Saya Dan Gurutta Abba 1

Awal tahun 1997, saya menghkatamkan Alquran 30 juz di Dusun Karame Desa Ongko Kec. Belawa setelah menempuh pendidikan sekira 11 bulan 10 hari, di bawah bimbingan langsung gurunda tercinta Amrullah.

Saat itu, saya belum tamat madrasah tsanawiyah. Ketika masih menjalani proses takhassus, gurutta Juhairi –selaku kepala sekolah- menyarankan agar saya mengikuti ujian persamaan. Karena khataman Alquran saya selesai sebelum pelaksanaan Ujian Nasional SMP/MTS, saya pun menunggu hingga beberapa bulan lamanya. Melewati sisa-sisa waktu demi sebuah ijazah yang menjadi kunci kelanjutan pendidikan saya. Masa ujian pun tiba. Saya mengikuti ujian di MTS Ongko. Saat itu, ada dua orang pengawas utusan As’adiyah Pusat Sengkang, satu di antaranya adalah Ambo Lahang. Namun, saya mengenal beliau dengan nama Ambo Lahnaj. Sebuah nama yang saya dapatkan dari hasil pembacaan saya pada sebuah tulisan berbahasa Arab di sampul buku beliau. Tidak ada keberanian yang cukup bagi saya untuk menanyakan namanya. Ambo Lahnaj kemudian menjadi nama yang lekat dalam ingatan saya ketika itu.

Pertemuan di masa itu menjadi mula perjalanan saya di As’adiyah. Beliau mengajak saya melanjutkan pendidikan di Sengkang. “Di Sengkang maki sekolah, Nak. Lanjutkanlah pendidikan di Sengkang, karena kamu seorang penghapal Alquran. Jika seorang penghapal Alquran melanjutkan pendidikannya di Sengkang, itu sangat bagus,” dengan bahasa yang santun, beliau berupaya meyakinkan saya atas ajakannya tersebut. Dengan keluguan seorang siswa tsanawiyah kala itu, saya pun mengiyakannya dengan jawaban, “Iye, Insya Allah.”  Seolah-olah di dalam kepala saya, tidak ada hal yang harus ditanyakan, bahkan tentang prosedur pendaftaran pun tidak saya tanyakan.

Begitu ujian selesai, kami pun berpisah. Meski masih asing, namun ajakan seorang Ambo Lahnaj tidak pernah luput dari kepala dan terus mengiang-ngiang. Tanpa menunggu lebih lama, dengan membawa impian yang bermula dari ajakan orang asing itu, saya pun pulang kampung. Di dalam diri saya, sebuah tekad untuk memenuhi ajakan tersebut tak ubahnya dahaga yang harus segera dituntaskan dengan segelas air.

“Bapak, saya ingin melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang.” Pelan tapi pasti, saya mengutarakan maksud kepulangan saya kepada bapak. Aroma demokrasi sebuah negara kecil hadir di antara kami. Bapak terdiam hingga beberapa jenak.

“Apa itu As’adiyah? Di mana?” Tanyanya kemudian.

“As’adiyah itu pesantren yang ada di Sengkang, Bapak.” Usai mendengar jawaban saya, bapak pun kembali terdiam. Menunduk seraya berpikir.

“Sekolah di DDI Mangkoso saja, Nak.” Ucapnya dengan sorot mata tegas namun bijak. Tampak keraguan di kedalaman mata tersebut. Di kampung saya, DDI Mangkoso memang sangat terkenal. Sejumlah alumninya berasal dari kampung saya, termasuk sanak keluarga.

Lalu saya pun menceritakan ihwal pertemuan saya dengan Pak Ambo Lahnaj. Namun, kecemasan dan kebimbangan seorang ayah tetap geming dari gurat wajah bapakku.

“Lebih baik perbaiki dan perlancar saja hapalanmu. Keutamaan seorang penghapal tidak bisa dinafikan. Dengan hapalan Alqurannya, ia bisa hidup. Meski pergi ke ujung dunia atau berada di bawah lautan sekalipun, ia tetap dimuliakan oleh semesta,” nasehat bapak kala itu.

Hatinya belum luluh, sedangkan tekadku kian utuh. Bermula dari mimpi yang besar, saya tetap bertekad meminta kepada bapak untuk diizinkan melanjutkan sekolah di As’adiyah Sengkang. Dengan hati yang dipenuhi kasih sayang, beliau berkata, “Baiklah, Nak. Lanjutkanlah sekolahmu.”

Setelah itu, kunci itu pun ada di tangan saya. Saya tidak punya banyak kata yang bisa mewakili kegembiraan saya setelah mendengar jawaban bapak. Hanya ada dua kata yang saya haturkan di hadapannya, “Terima kasih.”

Komentar
Loading...