Pandemi Corona; Sebuah Timbangan Bagi Ujian Kesalehan dan Akal Sehat

0

Pandemi Corona; Sebuah Timbangan Bagi Ujian Kesalehan dan Akal Sehat.

Oleh:

H. Abdul Waris Ahmad

(Pegawai Kemenag Wajo, Imam Masjid Agung Ummul Quraa Wajo)

Membaca dan menyimak banyak komentar melalui media sosial yang diviralkan terkait penutupan tempat ibadah seperti masjid dan gereja, tak jarang melahirkan emosional. Bahkan, akal sehat pun, terkadang goyah. Betapa tidak, sebagian penganjur agama sangat kuat ber-narasi dan berpidato, menggetarkan hati dan menggugah sanubari, seakan dibalik pandemi corona ini, ada sebuah konspirasi besar terselubung.

Ulama dan zuama bagaikan tak berdaya, logika bewrpikir mereka pun, banyak dihakimi oleh sebagian masyarakat, seakan mereka “lebih ahli” dalam beragama dan bernegara. Padahal, Nabi saw dalam salah satu metodologi-Nya, seperti ini:

قل الحق و لو كان مرا

“Katakan kebenaran itu, walau hasilnya pahit.”

Sejatinya ini, adalah domine pemerintah. Namun, ada metodologi lain yang tak kalah pentignya untuk direalisasi dan direlaksasi, adalah:

ليس كل حق يقال

“Tidak mesti semua yang kita tahu akan kebenaran sesuatu itu harus dipublikasikan.”

Metodologi kedua tersebut, seyogyanya dimiliki oleh masyarakat. Sebuah isyarat pentingnya mempunyai karakteristik dalam budaya berkomunikasi. Bukan suatu aib, jika tidak menformulasikan semua kata-kata dalam bentuk ucapan, dan tindakan, apalagi jika itu, berpotensi menghasut umat untuk menyalakan api cemburu, meskipun itu “katanya” sebuah fakta.

Kehidupan Rasulullah saw bersama sahabatnya, penuh suka cita, karena beliau sangat menghormati dan mencintai mereka, demikian sebaliknya, walau pun itu dalam kondisi tidak normal. Rahasinya, karena mereka pandai menempatkan dan memposisikan diri masing-masing.

Di salah satu kebun kurma, seorang petani mengawinkan pohon kurma. Nabi saw. yang menyaksikan pemandangan yang baru dilihatnya itu, seketika bertanya, “Mengapa engkau melakukan itu?” Petani itu merasa bahwa pertanyaan nabi adalah sebuah signal langit, bahwasanya ia tidak boleh melakukannya. Yang terjadi kemudian adalah ia menghentikan aktivitasnya untuk mengawinkan pohon kurma.

Setelah masa panen tiba, Nabi bertanya, “Mengapa hasil panen tahun ini berkurang?” Sahabat yang ditegur tadi pun menjawab,  “Karena Nabi melarang kami mengawinkannya.” Saat itu, Nabi mengangguk sambil berkata:

انتُمْ أَعْلَمُ بِاُمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih profesional pada urusan duniamu.”

Pernyataan Nabi dalam hadis itu adalah sebuah penyesalan sekaligus pengakuan atas  keterbatasannya di bidang pertanian. Karena, andai saja beliau tidak menegur petani itu saat mengawinkan pohon kurma, hasil kebun akan tetap melimpah seperti tahun sebelumnya.

Imama Nawawi, ketika mensyarah hadis tersebut dalam kitab Sahih Muslim, membedakan kewajiban mengikuti Nabi dalam segi syariat dan segi urusan dunia. Nabi sangat jelas membebaskan umatnya mengatur urusan dunianya selama dalam kemaslahatan yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah (maslahah mulgat).

Seorang sahabat, Salman al-Farisi, pernah memberi masukan kepada Nabi agar membuat parit (al-khandak). Sebuah strategi perang yang nabi sendiri masih tabu atas usulan tersebut. Namun, Nabi saw menyuruh sahabatnya melakukan penggalian atas saran dari Salman. Sebuah tindakan cerdas meskipun baru. Hal itu menjadi bagian dari ide-ide inovatif dan kreatif dalam melakukan sesuatu, dalam hal ini taktik berperang. Hasilnya, kaum muslimin bisa memenangkan perang terdahsyat tersebut dengan menjadikan parit sebagai tameng.

Di suatu subuh, Bilal ibn Rabah, muazin Rasulullah saw, mengumandangkan lafaz yang agak berbeda dangan sebelumnya, ia menambahkan lafaz:

الصَّلاَةُ خَيْرٌ منَ النَّوْمِ

“Salat itu lebih baik dari tidur.”

Setelah salat subuh itu ditunaikan, Rasulullah saw menyanjung Bilal atas penemuan barunya yang sangat baik dalam lafaz azan.

Tentu, masih banyak lagi tindakan Nabi saw. yang akal pertamanya lahir atau muncul dari luar dirinya.

Berkaca dari sejumlah kejadian di atas, apakah hal tersebut menunjukkan bahwa Nabi tidak profesional dalam bidang pertanian dan strategi pertahanan, terlebih dalam masalah ibadah?

Pasti tidak demikian! Nabi saw. wajib fatanah (cerdas), siddiq (benar), tabliq (menyampaikan), dan amanah!

Namun, dalam masalah tertentu, beliau dalam diam, berucap, dan berbuat, terkadang ingin menyampaikan suatu kebenaran melalaui orang lain. Tentu, itu bagian dari strategi memberdayakan sahabatnya. Rasulullah tidak menginginkan sahabatnya vakum tanpa mengoperasikan rasionalitasnya.

Dalam sebuah riwayat:

لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ

“Tidak sempurna agama seseorang yang tidak mengoperasikan potensi akalnya.”

Salah satu keistimewaan ajaran Islam, adalah menjunjung tinggi peradaban, di mana peradaban itu muncul dari akal sehat. Semakin tinggi tingkat peradaban suatu kaum, maka semakin tinggi pulalah kemampuan kaum itu dalam memaksimalkan potensi yang dimilikinya, utamanya kemampuan akal sehatnya. Seorang mukallaf tidak wajib menjalankan ibadah jika akalnya tidak berfungsi.

Terkadang, seorang muslim dalam menjalankan ajaran agama lebih mengedepankan sisi emosional spritualnya yang sangat transenden dan melupakan yang imanen. Padahal, agama lebih memuji sebuah ibadah yang lahir dari kesatuan emosi dan budi.

Di masa pandemi ini, sisi kebatinan umat berada dalam ujian level tinggi. Sebuah realitas diperhadapkan; antara melabrak aturan pemerintah yang terlihat tidak adil ataukah mengikuti suasan batin yang rindu dan merasa abai karena tidak dapat menjalankan ibadah di masjid terlebih dalam suasana ramadan. Dua pilihan ini bak memakan buah simalakama.

Realitas ini kemudian melahirkan perdebatan di sejumlah kalangan. Sebagian menghujat tindakan pemerintah beserta ulama-ulama yang pro pemerintah. Pada dasarnya, perdebatan panjang tidak akan pernah menemukan ujungnya jika kita masih saja mengedepankan 1 sisi, tidak menimbang dengan baik dua sisi dari setiap masalah. Agama mengatur dengan baik setiap perkara manusia, sedangkan manusia dibekali dengan akal dan budi.

Upaya yang dilakukan pemerintah tentu saja telah melewati berbagai saringan dari sejumlah pakar yang terkait. Setiap kebijakan muncul dari hasil timbangan dan diterapkan untuk semuanya.

Mengkerdilkan upaya ataupun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah justru bisa menjadi penghambat bagi jalannya sebuah proses penyelesaian masalah. Alih-alih menyelesaikan masalah, pengkerdilan yang tidak seharusnya justru berpeluang melahirkan masalah baru, rintihan baru, tangisan baru, termasuk dalam hal penanganan pandemi ini.

Rintihan sanubari memang terkadang tidak dapat menerima kenyataan, terlebih mereka yang hatinya sudah akrab terpaut dengan masjid. Namun, jika melihat orang yang terpapar virus, hati ini juga merintih dan berdoa, “Semoga bukan diri dan keluarga kami yang kena.”

Bisa dibayangkan suasana batin keluarga yang ditinggalkan, terlebih jika ia adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Betapa pedih perasaan mereka, belum lagi jika mereka dianggap dan diperlakukan seperti sebuah aib di tengah-tengah masyarakat yang jenazahnya pun sulit diterima oleh orang di sekitarnya.

Jika agama sudah mengatur rapi mekanisme protokolnya, yaitu menjaga diri, menjaga orang lain yang berimplikasi pada keselamatan umat, misalkan dengan beribadah di rumah saja, mengapa kita harus memaksakan diri beribadah di tempat umum hanya karena mengikuti selera batin, padahal mengasah batin dan spritual boleh juga dilakukan rumah?

Bukankah menjaga diri dan orang lain lebih utama dari sekedar memburu ibadah sunah? Bahkan, yang wajib sekali pun boleh tidak dilakukan jika mengancam nyawa, seperti salat jumat.

Tidak wajib hukumnya harus ada “percobaan korban” barulah kita mengharuskan lockdown, karena satu korban jiwa itu sama saja seluruh manusia korbannya. Begitu pun sebaliknya, satu jiwa yang selamat sama halnya telah menyelamatkan seluruh umat manusia.

Konsep ini bisa dibaca dalam QS. Al-Maidah/5: 32. Jika indikatornya tampak dan terbukti sudah jatuh korban, maka pemerintah itu wajib bertindak. Apalagi wabah itu nyata, korbannya sudah ratusan bahkan ribuan. Untunglah, mereka bukan diri atau bagian dari keluarga kita.

Dalam Al-Qur’an, kebanyakan ayat mengatur tentang hubungan antara sesama makhluk, sementara yang mengatur tentang ibadah mahdah tidak banyak. Itu berarti, sisi kemanusiaan lebih utama dari sekedar memuaskan diri beribadah, sementara keselamatan diri dan orang lain lalai.

Bukankah pula di setiap akhir salat kita mengucapkan salam? Salam menjadi sebuah ikrar untuk menyelamatkan orang di luar kita. Ibadah salat adalah sebuah ritual yang wajib istikamah ditegakkan, akan tetapi nilai dari ibadah tersebut harus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibnu Hajar al-Asqalani telah menulis sebuah kitab yang berjudul “بذل الماعون في فضل الطاعون” dengan jumlah 444 halaman.

Di antara isi kitab tersebut menceritakan suasana batin warga Mesir yang terpandemi virus menular (tahun 833 H),  sehingga karena girah keagamaan, mereka keluar ke tempat umum beribadah dan berdoa bersama, dengan tujuan suci, agar badai segera berlalu. Akan tetapi, pertemuan akbar itu tidak bisa terhindarkan, akhirnya satu sama lainnya terpaksa bertemu.

Setelah peristiwa tersebut, korban yang awal pandemi hanya 40 korban meninggal, menjadi 1000 orang meninggal setiap hari.

Nauzubillah min zalik.

Memang benar, bahkan senantiasa dianjurkan dan diminta tanpa henti agar setiap orang memperbanyak doa saat ada wabah. Bahkan, seyogyanya kuantitas dan kualitas ibadah semakin meningkat karena yakin bahwa itu adalah ujian Tuhan, agar semua cepat berlalu. Namun, tidak mesti harus bersama-sama di tempat umum.

Apapun itu, betapa pun jeritan batin melanda, setiap mukallaf tetap harus waspada dengan jalan memerhatikan dengan baik setiap mekanisme yang telah ditentukan oleh agama. Kewaspadaan tersebut adalah bagian dari kepatuhan. Kita diberikan keharusan untuk senantiasa berhati-hati dan mengutamakan kepentingan umat, bukan malah menjerumuskan umat demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Di masa pandemi ini, alangkah baiknya bertindak bijak dengan tidak membandingkan masjid dan pasar, membenturkan keduanya dengan pandangan yang tidak berimbang. Masjid terlalu mulia. Perbedaan keduanya tak ubahnya antara langit dan bumi.

Saya yakin, pandemi corona ini, bagian dari ujian kesalehan dan akal sehat kita. Iman itu salah satu indikatornya adalah rajin beribadah di masjid, namun masih banyak hal lain yang wajib jadi perhatian. Di antaranya, kata Nabi saw menyingkirkan duri dari jalanan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الايمان بضع وسبعون شعبة، افضلها قول: لا اله الا الله وادناها اماطة الاذى عن الطريق).

Bahkan, Nabi menceritakan ada sosok yang leluasa mondar mandir dalam Surga hanya karena memotong bagian pohon yang jatuh dibahu jalan yang menghambat perjalanan kaum muslimin.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لقد رأيت رجلاً يتقلب في الجنة في شجرة قطعها من ظهر طريق كانت تؤذي المسلمين. رواه مسلم

Jika perkara menyingkirkan duri dan memotong pohon dari jalan raya saja sudah ada jaminan surga, bagaimana dengan mengamputasi penyebaran virus yang sudah nyata mencelakakan menelan korban banyak?

Beberapa riwayat yang dikemukakan di bagian awal, jika melihat cara Nabi saw dalam memberdayakan potensi sahabatnya,  tentulah kita paham, bahwa menyerahkan sebuah perkara kepada pemilik kapasitas dan otoritas adalah lebih bijak, sekalipun bertentangan dengan kenyataan dan kondisi batin.

Sahabat Umar pun dalam banyak kesempatan, tidak setuju dengan tindakan Nabi saw karena dianggap bertentangan dengan rasionalitas, namun karena orang yang lebih baik darinya mengatakannya, maka ia patuh.

Nabi mengagatakan:

منْ اَطَاعَنِيْ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ، و مَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَي اللهَ، و من اَطَاعَ أَمِيْرِيْ فَقَدْ أَطَاعَنِيْ و منْ عَصَي أَمِيْرِيْ فَقَدْ عَصَانِيْ. (رواه البخاري: ٧١٣٧. و مسلم: ١٨٣٥).

“Barangsiapa patuh kepadaku, maka dia telah patuh kepada Allah swt, dan barangsiapa melanggar aturanku, maka dia melanggar aturan Allah swt, barangsiapa patuh kepada pemimpinku, maka telah patuh kepadaku, dan siapa yang melanggar aturan pemimpinku, maka telah melanggar aturanku.”

Insya Allah, dengan membumikan pertimbangan rasionalitas yang sehat dalam beragama, maka menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah akan menyelamatkan kita semua. Legalitas agama sudah jelas, demikian juga aturan dalam berwarga negara.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menaati pemerintah muslim hukumnya wajib, berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim di atas. Memberikan kepercayaan yang tinggi kepada pemimpin dalam menjalankan tugasnya, yang disertai dengan pengawasan yang tepat adalah bagian dari kepatuhan kita.

و الله أعلم بالصواب.

Baca Juga...
Komentar
Loading...