Ulama Lawas, Jamaah Milenial

Secara historis tercatat bahwa peran ulama dari masa ke masa telah memberikan warna dalam transformasi ilmu dari satu genarasi ke generasi berikutnya. Bacaan Alquran dinukil secara turun temurun dengan jalan mutawatir yaitu komunitas mayoritas yang mustahil bersepakat dalam kedustaan. Demikian halnya dengan ilmu yang lain, seperti ilmu musthalah al hadis (ilmu riwayat dan dirayah), ilmu asbab al nuzul dan asbab al wurud (sejarah dan latar belakang turunnya ayat dan terucapnya sabda nabi), ilmu lugaat (bahasa) dan ilmu lainnya

Kalimat “Ahl Sunnah wal Jamaah” adalah cara tepat untuk memberi label kepada para generasi pasca nabi Muhammad. Ahl Sunnah adalah masa nabi di mana seluruh kebutuhan dan kebuntuan yang dihadapi sahabat akan mendapatkan secara konstant petunjuk dan penjelasan nabi, sedangkan wal jamaah adalah ulama; baik dari kalangan sahabat, tabiin, tabi’i tabiin, dan ulama setelah mereka yang menjadi bagian dari mata rantai silsilah ilmu sampai kepada nabi. Ulama adalah mereka yang memiliki klasifikasi ilmu agama memadai dan diakui oleh masyarakat di mana mereka berkiprah.

Jika pada pertemuan ulama dunia 1-3 April 2018 di Bogor Jawa Barat terkait isu teroris, islamophobia, ekstremisme, dan intoleran menegaskan bahwa Islam tidak perlu takut karena dalam garis sejarah tidak pernah terlibat dengan perang dunia I dan II. Maka, ada ketakutan lain yang harus diwaspadai oleh ulama yaitu kecenderungan umat pada hal-hal yang sifatnya instan. Hal-hal bersifat instan ini merupakan salah satu karakter abad 21 dan menjadi tantangan besar bagi ulama. Jamaah milenial seakan tidak doyan lagi mengaji dan berguru di depan kiai, dan enggan ke masjid mendengarkan tausiyah. Kaum milenial lebih menyukai mempelajari ilmu secara mandiri melalui ponsel, di mana pun mereka berada.

Tak dapat disangkal bahwa kemajuan tehnologi yang dapat mengetuk jendela-jendela ilmu bagaikan wabah penyakit menular dan sulit mencarikan penawarnya, karena selain sebagai kebutuhan juga menjadi life style, sehingga harus memasuki akar wabah itu untuk mengetahui sekaligus menawarkan jenis pil yang wajib dikonsumsi. Peran setiap pengemban agama dari berbagai latar belakang pun berlomba-lomba berkreatifitas untuk menarik viewers (pembaca/pemirsa). Kemudahan tehnologi inilah yang menghasilkan ustaz atau “kiai google”. Namun, belajar agama melalui praktik seperti ini akan sangat sulit memberikan filter, tidak mampu memilih dan menelusuri mana pendapat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Sebagai generasi milenial pun sebaiknya cerdas dalam berpenetrasi dengan media sosial. Salah satu poin penting yang harus dipahami adalah bahwa kecerdasan dan kemampuan meraih berbagai ilmu itu tidak dapat “diTuhankan” karena dibalik semua itu, ada yang paling rahasia dan dapat menembus infinitum lapisan teratas yang tak bisa diraih oleh banyak orang, yaitu keberkahan ilmu. Keberkahan ilmu itu hanya dapat diraih jika dilakukan dengan cara talaqqi, yaitu bertransformasi langsung dengan guru, musyafahah atau mulut dengan mulut.

 

Dampak lain dari perilaku instan adalah kecenderungan mereka untuk menabrakkan antara pesan luhur agama dengan konten yang bernuansa hoaks. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan mengadu antara pendapat ulama satu dengan yang lain dengan cara provokatif sehingga menimbulkan mosi tidak percaya atau preseden buruk bagi seorang ulama dalam masyarakat. Bahkan, terkadang pemahaman mereka yang nihil terhadap agama dipakai melawan pemerintah dan kekuasaan yang dianggap memusyrikkan, memurtadkan atau mengkafirkan sekaligus. Sisi inilah yang menampakkan pentingnya silsilah keilmuan yang baik, sehingga arah dan tujuan dakwah berhasil dan tidak menyakiti apalagi menghakimi.

 

Kondisi di atas mewajibkan seorang ulama tidak hanya andal dalam mengkaji kitab-kitab turats (kitab kuning-gundul) dan menunggu audiens datang mengaji, akan tetapi juga wajib mentransformasikan pesan-pesan agama melalui media sosial. Abustani Ilyas (salah seorang guru besar bidang hadis UIN Alauddin Makassar dalam acara promosi doktor Abdul Malik, 26 Desember 2018 di gedung Pascasarjana UMI Makassar) menegaskan bahwa salah satu perkara wajib bagi ulama di zaman milenial adalah bermedia sosial yaitu punya skill untuk menyampaikan pesan agama melalui banyak media.

 

Ulama dituntut oleh zaman untuk mengambil peran dalam menghiasi jendela-jendela media sosial agar pandangan dan amar makruf, nahi munkarnya tidak hanya dinikmati oleh kalangan santri, akan tetapi juga masyarakat milenial secara umum. Secara faktual, ulama yang menguasai media maka dialah yang akan menjadi panutan masyarakat milenial. Sudah saatnya, ulama menjadi bagian penting pada kemajuan abad 21, sekaligus  mengoptimalisasi perannya sebagai penyaring bagi jamaah milenial dalam mencari ilmu dengan memanfaatkan internet dan kecanggihan teknologi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *