Saya Bangga Jadi Santri As’adiyah 3

Saya Bangga Jadi Santri As’adiyah 3

Terdidik untuk Rendah Hati

Mulai 2 Ramadan 1439 H/ 2018 M, semua peserta wajib dikarantina sebagai kegiatan wajib prahaji dengan mengusung tema “Pelatihan Integrasi Petugas Haji 2018”.

Sebuah dilema, antara mengemban tugas rutin sebagai imam rawatib dan imam tarawih di Masjid Agung Ummul Quraa Kab. Wajo dan mengikuti pelatihan integrasi.

Dengan pertimbangan dan dukungan orang-orang tercinta dan kerabat, saya pun menyerahkan salah satu amanat itu ke adik saya yang juga hafiz Alquran, KM. H. Muh. Ansar Ahmad untuk menggantikan saya sebagai imam selama 10 hari. Pilihan selalu mengajarkan kita untuk berpikir bijak dalam memutuskan satu perkara.

Sebuah kebanggaan kembali saya rasakan sebagai santri As’adiyah saat mengikuti Pelatihan Integrasi Petugas Haji 2018.

Pagi, hari ke 3 Ramadan. Ust. Dr. H. Kaswad Sartono (kabid PHU Kanwil Prov. Sulsel) tanpa diduga menyebut nama saya dalam forum resmi tersebut. Ia merekomendasikan saya menjadi imam rawatib dan tarawih selama karantina berlangsung.

Karena tak yakin jika saya telah berada di dalam forum, ia lalu menyisir semua kursi hingga menemukan saya di arah selatan baris ke empat. Beberapa saat kemudian ia memintaku berdiri sekaligus memperkenalkan diri kepada peserta lain.

Rupanya Pak Kaswad masih sangat familiar dengan saya. Dulu, selama saya masih aktif dalam MTQ/STQ sebagai peserta, ia seringkali menjadi pelatih tafsir dalam bidang bahasa arab. Saat itu memang saya yang selalu menjadi duta Provinsi Sulsel pada setiap event nasional.

Malam ke 4 ramadan, peserta pelatihan tetap melaksanakan rangkaian amaliyah ramadan. Semua jamaah menunggu imam tarawih. Saya pun yang bergabung di saf ketiga turut mengarahkan pandangan ke balik pintu masjid mengikuti jamaah lain, berharap ada imam yang akan memimpin ibadah tarawih saat itu. Meski saya telah didaulat dalam forum, namun sebagai santri As’adiyah yang dikenal kental dengan sifat rendah hati tak akan mungkin saya langsung maju ke depan “berperan” sebagai imam. Apalagi saat itu di tengah jamaah ada ayahandaku Dr. H. M. Arsyad (Ka. Kemenag Wajo) yang juga sebagai peserta pelatihan integrasi.

Dalam beberapa jenak, kembali terdengar suara, entah itu pak Kaswad atau siapa. Yang jelas suara itu memanggil nama saya, “Mana ustaz Waris?”
Jamaah melirik ke arah saya, serta merta mendorong saya dengan halus untuk maju ke depan memimpin salat Isya dan tarawih. Bukan saat yang tepat untuk memilih “menolak” karena ini adalah kebaikan, saya pun lalu mengikuti suara dan dorongan jamaah saat itu.

Usai memimpin salat Isya dan tarawih (tanpa ceramah agama sebagaimana biasanya), jamaah terburu-buru kembali ke Wisma Mina karena harus bersiap untuk masuk kelas integrasi menerima materi, nara sumber sudah berada di ruangan.

Di tengah jalan (antara masjid dan wisma) beberapa jamaah menyalami dan menjabat tangan saya dengan erat sambil berucap, “terima kasih”. Terdengar pula suara, “semoga dia yang jadi imam terus”. Saya tidak tahu, apakah ucapan dan bisikan itu murni dari hati mereka atau hanya sekadar basa-basi. Tetapi saya tidak bisa menafikan perubahan sikap mereka yang menundukkan kepala sambil tersenyum dengan penuh hormat jika kebetulan berpapasan atau bertatap muka.

Demikianlah, santri As’adiyah selalu mendapat tempat dan peluang di mana pun. Saya pun mendapatkan itu selama di karantina. Tak ada yang mau jadi imam selama saya ada. Sebuah kebanggaan yang hakikinya bukan untuk disombongkan, namun dihikmati dan dijadikan ladang ilmu dan ladang amal.

Karantina sudah usai, berharap semua tahapan pelatihan yang kami lalui tidak ada kendala dan lulus meyakinkan.

Satu hal yang masih membuat jantung kami berdetak lebih cepat dari biasanya adalah masalah penempatan petugas. Biasanya, petugas akan didistribusikan sesuai kebutuhan kloter di 9 provinsi yang tergabung dalam embarkasi Makassar. Termasuk beberapa kloter dalam wilayah provinsi Sulawesi Selatan karena tidak semua kabupaten/kota terjaring mendapatkan petugas haji karena terbatasnya jatah petugas.

Dari informasi yang beredar, saya ditempatkan di kloter empat. Saya sangat bersyukur karena Sidrap dan Wajo terbilang dekat. Namun, rasanya begitu berat jika harus meninggalkan Wajo dan beralih ke Sidrap. Saya merasa sudah nyaman bersama jamaah di Wajo. Apalagi mereka telah mengenal saya sebagai bagian dari nara sumber manasik haji di Wajo.

Dan benar saja, saya mendapat SK penetapan penempatan petugas. Saya ditugaskan di kloter 4 Sidrap. Kecewa, ya kecewa… , karena harus berpisah dengan Kakan Kemenag Wajo. Pengalaman pertama sebagai petugas tentu amat mengharapkan bimbingan dan petunjuk beliau. Saya pun harus berkunjung ke Sidrap dan mengenalkan diri.

Setelah kurang lebih tiga hari Kemenag Sidrap melaksanakan manasik haji, saya pun datang. Alhamdulillah, saya dapat sambutan baik dari H. Irman, M.Ag (kakan kemenag Sidrap). Meski hanya via telepon, namun petunjuk dan arahannya sangat memotivasi saya.

Hal yang juga sangat luar biasa adalah setelah memarkir kendaraan di depan Masjid Agung Sidrap, saya hanya menemukan sebuah mobil ambulance yang tak jauh dari arah belakang miniatur kakbah (tempat praktik tawaf). Hanya sebuah mobil ambulance. Kemana para jamaah? Haruskah saya bertanya pada mobil ambulance itu?

Bersambung….

Komentar
Loading...