Yang Fasih Membaca Alquran; Nabi, Presiden atau Kita?

Menyimak dan mencermati pemberitaan media cetak dan media sosial terkait pembukaan MTQ Nasional XXVII 2018 di Medan Sumatera Utara membuat saya terharu dan iri karena mengenang masa-masa “aktif” sebagai peserta MTQ dan STQ baik di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Sejak tahun 2001 sampai dengan 2009. Kini sudah gantung “jas” alias pensiun hehe. Tetapi tetap eksis dalam upaya mengkader para hafiz-hafiz Alquran. (Baca cara jadi hafizh di sini)

Hal yang menarik adalah pidato pembukaan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo yang mengajak semua elemen turut berbela sungkawa dan mendoakan mereka yang terkena musibah gempa dan sunami di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Jokowi mengajak para undangan untuk membacakan surat al-Fatihah untuk para korban.

Ajakan membaca surat “al-Fatihah” ini membuat undangan dan media “terkejut” karena pelafalan al-Fatihah sedikit berubah menjadi bunyi al-Fatikah. Huruf “H” menjadi huruf “K”. Peristiwa ini tentu saja membuat netizen ribut, mem-viralkan video “al-Fatekah” dan bahkan tak sedikit yang membully atau merundung.

Saya tidak punya kepentingan untuk membahas ini jika itu dikaitkan dengan politik. Namun saya terpanggil untuk membahas mengenai kesalahan yang bisa saja terjadi kepada siapa saja tanpa terkecuali.

Nabi pernah berkata أنا أفصح من نطق بالضاد “saya yang paling fasih mengucapkan huruf Dad”. Hadis ini dapat dijumpai dalam tafsir Ibn Kasir, akhir penafsiran surat al-Fatihah. meski dianggap tidak ada dasarnya oleh para kritikus hadis. Imam Ibnu Hajar memberikan penilaian terhadap hadis tersebut sebagai sebuah pernyataan yang secara makna sahih benar namun secara lafal tidak berdasar.

Pernyataan nabi tersebut mengisyaratkan bahwa dalam membaca Alquran yang menjadi standar adalah bacaan Rasulullah. Lambang huruf “Dad” itu menunjuk pada salah satu huruf yang paling sulit dilafalkan dalam membaca Alquran. Namun nabi sendiri mengkalim diri paling hebat. Tentu selanjutnya, setelah nabi adalah kalangan sahabat dan orang-orang Quraisy atau orang arab yang memang menjadi bahasa mereka. Sudah barang tentu, orang ajam seperti Indonesia tidak akan mampu mencapai derajat bacaan nabi dan sahabatnya.

Tetapi nabi tidak pernah sombong dan mengabaikan bacaan sahabatnya, apalagi mengejek atau membully, bahkan suatu ketika beliau pernah memproklamirkan bacaan Ibnu Masud sebagai bacaan yang paling sesuai dengan tajwid. Nabi berkata “iza qara’tumul qur’an faqra’uu ala qira’ati ibni abdin” artinya apabila kamu membaca Alquran maka bacalah sesuai dengan bacaan Ibnu Abdin yaitu Abdullah bin Masud. Ibnu Masud jika membaca Alquran memanjangkan yang memang ber-mad atau panjang. Demikian sebaliknya membaca qasr atau pendek yang memang harus dibaca pendek.

Membaca Alquran sangat memungkinkan terjadi kesalahan baik dalam pengucapan huruf, cara menghentikan bacaan, malanjutkan bacaan ataupun dalam sifat dan hukum huruf lainnya.

Dalam ilmu tajwid dikenal lahn atau terkilir, sabq al lisan atau kesalahan pengucapan. Kesalahan atau lahn  terbagi dua yaitu lahnun khafi dan lahnun jali “kesalahan ringan dan kesalahan berat fatal”

Kesalahan ringan adalah kesalahan yang hampir tidak terjadi, nyaris tidak salah, bahkan tidak terdeteksi kecuali bagi ahli qiraat/ahl al-‘ada atau pakar tajwid seperti dalam sifat huruf.

Kesalahan berat atau jali adalah kesalahan yang sangat tampak jelas dan bisa diketahui oleh siapa saja meski bukan ahli qiraat dan pakar tajwid. Seperti huruf “H” menjadi “K” pada kalimat al-fatihah.

Poin ini, kemudian menjadi bahan perbincangan di dunia maya atas lahn dilakukan oleh sang presiden.

Namun perlu kita ketahui bahwa presiden tidak mungkin dengan sengaja “mem-produksi” kesalahan itu. Itu murni dibaca secara spontanitas bukan sengaja, bukan juga karena tidak tahu. karena dalam beberapa kesempatan dia melafalkan dengan baik. Dan itulah yang disebut lahn.

Berikut,  saya kemukakan  beberapa cerita tentang bacaan Alquran. Diantaranya:

Akhir tahun 1995, waktu itu, saya berstatus santri tahfiz baru di Pondok Pesantren Al-Fauzan, Dusun Karame’e, desa Ongkoe Kec. Belawa Kab. Wajo. Pelajaran pertama yang kami dapatkan dari guru ust. Syahrullah hafizahullah, adalah membaca binnazar “melihat mushaf” sekaligus tahsin qiraat.

Proses itu, mewajibkan semua santri ikut tanpa terkecuali. Seorang teman yang juga pemula di persilahkan membaca awal surat al-Baqarah. Saat membacaa ayat kedua dari surat itu, ia membaca “zalikal kitabuu la raiba fiihii” mendengar bacaan aneh itu, serentak kami tertawa. Mengapa? Karena huruf ba pada kalimat al-kitabu dan ha pada fihi dibaca mad. Padahal yang benar tidak boleh di-madkan karena tidak ada unsur yang bisa menjadikannya bernada panjang.

Teman yang juga santri baru tersebut menangis seakan tidak menerima perlakuan kami. Namun setelah belajar dan belajar tanpa pamrih akhirnya menjadi penghafal Alquran yang paling bagus dan bersuara merdu.

Masih dari Pondok Tahfiz al-Fauzan. Tahun 1996, Muhammad Yusuf (asal Campalagian Polmas), menghadapkan setoran hafalannya kepada guru kami Ust. Syahrullah. Ketika membaca sampai ke pojok bawah halaman bagian kanan, tepatnya ayat 64, kalimat “athfa’ahallahu” Yusuf dihentikan sejenak untuk memperbaiki dan mengulanginya. Setelah ia mengulang-ulang sampai tiga kali. Pemuda gagah itu menegurnya dan memperdengarkan kalimat “athfaahallahu”, menukarkan baris fathah menjadi alif atau mad.

Setelah proses setoran selesai. Kami disuruh membuka mushaf dan melihat bacaan si Yusuf tadi. ternyata yang benar adalah bacaan Yusuf dan yang keliru adalah bacaan sang guru. Secara langsung ia berucap “subhanallah“, Alquran memang suci dan mulia, salama ini saya selalu membacanya demikian, dan menganggap sudah benar semua, ternyata masih ada yang luput.

Siapa sosok Ust. Syahrullah itu? Beliau adalah peraih juara harapan hifzil Quran 30 juz pada MTQ Nasional di Sulawesi Tengah tahun 1995. Juga telah menelorkan banyak Hafiz di Sulawesi Selatan, termasuk penulis. Ternyata prestasi dan jabatan apalagi gelar hafiz atau penghafal Alquran tidak ada jaminan untuk tidak keliru. Bagaimana dengan anda?

Cerita lain. Sekitar tahun 2004-2005, mahasiswa dari STIBA Makassar sengaja datang ke Sengkang mengajarkan “rukyah syar’i”. Tepatnya di gedung Batara, sekarang Gabungan Dinas Kab. Wajo.

Seorang ustaz yang ditunjuk tampil praktek menangani pasien yang kerasukan jin. Ustaz tersebut membaca surat Yasiin. Ketika sampai pada ayat “wa jaalna min baini aidihim saddan wa min khalfihim saddan…”  Saya yang berdiri tidak jauh dari ustaz itu, sangat jelas mendengar ia membaca syaddan pada kalimat saddan. Tentu, bacaan itu sangat fatal karena menukarkan huruf. Kejadian itu, meskipun salah baca, akan tetapi jin-jin yang ada dalam tubuh pasien tersebut terkapar.

Tahun 2007, As’adiyah memberi mandat kepada saya menjadi imam salat tarawih di masjid Tanwir Asem Rowo Kota Surabaya Jawa Timur. Selama satu bulan penuh di sana, takmir masjid mengamanahkan mengajar santri panti asuhan. Materi tajwid adalah kerinduan mereka. Saat saya mengajarkan makhraj dan sifat huruf, menemukan beberpa santri yang konon dari Jawa Tengah. Mereka susah sekali menyempurnakan penyebutan huruf H (ha pedas), alhamdu mereka baca alkamdu, H menjadi K; lafal  aalamin menjadi ngaalamiin, ‘ain menjadi “nga”, Zain menjadi Ja dan sebagainya.

Saya, sejak tahun 2008 sampai hari ini menjabat sebagai imam masjid Agung Ummul Qurra Kab. Wajo. Selama itu, tidak pernah luput dari kesalahan baik ringan maupun berat. Melompati kalimat, menukar huruf, membalikkan sifat dan hukum huruf dan lainnya.

Peristiwa seperti ini juga menjadi langganan peserta dalam beberapa event MTQ/STQ baik lokal, regional maupun tingkat nasional dan bahkan di event Internasional. Apakah karena tidak tahu? Ataukah karena tidak menguasai? boleh jadi demikian. Namun yang lebih banyak terjadi adalah soal mental dan demam panggung.

Kembali ke soal presiden “mem-produksi” bacaan baru. Saya berpandangan bahwa itu adalah keterbasan beliau sebagai manusia biasa. Rasulullah pernah bersabda “almaahiru bilquran maa safaratil kiramil bararah, wallazi yaqra’u wa yatata’ta’u iihi, wa hua alaihi syaaqqun alhu ajraani” orang yang mahir membaca Alquran akan selalu ditemani malaikat. Sedangkan yang membaca terbata-bata, dengan berat membacanya, baginya dua pahala. Dua pahala yang dimaksud adalah pahala “bacaan” dan pahala “kemauan”.

Bilal adalah seorang sahabat nabi, juga pernah menukarkan huruf syin menjadi huruf sin. Bagaimana sikap nabi terhadap Bilal? Nabi mengatakan “di bibir Bilal terucap Sin akan tetapi di sisi Allah tertulis dalam Arasy Syin artinya kekhilafan tersebut dimaklumi dan diampuni oleh Allah.

Uraian diatas dapat kita rangkum beberapa hikmah, diantaranya: bahwa mempelajari Alquran adalah sebuah keniscayaan; kesalahan atau lahn yang terjadi adalah manusiawi dan tidak memilih obyek; penghargaan Allah kepada pembaca Alquran walaupun masih awam; dan manusia paling bermartabat adalah menghargai dan menghormati pencapaian orang lain.

Semoga tulisan ringan ini menambah wawasan dan keinginan kita untuk semakin banyak membaca dan belajar, bukan menghabiskan waktu untuk tertawa dan menertawakan apalagi menghardik orang lain karena kekurangan yang dimilkinya yang belum tentu kita sesempurnah yang dipikirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *