Abdul Waris Ahmad, M.HI)

Bulan Ramadan menjadi bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Sehingga, mereka berlomba-lomba memperbanyak ritual ibadahnya pada bulan Ramadan. Namun, tidak semua ritual bisa mendatangkan pahala jika dilakukan pada saat kita sedang berpuasa. Contohnya, jimak bagi suami istri. 

Bagi suami istri, jimak menjadi hal yang sangat penting untuk mereka perhatikan pada bulan Ramadan, khususnya pada siang hari. Sebab, jimak memiliki aturan sendiri pada bulan itu dan aturan inilah yanag membedakannya dengan bulan selain Ramadan. Oleh karena itu, penting bagi kita semua mengetahui aturan yang berlaku pada jimak di siang hari di bulan Ramadan. 

  • Pengertian

Kata ṣaum berasal dari bahasa arab, secara etimologi ṣaum adalah menahan diri (al-imsāk), artinya menahan diri dari makan dan minum dan semua yang dilarang. Kata ini juga bermakna menahan diri tidak berkata-kata.[1] Puasa secara terminologi syar’i adalah: Menahan diri dari hal-hal tertentu, di masa tertentu dan orang tertentu.[2]

Kata jimak, juga dari bahasa arab  جمع yang berarti menggabungkan sesuatu.[3] Dalam kamus Indonesia jimak adalah bersetubuh.

  • Perspektif Imam Mazhab

Sebagaimana dalam pembahasan fikih sebelumnya, saya akan selalu berselancar di dalam kitab-kitab fikih klasik, khususnya empat mazhab, kemudian mengeksplorasi hasil pembacaan ke dalam narasi sederhana

1. MazhabHanafiyah.

Puasa adalah salah satu ritual ibadah yang sangat mulia dan menjadi target incaran umat Islam. Ada beberapa kemungkinan penyebab seorang muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa terhenti puasanya, di antaranya adalah sebagai berikut:

– Hal yang membatalkan puasa sekaligus mewajibkan mengganti (qaḍa) dan kafarat.

Melakukan jimak di siang hari pada bulan Ramadan dengan sengaja, baik pihak yang menyetubuhi dan disetubuhi, di kubul atau dubur, keluar sperma atau tidak, maka wajib mengganti puasa disertai kafarat.[4] Adapun wanita jika dipaksa melakukan jimak tersebut, maka tidak wajib kafarat, hanya wajib mengganti puasanya, sebagaimana hukum orang lupa. 

Namun, jika istri memaksa suaminya melakukan jimak, dan ia menjimaknya, maka kafarat berlaku untuk keduanya. Demikian halnya jika istri tahu bahwa fajar telah terbit, ia sengaja menyembunyikannya dan terjadi jimak, maka kafarat berlaku untuknya, tidak untuk suaminya.

Hanafiyah juga mewajibkan qada dan kafarat bagi mereka yang merusak puasa dengan makan dan minum di siang hari Ramadan. 

Hujah mereka adalah puasa itu menekan dua syahwat; syahwat perut dan kemaluan. Bahkan syahwat perut itu lebih deras dibanding senggama. Maka merusak puasa dengan jimak itulah yang mewajibkan kafarat, bukan karena jimak itu sendiri, sebab hukum dasar dari jimak bukan pelanggaran (jināyat).[5] Maka, membatalkan puasa dengan makan dan minum lebih layak dihukum kafarat.

Adapun kafarat yang wajib ditunaikan berdasarkan hadis adalah; (1) memerdekakan budak; (2) puasa selama dua bulan berturut-turut; dan (3) memberi makan 60 orang miskin. Pelaksanaan kafarat tersebut di atas wajib tertib, berdasarkan tertib poin yang disebutkan dalam hadis. Tidak dibolehkan melaksanakan kafarat dengan cara langsung ke poin dua atau tiga, kecuali jika sudah tak mampu. 

Alasan Hanafiyah memberlakukan hukum qada dan kafarat bagi suami dan istri adalah karena sama-sama membatalkan puasanya, sementara keduanya mempunyai kedudukan dan hak yang sama di sisi Allah.[6]

Abū Ja’far al-Ṭaḥāwī (w.321 H) dalam hukuman kafarat mengutip pandangan  ibn Abī Lailā: “dua bulan puasa kafarat tidak mesti berturut-turut”, juga pandangan ibn Wahab: “memberi makan lebih saya sukai dari pada memerdekakan budak”, dan ibn al-Qāsim: “memerdekakan budak dan puasa dua bulan tidak dipakai, namun memberi makan orang miskin”.[7]M

– Membatalkan puasa dan hanya mewajibkan mengganti tanpa kafarat.

Melakukan jimak bukan pada tempatnya, yaitu kubul dan dubur, mencium istri, dan menyentuh kemaluan yang menyebabkan keluarnya sperma, maka puasa batal dan harus menggantinya di luar bulan Ramadan.

Dalam hal mengganti puasa sejumlah yang ditinggalkan pada bulan Ramadan, hukum pelaksanaannya tidak wajib berturut-turut. Hal inilah yang membedakan puasa qada dan puasa kafarat. Mengganti puasa selama dua bulan pun tidak mesti 60 hari, namun boleh kurang, tergantung bulan kamariah yang berlaku  di mana dia sedang melaksanakan puasa qadanya tersebut.M

2. Malikiyah

Bagi Malikiyah, yang mewajibkan kafarat besar itu ada lima, yakni:[8]

  1. Sengaja melakukan jimak atau senggama. Jimak yang dimaksud adalah yang mewajibkan mandi yaitu keluar sperma, baik suami demikian juga istri. Hukum ini juga berlaku bagi suami yang menjimak istrinya dari arah dubur atau bahkan pada farj binatang.
  2. Sengaja membatalkan niat puasa.
  3. Sengaja makan di siang hari.
  4. Sengaja minum.
  5. Sengaja mengeluarkan mani meskipun bukan sebab jimak.

Alasan mazhab ini mewajibkan kafarat bagi yang sengaja makan di siang hari Ramadan,[9] adalah hadis yang bersumber dari Abī Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki melapor kepada Nabi saw. Ia berkata: “sesungguhnya saya berbuka di siang hari Ramadan dengan sengaja, lalu nabi bersabda: merdekakan budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, dan atau memberi makan 60 orang miskin”.[10]

Terkait jenis kafarat yang diberlakukan kepada pelanggar puasa di siang hari bulan Ramadan, mereka lebih memilih yang agak ringan, yaitu memberi makan 60 orang miskin, tanpa harus memilih opsi satu dan dua terlebih dahulu.[11]

Hujah mereka adalah berdasarkan hadis Abū Hurairah ra. Beliau menceritakan seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah berkata: “hancur saya, hancur saya.” Nabi bertanya: “mengapa?” Ia menjawab: “saya telah menyetubuhi istriku di siang hari Ramadan.” Nabi berkata: “bersedekah, bersedekah.” Dia berkata: “saya tak punya sesuatu yang bisa disedekahkan.” Setelah beberapa waktu, datang sebakul makanan, lalu nabi perintahkan dia menyedekahkannya.[12]

Imam Mālik ditanya mengenai ukuran kafarat memberi makan kepada miskin, beliau menjawab: مد مد.[13] Maksudnya satu mud setiap miskin dan penerima tidak boleh double, harus 60 miskin.

Mazhab Malikiyah Hanafiyah mempunyai kesamaan dalam hal yang mewajibkan kafarat, yaitu makan, minum, dan jimak dengan sengaja. Namun, terdapat juga perbedaan, yakni Hanafiyah mewajibkan kafarat jika jimak dilakukan pada kubul dan dubur. Sesangkan, Malikiyah mewajibkan meskipun jimak dilakukan pada binatang.

Kesamaan lainnya adalah jika suami istri sama-sama mau melakukan hubungan badan di siang hari Ramadan, maka keduanya didenda qada dan kafarat. Namun, jika istri dipaksa melayani, maka istri tidak wajib kafarat, hanya wajib qada.S

3. Syafiiyah

Membatalkan puasa dengan melakukan seksualitas tanpa ada alasan syar’i, mempunyai konsekuensi hukum tegas, yaitu: (1) harus tetap melanjutkan puasa hari itu sampai waktu berbuka; (2) wajib mengganti puasanya di luar bulan Ramadan; (3) bagi laki-laki wajib kafarat.[14]

Al-Muzanī (w. 264 H), mengatakan: jika seorang suami menyetubuhi istrinya dengan penuh kesadaran, maka suami tersebut wajib qaḍa dan kafarat. Sedangkan istrinya hanya qada tanpa kafarat.[15]

Hal yang sama dituliskan olah imam Nawawi dalam al-Majmū’, sebagai berikut: [16]

وَ الأَصّحُّ عَلَي الْجُمْلَةِ جُوُبُ كَفَّارَةٍ وَاحِدةٍ عَلَيْهِ خَاصَّةً عَنْ نَفَسِهِ فَقَطْ، وَ أَنَّهُ لاَ شَيْئَ عَلَي الْمَرْأَةِ…

Artinya:

“Yang paling valid adalah hukum kafarat wajib hanya bagi suami, tidak untuk istri.”

    Kafarat yang harus dibayar adalah memerdekakan budak; puasa dua bulan berkesinambungan; dan memberi makan kepada 60 miskin. Jika memberi makanan yang menjadi pilihan -setelah opsi satu dan dua tidak mampu-, maka setiap miskin mendapatkan satu mud

    Suami yang melakukan jimak beberapa hari selama bulan Ramadan, wajib baginya kafarat sejumlah hari jimaknya, sebagaimana yang ditegaskan oleh imam al-Syairāzī, beliau menulis:[17]

… وَ إِنْ جَامَعَ فِي يَوْمَيْنِ أو في أَيَّامٍ وَجَبَ لِكُلِّ يَوْمٍ كَفَّارَة….

Artinya:

“… Jika ia menjimak istrinya dua hari atau beberapa hari, maka wajib kafarat sejumlah hari itu….”

    Alasannya, karena puasa setiap hari itu adalah ibadah yang berdiri sendiri, tidak boleh saling menutupi kafaratnya, sama halnya dengan ibadah umrah, setiap kali ada pelanggaran, seperti itu juga dendanya.

Namun, jika menjimak beberapa kali dalam sehari, maka kafarat berlaku hanya sekali dalam sehari itu.[18] Pendapat ini sama dengan imam Abu Hanifah dan Malik.

Mereka berhujah dari peristiwa seorang laki-laki yang menginformasikan kondisi ekonominya kepada nabi bahwa dia tak memiliki apa-apa. Setelah diberikan kepadanya sebakul kurma, dia diperintahkan untuk bersedekah dengan isi bakul itu, yaitu kurma.

    Mazhab ini berbeda dengan dua mazhab sebelumnya, seorang muslim yang sengaja makan di siang hari Ramadan, tidak wajib kafarat, namun wajib qada. Menurut mereka, yang mewajibkan kafarat hanya jimak, termasuk pula, jika suami bersenang-senang dengan istrinya dan keluar sperma, puasanya batal tanpa denda kafarat. Namun, jika memasukkan kemaluan hingga lenyap ke lubang dubur istri, lubang dubur binantang, atau melakukan homoseks, maka wajib qada dan kafarat.[19]H

4. Hanabilah

Al-Bahūtī, salah seorang ulama mazhab Hanabilah menegaskan: seseorang yang melakukan aksi seksualitas di siang hari Ramadan tanpa uzur, baik pada kubul atau pada dubur, pada hewan, mati atau hidup, keluar sperma atau tidak, sengaja atau tidak, suka rela atau dipaksa, semua itu mewajibkan qada dan kafarat.[20]

Berbeda dengan Syafiiyah, pandangan mazhab ini mewajibkan qada dan kafarat kepada wanita, bahkan sekalipun wanita itu dipaksa, karena dianggap menodai kehormatan puasa Ramadan. Maka, dalam hukum tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Persamaan dengan Syafiiyah, denda kafarat harus tertib urutan, mulai dari memerdekakan budak, puasa dua bulan berturut-turut, dan kemudian memberi makan kepada 60 miskin. Jika harus membayar denda dengan memberi makan, setiap miskin mendapatkan satu mud.

Tidak ada larangan melakukan hubungan badan sebelum menunaikan denda kafarat demikian juga, pada malam-malam menunaikan denda kafarat. Al-Bahūtī menulis:[21]

“وَ يَحْرُمُ الْوَطْءُ هُنا قبل التكفيرِ، وَ لاَ فِي لَيَالِي صًوْمِ الْكَفَّارةِ”  

Kafarat menjadi lunas jika ada orang lain menanggung dendanya dengan izinnya, bahkan dia boleh memakan bersama keluarganya.

Mereka berdalil berdasarkan hadis Abu Hurairah: beliau menceritakan seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah berkata: “hancur saya, hancur saya.” Nabi bertanya: “mengapa?” Ia menjawab: “Saya telah menyetubuhi istriku di siang hari Ramadan.” Nabi berkata: “bersedakah, bersedekah.” dia berkata: “saya tak punya sesuatu yang bisa disedekahkan.” Setelah beberapa waktu, nabi datangkan sebakul makanan berisi kurma, lalu nabi perintahkan dia menyedekahkannya. Ia berkata: “adakah yang lebih miskin dari saya ya Rasulallah?” Lalu nabi tertawa dan mengatakan berikan itu kepada keluargamu… (HR. Bukhārī: 6087).

Menurut mereka, dalam peristiwa jimak di bulan Ramadan itu, nabi tidak meminta penjelasan detail kepada lelaki arab itu. Jika ada perbedaan hukum antara yang sengaja atau lupa, suka rela atau paksa, maka pasti nabi meminta alasan darinya. Puasa memiliki ketentuan hukum yang sama dengan haji dalam hal denda.[22]

  • Kesimpulan
  1. Hanafiyah mewajibkan membayar denda kafarat dan qada bagi suami istri yang melakukan hubungan badan di siang hari ramadan, demikian juga yang sengaja makan dan minum tanpa ada alasan syar’i. Dendanya adalah memerdekakan budak; puasa dua bulan berturut-turut; dan memberi makan 60 miskin. Ketentuan denda harus secara tertib, kecuali terpaksa.
  2. Malikiyah mewajibkan suami istri membayar denda kafarat dan qada apabila: (1) melakukan hubungan badan di siang hari ramadan; (2) sengaja mengeluarkan sperma meskipun hanya pada binatang dan lainnya; (3) sengaja makan dan minum tanpa ada alasan syar’i; (4) sengaja membatalkan niat puasa; (5) Dendanya adalah memberi makan 60 miskin, setiap miskin satu mud (510 gram beras). 
  3. Syafiiyah mewajibkan suami membayar denda kafarat dan qada, sementara istri tidak wajib kafarat, hanya qada. Berbuka dengan makanan atau minuman, maka tidak mewajibkan kafarat, hanya mewajibkan qada. 
  4. Hanabilah mewajibkan suami istri membayar denda qada dan kafarat, suka rela atau dipaksa, sengaja atau lupa. Pembayaran denda harus berurutan, yakni jika tidak sanggup memerdekakan budak, baru bisa berpindah keurutan denda berikutnya, dan begitu seterusnya.

Demikian sekelumit hasil penelusuran konsekuensi pelanggaran puasa bulan Ramadan dari empat mazhab fikih tersubur dan terpopuler di jagad raya. Semoga ada manfaat. Wallahu a’lam.

Daftar Referensi

[1] Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām Muḥammad Hārūn, Juz III, (t.t; Dār al-Fikr, t.th.), h. 232. 

[2] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz VI, (Jeddah: Maktabah al-Irsyād, t.th), h. 248. Teksnya: إمساك مخصوصو عن شيئ مخصوص في زمن مخصوص من شخص مخصوص

[3] Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām Muḥammad Hārūn, Juz I, (t.t; Dār al-Fikr, t.th.), h. 479. 

[4] Muḥammad Sa’īd al-Ṣāgirjī, al-Fiqh al-Ḥanafī wa Adillatuh, Fiqh al-Ibādāt, Kitāb al-Ṣiyām, (Cet. I; Demaskus: Maktabah al-Gazālī, 1419 H/1999 M), h. 376.

[5] Abū al-Qāsim al-Zamakhsyarī, Ru’ūs al-Masāil, al-Masāil al-Khilāfiyah baina al-Ḥanafiyah wa al_syāfi’iyah, Taḥqīq: ‘Abd Allah Nażīr Aḥmad, (Cet. I; Beirut: Dār al-Basyāir al-Islāmiyah, 1987 M/1407 M), h. 226.

[6] Abū al-Qāsim al-Zamakhsyarī, Ru’ūs al-Masāil, al-Masāil al-Khilāfiyah baina al-Ḥanafiyah wa al_syāfi’iyah, Taḥqīq: ‘Abd Allah Nażīr Aḥmad, h. 228. 

[7] Abū Ja’far al-Ṭaḥāwī, Mukhtaṣar Ikhtilāf al-‘Ulamā, Taḥqīq: ‘Abd Allah ‘Abd al-Azīz Aḥmad, Juz II, (Cet. III; Beirut: Dār al-Basyāir al-Islāmiyah, 1417 H/1996 M), h. 26.

[8] Muḥammad Sālim al-Syanqīṭī, LawAmi’u al-Durar fī Hatki Astāri al-Mukhtaṣar, Juz IV, (Cet. I; Mūritāniā, Dār al-Riḍwān, 1436 H/2015 M), h. 165-168. 

[9] Saḥnūn ibn Sa’īd al-Tanūkhī, al-Mudawwanah al-Kubrā, Juz I, (al-Mamlakah al-Arabiyyah al-Sa’ūdiyah: Wizārah al-Syu’ūn al-Islāmiyah wa al-Auqāf wa al-Da’wah wa al-Irsyād, t.th), h. 219.

[10] Imām Mālik, Muwaṭṭā’ Mālik, Kitāb al-Ṣiyām, Kaffāratu Man Afṭara fī Ramaḍān, Juz I, h. 199. Nomor hadis: 815. 

[11] Saḥnūn ibn Sa’īd al-Tanūkhī, al-Mudawwanah al-Kubrā, Juz I, h. 219. 

[12] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, Bab al-Tabassum wa al-Ḍaḥik, Juz VIII, h. 23. Nomor hadis: 6087. 

[13] Saḥnūn ibn Sa’īd al-Tanūkhī, al-Mudawwanah al-Kubrā, Juz I , h. 218.

[14] Imam al-Nawawī, Kitāb al-Majmū’ Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq: Muḥammad Najīb al-Muṭī’ī, Juz VI, (Jeddah: Maktabah al-Irsād, ), h. 362. 

[15] Yaḥya ibn Ismā’īl al-Muzanī, Mukhtaṣar al-Muzanī fī Furū’i al-Syāfi’iyah, (Cet. I; Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1419 H/ 1998 M), h. 83. 

[16] Imam al-Nawawī, Kitāb al-Majmū’ Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq: Muḥammad Najīb al-Muṭī’ī, Juz VI, h. 363. 

[17] Abū Isḥāq al-Syairāzī, al-Muhażżab fI Fiqh al-Imām al-Syāfi’ī, Taḥqīq: Muḥāmmad al-Zuḥailī, (Cet. I; Beirut: Dār al-Qalam, 1412 H/1992 M).

[18] Imam al-Nawawī, Kitāb al-Majmū’ Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq: Muḥammad Najīb al-Muṭī’ī, Juz VI, h. 370.

[19] Al-Imām al-Syāfi’ī, al-Umm, Taḥqīq wa ṭakhrīj: Rif’at Fauzī ‘Abd al-Muṭṭalib, Juz III, (Cet. t.t: I; Dār al-Wafā, 1422 H/2001 M), h. 254. 

[20] Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz II, (Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1403 H/1983 M), h. 323-324. 

[21] Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz II, h. 327. 

[22] Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz II, 324. 

 

Baca Juga...
Komentar
Loading...