Saya dan Gurutta Abba 6

Dalam perjalanan belajar di tahun pertama, utamanya pelajaran I’rab, saya mengalami masa yang sangat sulit. Kesungguhan itu benar-benar diuji dan setiap ujian mengharuskan pejuangnya survive, bertahan menghadapi apapun itu. Masjid Nurul As’adiyah Callaccu menjadi salah satu saksi perjalanan menuntut ilmu di Kota Sutera. Masjid ini sering menjadi tujuan utama saya untuk belajar dengan  sungguh-sungguh, karena Masjid Al Ikhlas di komplek asrama cukup ramai. Keramaian itu membuat saya kesulitan untuk berkonsentrasi.

Di masa itu, berjalan kaki hingga ke Callaccu adalah perkara biasa. Barangkali semangat dalam diri saya telah mengubah rasa lelah menjadi kenikmatan tersendiri. Keikhlasan dalam melakukan sesuatu pun menjadi kekuatan yang dahsyat, meski ujian untuk survive tidaklah mudah. Ketika menghapal bait-bait nahwu di Masjid Nurul As’adiyah, tidak jarang saya tertidur di sana. Bahkan, tidak jarang pula tidur dalam keadaan perut kosong. Makan siang seringkali menjadi hal yang sangat mustahil untuk saya dapatkan, menjadi semacam kemewahan yang luar biasa untuk siswa rantauan seperti saya.

Uang senilai Rp. 50 adalah pahlawan yang paling hebat. Dengan uang sebanyak itu, ubi goreng di warungnya Cace bisa berubah menjadi makanan paling lezat, bisa mengganjal perut selama sehari. Di pagi hari, saat membeli ubi goreng, saya selalu meminta sambalnya dalam porsi yang banyak. Jangan membayangkan sambalnya berupa campuran lombok dan tomat yang diulek lalu ditumis hingga aromanya menguar sampai di rumah tetangga. Sambal khas Cace adalah olahan “tai boka”, memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai sayur dan juga sebagai pauk yang lezat dalam sehari itu. Dimulai dari sarapan hingga makan malam, “tai boka” senantiasa setia mendampingi. Tentu ditemani pula dengan air putih yang melimpah.  

Bosan? Saya tidak sempat memikirkan apakah saya bosan dengan menu itu atau tidak. Yang terpikirkan adalah dari mana saya akan mendapatkan uang jika ingin menu yang lain? Kepada siapa saya akan meminta? Bersurat kepada orang tua? Bahkan tukang pos pun akan hilang jika mencari tanah kelahiranku. Pulang kampung menjemput bekal? Sungguh tidak mungkin, tidak ada uang untuk membiaya perjalanan ke sana. Pun saya tidak harus ke arah mana mencari mobil penumpang tujuan Sinjai Barat. Di kota ini, saya masih sangat asing. Tidak ada sanak keluarga. Tidak ada teman sekampung untuk berbagi. Karena itulah, saya tetap mensyukuri ubi goreng  berpauk “tai boka”, lalu memperbanyak minum air putih. Jika sudah demikian, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Meski demikian, nikmat Allah seringkali dari arah tidak terduga. Sesekali teman saya mengajak untuk makan bersama. Di lain waktu, ada undangan untuk “mabbuddu”, santri diundang untuk mengaji di rumah duka.

“Saya dihidupkan oleh orang mati,” kelakar saya ketika itu.

Dari kegiatan mabbaddu ini, para santri masing-masing mendapatkan amplop berisi sejumlah uang. Selang beberapa waktu kemudian, saya pun diminta oleh Gurutta Ali Pawellangi (melalui Mustadir) untuk bertugas sebagai pembaca ayat sudi Alquran pada sebuah acara pembukaan. Akhirnya, dari amplop yang terkumpul itulah saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saya.

Nikmat Allah yang lainnya adalah dipertemukannya saya dengan Abdul Malik Tibe (saat ini mengasuh Ponpes DDI Assalaman). Sahabatku ini rupanya berlimpah bekal; beras, kue, dan telur itik. Keadaan pun berubah. Kami memasak oada kompor yang sama. segala kebutuhan sehari-hari menjadi tanggungan bersama, meskipun pada dasarnya sahabatku inilah yang lebih banyak menanggung kebutuhan kami (semoga Allah merahmatinya).

Komentar
Loading...