Mendahulukan Agama atau Pemerintah?

0

Mendahulukan Agama atau Pemerintah?

Oleh: H. Abdul Waris Ahmad

(Pegawai Kemenag Wajo, Imam Masjid Agung Ummul Quraa Wajo)

Sejak wabah covid-19 merebak, seluruh sendi kehidupan menjadi lumpuh, keakraban silaturrahim merenggang, ekonomi stagnan, perjalanan wisata dan religi berhenti, tur ke berbagai negara ditiadakan, semua karena kekhawatiran akan pandemi corona yang sangat cepat, masif, dan tak terduga.

Semua elemen turut ambil peran dalam menangani virus mematikan ini; pemerintah, tim kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh dan pemuka agama, dan bahkan masyarakat.

Ketika ulama dan umara bersatu mengeluarkan maklumat, edaran, dan larangan untuk melakukan interaksi yang melibatkan banyak orang, seperti peniadaan salat Jumat, salat berjamaah di masjid, peniadaan salat tarawih berjamaah, salat id, tadarrusan, buka puasa bersama, dan kegiatan amaliyah sosial lainnya, menuai protes dari sebagian masyarakat.

Baca: Masjid vs Pasar, Jika Makkah Negeri yang Aman, Kenapa Corona Bisa Masuk?

Ada yang secara tegas menentang dan melakukan berbagai upaya untuk tetap menjalankan semua kebiasaan dan aktifitas,  dan mengabaikan instruksi pencegahan dari ulama dan pemerintah. Misalnya, tetap jumatan, salat berjamaah, dan tetap bertransaksi di pasar.

Melihat kondisi yang demikian, sebenarnya yang mana harus didahulukan, perintah agama atau pemerintah? Jika dalam hal ini yang harus didahulukan adalah pemerintah, apa landasan kita untuk patuh, bukankah kita hanya wajib patuh kepada perintah agama? Benarkah bahwa haram hukumnya bagi seseorang melanggar aturan dan imbauan pemerintah saat ini?

Jawab:

Menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memulai dengan mengajak untuk membaca sejarah yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebesaran dan keagungan ajaran Islam.

Pada tahun ke-6 Hijriyah (628 M), Rasulullah bersama lebih dari 1000 kaum muslimin menuju Makkah. Rasulullah saw. menempuh perjalanan melingkar yang jarang dilewati pengembara dan para saudagar, agar bisa terhindar dari pantauan pembangkan Quraisy, karena Nabi saw. yakin akan menemui rintangan. Ikhtiar itu beliau dan sahabatnya lakukan untuk melancarkan tur religi untuk pertama kalinya, yaitu menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan.

Usaha nabi saw. tersebut rupanya terciduk juga. Ketika sampai di batas kota, Hudaibiyah atau Syumaisi, kaum Quraisy telah menunggu rombongan Nabi saw. dan sahabatnya. Mereka mencegal dan ingin menggagalkan perjalanan ibadah agung yang disyariatkan Allah untuk pertama kalinya; ibadah haji. 

Terjadi ketegangan di antara kedua kubu. Nabi saw. sengaja tidak membawa pedang kecuali sekedar  alat untuk menyembelih hewan qurban, dengan maksud agar penduduk Makkah tidak menaruh curiga, karena mereka masih merasakan pil pahit atas kekalahan mereka diperang Badar. Namun, dalam kondisi demikian, Nabi saw. tidak membusungkan dada di depan kafir Quraisy, tidak memaksa keadaan memasuki kota Makkah dengan alasan ada Allah dan malaikat-malaikat-Nya yang menjaga-Nya, terlebih lagi apa yang hendak dilakukannya adalah perintah Allah, suatu kewajiban mutlak.

Nabi saw. malah mengambil keputusan yang sangat tidak familier di kalangan sahabatnya, yaitu menempuh jalur diplomasi. Nabi saw. melakukan perjanjian yang konsekuensinya sangat merugikan umat Islam, selain karena telah menempuh perjalanan yang melelahkan dan menghabiskan banyak dana dan waktu, ibadah haji pun gagal dilaksanakan tahun itu. Lebih jauh dari itu, wajah Islam dan martabat mereka seakan diinjak-injak, karena di bagian akhir perjanjian, Nabi saw. menulis: هذا ما قضي عليه رسول الله (inilah hasil diplomasi yang diputuskan Rasulullah), akan tetapi Suhail, duta dari Quraisy tidak menyetujui tulisan akhir itu dan mengganti dengan هذا ما قضي عليه محمد بن عبد الله (ini keputusan Muhammad ibn Abdullah) dan juga lafaz بسم الله الرحمن الرحيم diganti dengan باسمك اللهم.

Umar ibn Khattab dan sahabat lainnya begitu marah kepada mereka dan tidak menyetujui jalur diplomasi yang ditempuh oleh Rasulullah saw. karena dinilai sangat merugikan umat Islam, apalagi ini persoalan akidah dan syariat.

Namun, Nabi lebih memilih mengalah demi kemaslahatan bersama, Nabi tidak ingin melihat ada pertumpahan darah di antara manusia gara-gara memaksakan ibadah haji. Nabi menempatkan kemanusiaan lebih utama di atas ibadah. Rupanya, kebijaksanaan Nabi dalam bertindak, memilih mundur, dan mengurungkan niat untuk menunaikan ibadah haji adalah langkah strategis yang kemudian menjadi batu loncatan kemenangan dan kebebasan umat Islam memasuki Makkah untuk beribadah setelah terjadi fathu makkah (pembebasan Makkah) pada tahun berikutnya, yaitu tahun 630 M. sampai hari ini.

Sebuah kisah yang sangat menarik untuk kita renungkan; mengapa nabi mengalah dari kafir Quraisy? Bukankah pertolongan Allah berpihak padaNya seperti pada perang Badar? Mengapa Nabi tidak memaksakan melaksanakan ibadah haji dan umrah karena itu perintah Allah?

Nabi saw. ingin memberikan keteladanan agung kepada kita bahwa janganlah karena merasa diri benar, merasa lebih hebat, merasa lebih saleh, merasa lebih dekat dengan Allah sehingga mau melakukan apa saja tanpa ada pertimbangan. Nilai keumatan, kemanusiaan, dan kemaslahatan harus menjadi prioritas.

Umar dan sahabat lain, meskipun tidak setuju dengan diplomasi yang dilakukan oleh Nabi, akan tetapi mereka tetap patuh dan taat (سمعنا و أطعنا). Mereka juga tahu dan yakin bahwa tindakan Nabi tentu dilandasi dengan pertimbangan matang dan jauh dari gorengan hidangan Iblis  (تبليس ابليس).

Kisah yang disuguhkan di atas, tentu dapat membantu kita untuk cerdas dalam beragama dan berwarga negara, Sebuah himbauan atau edaran yang pemerintah keluarkan untuk kebaikan warga dan masyarakatnya, tidak akan mungkin sengaja “memasung” tanpa ada tujuan besar, yaitu menjaga kehidupan dan kemaslahatan bersama.

Rasulullah mengatakan: 

عَليَ المَرْءِ المـسلمِ السَّمْعُ و الطَّاعَةُ (رواه البخاري: ٢٩٥٥. و مسلم: ١٨٣٩ 

“Kewajiban seorang muslim adalah dengar dan taat”

Hadis tersebut sangat tegas menjelaskan bahwa muslim yang baik adalah yang mau mendengar wejangan dan mematuhinya. Lafaz hadis itu juga sangat umum, bukan saja kepatuhan kepada ajakan salat, puasa, haji, dan sebagainya, akan tetapi juga dalam segala bentuk kehidupan selama bukan kemaksiatan kepada Allah. Warga negara yang baik adalah warga yang mengikuti perintah pemimpinnya, seperti makmum wajib mengikuti imam dengan penuh adab dan sopan santun. 

Kepatuhan kepada pemimpin adalah nilai yang tak terpisahkan dari nilai ibadah salat yang secara seremonial dilakukan setiap waktu.

منْ اَطَاعَنِيْ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ، و مَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَي اللهَ، و من اَطَاعَ أَمِيْرِيْ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ و منْ عَصَي أَمِيْرِيْ فَقَدْ عَصَانِيْ. (رواه البخاري:  ٧١٣٧. و مسلم: .

“Barangsiapa patuh kepadaku, maka dia telah patuh kepada Allah swt, dan barangsiapa melanggar aturanku, maka dia melanggar aturan Allah swt, barangsiapa patuh kepada pemimpinku, maka telah patuh kepadaku, dan siapa yang melanggar aturan pemimpinku, maka telah melanggar aturanku” (HR. Bukhari: M 7137 dan Muslim: 1835)

Baca: Hukum taklid Buta dalam Medsos

Hadis tersebut, menegaskan rentetan kepatuhan; seorang warga negara yang dipimpin oleh seorang muslim, maka mengikutinya adalah sebuah kewajiban dalam agama. Menaati pemimpin, berarti telah menaati Rasulullah saw, menaati Rasulullah, berarti menaati Allah. Sebaliknya, melanggar aturan pemimpin, berarti melanggar aturan Rasulullah, melanggar aturan Rasulullah, berarti melanggar aturan Allah. 

Dua hal itu, yakni perintah agama dan pemerintah sering menjadi ladang perdebatan, bahkan dijadikan sebuah akar pertengkaran. Padahal, jika memahami hadis di atas, seyogyanya tidak ditabrakkan antara keduanya, karena keduanya adalah perintah agama.

Rasulullah juga sangat mengecam panatisme dalam beragama, yakni mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak. Dosa besar bagi orang yang mementingkan diri sendiri termasuk dalam mementingkan beribadah sementara membawa bahaya untuk orang lain.

Manna Khalil al-Qattan dalam kitabnya Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, al-Tasyri’u wa al-Fiqh, (h. 50), mengutip pernyataan Rasulullah saw. Sebagai berikut:

لَيْسَ مِنَّا منْ دَعَا إلي عَصَبِيَّةٍ، و ليس منَّا مَنْ مَاتَ علي عَصبيَّةٍ، و ليس منا من قَاتَلَ عَلَي عَصَبِيَّةٍ (رواه البخاري و مسلم

“Bukan termasuk umat kami orang yang mengajak kepada fanatisme, mati dalam fanatisme, dan berperang di atas fanatisme”

Islam mengajarkan keyakinan, syariat, dan akhlak yang luhur, akan tetapi tidak menghendaki berlebih-lebihan, baik dalam ibadah, berbangsa, dan bernegara dan semua hal yang bisa menjatuhkan dan mengorbankan orang lain.

Islam datang dengan fleksibilitas dan kerahmatannya. Bisa dibayangkan, seandainya agama tetap mewajibkan jumatan, salat berjamaah di masjid dalam kondisi genting seperti saat ini karena corona, atau tetap berwudu meski dalam keadaan sakit yang bisa menambah penyakitnya, mengharuskan tetap salat tamam dalam keadaan musafir, maka pasti sangat memberatkan umat. Padahal, Allah menginginkan kemudahan bagi hambanya, sebagaimana dalam QS al-Baqarah/2: 185.

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اليُسْرَ، و لاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (البقرة/٢: ١٨٥)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Baca: Kafirkah aku karena tidak jumatan?

Poin yang dapat ditarik dari pembahasan ini, di antaranya: Islam sangat mementingkan nilai kemanusiaan sebelum nilai keagamaan; Islam melarang keras fanatisme berlebihan; syariat sangat lentur dan tidak memaksakan keadaan; patuh kepada ulama dan umara adalah kepatuhan kepada agama (selama dalam kebenaran), dan sebaliknya melanggar ketentuan mereka adalah pelanggaran agama juga.

Wallahu A’lam.

Baca Juga...
Komentar
Loading...