Sopir dan Buruh, Bolehkan Tidak Puasa?

0

Sopir dan Buruh, Bolehkah Tidak Puasa?

Sopir dan buruh merupakan pekerjaan bisa digolongkan berat. Dalam kaitannya dengan puasa di bulan Ramadan, seringkali muncul perdebatan seputar boleh tidaknya berpuasa di bulan Ramadan untuk profesi yang masuk dalam golongan berat tersebut.

Dalam syarah Rauḍatu al-Ṭālibī, Zakariyā al-Anṣārī menerangkan kebolehan seseorang tidak berpuasa jika mengkhawatirkan jiwa, anggota badan, dan pekerjaanya terancam. Teks tulisannya sebagai berikut:

وَيُبَاحُ الفِطْرُ منَ الصَّوْمِ الوَاجِبِ لِخَوْفِ الهَلاَكِ عَلَي نَفْسِهِ أَوْ عَضْوِهِ أَوْ مَنْفَعَتِهِ

Artinya:

“Boleh tidak berpuasa karena terancam jiwa, anggota badan, dan atau jasa/pekerjaan.” [Zakariā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib Syarḥ Rauḍatu al-Ṭālib, Juz I, (t.t: t.th0, h. 422]

Hujah mereka berdasarkan QS. al-Ḥajj/22: 78.

 وَ مَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

Terjemah:

“Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.”

Termasuk dianggap mengancam jiwa adalah apabila para pekerja berat tersebut berpuasa, namun mengakibatkan penghasilannya terhambat. Sedangkan, mereka hanya memiliki satu-satunya pekerjaan tersebut untuk menghasilkan atau menghidupi keluarganya. Profesi yang masuk dalam golongan tersebut di antaranya sopir, nahkoda, pilot, karyawan industri pabrik, tambang, buruh bangunan dan lainnya, yang apabila berpuasa maka memungkinkan penghasilannya terputus.

Dalam kitab I’ānatu al-Ṭālibīn, dijelaskan:

 …أنه يباح الفطر للحصادين و مَنْ أَلحق بهم لكن يجب عليهم تبييت النية، لأنه ربما لاَ تَلْحَقُهُم مشَقَّةٌ شديدة بالصوم فيجب عليهم … لا فرق بين الأجير الغني و غيره … فإن لحقه من صومه مشقة شديدة بحيث تبيح التيمم أفطر و إن لم تلحقه مشقة شديدة فلا يفطر…

“Dibolehkan tidak puasa bagi tukang panen, buruh, dan semisalnya, akan tetapi tetap wajib berniat puasa di malam harinya.  Kemudian bila pada saat bekerja, tidak ada hal-hal yang memberatkan puasanya, maka tetap wajib melanjutkan puasanya… Hal ini tidak ada perbedaan antara buruh yang kaya dan lainnya… Puasa berat yang dimaksudkan adalah seperti kesulitan yang membolehkan melakukan tayamum.” [Syaṭa al-Dimyāṭī, I’anatu al-Ṭālibīn Juz II, (t.t;, t.th), h. 237]

Merujuk pada kalimat imam Dimyāṭī tersebut, dirumuskan sebagai berikut:

  1. Tetap harus niat puasa di malam harinya;
  2. Pagi keesokan harinya tetap berpuasa. Namun, jika pekerjaannya berat yang mengakibatkan masyaqqah/kesulitan, barulah boleh membatalkan puasa;
  3. Profesi yang digelutinya adalah satu-satunya pekerjaan yang menghasilkan atau menjadi mata pencaharian tetap. Jika seandainya punya tabungan cukup untuk makan sehari atau beberapa hari dalam bulan Ramadan, maka dia berhenti bekerja untuk berpuasa. Setelah itu, baru boleh beraktivitas kembali.
  4. Wajib membayar fidiah tanpa qada.
  5. Masyaqqah yang dimaksud adalah kesulitan yang benar-benar memberatkan puasanya sehingga ia tidak memiliki jalan atau pilihan lain selain ia harus membatalkan puasanya tersebut. Ibaratnya, seperti orang yang bertayamum, pilihan inilah yang harus ditempuh karena sudah tidak ada jalan untuk menggunakan atau mendapatkan air.
  6. Dispensasi berbuka puasa pada saat mendapat kesulitan itu berlaku untuk semua pekerja berat, tidak memandang kaya dan miskin.

Fatwa Dimyāṭī ini bisa berlaku seumur hidup jika pekerjaan yang ditekuninya memang terus menerus.

Semoga manfaat. Wallahu A’lam.

 

 

Baca Juga...
Komentar
Loading...