Mengurai Hukum Salat Tarawih

0

Kali ini, saya* akan membahas perihal salat tarawih, sekaligus memberikan referensi dan jawaban valid dan meyakinkan bagi sahabat dan juga para muballig di mana pun berpijak.

Tulisan ini muncul dari giat menelusuri hadis-hadis dalam banyak kitab; Sahih al-Bukhari, Muslim, Muwatta’, dan kitab-kitab Sunan, serta pandangan fukaha yang empat; Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali.

Salat tarawih adalah nama lain dari qiyām ramaḍān. Setiap muslim dianjurkan menghidupkannya di malam-malam Ramadan, lalu di siang harinya memantapkan ibadah puasa.

Dalam hadis Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda:[1]

من قام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه البخاري و مسلم)

Artinya:

“Barangsiapa menghidupkan Ramadan karena bangunan iman dan keikhlasan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

Hadis di atas, lafaz qiyam dimaknai oleh pakar fikih sebagai salat tarawih yang oleh mayoritas ulama menghukumi sunah yang sangat dianjurkan (muakkadah). Setiap umat Islam sangat ditekankan memburu kemuliaan ini karena hanya bisa terjadi sekali dalam satu tahun.

  1. Definisi Tarawih

Kata tarawih berasal dari bahasa Arab. Menurut Ibn Fāris, dalam bukunya Mu’jam Maqāyīs al-Lugah yang ditaḥqīq oleh ‘Abd al-Salām ibn Hārūn, tarāwīḥ adalah bentuk plural dari tarwīḥah, yang bermakna santai dan banyak istirahat.[2] Pendapat ini dikuatkan oleh Manṣūr al-Bahūtī dalam bukunya Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’ bahwa kata tersebut berasal dari kata al-Murāwiḥah, artinya yang berulang. Dinamakan demikian karena para sahabat yang menghidupkan malam-malam Ramadan itu santai dalam beribadah dan selalu duduk istirahat setiap selesai empat rakaat.[3]

Sepatutnya pelaksanaan salat tarawih itu dengan tenang, penuh penyerahan dan kebulatan hati, tidak dengan cara terburu-buru, harus memperhatikan ritme gerakan (tuma’nīnah). Jika jemaah lelah, tidak mengapa duduk santai sambil minum atau menyantap ragam makanan, lalu kemudian melanjutkan salatnya.

  1. Pandangan Ulama Mengenai Jumlah Rakaat Tarawih

a. Mazhab Hanafi

Ulama Hanafi menceritakan riwayat imam Tirmizi bahwa penduduk Madinah melaksanakan tarawih 41 rakaat dengan witir.[4] Sedangkan, Imam al-Zaila’ī (w. 743 H/1342 M) menerangkan bahwa yang paling valid adalah 20 rakaat, hal ini sangat sesuai dengan amalan penduduk kota Madinah dan merupakan warisan dari Umar ibn Khattab yang diteruskan pelaksanaannya pada zaman Usman ibn Affan sehingga menjadi sebuah ijmak.[5]

Pandangan yang sama dengan ulama Hanafi lainnya, seperti Syaikhī Zādah, menegaskan konsistensi para khalifah melaksanakan tarawih 20 rakaat menjadi konsensus yang harus dijaga dan dilestarikan.[6] Dan juga, Aḥmad al-Ṭaḥṭāwī menyatakan: lebih utama mengerjakan tarawih di akhir malam, namun jika dikhawatirkan tidak dapat melakukannya, maka tarawih di awal malam lebih dianjurkan, dikerjakan sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam.[7]

b. Mazhab Maliki

Dalam mazhab Malik, mereka mengamalkan 23 rakaat dengan witir. Muḥāmmad al-Amīr dalam al-Iklīl menjelaskan bahwa tarawih pernah dilakukan 36 rakaat selain witir, lalu kembali dilaksanakan 23 rakaat.[8] Dalam kitabnya yang lain, beliau menegaskan: disunahkan 20 rakaat, dipimpin oleh seorang imam sebagaimana yang dilakukan pada zaman Umar ibn Khattab.[9]

Landasan imam Malik melakukan 36 rakaat adalah karena penduduk kota Madinah Almunawwarah melakukan hal serupa, yakni tarawih sebanyak 36 rakaat. Sedangkan, alasan penduduk kota Madinah melaksanakan tarawih 36 rakaat adalah karena mereka ingin mendapatkan kemuliaan seperti penduduk Makkah. Penduduk kota Makkah melakukan tawaf setiap selesai 8 rakaat, lalu setelah tawaf mereka melaksanakan salat sunah dua rakaat, dan setelah selesai 20 rakaat mereka tidak melakukan tawaf lagi. Kemuliaan inilah yang diinginkan oleh penduduk Madinah. Namun, karena tidak ada Kakbah sebagai tempat untuk melakukan tawaf, maka penduduk kota Madinah pun mengganti kedudukan tawaf itu dengan menambah sebanyak 16 rakaat sehingga menjadi 36 rakaat.[10]

c. Mazhab Syafii

Imam Syafii dan ulama Syafiiyah berpandangan bahwa jumlah rakaat tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 salam selain salat witir.  Boleh dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri, namun lebih utama jika pelaksanaannya dilakukan secara berjamaah.[11]

Imam Nawawi menukil amalan Al-Aswad ibn Yazīd yang melakukan salat tarawih 40 rakaat dan diakhiri dengan salat witir 7 rakaat.

Mazhab Syafii menghidupkan qiyam ramadan sebagaimana hadis Al-Sāib ibn Yazīd yang diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi:[12] “mereka mendirikan salat tarawih 20 rakaat pada zaman Umar ibn Khattab, dengan membaca surah panjang sekira 200 ayat. Bahkan, pada zaman Usman ibn Affan, mereka perpegangan tongkat karena terlalu lama berdiri.[13]

Hadis lainnya, berdasarkan hadis Yazīd ibn Rūmān yang diriwayatkan oleh imam Malik dalam kitab Al-Muwatta'[14] dan al-Baihaqi, beliau berkata: “umat mendirikan salat qiyam 23 rakaat pada zaman khalifah Umar ibn al-Khatab. Lebih jauh, Nawawi juga menuliskan hadis Ali ibn Abi Talib yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, beliau berkata: qiyam ramadan 20 rakaat.

Penjelasan imam Nawawi tersebut memahamkan bahwa sesungguhnya jumlah rakaat tarawih itu tidak terbatas dengan jumlah tertentu. Hanya saja secara proporsional tarawih dilakukan seperti riwayat yang ada, yang telah diamalkan para ulama fikih dan ulama hadis dari kalangan sahabat dan tabiin. Pernyataan imam Nawawī tersebut juga ditegaskan dengan kalimat yang sama oleh al-Khaṭīb al-Syarbīnī.[15]

Imam al-Qadi Abu al-Tayyib mengutip perkataan imam Syafii yang dituliskan oleh imam Nawawi: “adapun selain penduduk Madinah, tidak boleh melampaui dan menandingi penduduk Makkah”.[16] Dari pernyataan tersebut jelas bahwa meski girah ibadah salat tarawih sangat besar, namun tidak dianjurkan melampaui amalan penduduk Madinah.

d. Mazhab Hambali

Tarawih adalah sunah muakkadah. Disepakati validitasnya karena Nabi saw. dan sahabatnya telah melakukannya secara berjamaah, kemudian beliau tinggalkan berjamaah di masjid karena mengkhawatirkan konsekuensi menjadi perintah wajib, yang tentu sangat memberatkan umat. Meskipun nabi tidak lagi melaksanakannya di masjid, namun tetap dilakukannya di rumahnya, sebagaimana dalam riwayat Aisyah yang sudah menjadi kesepakatan.

Menurut pandangan Hanabilah, salat tarawih itu tidak boleh kurang dari 20 rakaat, boleh melebihi.[17] Abdullah ibn Ahmad ibn Hambal ditanya tentang sifat salat ayahnya, yaitu Ahmad ibn Hambal, beliau menjawab: “saya menyaksikan ayahku salat di bulan Ramadan tanpa batas jumlah rakaat”.[18]

Mereka berdalil dari amalan Abd al-Raḥmān ibn al-Aswad yang mendirikan salat tarawih sebanyak 40 rakaat. Kemudian menutupnya dengan tujuh rakaat salat witir.[19]

  1. Kadar Bacaan dalam Salat Tarawih

Amalan ulama salaf dalam salat tarawih sangat luar biasa dan tampaknya amat sulit dijumpai pada masa kini. Mereka mempunyai resistansi yang sangat tinggi dalam menghidupkan malam-malam Ramadan. Ulama salaf membaca surah panjang, seperti surah al-Baqarah yang secara kuantitas lebih dari 200 ayat, tetapi diselesaikan hanya dalam 8 rakaat. Jika sudah memasuki rakaat ke 12, mereka meringankan bacaan dengan membaca surah yang lebih pendek.

Umar ibn Khattab memerintahkan Ubay ibn Ka’ab dan Tamīm Al-Dārī menjadi imam tarawih. Keduanya senang membaca surah berkapasitas 200 ayat. Dikarenakan bacaan terlalu panjang, maka mereka berdiri dengan tongkat dan mereka pulang menjelang fajar.

Imam Malik meriwayatkan dari Abdullah ibn Abu Bakar: “kami bubar dari salat tarawih, lalu menyegerakan makan sahur karena sudah dekat waktu fajar”.

Bahkan, Umar memanggil tiga imam tarawih, imam yang cepat bacaannya disuruh membaca 30 ayat, yang sedang membaca 25 ayat, dan yang lambat 20 ayat.

  1. Mengapa ulama variatif dalam memahami jumlah rakaat salat tarawih?

Abd Raḥmān al-Jazirī menguraikan dalam bukunya bahwa Nabi saw. dan sahabat melakukannya di masjid secara berjamaah 8 rakaat dan menyempurnakannya di rumah mereka. Lalu, pada masa Umar memerintahkan 20 rakaat dipimpin oleh satu imam, disepakati oleh sahabat dan tak seorang pun dari khalifah sesudahnya yang menentangnya.[20]

Abd al-Qādir al-Raḥbāwī menjelaksan berdasarkan penjelasan dan amalan Umar ibn Khattab, salat tarawih dilakukan setelah salat isya sebelum witir dengan 20 rakaat. Ada pun yang melakukannya setelah salat witir dibolehkan, hanya saja menyalahi yang afdal.[21]

Pakar fikih lain, Wahbah al-Zuḥailī menegaskan semua ulama mazhab melaksanakan tarawih 20 rakaat.[22]

  1. Kesimpulan

Kegiatan menelusuri kitab-kitab fikih dan hadis mengenai sejarah tarawih serta resistansi dan konsistensi ulama dalam melakukannya, membawa kita kepada sebuah kesimpulan bahwa ibadah salat tarawih adalah khilafiyah. Ada yang mengamalkan 23 rakaat dengan witir, ada 36 rakaat selain witir dan bahkan ada 41 rakaat dengan witir. Sehingga masing-masing umat nabi Muhammad bisa memilih mana yang mudah dan lebih sesuai dengan kemampuannya.

Ulama fikih dari empat mazhab serta ulama hadis yang dijadikan pijakan hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia, menentukan jumlah rakaat tarawih minimal 23 rakaat dan maksimal 41 rakaat dengan witir.

Terlepas dari riwayat hadis dan pendapat fikih ulama yang dianggap lemah, adalah sebuah konsekuensi dari sebuah metodologi kritik sanad dan matan hadis, terlebih sebuah pandangan fukaha. Namun, setiap umat  nabi Muhammad saw. harus tahu bahwa mereka -para ulama- mempunyai metodologi dan kaidah-kaidah yang sangat kuat dan akurat, sehingga mereka sepakat mengamalkan qiyām Ramaḍan dengan polanya masing.

*penulis adalah pegawai Kemenag Kab. Wajo; Imam Masjid Agung Ummul Quraa Kab. Wajo; Ketua Majlis Qurra wal Huffaz As’adiyah Sengkang, Dosen IAI As’adiyah dan Ma’had Aly As’adiyah.

Daftar Referensi

  1. Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Ṣalātu al-Tarāwīḥ, Bāb Faḍli Man Qāma Ramaḍāna, Juz III, h. 44. Nomor hadis 2009. Lihat juga: Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Masājid wa Mawāḍi’ al-Ṣalāh, Bāb al-Targīb fī Qiyāmi Ramaḍān wa Huwa al-Tarāwīḥ, II, h. 176. Nomor hadis: 759.
  2. Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām ibn Hārūn, (T.t., Dār al-Fikr, t.th), h. 456.
  3. Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz I, (Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1403 H/1983), h. 425.
  4. Muḥammad Sa’īd al-Ṣāgirjī, al-Fiqh al-Ḥanafī wa Adillatuh, Fiqh al-Ibādāt, Kitāb al-Ṣalāh, ( I; Demaskus: Maktabah al-Gazālī, 1419 H/1999 M), h. 229.
  5. Fakhruddin al-Zaila’ī, Tabyīn al-Ḥaqāiq, Syarḥ Kanzi al-Daqāiq, Juz I, (Pakistan: Maktabah Imdādiyah Multān, t.th), h. 178.
  6. Syaikhī Zādah, Majma’ al-Anhur fī Syarḥ Multaqā al-Abḥur, Juz I, (Cet. I; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H/1998), 203.
  7. Aḥmad al-Ṭaḥṭāwī, Ḥāsyiyatu al-Ṭaḥṭāwī ‘alā Murāqī al-Falaḥ Syarḥ Nūr al-Īḍāḥ, (Cet. I; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1418 H/1997 M), h. 414.
  8. Muḥāmmad al-Amīr, al-Iklīl Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, (Mesir: Maktabah al-Qāhirah, t.th), h. 58.
  9. Muḥāmmad al-Amīr, Ḍau’u al-Syumū’ Syarḥ al-Majmū’ fī al-Fiqh al-Mālikī, Juz. I, (Cet. I; Mūrītānia: Maktabah al-Imām Mālik, 1426 H/2005 M), h. 432.
  10. Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’, Juz III, (Jeddah: Maktabah al-Irsyād, t.th), h. 527.
  11. Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’, 527.
  12. Al-Baihaqī, al-Sunan al-Kubrā, Taḥqīq: Muḥammad ‘Abd al-Qādir ‘Aṭā’, Juz II, (Cet. II; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M), h. 698-699. Teks hadisnya: عن السائب بن يزيد قال: كانوا يقومون علي عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في رمضان بعشرين ركعة، قال: و كانوا يقرءون بالمئين و كانوا يتوكأون علي عصيهم في عهد عثمان رضي الله عنه من شدة القيام.
  13. Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’, h. 527.
  14. Imām Mālik, Muwaṭṭa’ Mālik, Kitāb al-Ṣalāh, Mā Jā’a fī Ramaḍān, Juz I, h. 172. Nomor hadis: 303. Teksnya: عن يزيد بن رومان، أنه قال: كان الناس يقومون في زمن عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث و عشرين ركعة.
  15. Al-Khaṭīb al-Syarbīnī. Mugnī al-Muhtāj ila Ma’rifati Ma’āni Alfāẓi al-Minhāj, Juz I. (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1421 H/2000 M), h. 460.
  16. Imam Nawawi, al-Majmu, Syarh al-Muhazzab li al-Syairazi, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’, h. 52
  17. Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz I, (Beirut: ‘Ālam al-Kutub, 1403 H/1983), h. 425-426. Nasnya: (و لا ينقص منها و لا بأس بالزيادة).
  18. Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz I, h. 426. Nasnya: (رأيت أبي يصلي في رمضان ما لا يحصي).
  19. Manṣūr al-Bahūtī, Kasysyāfu al-Qinā’ ‘an Matni al-Iqnā’, Juz I, h. 426.
  20. Abd Raḥmān al-Jazirī, al-Fiqh alā al-Mażāhib al-Arba’ah, Juz I, (Cet. II: Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H/ 2002 M), h. 309.
  21. Abd al-Qādir al-Raḥbāwī, al-Ṣalātu ala al-Mazāhib al-Arba’ah ma’a Adillati Aḥkāmihā, (Suria: Dār al-Salām, t.th), h. 190,
  22. Wahbah al-Zuḥāilī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, Juz II, (Cet. II; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1424 H/2002 M), h. 73.
Baca Juga...
Komentar
Loading...