Niat Puasa Lintas Mazhab

0

Niat Puasa Lintas Mazhab

  • Definisi puasa dan niat
  1. Pengertian puasa secara etimologi dan terminologi

Puasa secara etimologi adalah menahan diri (al-imsāk). Menahan diri dari makan dan minum dan semua yang dilarang. Kata ini juga bermakna menahan diri tidak berkata-kata.[1] Adapula yang mengartikan niat sebagai tujuan melakukan sesuatu (al-Qaṣdu)

Sedangkan puasa secara terminologi syar’i adalah: 

إمساك مخصوصو عن شيئ مخصوص في زمن مخصوص من شخص مخصوص

Artinya:

“Menahan diri dari hal-hal tertentu, di masa tertentu dan orang tertentu.”[2] 

Adapun niat secara etimologi adalah sebagai tujuan melakukan sesuatu (al-Qaṣdu). Sedangkan menurut terminologi, niat dimaksudkan untuk melakukan suatu dan bertekad bulat untuk melakukannya.

  • Pandangan ulama terkait niat
  1. Ulama Hanafiyah

Jika berbicara tentang niat puasa di bulan Ramadan, maka kita akan menemukan beberapa pandangan ulama fikih. Hanafiyah membolehkan berniat di siang hari.

Dalam kitab al-Mabsūṭ, Al-Sarkhasī menekankan: “niat puasa setelah terbit fajar dibolehkan, dengan ketentuan niat dilakukan sebelum tengah hari.”[3]

Ketentuan yang ditekankan al-Sarkhasī ini menguatkan mazhabnya bahwa wujud niat harus lebih lama dalam pelaksanaan puasa hari itu. Al-Sarkhasī menuliskannya sebagai berikut:

“فالشرط عندنا وجود النية في أكثر وقت الأداء ليقام مقام الكل

Alasan Hanafiyah bersumber dari hadis ibn Abbas.[4] Ketika Nabi saw. sampai di Madinah, beliau menjumpai orang Yahudi sedang berpuasa Asyura, nabi bertanya, “Puasa apa ini?” Mereka menjawab, “Puasa Asyura”, yaitu puasa tanda kesyukuran karena pada hari itu Allah swt. Menyelamatkan nabi Musa dan menenggelamkan Firaun. Lalu, Nabi saw. berkata, “Saya lebih pantas bersyukur dari kalian.” Hari itu, nabi perintahkan yang sedang makan agar tidak melanjutkan makannya dan yang belum makan segera berpuasa. Maka, berdasarkan peristiwa itu, nabi membolehkan niat puasa di siang hari. Pada saat itu, puasa Asyura adalah kewajiban.[5]

  1. Pandangan Malikiyah

Berbeda dengan mazhab Maliki, Ibn Abd al-Bar al-Qurtubi dalam al-Kaafi menegaskan: “puasa wajib dan sunat tidak sah tanpa niat, dilakukan sebelum terbit fajar.” Mereka berhujah hadis Umar ibn Khattab: “(انما الاعمال بالنيات) semua jenis ibadah itu sangat tergantung pada niat.” 

Hal yang paling menarik terkait niat puasa menurut mazhab ini adalah dibolehkannya berniat untuk puasa hanya satu kali niat saja selama satu bulan penuh. Jika telah masuk satu Ramadan, maka boleh berniat di malam harinya untuk satu bulan penuh, tidak mesti harus setiap malam. Namun, niat sebulan penuh tersebut tidak berlaku bagi wanita haid, musafir, dan orang sakit. Mereka tetap harus memperbaharui niat ketika berkehendak berpuasa kembali setelah puasanya terputus di dalam bulan ramadan itu.[6]

  1. Pandangan Syafiiyah

Adapun hujah Syafii adalah berdasarkan hadis Abdullah ibn Umar dari Hafsah ra. “tidak sah puasa bagi orang yang tidak berniat di malam harinya”. Dalam lafaz lain dikatakan, “tidak sah puasa bagi yang tidak berniat sebelum terbit fajar.” 

Imam Nawawi berkomentar: “niat wajib dilakukan setiap malam, baik puasa wajib Ramadan, juga puasa wajib lainnya, seandainya berniat pada awal Ramadan untuk satu bulan, maka itu tidak sah, niat satu bulan itu hanya meng-cover satu hari itu saja.[7]

Menurut mazhab ini, dianjurkan melafazkan niat dengan lidah. Hari ini, di negara kita, sebagian petugas masjid mengingatkan jemaah berniat setiap usai melaksanakan salat tarawih dan witir. Tentu, sebuah tradisi baik (al-Urf) yang layak dijaga eksistensinya, dalam sebuah kaidah (العادة محكمة).

Tampak al-Ahnāf dan Syafii memiliki kesamaan persepsi mengenai puasa nazar, puasa kafarat, dan puasa pengganti, yaitu sama-sama mewajibkan niat di malam hari. Juga, dalam hal puasa sunat, sama-sama membolehkan niat sebelum tergelincir matahari.

Al-Khatīb al-Syarbīnī dalam kitabnya Mugnī al-Muhtāj ilā Ma’rifati Ma’ānī Alfāżī al-Minhāj mengatakan bahwa syarat niat puasa ramadan adalah niat itu bermalam, yakni niat wajib dilakukan di waktu malam.[8] Hujah ini oleh al-Syarbīnī berdasarkan petunjuk hadis Hafṣah ra. Yang diriwayatkan oleh imam al-Nasā’ī (w. 303 H):[9]

 من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له (رواه النسائي: 2652)

  1. Pandangan Hanabilah

Mazhab Hambali berpendapat sama dengan mazhab gurunya, yaitu Syafii. Menurut salah satu pembesar mazhab ini, Ibn Qudāmah (w. 620 H), menjelaskan: “sudah menjadi konsensus ulama kami bahwa tidak sah puasa tanpa disertai niat, baik itu puasa fardu, demikian juga puasa puasa sunah, dengan syarat niat dilakukan sejak pada malam hari.”[10]

Sedangkan pandangan ulama Zahiri, ibn Hazm al-Andalus menyatakan: “tidak ada puasa baik Ramadan atau lainnya, kecuali disertai niat baru setiap malam untuk puasa hari besok.”[11]

  • Kesimpulan

Merujuk kepada beberapa pandangan ulam lintas mazhab, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Mazhab Hanafi membolehkan niat puasa di siang hari, baik puasa fardu maupun puasa sunah, dengan ketentuan niat dilakukan sebelum tengah hari;
  2. Mazhab Maliki membolehkan niat satu bulan langsung, dengan ketentuan niatnya dimulai di awal Ramadan;
  3. Mazhab Syafii dan Hambali mewajibkan niat puasa wajib di malam hari dan mensyaratkan niat itu bermalam (tabyit). Sedangkan puasa sunat boleh niat di pagi hari; dan
  4. Mazhab Zahiri mengharuskan niat baru (tajdid niyah) yang dilakukan setiap malam.

Penawaran niat lintas mazhab ini, bukanlah sebuah keharusan. Setiap orang akan mempunyai pandangan berbeda, terlebih bagi mereka yang memiliki akses kepada hadis-hadis nabi diyakini autentisitasnya. Pandangan ulama secara qaulī dalam literasi kitab-kitab klasik, bukanlah sebuah kepastian yang wajib diikuti. Namun, bagi yang belum punya akses luas berselancar di pelbagai mazhab fikih dan kitab-kitab hadis, cukup bagi mereka pandangan yang telah kami paparkan di atas.

Bagi penulis sendiri, sebagai sebuah kehati-hatian (ihtiyati), tidak mengapa seseorang berniat satu bulan seperti pandangan Malikiyah, lalu tetap berniat setiap malam Ramadan sebagaiman dalam pandangan Syfiiyah dan Hanabilah.

Akhirnya, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat muslim, terlebih bagi sekalian mubalig yang membutuhkan referensi kuat dari lintas mazhab. Wallahu A’lam.

Daftar Referensi

[1] Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lugah, Taḥqīq: ‘Abd al-Salām Muḥammad Hārūn, Juz III, (t.t; Dār al-Fikr, t.th.), h. 232.

[2] Imam Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Muṭī’,  Juz VI, (Jeddah: Maktabah al-Irsyād, t.th), h. 248. 

[3] Syamsu al-Dīn al-Sarkhasī, Kitāb al-Mabsūṭ, Juz III, (Beirut, Dār al-Ma’rifah, t.th.), h. 62.

[4] Imām Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Ṣiyām, Bab Ṣaum ‘Āyūrā, Juz III (….), h. 149. Nomor hadis: 1130. 

[5] Abū al-Qāsim al-Zamakhsyarī, Ru’ūs al-Masāil, al-Masāil al-Khilāfiyah baina al-Ḥanafiyah wa al-Syāfi’iyah, (Cet. I; Beirut: Dār al-Basyāir al-Islāmiyah, 1407 H/1987 M), h. 223.

[6] Ibn Abdal-Barr al-Qurtubi, al-Kaafii fii Fiqh Ahli al-Madinah al-Maliki, (Cet.  II; Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 1422 H/2002 M), h. 120.

[7] Imām Nawawī, al-Majmū’, Syarḥ al-Muhażżab li al-Syairāzī, Taḥqīq. Muḥammad Najīb al-Mu’ṭī’,  Juz VI, h. 302. 

[8] Al-Khatīb al-Syarbīnī, Mugnī al-Muhtāj ilā Ma’rifati Ma’ānī Alfāżī al-Minhāj, Juz I, (Beirut: Dār al-Ma’rifah, t.th.), h. 621. 

[9] Imam al-Nasā’ī, al-Sunan al-Kubrā, Kitāb al-Ṣiyām Żikr Ikhtilāf al-Nāqilīn li Khabari Ḥafṣah, Taḥqīq: Ḥasan ‘Abd al-Mun’im Syalabī, Juz III, (Cet. I; Beirut: Muassasah al-Risālah, 1421 H/2001 M), h. 169-170. Nomor hadis: 2652. 

[10] Ibn Qudāmah, al-Mugnī li ibn Qudāmah, Juz III, (Mesir: Maktabah Al-Qāhirah, t.th), h. 10.

[11] Ibn Hazm al-Andalus, al-Muhalla bi al-Atsar, Juz IV, (Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1425 H/ 3003 M), h. 285.

 

Baca Juga...
Komentar
Loading...