Saya Dan Gurutta Abba 3

Setelah menempuh perjalanan jauh, saya pun tiba di komplek As’adiyah hanya dengan modal membawa satu nama; Ambo Lahnaj. Tersebab nama itu, saya kehilangan jejak dan arah di kota santri itu. Tidak seorang pun mengenalnya dan tidak ada pula alamat yang hendak dituju. Kaki saya terlampau berat melangkah tanpa modal apa-apa. Dalam keputusasaan, saya menuju masjid di komplek As’adiyah untuk menunaikan salat Asar seraya tetap merawat harapan untuk segera bertemu Ambo Lahnaj. Nama itu pun masuk dalam untaian doa saya usai salat. Tak luput saya menyapukan pandangan ke sekeliling saya, di dalam masjid itu, mencari wajah yang kukenal. Namun, tetap saja tidak ada satu orang pun yang bisa saya kenali.

Kesedihan saya pada akhirnya tiba di puncaknya ketika itu. Bulir-bulir air mata tidak lagi terbendung. Yang tampak di pelupuk mata hanyalah kedua orang tuaku. Saya terlampau nekad bepergian sendirian ke kota yang sangat asing bagi saya. Ingatan tentang saran bapak agar saya melanjutkan sekolah di DDI Mangkoso pun berkelebat. Saya akhirnya sadar, bapak tentu telah menimbang perkara “ke mana tujuanku”. Di Mangkoso, ada banyak keluarga yang bisa membantu, karena mereka pun menjadi santri di sana. Seketika, saya merasa terpuruk demikian dalam.

Dalam kesedihan dan kebimbangan yang campur aduk itu, saya berusaha bangkit kembali dan membesarkan hati. Saya berusaha menemukan kembali tekad yang bulat dan utuh yang pernah saya tunjukkan di hadapan bapak. Terlintas di dalam kepala tentang perjuangan bapak untuk menyekolahkan saya. Karena itulah, saya merasa harus bertanggung jawab mengarungi pilihan ini. Lekas saya menyeka air mata, bukan semata karena tekad itu telah saya temukan kembali, namun karena saya juga malu dengan orang-orang di sekitar saya.

Dengan menenteng sebuah koper tua, saya pun keluar dari masjid untuk mencari kembali seseorang yang mungkin saya kenal. Koper tua ini lalu menuntun kembali ingatan saya ke masa silam. Bagian yang rusak menjadi saksi perjuangannya bersama kakak saya yang telah menjadi santri di Pondok Pesantren Attahiriyah Balangnipa Kab. Sinjai. Terbuat dari tripleks tipis dan dilapisi dengan bahan kulit imitasi, bagian pinggirannya sudah sobek akibat sering terbentur di kendaraan, salah satu pegangannya pun telah lepas. Koper tua ini membawa saya pada satu hal, bahwasanya perjuangan itu harus tetap dilanjutkan, karena di balik perjuangan ada sebuah pengorbanan yang tak boleh sia-sia.

Di teras masjid, saya duduk beristirahat dan memerhatikan para santri yang sedang bermain sepak takraw. Ketika itu, terbersit keinginan untuk turut bermain. Hobi saya di bidang olahraga seolah mendorong saya begitu kuat. Namun, tak kalah kuat dengan ketidakpercayaan diri saya saat itu. Tidak ada satu pun pemain yang saya kenal. Tidak ada pilihan lain selain menjadi penonton saja. Sayangnya, dalam kesendirian  itu, saya kembali ke titik lemah. Tiba-tiba saya teringat kedua orang tua di kampung. Air mataku menetes untuk kesekian kalinya. Entah dari mana datangnya, saya merasa tak ubahnya seseorang yang bepergian jauh hanya untuk membuang diri di kampung orang.

Seseorang datang menghampiri saya ( beberapa waktu kemudian, saya mengetahui namanya Hasan DP). Mungkin ia sudah lama memerhatikan tingkah laku saya yang tampak asing dan terasing. Awalnya, komunikasi kami tersendat karena ia menggunakan Bahasa Bugis ketika menanyakan sesuatu. Suaranya pun terlampau kecil. Karena tidak menjawab, ia pun mengulang pertanyaannya dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Kita siapa?” tanyanya.

“Saya Waris. Saya mau sekolah di sini. Apakah kita mengenal Ambo Lahnaj?”

“Saya tidak mengenalnya,” jawabnya. Lalu ia menyebutkan sejumlah nama yang berawalan Ambo.

Tidak ada satu pun yang saya kenal. Pencarian kali itu kembali menemui jalan buntu. Siapa sesungguhnya Ambo Lahnaj itu? Mengapa tidak ada seorang pun yang mengenalnya? Saya lalu teringat dengan sebuah nama; Ismail. Ia pernah berkunjung ke asrama kami di Karame, beberapa bulan sebelum ujian nasional dilaksanakan.

“Apakah kita kenal Ismail?” tanyaku, dengan harapan ada titik terang.

“Ismail Commo atau Ismail Gagah?” pertanyaannya justru membuatku kebingungan. Rupanya kedua orang itu memiliki nama, kelas, dan asrama yang sama. Pak Hasan memutuskan untuk membawa saya ke Asrama Hijau, tempat siswa MAK kala itu. Pertanyaan Pak Hasan baru terjawab ketika yang muncul di hadapan saya adalah Ismail Gagah, seseorang yang juga asing bagi saya. Orang-orang dalam asrama itu berkesimpulan bahwa orang yang saya cari sudah pasti Ismail Commo yang berasal dari Belawa.

Ismail Commo saat itu sedang tidak berada di asrama. Oleh Pak Hasan, saya dimintanya untuk menunggu saja di kamar Pak Hasan. Ia sedang ke pasar, kata Pak Hasan. Tak berselang lama, orang yang saya tunggu pun datang dan segera menemuiku. Saat bertemu dengannya, beban yang menghimpit dada saya rasanya seketika menghilang. Saya pun dibawanya ke kamarnya di lantai atas Asrama Hijau. Saya bisa bernapas lega karena telah memiliki tempat berteduh. Satu masalah telah teratasi. Namun, muncul masalah lain; lapar.

Hari menjelang senja. Terakhir kalinya saya bertemu makanan hanya pada saat sarapan bersama bapak, sebelum berangkat ke terminal Panaikang Ujung Pandang. Sarapan itu telah menunaikan tugasnya untuk mengganjal perutku hingga saat itu. Seharusnya saya makan siang pada saat bus singgah di rumah makan Anda di Barru. Namun, saya mencemaskan uang sebanyak lima ratus ribu rupiah itu tidak akan cukup untuk membiayai sekolahku jika saya menggunakannya untuk makan siang. Saya paham bahwa biaya sekolah tidaklah sedikit. Selain biaya pendaftaran, masih ada biaya untuk buku, seragam sekolah,  dan kebutuhan lainnya di sekolah. Badan saya mulai gemetar menahan lapar. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menghikmati rasa lapar itu. Rasanya sungguh mustahil jika saya harus sampaikan kepada Ismail. Kami baru bertemu, masih canggung dan asing.

Pertolongan selalu datang dalam waktu yang sangat tepat. Hal inilah yang selalu saya syukuri. Ketika menghikmati rasa lapar, seorang calon siswa baru lainnya juga ada di kamar itu. Namanya Muh. Rusdi Bin H. Ambo Iri. Atas kebaikan hatinya, ia menyuguhkan kue. Ia telah menyelamatkan saya dari rasa lapar. Pertolongan Allah begitu dekat.

Ismail dan Rusdi adalah dua orang yang telah menunjukkan pada saya bahwa masih banyak orang yang memegang teguh nilai-nilai ketulusan, meski kepada orang yang tidak dikenalnya. Dua nama yang tidak bisa saya lupakan sepanjang perjalanan hidup saya, sebagaimana saya tidak bisa melupakan nama Ambo Lahnaj saat itu. Siapa sebenarnya Ambo Lahnaj ini?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *