Tiga Kondisi Wajib Fidiah

0

Tiga Kondisi Wajib Fidiah

(H. Abdul Waris Ahmad)

Orang yang tidak sanggup berpuasa karena faktor umur dan kepayahan, tidak wajib puasa baginya. Namun, wajib membayar fidiah. Hukum ini berlaku juga bagi orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh.Bahkan, jika dia bernazar berpuasa, maka nazarnya juga tidak diterima karena kondisinya yang memang tidak ada harapan berpuasa.

Dalam bahasa Indonesia fidiah bermakna denda. Sesuaisyariat,denda tersebut dibayarkarena adanya pelanggaran ketentuan yang dilakukan oleh seorang muslim pada saat menjalankan ibadah puasa, misalnya karena hamil dan menyusui, penyakit menahun, penyakit tua, dan sebagainya.Adapun fidiahnyabisaberupamakananpokok, misalkanberas.Fidiah yang harus dibayar adalah satu Mud, dalam fikih, mud senilai 510 gram beras. Namun dalam konvensi Baznas Indonesia, jika diuangkan, sekitar Rp.45.000,- setiap hari- sama dengan nilai zakat fitrah. Tentu nilai rupiah tersebut relatif, mengikuti kondisi setiap daerah, boleh lebih dan boleh kurang.

Imām al-Gazālī,dalam al-Wasīṭ mengatakan ada tiga kondisi wajib fidiah:[1]

أَما الفِدْيَةُ فهي مُدٌّ من الطعام مصرفها مصرف الصدقات، و لِوجوبِها ثَلاَثَةُ طُرُقٍ؛ فقد يجبُ بَدَلاً عَن نَفْسِ الصوم، و فقد يجب لِفَوَاتِ فَضِيْلَةِ الأَدَاءِ، فقد يجب لِتأخِيْرِ القَضَاء.

Artinya:

“Fidiah adalah satu mud makanan yang distribusikan seperti cara pendistribusian zakat,[2] yaitu 1) adakalanya puasa itu sendiri yang lewat, 2) adakalanya karena terlewatkan waktufadilah (dalam bulan ramadan), dan 3) adakalanya karena sengaja menangguhkannya.”

Penjelasan tiga kondisi tersebut,dapat dilihat rinciannya dalam kitab Rauḍatu al-Ṭālibīn karya imam Nawawī sebagai berikut:[3]

Pertama, melewatkan waktu. Artinya, tidak berpuasa padahal pernah sempat dan mampu. Jika dia mati dalam kondisi seperti itu, maka ada dua pendapat Syafii, yaitu: pendapat baru (qaul jadīd), mewajibkan membayar fidiah satu mud setiap hari. Pendapat lama (qaul qadīm), membolehkan walinya berpuasa untuknya. Bahkan, walinya boleh menyewa orang lain menunaikan puasa orang taunya atau keluarganya. Hukum ini sama seperti kebolehan badal haji.

Landasan Syafiiyah membolehkan walinya berpuasa adalah berdasarkan hadis Abdullah ibn Abbas: “bahwasanya Rasulullah saw. didatangi sorang wanita bertanya: sungguh ibuku meninggal padahal dia punya puasa nazar, apa saya boleh puasa untuknya? Nabi menjawab: bagaimana pendapatmu jika ibumu punya utang dan kamu melunasinya, apa itu lunas? Dia menjawab: iya. Nabi berkata: maka berpuasalah untuknya.”[4]

Jika meninggal sebelum punya kemampuan berpuasa, misalnya; selalu sakit, atau selalu musafir. Dengan kondisi ini, makatidak ada kewajiban baginya, baik qada demikian juga fidiah.

Kedua, wajib fidiah karena kemuliaan waktu, yaitu dalam bulan Ramadan. Poin kedua ini, seperti hukum bagi wanita hamil atau menyusui, telah saya jelaskan pada tulisan yang lalu.

Bagi wanita hamil atau menyusuiyang tidak mampu berpuasa karena sedangmelakukan perjalanan jauh[5]atau sakit, maka tidak ada hukum fidiah baginya, cukup hanya meng-qada saja.

Ketiga, wajib fidiah karena menangguhkan qada. Jika punya utang puasa dan menangguhkannya sampai pada Ramadan berikutnya, maka konsekuensi hukumnya ada beberapa kemungkinan, di antaranya:

1) jika sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka tidak bayar fidiah, hanya men-qada saja;

2) jika menangguhkan bukan karena sakit atau musafir, maka wajib fidiah dan qada; dan

3) jika menangguhkan qada puasa sampai dua ramadan atau lebih, maka fidiah juga dihitung berlipat. Misalnya, jika dua ramadan, maka setiap hari mengeluarkan fidiah dua mud.

Demikian penjelasan tiga kondisi yang memungkinkan seseorang wajib membayar fidiah. Semoga membawa manfaat. Wallahu a’lam.

Daftar Referensi

[1] Imām al-Gazālī, al-Wasīṭ fi al-Mażhab, Juz II, (Cet. I; al-Gauriya: Dār al-Salām, 1417 H/1997 M), h. 551.

[2] Seperti cara pendistribusian zakat yang dimaksud bukan zakat harta, yang harus kepada delapan bagian. Akan tetapi fidiah distribusinya hanya kepada fakir dan miskin.

[3] Imān al-Nawawī, Rauḍatu al-Ṭālibīn wa ‘Umdatu al-Muftīn, Juz II, (Cet. III; Beirut: al-Maktab al-Islāmī, 1412 H/1991 M), h. 381.

[4] Imām Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Ṣiyām, Bāb Qaḍā’i al-Ṣiyām ‘an al-Mayyit, Juz III, h. 156. Nomor hadis: 1148. Teks hadisnya: عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال: جَاءتْ امرأةٌ إلي رسول الله صلي الله عليه و سلم، فقالت: يا رَسولَ الله، إن أمي ماتت و عليها صومُ نَذَرٍ، أفأصومُ عنها؟ قال: أرأيت لو كان علي أمك دين فَقَضَيْتِيْهِ، أكان يُؤَدِّيْ ذلك عنها؟ قالت: نعم. قال فَصُوْمِيْ عن أمك.

[5] Perjalanan jauh yang dimaksud adalah sejauh yang membolehkan mengkasar salat (kurang lebih 83 km), dan bukan untuk tujuan melanggar agama.

 

Baca Juga...
Komentar
Loading...