Saya Dan Gurutta Abba 5

Tiba jualah kami akhirnya pada proses “masuk kelas” setelah melewati perjalanan panjang pada rangkaian penerimaan siswa baru. “Masuk kelas” yang saya maksudkan tak lain dan tak bukan adalah proses pembelajaran di Kelas 1 Jurusan Madrasah Aliyah Keagamaan. Selain kelas klasikal (regular), kami pun mengikuti pembelajaran di pengajian halaqah atau pengajian pesantren. Di As’adiyah, kegiatan ini dikenal dengan nama Mangaji tudang.

Saat roster pelajaran dibagikan, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah Ilmu Nahwu, Sharf, Balagah, dan Arudhi. Pelajaran yang sangat asing, namun rasa asing itu berubah menjadi motivasi bagi saya.  Ketika menjadi santri di Pesantren Attahiriyah Balangnipa Sinjai, saya pun belajar Bahasa Arab. Namun, tidak mengenal nahwu, i’rab dan sebagainya. Bahkan, dalam ingatan saya, kelas Bahasa Arab kala itu hanya ada empat kali pertemuan selama satu tahun setengah (tahun 1994-1995). Asatidz dari Jawa yang merupakan andalan pondok itu telah angkat koper dan meninggalkan pondok sebelum saya berstatus santri Attahiriyah. Pondok pesantren itu pun ibarat kata pepatah “mati segan hidup pun tak mau”. Selama empat kali pertemuan itu, kami dibimbing langsung oleh Ustaz Abu Dzar. Beliau berdarah Balangnipa, jika tidak salah beliau merupakan lulusan LIPIA Jakarta. Karena kesibukannya, beliau sangat jarang masuk mengajar kala itu. Semoga guruku ini sehat walafiat, entah beliau di mana sekarang.

Kami lebih banyak mempelajari Almahfudzat yang diajarkan oleh Ustaz Uddin. Sama halnya dengan keberadaan Ustaz Abu Dzar, saya pun tidak mengetahui keberadaan Ustaz Uddin saat ini. Saat masih di Attahiriyah, beliau bolak-balik ke Lappa Data untuk menekuni usaha ternak ayamnya. Harapan terbesar saya adalah Allah mempertemukan kami kembali, beliau amat berjasa bagi saya.

Gurutta Drs. M. Idman Salewe mengajarkan kitab Alfiah Ibnu Malik (ilmu nahwu) dengan metode menghafal pada setiap pertemuan. Sebuah kesyukuran bagi saya karena bisa menghafal dengan baik dan lancar bait-bait itu. Namun, saya sungguh tidak berdaya jika tiba masanya beliau menjelaskan materi tersebut. Kemampuan saya untuk memahaminya berada di level bawah dan inilah yang menjadi mula munculnya rasa iri terhadap teman lainnya. Melongo adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat mereka berlomba mengacungkan jari untuk mengi’rab kalimat yang diajukan. Nyali saya mennjadi ciut dan diam-diam berdoa dalam hati, “Semoga saja Gurutta tidak menunjuk saya”.

Kondisi demikian terus berulang hingga mengantarkan saya pada kondisi mental yang cukup terpuruk. Satu-satunya kelebihan yang saya miliki adalah hapalan Alquran 30 Juz, sayangnya hal ini tidak dibutuhkan di dalam kelas. Tidak jarang saya mendengar teman saling berbisik tentang kelebihan saya dan tidak sedikit yang bertanya langsung, “Kamu penghapal Alquran?”

Tidak ada jawaban lain yang bisa saya haturkan selain mengiyakannya. Mereka tidak menyadari bahwa pertanyaan tersebut seolah menghempaskan saya hingga ke palung terdalam. Rasa malu yang tidak tertahankan. Bagi saya, pertanyaan itu tidak jauh berbeda dengan pernyataan “penghapal Alquran tapi tidak berilmu luas”.

Suatu ketika, Gurutta Idman masuk mengajar dengan cara yang sama seperti biasanya, yaitu menghapal dan mengi’rab. Begitu seluruh siswa selesai menghapal, Gurutta menambah bait yang akan dihapal dengan menuliskannya di papan tulis. Tulisannya amat indah meski hanya menggunakan kapur. Setelah itu, beliau hikmat menerangkannya. Namun, suara dari belakang tiba-tiba saja membuyarkan konsentrasi kami. Entah apa maksud perkataan teman saya itu, Gurutta tersinggung dan memanggilnya ke depan kelas. Entah gerakan dan jurus apa yang digunakan Gurutta Idman, tiba-tiba teman kami yang bermasalah itu terjatuh ke lantai.

Kejadian itu membuat saya semakin ketakutan. Pikiran buruk pun terus menghantui kepala. Akibatnya, saya jatuh sakit tapi tidak menceritakannya kepada siapapun. Termasuk kepada Abdul Malik, teman baru yang senasib dalam perkara I’rab. Panas di badan saya nikmati sendirian. Tidak ada daya selain berpasrah, karena jauh dari orang tua dan tidak punya uang untuk berobat. Kadang-kadang hidup memang seolah tidak punya pilihan, meski yang kita jalani sudah sangat jelas merupakan sebuah pilihan.

Mental saya sebagai seorang siswa baru di tingkatan aliyah benar-benar diuji. Namun, saya meyakini bahwa setiap titian yang kita lewati tentu memiliki sebuah ujung. Saya berusaha bangkit agar bisa tiba di ujung titian itu. Memotivasi diri sendiri adalah langkah terbaik yang harus saya tempuh sebagai awal kebangkitan. Saya memulai motivasi itu dengan berguru pada tiga orang sahabat sekaligus motivator saya. Mereka adalah Sabaruddin (alumni Al Azhar Kairo), Masyhuri Pamrah (PNS Penghulu Belopa) dan Wahyuddin Yafid (alumni Mesir). Ketiganya merupakan siswa yang paling sering mengi’rab di dalam kelas. Dengan mudahnya mereka menguraikan satu atau dua kata dengan uraian yang sangat panjang dan hal itu makin menambah kekaguman saya. Mereka sungguh luar biasa, pikirku. Ada kalimat yang paling sering dicontohkan Gurutta, yaitu قام زيد، رايت زيدا dan مررت بزيد .

“Man jadda wajada” menjadi sebuah pintu yang sangat lebar bagi saya untuk memasuki dunia i;rab. Tidak ada kesia-siaan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh, demikianlah saya meyakini makna filosofis dari janji Allah Swt tersebut. Semenjak itu, saya mencari jalan untuk berguru. Masyhuri menjadi orang yang sering “terganggu” dengan permintaan saya.  

“Ajari saya mengi’rab,” pinta saya padanya.

“Tidak mungkin bisa. Kamu belum mengetahui tanda-tanda I’rab,” jawaban Mayshuri tak pelak membuatku kebingungan.

“Tanda-tanda I’rab? Hal macam apa lagi itu?” tanyaku dalam hati seraya menyembunyikan kesedihan. Tiba-tiba semangat yang terbangun seolah rubuh tanpa jejak.

Kalimat Masyhuri itu lalu mengingatkan saya pada pernyataan gurutta bahwa jika seseorang mampu menghapal tanda-tanda I’rab maka 99% ia sesungguhnya telah mampu mengi’rab. Saya pun mencari jalan lain. Bukankah selalu ada jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh? Semangat itu patah sekali, tumbuh berganti ribuan kali. Dengan penuh harap, saya meminta Masyhuri untuk menuliskan I’rabnya dari قام زيد. Barangkali ia merasa iba melihat kekurangan dalam diri saya, mungkin juga ia terenyuh melihat semangat yang saya tunjukkan padanya. Di catatanku, pada akhirnya tertoreh dengan sangat baik sebuah hasil I’rab dari tangannya. Catatan itu selanjutnya menjadi modal yang sangat besar sebagai bahan persiapan jika sewaktu-waktu saya ditunjuk untuk mengi’rab. Selalu ada jalan bagi yang bersungguh-sungguh, percayalah!

Hasil I’rab itu selanjutnya tersimpan kuat di dalam dan di luar kepala, meski materi itu sesungguhnya belum saya pahami. Namun, setidaknya saya telah memiliki satu pegangan yang cukup dan telah memperoleh satu kemudahan. Petuah Ust. Bagil (guru Matematika saya di Belawa) pun terngiang kembali, bahwasanya jika seseorang telah menjadi hafiz maka baginya tidak sulit mempelajari yang lainnya. Petuah ini tak lekang hingga hari ini.

Ketidaksabaran saya untuk segera menguasai ilmu I’rab telah mendorong saya untuk belajar lebih kuat lagi. Saat kelas saya tidak terisi guru mata pelajaran, saya menggunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencari kelas lain yang sedang belajar nahwu. Tentu saja belajar di luar kelas dengan cara mengintip dan seksama menyimaknya dari luar jendela. Ini adalah tekad yang tidak terbendung. Keinginan untuk menguasai ilmu itu tidak pernah surut. Kelas yang paling sering menjadi incaran intipan saya adalah kelas tetangga, biasanya diisi oleh Pak Yunus Massekati, Andi Ruslan.

Suatu ketika, saya dan Malik berbincang-bincang membahas kekurangan kami dalam pelajaran itu. Sebuah ide cemerlang pun terlintas dalam benaknya dan mengusulkan agar kami belajar tambahan di rumah Gurutta Ikhwan. Secepat kilat saya menyetujuinya. Alhamdulillah harapan kami terwujud, pada sore hari kami siswa Kelas MAK bisa dibimbing secara takhassus oleh Gurutta Ikhwan.

Aku bincang-bincang dengan Abdul Malik, beliau bilang bagaimana kalo kita belajar sampingan dirumah gurutta pak ikhwan??? Saya langsung respon dan akhirnya kamipun kelas MAK di bimbingan secara takhassus oleh gurutta Ikhwan sore hari saat itu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *