Saya Dan Gurutta Abba 2

Tidak ada yang lebih penting dalam setiap perjalanan kehidupan selain restu dan doa kedua orang tua. Pun demikian yang saya alami.  Meski berat di mata bapak, namun beliau pantang surut setelah melihat kesungguhan dan tekad bulat saya untuk melanjutkan pendidikan di As’adiyah Sengkang.

“Berapa biaya yang kamu perlukan, Nak?” tanya bapak keesokan harinya, setelah perbincangan malam itu.

“Berapa saja,” jawabku sekenanya. Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan bapak, karena saya memang tidak pernah menanyakannya saat bertemu sosok Ambo Lahnaj. Saya pulang ke kampung hanya membawa tekad dan kegembiraan, tidak ada informasi apa-apa meski hanya berupa selembar brosur.

Setelah percakapan itu, bapak mengajak saya ke Ujung Pandang (baca; Makassar). Secepat kilat saya pun mengiyakannya. Di mata seorang anak belasan tahun, bepergian ke kota Ujung Pandang adalah sebuah perjalanan yang menggembirakan. Apalagi, saya jarang bepergian ke Ujung Pandang. Di kota itulah beliau menghabiskan waktu untuk mencari biaya sekolah saya.

“Bersabarlah, Nak. Bapak akan mencarikanmu biaya sekolah,” ucap bapak dengan penuh ketulusan.

Kami tinggal di sebuah rumah panggung yang disewa oleh bapak. Di kolong rumah itu, bapak bekerja sebagai tukang kayu khusus pembuatan kuseng, jendela, dan daun pintu. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, kesedihan menjadi tidak terbendung saat melihat perjuangan dan kerja keras bapak demi anak-anaknya. Dari lantai dua, saya memerhatikan gerak-gerik bapak dengan seksama. Kucur keringat, debu dan ampas kayu yang lekat di kulit bapak, dan wajah lelahnya yang kadang tak tampak di antara gumpalan asap kayu adalah penanda yang tak akan lekang dalam ingatan saya tentang cinta seorang bapak.

Karena tidak tega melihatnya bekerja sendirian, saya putuskan untuk turut membantunya. Namun, setiap kali saya menghampirinya, setiap kali itu pula bapak menepis uluran tangan saya dengan kasih yang tersirat dalam kalimatnya, “kamu di atas saja, Nak.” Beliau sama sekali tidak mengizinkan saya untuk turun. Ketika itu, saya tetap memaksakan diri untuk membantu, meski sekadar memegang bilah kayu yang sedang diolahnya. Bapak tetap kukuh tak memberi izin, betapa kasihnya tak terkira.

“Lebih baik kau mendaras saja di atas. Tidak perlu membantu bapak di sini,” ucap bapak.  

Hati saya seolah tertohok oleh kalimatnya itu. Hingga beberapa hari kemudian, saya tidak hentinya menangis diam-diam, meresapi setiap tetesan keringatnya, menghikmati setiap jerih payahnya demi menyekolahkan anaknya, dan tidak bisa menahan air mata saat melihatnya dengan gesit bekerja dan bergumul di antara ampas kayu. Beliau bekerja semenjak salat subuh usai ditunaikan hingga tengah malam dan hanya diantarai oleh salat dan makan. Demikianlah, bapak tak hentinya bekerja tanpa keluh, meski penuh peluh.

Perjuangannya pun tunai setelah beberapa hari lamannya bekerja. Usai salat isya, bapak menghadapkan wajah dan tubuhnya ke arahku.

“Biaya sekolahmu telah terkumpul,” ucapnya seraya melemparkan senyum.

“Alhamdulillah,” ucap saya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat itu karena tahu betul bahwa uang itu adalah hasil jerih payah bapak selama beberapa hari.

“Apakah uang sebesar lima ratus ribu rupiah cukup untuk membiayamu?” tanya bapak selanjutnya.

“Cukup,” jawab saya lekas. Uang sebanyak itu bisa digolongkan jumlah yang sangat besar pada tahun 1997.

Malam itu, saya tidur di samping bapak, di dalam kelambu yang tak lagi putih. Namun, berwarna gelap akibat asap dan getah kayu yang menempel. Hingga beberapa jenak, saya pandangi wajahnya, dengan mata berkaca-kaca.  Ada haru yang bergemuruh di dalam dada saya.

“Kapan kamu akan berangkat, Nak?” tanya bapak.

“Besok, Pak.”

“Baiklah, Nak. Berangkatlah.”

Kami lalu tertidur membawa isi kepala masing-masing. Barangkali bapak masih memikirkan masa depanku, sedangkan saya masih memikirkan perjuangan bapak. Tengah malam, bapak membangunkan saya untuk salat lail dan mendaras. Ini adalah bentuk cintanya yang lain. Segera perintahnya itu saya laksanakan, meski beliau sendiri memilih melanjutkan tidurnya. Bapak pasti kelelahan, pikirku saat itu.

Keesokan harinya, bapak mengantar saya hingga ke Terminal Panaikang. Seraya menunggu penumpang lainnya, kami pun duduk berdampingan. Bapak mengulang nasehat yang semenjak kecil telah disampaikannya pada saya.

“Kekayaanku adalah jika kamu bisa membedakan yang salah dan yang benar, yang hak dan yang batil. Jangan lupa hapalanmu, karena hal itulah yang akan menjadikan kamu mulia.”

Meski telah berkali-kali mendengarkannya, namun petuah itu terus mendapatkan tempat di dalam hati dan kepala saya hingga kini. Tidak ada kata jenuh dan bosan untuk perkara nasehat dari seorang bapak kepada anaknya, karena inilah yang menjadi perekat cinta dan kasih sayang dalam keluarga kami.

Mobil pun melaju menuju Sengkang. Sebelum pergi, bapak masih sempat memeluk dan membisikkan kembali petuah di atas. Tidak dibiarkannya ingatan saya lekang akan nasehat tersebut. Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Karena nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada alamat yang hendak dituju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *