Saya Dan Gurutta Abba 4

Dalam kegamangan mencari Ambo Lahnaj, saya merasa sudah tidak sendirian lagi, tidak lagi merasa terbuang jauh. Setidaknya, saya telah dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang baru. Meski asing, nyatanya mereka sangat baik satu sama lainnya, sehingga sedikit pun saya tidak lagi merasa terasing sebagaimana di mula kedatangan saya di komplek As’adiyah. Di Asrama Hijau, saya “secara resmi” menjadi bagian dari asrama itu. Hingga beberapa waktu lamanya –di asrama itu-, saya mencatatkan banyak hal, merawat ingatan tentang perjalanan mencapai cita-cita, juga menemukan dan menyusun kepingan-kepingan masa depan yang masih misteri. Di tangan Allah, segalanya kami kembalikan; ikhtiar dan doa-doa.

Asrama ini cukup ramai, dihuni oleh enam santri. Saya masih mengingatnya dengan jelas. Ada Ismail Ahmad (yang lebih dikenal dengan nama Ismail Commo, kawan yang berkenan dan tulus menampung injakan kaki pertama saya di asrama), Muhammad Rusydi (kawan yang berbaik hati menghalau laparku dengan suguhan kuenya, Muh. Yunus Massekati, Ismail Gagah, Mustadir, dan Burhanuddin Kampiri. Bertemu dengan mereka, saya akhirnya percaya bahwa keterasingan seringkali menjadi cara terbaik untuk mendekatkan kita dengan orang lain dan Allah swt adalah sebaik-baik sutradara.

Jatah tempat tidur saya terdapat bagian atas. Sebagaimana biasanya di pesantren, Asrama Hijau juga menyediakan tempat tidur bersusun. Meski badan saya masih tergolong kecil saat itu, namun tempat tidur itu terasa sangat sempit. Tugasnya sesungguhnya berat. Selain untuk menampung badan yang kelelahan, tempat tidur itu juga menjadi “rumah” bagi sebuah koper tua dan menjadi sebuah “lemari” bagi pakaian ganti saya. Ruang gerak saya pun menjadi sangat terbatas. Sangat sulit untuk melakukan gerakan “balik kiri dan balik kanan” pada saat tidur. Saat terbangun, tentu saja badan kecil saya tidak luput dari rasa pegal. Tidur yang kaku, sekaku bilah papannya, menurutku.

Hal miris lainnya, tempat tidur itu hanya dilengkapi dengan selembar tikar tipis dan berserabut, tubuhnya telah dimakan waktu; menua. Meski demikian, selembar tikar usang itu adalah hal yang patut disyukuri. Saya yakin, seseorang telah bermurah hati meninggalkannya begitu saja dan sebelum mereka berpisah, sang tuan mengucapkan salam perpisahan dengan berkata, “Aku wariskan engkau kepada siapapun yang datang setelah kepergianku.”

Hidup memang sering kali tidak memberikan banyak pilihan. Begitu pun kondisi di asrama ketika itu. Benar-benar tidak ada pilihan lain, kecuali harus tidur di tempat itu tanpa kasur ataupun karpet. Orang tua saya tidak membekali apa-apa, selain doa, restu, uang lima ratus ribu rupiah, dan sebuah koper tua. Jangan salah sangka, bukan mereka tidak peduli. Ini adalah kekhilafan saya yang tidak menghimpun banyak informasi, hanya mengantongi nama Ambo Lahnaj.

Dengan membesarkan hati, saya selalu berusaha menikmati setiap hal yang mungkin dianggap penderitaan di mata orang lain. Penderitaan kala itu selalu terbayarkan dengan kebaikan hati dari teman-teman saya. Saya menemukan sebuah pelajaran terbesar dari asrama itu, bahwasanya “senasib dan sepenanggungan” adalah modal terbesar bagi siapapun untuk membangun empati dan simpati dalam dirinya. Pondok pesantren, termasuk As’adiyah, menjadi wadah yang kuat untuk membangun keduanya, dan juga hal positif lainnya.

Ismail dan Rusydi sesekali menawarkan tempat tidurnya. Begitu pun dengan teman yang lainnya. Mereka tahu bahwa saya tidak membawa beras, ikan kering, bekal lainnya, dan peralatan memasak. Karena itulah, mereka sering meminjamkannya. Bahkan, tak segan berbagi makanan. Masih segar dalam ingatan saya, selama beberapa hari, Ismail menjadi kakak yang penuh ketulusan menanggung kebutuhan pangan saya saat itu. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ismail pula yang membantu dan membimbing saya pada saat mendaftar. Atas sarannya, saya memilih mendaftar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Hingga pendaftaran itu selesai, Ambo Lahnaj belum juga tampak. Prosesnya tidak rumit. Bekal dari bapak pun perlahan-lahan mulai terpakai. Melihat daftar kebutuhan yang harus segera dipenuhi, saya berusaha menghematnya meski jumlah bekal itu tergolong banyak kala itu. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah itu harus mampu memenuhi kebutuhn saya berupa kitab tafsir Jalalain, Tanwiirul Qulub, Fathul Muin, Irsyadul Ibad, dan Mauidzatul Mukminin, buku tulis, dan buku pelajaran lainnya.

