Jika Makkah Negeri Yang Aman, Kenapa Corona Bisa Masuk?

0

Jika Makkah Negeri Yang Aman, Kenapa Corona Bisa Masuk?

Oleh: H. Abdul Waris Ahmad

(Pegawai Kemenag Wajo, Imam Masjid Agung Ummul Quraa Sengkang-Wajo)

Tanya:

Mengapa pemerintah Saudi menutup Masjidilharam yang berakibat umat tidak bisa lagi melaksanakan tawaf, sai, dan mendapatkan kemulian pahala lebih dari 100.000? Bukankah Allah menjamin tempat itu dari bahaya penyakit? Bahkan, Allah swt menjamin keamanannya. Dalam QS ali Imran/3: 97:

و مَنْ دَخلهُ كَانَ آمِنًا

“Siapa yang memasukinya (baitullah) amanlah ia”

Tapi mengapa pemerintah dan ulama di sana terlalu takut, bukankah mestinya seorang hamba hanya takut kepada Allah? Apakah mereka tidak paham hadis dan ayat?

Jawab:

Sesungguhnya, yang lebih tahu tentang ayat dan hadis adalah ulama di sana. Akan tetapi, mereka dalam beragama sangat cerdas, tidak salah dalam bertawakkal. Mereka sangat yakin bahwa Allah memberikan ujian kebaikan dan ujian keburukan untuk dihadapi dengan kepala dingin, dengan otak yang cemerlang, bukan dengan sebuah keyakinan tanpa didasari ilmu dan akal sehat. Jika hanya berbekal keyakinan, tanpa disuplai energi ilmu, maka yang muncul adalah perihal sesat dan menyesatkan.

Sebagian dari kita kadang terlalu mensakralkan sesuatu, sehingga karena kesakralannya ia diyakini tidak akan tertindas oleh zaman, tidak akan berlalu seiring pergantian masa dan waktu. Kekaguman akan kesakralan itu, terkadang membawa kepada titik krusial, di mana tidak bisa lagi membedakan antara yang abadi dengan yang baru, antara perintah dengan anjuran, antara keyakinan, syariat, dan akhlak.

Baca: Hukum Taklid Bura dalam Sosmed

Termasuk dalam hal ini adalah kedua tempat paling suci di muka bumi, Makkah dan Madinah. Di Makkah, terdapat Masjid al-Haram yang di dalamnya ada Kakbah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Multazam, dan beribadah di dalamnya lebih mulia dari seratus ribu kali dari tempat lainnya. Demikian pula di Madinah, terdapat Masjid Nabawi yang di dalamnya ada makam Rasulullah dan Raudah. Beribadah di dalamnya lebih mulia dari seribu kali dari tempat lainnya. Sehingga, wajar jika sebagian kita sangat memulikan dan bahkan mensakralkannya.

Namun, benarkah tempat suci itu tidak akan masuk padanya penyakit covid-19 yang disebabkan oleh virus korona?

Menjawab pertanyaan tersebut, perlu penelusuran beberapa riwayat dan pandangan ulama. Ada hadis yang secara tegas menyebutkan penyakit taun dan ada pula yang menyebut wabah. Yang manakah di antara kedua nama virus itu yang tergolong korona, apakah taun atau wabah?

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, dalam kitab Bazlu al-Ma’un fi Fadli al-Ta’un, ada perbedaan wabah dan taun, wabah lebih umum dari taun, semua penyakit menular dan mematikan adalah wabah. Sedangkan taun adalah nama khusus dari salah satu wabah yang mengerikan dan sangat berbahaya bagi kehidupan (h. 104).

لاَ يَلْزمُ منه أنَّ كُلَّ وَبَاءٍ طاعُون، بلَ يدُلُّ علي عكسِه، و هو أن كلَّ طاعون وباء

“Tidak semua wabah adalah taun, akan tetapi sebaliknya, semua taun adalah wabah”

Jadi, dengan memahami wabah dan taun, kita bisa menggolongkan virus korona ke dalam jenis penyakit wabah. Tidak ada yang menjamin bahwa wabah dalam wujud apapun tidak akan menjangkiti dua kota suci, baik itu influenza, demam, korona dalam berbagai “versi” dan lainnya.

Sementara penyakit taun tidak akan masuk ke kedua tanah haram, Makkah dan Madinah. Nabi menjamin Dajjal dan taun tidak akan memasuki Madinah, sebagaimana dalam hadis:

المدينةُ يأتيْها الدَّجّالُ فيَجِدُ الملائكةَ، فلا يدْخُلُها الدجالُ و لا الطَّاعونُ ان شاء الله تعالي.

“Madinah hendak di Masuki Dajjal, lalu dia mendapati Malaikat (penjaga), maka dia tidak akan masuk lagi dan juga penyakit taun. Insya Allah”.

Namun, penyakit wabah menyerang semua tempat, baik Madinah demikian juga seluruh negeri. Aisyah mengatakan, “Kami datang ke Madinah dalam keadaan wabah memenuhi bumi Allah”, yakni suhu badan tinggi. Namun, berkah doa Nabi saw. penyakit demam tinggi diangkat Allah swt. dan dipindahkan ke Juhfah.

Penyakit wabah ini, pernah melanda kota Madinah pada zaman pemerintahan khalifah Umar ibn Khatab dan menyebabkan banyak korban meninggal. Sebagaimana dalam hadis Abu al-Aswad al-Duwali dalam Sahih al-Bukhari:

ُأَتَيْتُ المدينةَ و قَدْ وٕقَعَ بها مَرضٌ، و الناس يَموْتُوْنَ مَوْتًا ذَرِيْعًا…. (رواه البخاري

“Saya datang ke Madinah, ternyata telah merebak penyakit, penduduknya banyak yang mati.”

Ibnu Hajar menceritakan bahwa pada tahun 833 H. wabah taun merebak di Kairo-Mesir dan menelan korban meninggal 40 orang. Pada tanggal 4 Jumadil Ula, mereka keluar ke lapangan setelah berpuasa 3 hari seperti layaknya salat istisqa’, berkumpul berdoa selama 1 jam, kemudian kembali. Hasilnya, setelah bulan itu berakhir jumlah korban meninggal meningkat tajam, setiap harinya lebih 1000 orang (h. 329).

Ibnu Hajar al-Asqalani, memlih isolasi diri tidak keluar bersama raja dan masyarakat untuk berdoa. Dia beralasan bahwa tidak ada rujukan baik hadis atau pun pendapat ulama yang layak dijadikan referensi dalam bertindak seperti itu. Dia memilih berdoa sendiri dengan membaca:

رَبَّنا ظَلمْنا  انفُسَنا و اِنْ لم تَغْفرْ لنا و تَرْحَمْنا لنكونَّن من الخاسِرِين.

Kehati-hatian beliau dengan jalan memilih tinggal di rumah saja adalah tindakan preventif, sebuah usaha nyata dan ikthiar yang sebenar-benarnya, meski takdir berkata lain, 3 dari 5 putri beliau meninggal karena penyakit taun, mereka adalah Fatimah dan Aliyah, keduanya wafat pada tahun 819 H. Sedangkan putri sulungnya Zen Khatun tutup usia dalam keadaan hamil pada tahun 883 H.

Hal terpeting yang harus dipahami Bersama dari kisah di atas adalah bahwasanya tindakan Ibnu Hajar tersebut sangat rekomended untuk dijadikan panutan. Beliau tidak menggunakan prinsip “hidup dan mati adalah takdir dari Allah”. Sedikit pun tidak ada egoisme dalam beragama yang ditunjukkan oleh beliau, kesalehan sosial yang ditunjukkannnya selayaknya menjadi pertimbangan pemikiran kita. Selain kesalehan yang menjadi cahaya terang dalam setiap titah dan tingkahnya, ilmu dan akhlaknya tidak tertandingi saat itu, sampai hari ini. Pensyarah kitab hadis paling terpercaya, Sahih Al-Bukhari, mengetahui menghapal dan memahami secara mendalam semua hadis-hadis nabi saw. 

Sebagai bahan renungan bahwa jika Saudi yang merupakan kota nabi, sahabat, dan ulama yang mulia saja menempuh lockdown dan saat ini raja melarang keras warganya beraktivitas di luar rumah, bagaimana dengan negara lain, termasuk Indonesia?

Kalau pemerintah Saudi saja melarang warganya membuka masjid-masjid untuk pelaksanaan salat Jumat dan salat lima waktu secara berjamaah, bagaimana dengan masjid kita?

Kalau seorang ulama sekaliber ibn Hajar al-Asqalani saja yang hapal al-Qur’an diusia 9 tahun dan ditambah hapal kitab-kitab hadis dan mensyarahnya, lebih saleh, ternyata lebih memilih lockdown dan tidak pergi berdoa dan ibadah berjamaah, bagaimana dengan kita yang banyak dosa, kurang ilmu, dan jauh dari ulama?

Menimbang dari berbagai hal di atas dan berkaca dari berbagai peristiwa korona yang malanda dunia saat ini, tanpa mengenal warna kulit, suku bangsa, negara, dan agama, sudah seharusnya dengan penuh kesadaran dan kecerdasan yang bijak dan berlandasan kuat, kita mengikuti dengan bijaksana petunjuk dan perintah ulama dan umara. Melakukan pembangkangan dan tindakan propokatif yang tidak pada tempatnya dengan dalih membela agama Allah dan takut kepada-Nya pada hakekatnya tidak menunjukkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk melindungi diri dan orang lain dari wabah, sebab keilmuan kita tentang wabah ini sungguh sangat terbatas. 

Melindungi umat adalah bagian dari ketakwaan kita kepada Allah. 

Ibn Hajar menasehatkan bahwa setiap orang muslim yang sudah melakukan ikhtiarnya secara maksimal dengan penuh kesabaran, patuh terhadap aturan, namun tetap terkena dampak wabah, maka ia diberi gelar Syahid, orang yang mendapatkan pahala mati syahid. Siapa di antara kita yang berani meragukan pahala mati syahid? 

Mengakhiri coretan ini, saya tampilkan beberapa peristiwa wabah paling mematikan yang pernah terjadi dari masa ke masa, di antaranya: penyakit taun terbesar dalam sejarah Islam.

1. Taun Syirawaih, terjadi pada zaman Rasulullah saw. terjangkit pada hampir semua kota;

2. Taun Amawas, terjadi pada zaman Umar ibn Khattab di Syam, korban meninggal 25 ribu orang. Termasuk di antara korbannya adalah al-Mugirah ibn Syu’bah, saat menjadi gubernur di Kufah, pada tahun 50 H;

3. Taun al-Jarif, terjadi pada tahun 69;

4. Taun al-Fatayat, dinamakan demikian karena kebanyakan korbannya adakah wanita muda. Terjadi pada tahun 87, wabah ini, terjadi juga di Mesir pada tahun 85, salah satu korbannya adalah Abdul Aziz ibn Marwan;

5. Taun al-Asyraf, dikatakan demikian karena terjadi pada musim haji;

Kelima nama penyakit taun tersebut, paling terkenal dan dikenang dalam sejarah Islam.

Selain itu, ada taun ‘Adi ibn Arthah, masing-masing pada tahun 100, 107, 115, semuanya di Syam; taun Gurab, pada tahun 120 H; taun Salamah ibn Qutaibah, terjadi pada tahun 131,  terjadi di bulan Rajab, dan puncaknya di bulan Ramadan, mulai stabil kembali pada bulan Syawal. Korban meninggal setiap hari 1000 orang;

Semua itu terjadi pada Daulah Umawiyah, bahkan sebagian sejarawan mengatakan samapai bani Umayyah tidak pernah terputus di Syam. Seterusnya, juga terjadi di zaman Daulah Abbasiyah. (Bazlu al-Thaun, h. 361-363).

Dari uraian tentang wabah yang pernah melanda di atas, kita bisa berkesimpulan bahwa wabah tidak memandang siapa, kapan, dan di mana. Dua kota suci pun tidak terkecualikan, bahkan dalam sejarah pernah menyebabkan Jemaah haji berguguran. Tugas kita semua sebagai umat beragama adalah melakukan ikhtiar, berdoa, dan bertawakal.

Demikian, semoga beanfaat.

Wallahu A’lam.

Baca Juga...
Komentar
Loading...