Mana Yang Benar; Insya Allah Atau In Sha Allah?

3
757

Tradisi “ber-selancar” di dunia maya menjadi fenomena baru. Media sosial (medsos) memang sangat menarik perhatian. Tanpa sengaja dan tanpa dirasa terkadang kita sudah menghabiskan energi dan waktu berjam-jam hanya membaca pesan WA, Fb, Tweeter, dan lainnya.

Namun, daya dan minat baca menjadi redup jika kita disuguhi buku bacaan yang agak tebal, terkadang membaca daftar isinya saja malas. Apalagi memabaca isinya.

Lebih parah lagi, pada umumnya netizen hanya membaca judul tanpa mendalami konten-nya. Tidak jarang terjadi ujaran kebencian lahir dari sebuah statemen yang belum dimengerti dan langsung diviralkan.

Itulah salah satu keunikan sekaligus kehebatan masyarakat Indonesia baru baca kovernya sudah langsung paham kontennya. Hehe…

Hari ini, saya diminta oleh salah seorang netizen membahas pernyataan Dr. Zakir Naik (boleh jadi editan, bukan Dr. Zakir yang berkata demikian), mengenai penulisan dan bacaan إن شاء الله.  Tentu yang dimaksudkan adalah transliterasi  In Sya Allah atau In Sha Allah, mana yang tepat dan mana yang kurang tepat.

Saya tidak berani membenarkan atau menyalahkan salah satu dari kedua transliterasi tetsebut. Boleh jadi transliterasi yang digunakan dalam negaranya berbeda dengan yang digunakan dibelahan dunia lain termasuk Indonesia. Apalagi jika itu dikaitkan dengan bahasa inggris. Saya hanya dalam kapasitas membantu memberikan argumentasi berdasarkan pemahaman terhadap bahasa arab.

Dahulu, pada zaman risalah, Rasulullah ditantang sekolompok pemuka kafir quraisy. Mereka bertanya kepada nabi tentang “kiamat, ruh, dan Zulqarnain” nabi menjawab “Besok” saya akan menjawab kalian. Nabi sengaja menangguhkan jawaban karena berharap ada wahyu yang turun kepadanya sebagai penjelasan dari pertanyaan mereka.

Keesokan harinya mereka datang menagih janji nabi tentang penjelasan “kapan terjadinya kiamat, apa itu ruh dan siapa itu Zulqarnain?”

Nabi tidak dapat menjawab karena rupanya wahyu yang beliau tunggu dari Allah swt belum ada. Dalam masalah seperti ini memang nabi memilih tawaqquf atau memilih diam sambil menunggu dalil dari pada menjawab sesuatu yang tidak jelas.

Dalam beberapa literatur klasik seperti Asbab al nuzul lilwahidi mengabarkan bahwa wahyu yang ditunggu nabi itu turun setelah beberapa hari; ada yang mengatakan 15 hari, ada juga yang mengatakan satu bulan lebih.

Setelah wahyu yang ditunggu itu turun, ternyata bukan jawaban yang diharapkannya, melainkan teguran kepada nabi karena telah mengatakan sesuatu tanpa menyandarkan kepada Allah.

ولا تقولن لشيئ إني فاعل ذلك غدا إلا أن يشاء الله

“Janganlah kamu mengatakan saya akan melakukan sesuatu itu “besok” kecuali dengan kehendak Allah”. Maksudnya In Sya Allah.

Ditegaskan bahwa ketika nabi berjanji akan menjelaskan pertanyaan pemuka Quraisy itu, beliau tetap berharap jawaban dari Allah, namun beliau lupa mengucapkan إن شاء الله

Teguran kepada nabi itu, kemudian menjadi syariat bagi umat Islam bahwa apapun yang akan mereka lakukan harus menyandarkan rencananya kepada Allah.

Barangkali peristiwa penting yang pernah terjadi pada diri nabi itulah yang membuat umat Islam sangat sensitif, sehingga mereka tidak ingin satu kosa kata pun dari ajarannya terabaikan apalagi berubah.

Dalam tradisi ilmu nahwu, إن شاء الله tersusun dari tiga kata yaitu In, Syaa’a dan Allah. In berati jika, Syaa’a bermakna kehendak dan lafal Allah adalah salah satu nama dari Tuhan yang disembah oleh manusia. Dari tiga rangkaian kata menjadi kalimat, dapat diterjemahkan “jika Allah menghendaki atau jika Allah berkehendak”.

Pernyataan tersebut dalam agama Islam disebut penyerahan diri kepada kehendak yang mengatur segala sesuatu yaitu Allah. Manusia hanya berfikir dan berencana namun Allah yang menentukan. Pernyataan kesanggupan melakukan sesuatu harus disandarkan kepada Allah swt.

Transliterasi yang digunakan UIN Alauddin Makassar dan dihampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia  huruf ش di tulis dengan fonem “Sy” bukan :”Sh”. Sedangkan huruf ص ditulis dengan fonem “Sh”.

Apa perbedaan antara kedua huruf tersebut?

In Sya Allah (إن شاء الله) bermakna “jika Allah berkehendak” sedangkan jika ditulis In Sha Allah (إن صاء الله) maka tidak ada maknanya. Dalam kamus almuhit, lafal الصاء adalah sesuatu yang keluar dari kemaluan perempuan setelah melahirkan. Sudah pasti sangat jauh dari tujuan “penyandaran diri kepada Allah”. Dalam konteks ini, saya memilih penulisan “Sy” seperti yang dilakukan di UIN Alauddin Makassar dan Perguruan lainnya.

Sedangkan kalimat إنشاء الله terdiri dari dua kata. Insyaa’ dan Allah. إنشاء adalah masdar dari fiil ruba’i (dalam ilmu sharf; kata kerja yang terdiri dari empat huruf) ينشئ- أنشأ yang bermakna mengadakan atau menuliskan. Sehingga dapat diberi makna “mengadakan Allah”. Ini juga sangat jauh dari tujuan. Bahkan ini tidak jelas karena biasanya isim atau kata benda yang tidak didahului oleh ‘amil akan di baca marfu’ (berbaris fathah) menjadi In Sya’ullah. Saya belum pernah mendengarkan mereka mengucapkan demikian.

Dalam interaksi dengan masyarakat, saya sering mendengar In Sa Allah atau إن ساء الله ini juga terdiri dari tiga kata namun maknanya lebih fatal “jika Allah berbuat jahat”. Dan menurut hemat saya, kalimat inilah yang paling banyak digunakan masyarakat.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang merupakan rujukan para akademisi menulis fonem “Sy” Insya Allah.

Apa pengaruh fonem dan syakal dalam membaca Alquran?

Pada awal kekuasaan Islam, penulisan Alquran belum dilengkapi dengan tanda baca, sehingga Khalifah Ali Bin Abi Talib memerintahkan kepada Abu Aswad Addu’ali untuk menyusun ilmu nahwu secara sistimatis dengan tujuan untuk menjaga ilmu dan Alquran. Namun Abu Aswad tidak segera menindaklanjuti perintah.

Suatu ketika, Abu Aswad keluar kota melewati perkampungan yang dihuni oleh penduduk ajam (bukan bangsa Arab). Beliau mendengar salah seorang dari mereka membaca Alquran أن الله بريئ من المشركين و رسوله kata rasuluh dibaca rasulih. Maknanya tentu amat berbeda, dengan membaca jar (baris bawah Rasulih) berarti mengikuti kedudukan kata almusyrikiin artinya “Sungguh Allah berlepas diri dari kaum musyrikin dan juga dari Rasulullah). Padahal mestinya lafal rasuluh dibaca marfu untuk membedakan perlakuan Allah kepada kaum musyrik dan kepada Rasul-Nya. Mendengar bacaan itu, Abu Aswad secara spontanitas tergugah hatinya untuk memberi syakal tanda baca pada Alquran.

Akhirnya, upaya yang dilakukan Abu Aswad tersebut diikuti oleh ulama berikutnya seperti Ahmad Al-Farahid al-Basari, mereka terus melakukan penyempurnaan sehingga kita bisa membaca Alquran dengan mudah sampai hari ini.

Masalah Insya Allah dan In Sha Allah yang diviralkan apalagi diributkan di media sosial adalah sesuatu yang biasa-biasa saja namun penting untuk dibaca dengan benar karena terkait makna yang dikandungnya. Dalam konteks hukum “khilaf atau melakukan kesalahan pada sesuatu yang tidak dimengerti tidak ada hukum”

Saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya pelafalan Alquran itu bisa dilakukan dengan benar jika terbiasa membaca dengan baik dan benar. Pakar Ilmu Tajwid mengatakan “didalam diri manusia terdapat 28 mulut (makhraj huruf) sejumlah dengan huruf hijaiyah, dari jumlah tersebut dikelompokkan menjadi 17 dan dari 17 diperciut menjadi 5 mulut (makhraj) yaitu Makhraj halq (tenggorokan), lisan (lidah), syafatain (dua bibir), jauf (rongga mulut), dan khaisyum (lubang hidung)”. Artinya tidak ada alasan untuk tidak bisa, karena Allah telah melengkapi fasilitas dalam diri manusia.

Sebaiknya penulisan fonem “Sh” pada إن شاء الله di tulius dan dibaca menjadi fonem “Sy”. karena masyarakat muslim Indonesia lebih cocok dengan dan mampu melafalkan huruf tersebut, berbeda dengan muslim yang ada di Eropa atau di negara lain.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here