Mendoakan Kebinasaan; Tuntunan Atau Kejahatan?

Hidup plural adalah satu bentuk rahmat. Pergumulan adalah sebuah keniscayaan sosial tanpa mengenal batas suku, bahasa, bangsa, dan bahkan agama.

Di belahan dunia mana pun, menyatukan umat manusia dalam arti homogen tidak akan mungkin bisa dilakukan, karena sudah menjadi skenario Tuhan. Allah menegaskan dalam QS. Al -Hujuran: 13, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling kenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa….”

Juga QS. al-Nahl: 93, “Seandainya Allah menghendaki, niscaya akan menjadikan kamu satu umat, akan tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberi hidayah. Dan kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu kerjakan”.

Hidup berdampingan, rukun, damai, dan harmonis adalah dambaan setiap manusia. Dalam tatanan masyarakat adalah sebuah nilai yang amat penting dipupuk agar tidak terjadi saling mengabaikan, mencurigai, menggurui, apalagi merasa lebih saleh, lebih alim, dan lebih takwa.

Kali ini, saya akan merajut kata terkait “Bhinneka Tunggal Ika”

Ketika nabi Nuh as berdakwah selama 950 tahun, ia sudah merasa terlalu lama mengajak dan memberikan peringatan kepada kaumnya. Namun, dari masa panjang itu, tidak banyak yang beriman dan menuruti syariat-Nya, sehingga Nuh berdoa kepada Allah, “Ya Allah janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara mereka tinggal di atas bumi! Sungguh jika Engkau membiarkan mereka tetap hidup, mereka akan menyesatkan hambamu, dan mereka akan melahirkan anak yang jahat dan kafir.”

Doa nabi Nuh tersebut diijabah oleh Allah. Mereka kemudian ditenggelamkan oleh Allah swt dengan air bah yang memenuhi seluruh jagad raya, sehingga hanya beberapa pasang manusia dan hewan yang tersisa.

Doa nabi Musa as juga diabadikan dalam QS. Yunus: 88 “… Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Firaun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih”.

Permohonan tulus Musa pun diterima Allah QS. Yunus: 91, “dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menzalimi dan menindas mereka. Sehingga ketika Firaun hampir tenggelam dia berkata; aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri)”.

Suatu ketika, Rasulullah melaksanakan salat di depan kakbah. Melihat kondisi itu, salah seorang kafir Quraisy berkata, “siapa di antara kalian yang melihat seseorang telah memotong unta sehingga mengambil darah dan jeroannya untuk mengotori Muhammad?” Mereka pun melakukan itu sambil mengolok-olok dan menertawakan-Nya. Abdullah bin Mas’ud yang melihat kondisi itu, kembali ke rumah Rasulullah dan memberitakannya kepada Fatimah, putri Rasulullah. Fatimah mendatangi Kakbah dan melihat ayahnya sedang sujud sedang jeroan binatang memenuhi punggungnya. Fatimah tak mampu menahan tangisnya. Setelah usai salat, ia berdoa, ” Ya Allah, binasakanlah Quraisy, binasakanlah Quraisy, binasakanlah Quraisy.” Diulang-ulangnya sebanyak tiga kali. Mendengar doa ini, mereka langsung ketakutan.

Setelah itu, Rasulullah melanjutkan doanya, “Ya Allah, binasakan Abu Jahal bi Hisyam, binasakan Utbah bin Rabiah, binasakan Syaibah bin Rabiah, binasakan Al-Walid bin Uqbah, binasakan Umayyah bin Khalaf, dan binasakan Uqbah bin Abi Mu’it.” Doa Rasulullah ini diijabah tiga tahun kemudian, yaitu pada perang Badar. Sebagian mereka dibinasakan oleh Allah atas perbuatannya.

Dalam kesempatan yang berbeda, ketika berdakwah di Thaif, Rasulullah dilempari kotoran dan bahkan batu yang melukainya. Malaikat penjaga gunung turun menawarkan agar gunung yang ia jaga itu menghimpit mereka sehingga hancur. Namun, beliau justru mendoakan kebaikan, “Ya Allah, berikanlah hidayah kepada kaumku, mereka (melakukannya) karena belum mengerti”.

Riwayat lain, setelah nabi ditawari Malaikat, beliau menjawab, “Tidak, tidak… Semoga Allah mengeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang mengesakan Allah.”

Melihat beberapa kenyataan di atas, baik yang diabadikan dalam Alquran maupun yang tertulis dalam beberapa riwayat hadis, dapat ditarik beberapa poin yang harus dipahami: pertama, apakah doa nabi Nuh dan Musa di atas adalah tuntunan?

Menelisik doa nabi Nuh dan nabi Musa dalam ayat tersebut, dapat dipastikan bahwa mereka melakukan itu karena sudah tidak ada lagi harapan untuk membawa kaumnya ke jalan yang benar. Seluruh upaya sudah dilakukan, namun mereka tetap saja dalam pendiriannya, bahkan mereka meletakkan jemari di telinga agar tidak mendengarkan ajakan utusan Tuhan sebagai bentuk ketakaburan mereka. Bukan hanya itu, mereka juga ingin menyiksa dan membunuh utusan Allah.

Dalam kondisi seperti itu, para utusan Tuhan berdoa untuk membinasakan mereka dengan tujuan agar tidak ada lagi generasi yang lahir seperti itu. Setiap ada angka kelahiran, maka makin bertambah kejahatan dan kekafiran. Dari Poin ini sangat jelas bahwa mereka berdoa bagi orang kafir yang sudah melampaui batas kewajaran.

Menurut hemat penulis, mereka berdoa demikian karena sudah melakukan segala cara untuk berdakwah, namun mereka membangkan. Kita belum maksimal, bahkan dakwah kita masih sebatas dinding masjid dan dinding medsos.

Kedua, dalam Fathul Barii, Syarah Ibnu Hajar al-Asqalani, juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad mendoakan mereka binasa karena sudah melampaui batas. Dan yang ketiga, nabi mendoakan kebaikan untuk mereka karena dari mereka masih ada harapan untuk menjadi orang baik.

Fakta yang terjadi pada zaman nabi justru lebih banyak begumul dan berinteraksi dengan non muslim tanpa saling mengganggu bahkan melakukan hubungan bisnis.

Hari ini, kita terlalu sering memandang remeh orang lain lantaran berbeda paham, pendidikan, mazhab, organisasi, ras, suku, dan agama. Seyogyanya perbedaan itu dipahami sebagai rahmat yang membuat kita saling menguatkan.

Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk muslim terbesar dunia sudah pasti beragam identitas. Heterogenitas atau Bhinneka Tunggal Ika itu membuat negara bisa bertahan dan menjadi simpati bagi negara lain. Semoga kecintaan kepada negara semakin mengokohkan persatuan dan kesatuan kita.

Janganlah kita mudah mendiskreditkan sesama bangsa apalagi sesama muslim. Doakan mereka kebaikan dan hidayah, sebagaimana nabi mengajarkannya. Jangan justru menambah kekerasan batinnya karena ucapan, perlakuan, dan doa kita. Jadikan saudara sebangsa sebagai obyek amal dan introspeksi diri.

Jika tidak mampu melakukan yang terbaik untuk sesama, pertegas ciri imanmu dengan berkata baik atau diam. Nabi berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendakla berkata baik atau jika tidak, lebih baik diam.”

Maknai “Sumpah Pemuda” sebagai kristalisasi semangat menegaskan kecintaan kita kepada bangsa dan negara yang aman, sejahtera, dan damai.

Selamat hari “Sumpah Pemuda”, 28 Oktober 2018.

Komentar
Loading...