Kafirkah Aku karena Tidak Jumatan?

0

#seritanyajawab 2

Kafirkah Aku karena Tidak Jumatan 3 Kali?

Tanya:
Bagaimana hukumnya meninggalkan salat jumat sebanyak 3 kali selama wabah covid-19 ini masih merebak? Apakah ini digolongkan kekafiran sebagaimana dalam hadis? Bahkan, ada teori konspirasi yang beredar di medsos bahwa kiamat sudah di depan mata.

Jawaban:

Ada paradigma menakutkan yang sudah mengakar di tengah msyarakat, yaitu bahwa meninggalkan salat jumat selama 3 kali secara berturut-turut digolongkan orang munafik, fasik, dan kafir.

Nah, apakah keyakinan tersebut benar?

Sebelum memberi keterangan atas keyakinan dan ketakutan tersebut, wajib diketahui bahwa mukallaf yang wajib melaksanakan salat jumat adalah semua muslim, kecuali hamba sahaya, perempuan, anak-anak (belum aqil balig) dan  orang sakit.

Nabi saw. Bersabda:

الجمعَة حَق وَاجِب عَلي كُل مسْلم فِي جمَاعة الّا أَرْبَعَة عَبْد مَمْلُوك او امرأَة او صَبِي او مَرِيض (رواه ابو داود)

Artinya, “Ibadah Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim kecuali empat kelompok, yaitu: budak, perempuan, anak-anak, atau orang sakit”.

Berdasarkan keterangan hadis yang diriwayatkan Abu Daud tersebut, bahwa setiap yang sudah mengikrarkan dua kalimat sayahadat, sudah wajib melaksanakan ketaatan beribadah, termasuk salat jumat. Namun, ada pengecualian, sebagaimana terjemahan hadis tersebut.

Dalam riwayat lain,

من ترك ثلاث جمع تهاونا بها طبع الله علي قلبه (رواه النسائي)

“Barangsiapa meninggalkan 3 kali salat jumat karena keteledoran (tidak serius atau sengaja), Allah akan menutup hatinya”.

Jadi keyakinan masyarakat terkait meninggalkan salat jumat 3 kali berturut-turut, itu benar adanya. Namun, dalam kondisi tertentu, kewajiban salat jumat itu menjadi gugur dan wajib menggantinya dengan salat duhur.

Kapan kewajiban salat jumat menjadi gugur?

1. Karena sakit keras yang jika memaksakan salat jumat akan berakibat menambah penyakitnya;
2. Dalam keadaan musafir atau perjalanan jauh dengan tujuan perjalanan yang dibolehkan syariat;
3. Hujan deras yang akan membasahi pakaian. Hal ini, sangat kondisional karena sekarang sudah ada kendaraan yang bisa melindungi dari air;
4. Karena ada ketakutan yang membahayakan diri, keluarga, dan harta benda;
5. Karena keadaan darurat yang menyebabkan terjadinya korban. Seperti wabah thaun yang pernah terjadi pada zaman nabi dan sahabatNya.

Darurat yang dimaksudkan adalah emergency yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Virus corona yang melanda bumi hari ini adalah bagian dari bencana yang mengancam diri dan orang lain. Penyebarannya dari orang ke orang, sehingga dikhawatirkan dengan bertemunya seseorang dengan orang lain, akan memindahkan virus dan tentu sangat mengancam.

Oleh karena itu, sesungguhnya yang dilarang adalah bertemunya banyak orang, di mana satu sama lainnya tidak bisa menjamin steeril dari virus corona itu. Sementera pelaksanaan salat jumat wajib dengan cara berjamaah. Maka dengan pertimbangan penularan virus secara masif itu dari orang ke orang, sudah terbukti menelan banyak korban jiwa, menyebabkan gugurnya kewajiban jumat, karena kondisi ini diyakini sebagai darurat.

Agama Islam sangat mendahulukan prinsip kemanusiaan dari pada ibadah secara berjamaah. Kendati demikian, kewajiban ibadah dirumah tetap wajib dilaksanakan.

Berikut, saya tampilkan beberapa riwayat hadis yang membolehkan tidak melaksanakan salat jumat karena kondisi darurat, di antaranya;

من سمع النداء يوم الجمعة فلم يأتها، طبع الله علي قلبه، و جعل قلبه قلب منافق (رواه البيهقي)

“Barangsiapa mendengar panggilan azan di hari jumat dan tidak memenuhinya, Allah akan menutup hatinya, dan mejadikan hatinya sebagai hati orang munafik”

Hadis lain,

من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين (رواه الطبراني)

“Barangsiapa meninggalkan tiga jumat tanpa ada uzur (alasan syar’i), dia termasuk orang munafik”.

Hadis lain,

من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله علي قلبه (رواه ابو داود الطيالسي)

“Barangsiapa meninggalkan salat jumat 3 kali berturut-turut tanpa uzur, Allah akan mengunci hatinya”.

Hadis lain

من ترك الجمعة ثلاثا من غير ضرورة طبع الله علي قلبه (رواه ابن ماجه)

“Barangsiapa meninggalkan salat jumat tanpa darurat, Allah akan menutup hatinya”.

Dalam hadis Ibnu Abbas:

عن ابن عباس من قول النبي صلى الله عليه وسلم: «مَنْ سَمِعَ المنادِيَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنَ اتِّبَاعِهِ، عُذْرٌ»، قَالُوا: وَمَا الْعُذْرُ؟ قَالَ: «خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ، لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى».

“Barang siapa mendengar azan, tak ada yang menghalanginya kecuali uzur, sahabat bertanya; uzur bagaimana itu? Dia menjawab; ketakutan dan penyakit…”

Hadis Ibnu Abbas;

روي في الصحيحين: «أن عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ قال لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ: إِذَا قُلْتَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَلاَ تَقُلْ حَيّ عَلَى الصَّلاَةِ، قُلْ: صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ، فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا، قَالَ: فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ، فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ».

“Diriwayatkan dalam dua kitab sahih (Bukhari dan Muslim) bahwasanya Abdullah Ibn Abbas berkata kepada muazzinnya pada hari yang diguyur hujan lebat: Apabila kamu membaca ” أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ, maka janganlah ucapkan :  حَيّ عَلَى الصَّلاة، akan tetapi bacalah: صَلُّوا فِي بُيُوتِكُم (salatlah di rumahmu)”.

Tindakan Ibn Abbas tersebut diingkari oleh banyak kaum muslimin, lalu ia menjawab: “hal itu telah dilakukan oleh orang yang lebih mulia dan kebih henat dari saya”. Memang Jumat itu kewajiban (‘Azmah) akan tetapi saya benci menyuruh kalian keluar untuk jumatan…”

Jadi, kalau soal hujan deras saja bisa menjadi alasan untuk tidak keluar melaksanakan salat jumat, bagaimana dengan virus corona yang bisa mengakibatkan hilangnya jiwa karena cepatnya mewabah?

Demikian sedikit torehan ini, sebagai bagian dari pencerahan atas kecemasan dan kebingungan umat terkait salat jumat pada situasi covid-19.

Sengkang, jumat, 17-04-2020
Imam masjid Agung Ummul Quraa Sengkang- Wajo,
[H. Abdul Waris Ahmad]

Baca Juga...
Komentar
Loading...