Mengapa Harus Saya, Mengapa Bukan Dia Saja

Proses transformasi ilmu kian makin mem-bumi, memperolehnya bisa didapatkan melalaui apa saja termasuk media sosial (medsos). Pengaruh media sosial lokal maupun transnasional tidak terelakkan, semua strata bisa mengaksesnya dengan sangat mudah. Agama pun bisa dipelajari dengan cara itu.

Salah satu keunikan era mellanial ini adalah kecenderungan masyarakat belajar melalui layar kecil. Android menjadi daya pikat yang menjanjikan  seakan semua kebutuhan dapat terpenuhi. Memang benar, namun menjadikan google sebagai satu-satunya media transformasi ilmu akan menyulitkan karena tidak akan memberikan filter; mana yang sahih, daif, valid, dan yang layak bahkan bisa menjadi “ganja” dalam praktek agama.

Sesungguhnya semua proses itu baik, namun ada nilai yang akan terabaikan dan sulit didapatkan yaitu ruh seorang mursyid (guru). Doa dan hubungan emosional akan laput dan mengenyampingkan berkah ilmu.

“mengikuti seluruh proses kuliah adalah kewajiban anda karena anda menginginkan ilmu dan ijazah, maka ikutilah aturan kami. Jika anda hanya ingin pintar, maka duduk manis tanpa pakai busana pun anda dapat lakukan di kamar sendiri, anda bisa belajar dan mendapatkan banyak ilmu tanpa harus masuk ke UIN Alauddin Makassar”. Kata Prof. Sabri Samin saat memulai kuliah perdana kelas beasiswa jurusan SHI (Direktur Pasca UIN Alauddin Makassar).

Nabi dalam menerima wahyu terkadang melalui mimpi, terkadang dengan bunyi gemerincing lonceng, dan terkadang melalui malaikat Jibril, sesekali dengan wujud asli dan banyak kali dengan nuraniyahnya (cahaya). Baca (Mabahis Fi Ulum Alquran, oleh Khalil Manna al-Qattan).

Jibril pernah menyambangi Rasulullah dengan wujud laki-laki gagah berpakaian putih bersih, merapatkan kedua lutut-Nya dengan lutut nabi dan meletakkan kedua tangan diatas pahanya. Ia bertanya “Ya Rasullullah beritahu saya tentang iman? Rasul menjawab “kamu percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari akhirat, dan qada dan qadr”. Setelah nabi menjawab pertanyaannya beliau kembli berucap shadaqta artinya kamu benar.

Beberapa sahabat yang menyaksikan peristiwa itu, terheran-heran karena tidak mengenal sosok laki-laki yang bertanya dan juga membenarkan jawaban dari soal yang dipertanyakannya sendiri. Nabi pun menjelaskan kepada sahabat bahwa yang datang itu adalah malaikat Jibril. Bertanya dan membenarkan sendiri untuk mengajari kalian tentang agamamu.

Waktu itu belum ada alat komumikasi handphone, google crome, vidio, twittwr, FB, WA, instagram, email, dan lainnya. Sehingga nabi dan sahabat bisa ON-LINE mencari data dan informasi apalagi menonton video ceramah lewat youtube.

Benar. Namun, nabi dan sahabat dapat langsung on-line tanpa batas, menembus lapisan terdalam dan teratas sehingga mendapatkan akses “infinitum” yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Tempat itu dikenal dengan sebutan المكان المكافحة الذي قربه الله فيه تعالي و ادني (tempat dimana seorang hamba bertemu tuhan tanpa batas). Bukan satelit yang menjadi pengendali berita-berita bumi.

Peristiwa itu, seyogyanya menjadi pelajaran emas bagi kita bahwa sistem talaqqi (belajar langsung dengam guru) yang Jibril dan para sahabat lakukan adalah dalam rangka membangun harmonisasi dan emosional antar guru dengan murid sekaligus silsilah keilmuan yang kuat.

Kosa kata yang saya rangkai kali ini adalah bagian dari introspeksi diri saya sendiri “mengapa harus saya, mengapa bukan dia saja?”

Nabi pernah berpesan “akan datang suatu masa, banyak khutabaa (penceramah) namun sedikit yang ummal (mengamalkan apa yang diceramahkan)”. Riwayat ini ada yang melemahkan, namun secara makna dapat dikontekstualisasikan.

Kondisi kaum muslimin hari ini, mereka terpuruk bukan karena tidak ada yang memberi pencerahan. Justru para dai bertebaran di mana-mana, mulai dari yang kelas lokal, regional, nasional dan bahkan internasional.

Realitasnya, masih banyak umat muslim yang belum tahu membaca Alquran, mandi wajib, berwudu, bertayamum, salat, zakat, berhijab dan lainnya.

Di negara kita, kaum muslimin yang telah melakukan ibadah haji dan bahkan umrah berkali-kali belum mampu mengaktualisasikan makna dari semua ritual haji. Menutup aurat selama ihram, sejatinya dimanifestasikan setelah kembali ke tanah air. Kediplinan beribadah setiap waktu di tanah suci tidak terlihat setelah kembali kampung halaman.

Bahkan menjadi sebuah subordinasi; bagi yang belum berhaji atau umrah harus rajin ibadah karena belum banyak “saldo”. Sementara yang sudah menziarahi dua tanah haram seakan punya investasi yang tak akan habis yaitu salat “arbain” salat 40 waktu selama di Madinah, atau perbandingan 100.000 kali salat di luar masjidil haram dan senilai ibadah umrah jika salat sekali di masjid Quba.

Sebuah kegelisahan yang mendera diriku. Mengapa hal itu terjadi, bukankah itu adalah kewajibanku memahamkan mereka tentang agamanya?

Mungkin cara saya berdakwah yang tidak benar sehingga mereka tidak paham. Mungkin saya berdakwah belum ikhlas sehingga pencerahan saya tidak menembus sanubarinya, mungkin ucapan saya kasar sehingga mereka mendongkol. Atau mungkin saya masih terlalu cinta dunia sehingga mereka memandangku sekedar “pelawak” yang setelah membuat “lelucon mimbariyah” mereka hanya menertawakannya.

Sekumpulan sahabat nabi usai melaksanakan salat, mereka keluar dari masjid bercerita sambil tertawa terbahak-bahak. Melihat kondisi itu, turunlah QS. al-Hadid: 16 “belumkah tiba masa-nya orang-orang beriman itu takut dan tunduk hatinya mengingat Allah…?” (Baca Asbabun nuzul oleh al Wahidi dan tafsir al munir oleh Wahbah al Zuhaili)

Teguran itu bagi mereka yang banyak ketawa di luar masjid setelah beribadah. Sementara hari ini, mereka diajak ketawa di dalam masjid saat mereka melaukan ibadah yaitu mendengar wejangan. Padahal nabi berkata “banyak ketawa itu akan membunuh hati”.

Beberapa kali saya di minta memberikan nasehat pernikahan dengan sedikit “pendahuluan” Ustaz, “ceramah yang singkat dan lucu ya”.

Permintaan itu yang terkadang mendongkol dalam jiwaku, antara melakukan dan mengabaikan. Saya terkadang mengatakan “mengapa ke saya, ke dia saja”.

Saya sungguh merenung “kalau penceramah dan audens sudah bersepakat untuk melakuakn transaksi “lawak” seperti itu, lalu kapan mereka mempelajari agama dengan serius serius?”

Mereka saat di rumahnya menonton komedian, berita kekerasan ala “patroli dan buser”, atau gosip ala “kiss”, membuka chanel TV dakwah yang banyak lelucon. Pegang HP dan memutar ceramah yang hanya “melucu”. Bagaiman bisa mendapatkan ilmu dan hidayah.

AG. Abu Nawas Bintang (Allahu yarhamuhu) pernah berpesan kepada saya “berdakwah itu lihidayatinnas” artinya tujuan dakwah adalah agar manusia mendapat hidayah Allah bukan memaksa mereka. “jangan berdakwah berdasarkan kemauan pasar”.

Sesungguhnya membuat ketawa adalah salah satu pendekatan dakwah yang bisa membuat suasana menjadi cair dan proses “take and give” berjalan nyaman. Namun, yang terjadi malah sengaja membuat sesuatu yang membaut jemaah ketagihan dan hanya terkesan pada guyonannya bukan substansi ceramah. Inilah yang tak diinginkan oleh guru kami.

Tahun 2001 AG. Hasan Basri (alumni As’adiyah di priode awal) pernah memberikan kuliah umum di kelas kami “ma’had aly angk. III), beliau bercerita ketika memburu ilmu di Mekah. Salah seorang grang syekhnya bertanya “mengapa anda datang ke Mekah belajar?” Tak seorang pun dari mahasiswa yang menjawab.

Syekh itu menjawab sendiri لازالة الجهل عني و عن الناس (tujuannya adalah untuk melemparkan kebodohan jiwaku dan kebodohan diluar diriku) artinya belajar itu adalah untuk menjadi orang beradab sekaligus menciptakan peradaban untuk manusia.

Salah satu kekurangan saya saat ini adalah lebih mengandalkan “kiai google” dari pada mengkaji ilmu lewat kiai yang bisa menyapa sekaligus mengusap kepalaku atau “meludahi” mulutku jika aku sudah mulai nakal.

Seorang bijakbestari berkata “menjadikan buku sebagai guru, maka setanlah mursyidnya atau pembimbingnya. Maka bagaimana dengan kiai google? Terkadang baru pencet setannya sudah lebih duluan muncul dari ilmu yang menjadi obyek.

Kesimpulan:

Pertama, biasakan diri belajar melalui guru atau mursyid karena itu akan membuat keilmuanmu semakin kokoh; kedua, berdakwalah dengan santun yang mengundang hidayah Allah; ketiga, belajar melalui medsos sangat bagus, namun jangan lupa merujuk ke kitab original; keempat, jangan membuat sesuatu yang mengakibatkan candu sekaligus ganja yang merusak mental umat; kelima, ucapkan seauatu yang dapat menembus hati bukan hanya pada telinga.

Ya Allah ampuni segala kekurangan dan ketidakmampuan saya menyadarkan hamba-hambamu sekligus me-langit-kan ibadah mereka. Hidayah adalah hak prerogatifmu. Berilah mereka hidayahMu.

Bandara Halim Perdana Kusuma, 15/11/2018. 18.10. WIB.

 

 

 

 

 

Komentar
Loading...