Selain itu, empat macam pasang seragam sekolah pun mendesak untuk segera dipenuhi, yaitu sepasang seragam pramuka, sepasang seragam abu-abu putih, dan sepasang seragam hitam putih. Pada saat mendaftar, setiap santri baru memang diminta untuk segera mengukur dan menjahit baju di belakang komplek. Namun, tidak saya acuhkan. Saya khawatir uang saya tidak akan cukup untuk memenuhi semuanya, karena peralatan dapur dan kebutuhan pangan masih berada dalam daftar kebutuhan.

Selang beberapa hari kemudian, saya pun segera mencari tukang jahit yang ditunjukkan oleh seseorang yang tidak kukenal. Begitu tiba di tujuan, tukang jahit itu segera membuka sebuah buku berukuran besar dan menanyakan nama saya. Hingga beberapa jenak lamanya, saya hanya menunduk malu. Paras tukang jahit itu telah membuyarkan konsentrasi saya. Saya mengira ia masih gadis. Kecanggungan saya itu karena tidak terbiasa berhadapan dengan perempuan, apalagi mengobrol. Saat menjadi santri di Karame, melihat lawan jenis adalah peristiwa langka. Sejauh mata memandang, maka yang tampak hanyalah padang rumput dan kicauan burung.

“Siapa namamu?” ia mengulang kembali pertanyaannya. Barangkali ia telah membaca kecanggungan saya dalam beberapa saat.

“Abdul Waris”

“Namamu ada di sini,” tangannya dengan cekatan menemukan nama saya di buku besar itu. Rupanya, nama saya sudah tercatat di dalam buku register santri baru.

Tahun itu, dengan sangat terpaksa, saya tidak mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Keperluan sekolah belum sepenuhnya terpenuhi, sedangkan uang semakin berkurang. Kegiatan itu barulah saya ikuti pada tahun ajaran berikutnya. Takdir membawa saya pada perjalanan lain. Tidak bisa ikut MOS, tapi bisa mengikuti Penataran Pendidikan Pancasila. Di sinilah saya bertemu dengan Abdul Malik (saat ini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Assalman Sidrap). Baginya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia bertemu dengan orang yang dicarinya. Ia mendapat informasi bahwa ada seseorang santri baru hafidz Alquran dari Kab. Sinjai, lulusan MTs. As’adiyah Cab. Ongkoe Belawa.

“Siapa yang memberikan informasi itu?” tanya saya pada Malik penuh keheranan.

“Ambo Lahang,” ia menjawabnya dengan singkat, namun memberikan perasaan heran yang cukup panjang untuk dihikmati.

Mengapa Ambo Lahang? Ingatan saya kembali ke Ambo Lahnaj. Hanya dia yang saya kenal. Bukan Ambo Lahang.

Beberapa waktu kemudian, saya menghadiri wisuda Ma’had Aly Angkatan I. Saat mendengar nama Ambo Lahang disebut, dari jauh saya memerhatikannya, di lantai II Gedung Arma. Saya terkejut bukan kepalang, bukankah itu Ambo Lahnaj yang selama ini saya cari? Malik kemudian mengajak saya untuk menemuinya di Radang setelah itu. Sayangnya, kami tetap saja belum ditakdirkan untuk bertemu. Sang kyai muda yang baru saja diwisuda itu sedang keluar.

Hingga suatu hari, Allah mengabulkan keinginan saya untuk bertemu dengan Ambo Lahnaj. Ketika saya berada di depan tangga gedung lama berlantai dua komplek As’adiyah, seseorang yang tidak lagi asing sedang melintas. Segera saja saya menyeru namanya. Pencarian pun berakhir, sang motivator telah berdiri di hadapan saya setelah sekian lama mencarinya. Beliau yang membawaku ke Sengkang dan menjadi guruku hingga saat ini. Syukron gurundaku. Selamat tinggal Ambo Lahnaj, selamat datang Ambo Lahang.

Satu tanggapan untuk “Saya Dan Gurutta Abba 4

  • 24 Januari 2019 pada 5:16 pm
    Permalink

    Assaamu ‘alaykum pak imam.. Sy mau request rekaman murottal surah” dlm al-quran .. Jujur anda adalah salah satu imam favorite sy.. Apalagi dgn nagham rast .. Maasyaa Allah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *