Inilah Hukum Utang Puasa Orang Meninggal

0

HUKUM UTANG PUASA ORANG MENINGGAL

Dr. H. Abdul Waris Ahmad, M.HI

Dalam syariat Islam, setiap muslim diwajibkan berpuasa Ramadan, kecuali mereka yang mempunyai uzur atau alasan yang dapat ditolerir oleh agama. Dalam pembahasan ini akan saya tampilkan dua hukum fikih, yaitu:

1. Hukum bagi mereka yang punya kewajiban mengganti puasa (qada) dan belum sempat menggantinya sebelum meninggal. Dalam perkara ini, terdapat beberapa kemungkinan, di antaranya:

Pertama, jika uzurnya berkesinambungan, sehingga tak ada kesempatan membayarnya, maka tidak wajib mengganti puasa dan tidak pula memberi fidiah. Pendapat ini diikuti mayoritas pakar fikih.[1] Rasionalisasinya adalah uzur syar’i yang mengakibatkan seseorang tidak bisa melakukan kewajiban sampai mati, maka secara otomatis kewajibannya gugur.

Kedua, jika pernah sempat menggantinya sebelum meninggal, ada dua pandangan, yakni:

a) menurut pendapat lama imam Syafii (qaul qadīm) bahwa puasa yang belum tergantikan tersebut, maka boleh digantikan oleh ahli waris. Pendapat ini berdasarkan hadis Aisyah ra.: “Nabi bersabda: barangsiapa meninggal padahal ada kewajiban puasanya, digantikan oleh walinya.”[2] Puasa digolongkan sebagai ibadah maliyah yang terkait dengan harta, sehingga boleh ada pergantian setelah wafat seperti pada ibadah haji.[3]

Jika walinya pun tidak sanggup berpuasa, maka wali tersebut dibolehkan untuk memerintahkan atau memberi upah kepada orang lain untuk menggantikannya. Namun, jika orang lain berpuasa tanpa izin walinya, maka penggantian puasa ini tidak sah.

b) pendapat baru Syafii (qaul jadīd), tidak sah walinya menggantikan puasa, terlebih membayar orang lain berpuasa untuknya. Yang wajib bagi wali adalah membayarkan fidiah setiap hari kepada seorang miskin. Hal itu sesuai hadis Abdullah ibn Umar: Nabi bersabda: “Siapa meninggal dan punya utang puasa, walinya bertanggungjawab memberi makan satu mud setiap hari kepada seorang miskin”.[4]

2. Hukum bagi mereka yang meninggal dan punya utang puasa, lalu mendapatkan Ramadan berikutnya sebelum qada. Ada dua kemungkinan dalam perkara ini:

Pertama, hanya wajib membayar fidiah satu mud (510 gram beras); dan

Kedua, wajib membayar fidiah dua mud (1.020 gram beras); satu mud untuk puasanya dan satu lainnya karena mengakhirkan puasa qada. Pendapat kedua Ini paling diterima dalam mazhab Syafii.[5]

Demikian sekelumit terkait hukum puasa ramadan bagi orang yang meninggal dunia dengan uzur. Semoga membawa manfaat untuk kita semua. Wallahu A’lam.

Daftar Referensi

[1] ‘Abd al-Razzāq al-Ṣan’ānī, al-Muṣannaf, Taḥqīq: Markaz al-Buḥūṡ wa Taqniyatu al-Ma’lūmāt, Juz IV, (Cet. I; Mesir: Dār al-Ta’ṣīl, 1436 H/2015 M), h. 65. Nomor hadis 7766. Teks hadisnya: عَنِ الحسنِ قَال: إذا مرِض الرجل في رمضان فلم يزل مريضا حتي يموت، فليس عليه شيئ… 

[2] Imām al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Ṣaum, Bāb Man Māta wa ‘Alaihi Ṣaum, Juz III, h. 35. Nomor hadis: 1952. Teks hadisnya: مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ، صَامَ عَلَيْهِ وَلِيًّهُ 

[3] Yaḥyā al-‘Imrānī al-Syāfi’ī al-Yamanī, al-Bayān fī Mażhab al-Imām al-Syāfi’ī, Juz III, (t.t: Dār al-Minhāj, t.th), h. 546.

[4] Ibn Mājah, Sunan Ibn Mājah, Kitāb al-Ṣiyām, Bab Man Māta wa ‘Alaihi Ṣiyāmu Ramadān, h. 232. Nomor hadis: 1757. 

[5] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz VI, (Jeddah: Maktabah al-Irsyād, t.th), h. 419.

 

Baca Juga...
Komentar
Loading...